Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..
selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.
malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.
seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.
plak
plak
plak
"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.
pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.
Cring
Zzzzzrrkkk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Dendam Manis
Kunyahan Keenan berhenti. Sendoknya ngegantung di atas piring. Matanya ngunci ke Netha.
Istrinya itu masih senyum. Senyum manis. Kayak nggak ada beban sama sekali.
Pria tampan itu natap Netha dengan tatapan selidik. Ngerasa ada yang aneh.
"Apa maksud dari ucapan kamu itu?" suara Keenan datar. Tapi ada tekanan di situ. "Apa kamu nggak mau nurutin permintaan suami kamu ini? Kamu udah berani ngebantah suami sekarang, ya?"
Netha narik napas panjang. Dalam. Lalu senyumnya balik lagi. Makin manis.
"Bukannya aku mau ngebantah kamu, Mas," kata Netha lembut. "Tapi please... aku mohon. Hargai keputusan aku sekali ini aja. Kamu tau sendiri kan risikonya kalau aku mendadak berhenti dari karier aku? Semuanya bakal jadi rumit."
Pranggg!
Sendok Keenan dibanting ke piring. Niatnya bikin Netha takut. Tatapannya nyalang. Rahangnya ngeras. Nahan emosi.
Netha tetap tenang. Wajahnya nggak berubah.
"Jaga sikap kamu, Mas," kata Netha pelan tapi nusuk. "Jangan kayak anak kecil kalau ada Queen di depan kita."
"Aku bakal jaga sikap kalau kamu mau ngerti kemauan aku!" bentak Keenan. Suaranya naik.
"Mas..." desis Netha. Kesal.
Suara Keenan kebangetan. Queen langsung kaget. Gadis kecil itu lari dari kursinya. Terus duduk di pangkuan Mamanya. Nyempil di pelukan Netha. Dengan wajah Takut.
Netha elus punggung Queen. "Sshh... nggak apa-apa, sayang. Ada Mama."
Lalu Netha dongak. Natap Keenan lurus. "Oke. Kalau memang itu mau kamu, sekarang juga siapin uang 3 miliar buat bayar denda royalti ke agensi perusahaan yang lagi kontrak sama aku. Sebagai ganti rugi karena mutusin kontrak sepihak. Kamu sanggup nyiapin uang segitu?"
Jleb.
Mulut Keenan langsung kebungkam. Wajah tampannya yang tadi merah karena marah, langsung pias. Pucat.
3 miliar. Buat dia juga berat. Apalagi sekarang ada Clara + calon anaknya.
Netha nurunin ego. Napasnya diatur. Ia harus sabar. Lawan orang kayak Keenan nggak bisa pake emosi. Harus pake otak.
"Mas... please," kata Netha. Suaranya dilembutin. "Kali ini aja dengerin aku. Ini semua demi kebaikan kita semua."
Keenan buang napas kasar. Rahangnya masih ngeras. "Oke... baiklah. Kalau itu emang udah kemauan kamu. Tapi ada satu syarat---"
"Aku nggak boleh lupa kewajiban aku sebagai istri dan ibu yang baik buat kamu sama Queen, kan?" potong Netha cepat. DIa udah nebak isi kepala Keenan.
"Itu udah tau jawabannya, kan?!" ketus Keenan.
Netha senyum kecut. Dalam hati: Licik banget sih otak lo.
Keenan sadar. Tanggung jawab dia makin gede. Dua istri. Satu calon anak. Kalau Netha berhenti kerja, beban keuangan jatuh ke dia semua. Padahal dua istrinya sama-sama punya penghasilan. Kalau satu berhenti, dia yang kelimpungan.
Mikir gitu, Keenan terpaksa ngiyain. Selama nggak rugi dan malah ngurangin beban dia.
"Jadi kamu tetap izinin aku lanjut karier, kan, Mas?" tanya Netha mastiin. "Setidaknya sampe kontrak kerja sama aku habis?"
Keenan angguk. Terpaksa. "Tentu. Asal kamu harus pulang tepat waktu sebelum aku pulang ke rumah. Dan berangkat syutingnya sesudah kamu lakuin kewajiban kamu sebagai istri dan ibu. Kamu paham maksud aku, kan?"
Netha nahan diri buat nggak nyolott. Dalam hati: Dasar pria egois. Maunya menang sendiri. Liat aja nanti. Bakal gue balas semua perbuatan lo, Mas. Tunggu waktu yang tepat. Kamu bakal nyesel.
