Luna yang hidup dengan kakeknya yang sudah tua mau tidak mau menerima pernikahan paksa yang sudah diatur oleh sahabat kakeknya.
"Kakek aku hanya ingin menemani Kakek dimasa tua," Luna berkata lirih sambil menyentuh tangan keriput kakeknya.
Tidak pernah terlintas di pikiran Luna jika akan menikah dalam perjodohan, Luna gadis polos dan tidak neko-neko harus menikah dengan CEO yang dingin dan galak tidak pernah dekat dengan seorang wanita.
Lalu bagaimana Luna bisa menjalani pernikahan dengan suami yang super Perfect, sedangkan dirinya merasa seperti Upik abu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tikus curut
Setelah kejadian di kafe, dan keadaan sudah kembali kondusif. Luna sejak tadi menjadi sasaran para wartawan dadakan. Karena ucapanya tadi Luna jadi banyak mendapat pertanyaan, bahkan bosnya memanggilnya keruangan hanya untuk di interogasi.
"Jadi benar kamu dan pak Raditya sudah menikah?" Tanya seorang wanita yang sedang hamil besar.
Atasan Luna atau pemilik kafe memang sedang hamil.
Luna hanya mengangguk, "Iya Bu, maaf tadi membuat gaduh." Katanya dengan wajah menunduk karena merasa bersalah.
Wanita itu justru tersenyum sambil mengibaskan tangannya di depan wajah.
"Santai saja, justru kalau aku menegur mu nanti malah aku yang dapat masalah." Kata wanita itu dengan nada santai namun justru membuat Luna semakin tidak enak hati.
Inilah akibatnya jika dirinya malah membuka hubungan sendiri didepan umum, Raditya memang bukan pria sembarangan, dan hal itu membuat Luna menjadi tidak nyaman dengan status nya.
"Kalau saya salah, ibu berhak menegur saya. Saya juga mengerti kesalahan saya. Jadi ibu jangan melihat sebelah saya karena suami saya." Ucapanya lagi dengan rendah diri.
Wanita hamil itu justru tersenyum, kagum dengan sosok gadis didepanya ini. Meskipun menikahi pria berpengaruh tapi ternyata Luna bukan gadis pengadu seperti wanita kebanyakan.
"Sudahlah, jangan di ambil pusing. Kamu bekerja saja sebaik mungkin."
Luna mengagguk dan pamit setelah tidak ada lagi yang di pertanyakan.
Luna menghela napas saat sudah diluar pintu, kepalanya sedikit pusing dengan perut yang terasa lapar.
Untung saja jam pulang kerja, Luna memilih mengganti pakaiannya sebelum pulang.
Keluar dari kafe Luna menghampiri motornya yang sudah bisa ia pakai, karena saat Aldo datang siang itu mengantarkan motornya.
Saat Luna keluar dari area parkir kafe, sebuah mobil langsung mengikuti Luna. Kecepatan kendaraan Luna standar karena memang Luna ingin menikmati suasana sore.
Luna terseyum saat melihat tenda makan yang sudah buka, perutnya memang lapar membuatnya memilih untuk mampir.
Luna menghidupkan lampu sen ke kanan, karena ingin menyeberang jalan di jalur satu, tapi siapa sangka jika mobil dibelakangnya justru menambah laju kecepatannya dan menyerempet kendaraan Luna dengan sengaja.
Brak!!
Sontak orang-orang yang melihatnya berteriak histeris melihat sebuah motor tergelincir cukup jauh membuat pengendara terpental cukup jauh, pemilik tenda yang mengenali Luna begitu syok melihatnya.
"Mbak Luna!!"
*
*
Di kantor Raditya sedang rapat para anggota direksi yang alot dan memakan waktu. Sejak tadi Raditya sudah duduk gelisah tapi tidak tahu apa yang membuatnya gelisah.
"Saya rasa pembahasan cukup, kalian tidak perlu menekan pemimpin perusahaan untuk mencapai apa yang kalian inginkan, saham yang kalian miliki akan saya bagi!" Tegas Raditya dengan tatapan tajam menatap anggotanya satu persatu.
Mereka semua langsung diam dengan saling lirik, akibat satu orang kini mereka mendapat masalah, jika saham dikembalikan otomatis mereka sendiri yang akan rugi.
"B-bukan begitu maksud kami tuan tapi-"
"Bimo, catat siapa saja yang ingin menerima sahamnya!"
Setelah mengatakan itu Raditya pergi meninggalkan ruangan rapat dalam suasana tegang.
Sedangkan di dalam Bimo sudah siap mencatat siapa saja yang ingin mendapatkan sahamnya kembali.
"Asisten Bimo, saya rasa tuan Raditya hanya salah paham, jadi saya tidak ikut dalam pengembalian saham." Kata pria paruh baya yang memiliki kumis dengan kepala botak.
"Ya, yang dikatakan tuan Rudi benar, tuan Raditya hanya salah paham. Kami tidak meminta saham kami kembali."
Mereka justru berbisik-bisik dan meminta Bimo untuk tidak mencatat, sedangkan Bimo hanya geleng kepala melihat ketakutan di wajah-wajah para pemegang saham yang sok.
"Dasar para tikus curut!" Hina Bimo dalam hati.