Tapi bibirnya tetap senyum. "Iya, iya, Mas. Aku paham kok. Tenang aja. Kayak yang aku bilang tadi, mulai sekarang aku bakal usaha jadi istri sekaligus ibu yang baik buat kamu dan Queen."
"Ya udah. Bagus kalau gitu," cetus Keenan acuh.
"Ya udah duluan gih berangkat kerja. Nanti keburu telat lho," seru Netha. "Nanti Queen berangkat sekolahnya bareng aku aja."
"Oke," jawab Keenan singkat.
Ia geser kursi. Berdiri. Tapi langkahnya ketahan. Netha ngegenggam tangan kanannya.
"Salim dulu, Mas," kata Netha. Ia angkat punggung tangan Keenan. Cium dengan takzim.
Keenan diem. Kaget sama kehangatan itu.
"Ayo, sayang. Salim sama Papa dulu," kata Netha ke Queen.
Queen nurut. Cium tangan Papa-nya.
Keenan nggak sadar senyumnya muncul lagi. Ia elus kepala Queen lembut. Kecup kening anaknya. Gantian kecup kening Netha juga.
Entah kenapa, hatinya tiba-tiba anget.
"Papa berangkat kerja dulu ya, sayang," kata Keenan lembut ke Queen. "Queen nanti berangkat sekolahnya bareng Mama ya."
"Iya, Pa," cicit Queen polos.
"Anak pintar," puji Keenan. Ia lirik Netha. Tatapan Netha datar. Nggak bisa kebaca. "Aku berangkat dulu."
Netha angguk. Senyum. "Iya, Mas."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Netha.
Keenan pergi. Suara mesin mobilnya menjauh.
Netha napas lega. Tapi senyumnya langsung hilang. Diganti tatapan kosong.
---
Mobil Netha berhenti pas di depan gerbang TK Queen.
Ia buka seatbelt Queen. Gendong anaknya keluar.
Queen ketawa. Seneng banget. Hari ini Mama yang anter. Bisa pamer ke temen-temennya.
"Mama aku artis lho," pasti Queen bilang gitu nanti.
"Queensha sayang," kata Netha sambil jongkok depan anaknya. "Di sekolah harus nurut ya sama Bu Guru. Belajar yang rajin biar pinter. Oke, sayang?"
"Oke siap, Mama!" jawab Queen semangat.
Netha ketawa. Ngecup pipi gembul anaknya. "Nanti pulang sekolah Mama jemput ya. Queen nggak boleh keluar gerbang kalau Mama belum dateng. Ngerti, kan, maksud Mama?"
"Ngerti, Ma," angguk Queen.
"Good girl," puji Netha. Ia berdiri. Lirik Bu Guru yang udah nungguin.
Bu Mutia. Jilbab cokelat. Wajahnya ramah.
"Saya titip anak saya, Bu," kata Netha sopan. "Tolong jangan izinin Queen keluar gerbang sekolah sebelum saya dateng jemput."
Bu Mutia angguk. "Baik, Bu Netha. Saya bakal jagain Queen baik-baik di lingkungan sekolah."
"Makasih, Bu Mutia. Kalau gitu saya pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Bu Mutia.
Netha balik ke mobil. Begitu pintu ketutup, senyumnya hilang lagi.
---
Di kantor, Netha langsung ke ruang make up. Inka udah nungguin sambil bawa script.
"Gila lo, Tha," kata Inka sambil nyuapin Netha roti. "Berani banget ngelawan Keenan pake denda 3M. Gue aja nggak kepikiran."
Netha kunyah roti. "Harus, Ka. Kalau nggak, dia bakal terus nginjak gue."
"Terus sekarang gimana? Udah ada bukti baru dari HP dia?" tanya Inka penasaran.
Netha ngeluarin HP-nya. Buka folder rahasia. Isinya screenshot chat Clara, rekaman suara, mutasi transfer.
"Ada," kata Netha. "Clara beneran hamil. Dia ngaku di pesan suara."
Inka langsung nutup mulut. "Astaga... terus lo nggak apa-apa denger itu?"
Netha geleng. "Nggak. Anehnya... gue malah lega. Karena sekarang alasan gue makin kuat buat ngancurin dia."
"Lo ngeri sih, Tha," kata Inka. "Tapi gue dukung. Mau lo apain dia?"
Netha senyum. Tapi senyumnya dingin. "Belum. Belum waktunya. Gue mau dia ngerasain dulu... gimana rasanya hidup dalam rasa bersalah. Tiap hari. Tiap detik."
Inka diem. Merinding. "Oke. Tapi inget, jangan sampe lo yang kalah duluan."
"Gue nggak bakal kalah," kata Netha tegas. "Demi Queen."
---
Sore hari. Jam 3. Netha udah di depan gerbang TK.
Queen keluar lari-lari. "Mamaaa!"
Netha buka pelukan. "Hati-hati, sayang."
Di mobil, Queen cerita banyak. Dari mulai makan siang, main seluncuran, sampe dapet bintang dari Bu Guru.
Netha dengerin sambil senyum. Buat sesaat, ia lupa sama masalah rumah tangganya.
Sampai rumah, Netha masak. Menu favorit Keenan lagi.
Ia nggak benci Keenan. Ia kecewa. Dan kekecewaan itu lebih sakit dari benci.
Jam 6 sore. Keenan pulang.
Netha sambut dengan senyum. "Mas, udah pulang. Mandi dulu ya. Makanannya udah siap."
Keenan ngeliatin Netha. Bingung. Istri dia kok makin baik, makin lembut?
"Makasih, Tha," kata Keenan pelan. Ia masuk kamar.
Netha liat punggung Keenan. Dalam hati: Nikmatin dulu, Mas. Manis di awal. Pahitnya nanti.
---
Malam. Setelah Queen tidur.
Keenan duduk di sofa. Main HP. Netha duduk di sebelah, jarak 1 meter.
"Mas," panggil Netha.
"Hmm?" Keenan nggak noleh.
"Kalau suatu hari... aku nyakitin kamu. Kamu bakal maafin aku nggak?" tanya Netha. Tatapannya ke TV.
Keenan kaget. "Kenapa nanya gitu?"
"Jawab aja," desak Netha.
Keenan mikir. "Tergantung. Nyakitinnya gimana dulu."
Netha senyum pahit. "Kalau aku selingkuh, gimana Mas?"
Keenan langsung noleh. Kaget. "Kamu selingkuh?"
"Enggak," kata Netha cepat. "Cuma nanya doang. Kalau aku selingkuh, kamu bakal maafin nggak?"
Keenan diem lama. "Enggak. Nggak bakal bisa."
Netha angguk. "Oke. Berarti adil."
"Adil? Adil apa?" Keenan bingung.
"Nggak apa-apa," kata Netha. Ia berdiri. "Aku tidur dulu ya, Mas. Capek."
Keenan diem. Kata-kata Netha muter di kepalanya. Nusuk.
---
Jam 12 malam. Keenan belum tidur juga.
Ia buka galeri HP. Ada foto lama. Foto pernikahan dia sama Netha. 6 tahun lalu.
Wajah Netha di foto itu... bahagia banget. Tulus.
Keenan pegang dada. Sesak.
Ia inget janji dia waktu ijab kabul. "Saya terima nikahnya..."
Janji buat jaga. Janji buat setia.
Sekarang dia ngelanggar semua.
HP-nya bunyi. Chat dari 'C'.
'C': Keen, kamu udah tidur? Aku kangen. Bayi kita nendang-nendang nih.
Keenan nggak bales. Ia malah matiin HP. Lempar ke sofa.
Ia rebahan. Natap langit-langit.
Untuk pertama kalinya, Keenan ngerasa takut. Takut kehilangan Netha beneran.
---
Pagi berikutnya.
Netha bangun lebih pagi dari biasanya. Ia bikin sarapan. Susu coklat buat Queen. Kopi hitam buat Keenan.
Keenan turun. Liat Netha. Kaget.
"Kamu udah bangun dari kapan?" tanya Keenan.
"Dari jam 4, Mas," jawab Netha santai. "Biar bisa beresin semuanya sebelum syuting."
Keenan diem. Ia duduk. Makan pelan.
"Mas," kata Netha lagi.
"Hmm?"
"Makasih ya... udah izinin aku kerja," kata Netha tulus. Tapi matanya kosong.
Keenan angguk. "Sama-sama."
Netha senyum. Senyum yang sama kayak semalam. Manis. Tapi menusuk.
---
Di jalan ke lokasi syuting, Netha chat pengacara.
Netha: Pak, tolong kumpulin semua bukti. Saya mau ajukan gugatan cerai + hak asuh penuh Queen. Tapi jangan kirim sekarang. Tahan dulu.
Pengacara: Siap, Bu. Tunggu aba-aba dari Ibu.
Netha: Makasih, Pak.
Netha narik napas.
Rencananya udah jalan. Tahap 1: Bikin Keenan nyaman. Tahap 2: Bikin dia ngerasa bersalah. Tahap 3: Hantam pas dia paling lengah.
Dan tahap 3... udah deket.
To be continued...