Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20: Berpapasan Seribu Kali, Tetap Dua Orang Asing
Tahun ketiga pencarian Raga membawanya sampai ke kota tempat tinggal Lira sekarang. Kota itu indah, bersih, tenang, dan penuh dengan suasana damai yang membuat siapa saja yang datang merasa betah. Namun bagi Raga, kota itu sama saja dengan kota-kota lain yang pernah ia datangi: hanya tempat persinggahan, tempat ia bertanya-tanya, tempat ia mencari jejak yang mungkin ada atau mungkin tidak ada.
Ia tidak tahu, orang yang ia cari, orang yang menjadi seluruh hidupnya, ada di sini, berjalan di jalanan yang sama, menghirup udara yang sama, melihat matahari yang sama dengannya setiap hari.
Kali pertama berpapasan: Di Pasar Pagi yang Ramai
Pagi itu, pasar besar kota itu penuh sesak dengan orang-orang yang datang membeli kebutuhan harian. Suara teriakan pedagang, suara tawar-menawar, suara langkah kaki orang, bercampur menjadi satu suara riuh yang bising.
Di tengah kerumunan itu, Raga berjalan perlahan, memegang foto Lira di tangannya, matanya teliti memindai setiap wajah wanita yang lewat di depannya, satu per satu, tidak ada yang terlewatkan. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya masih berkilat penuh harapan yang tidak pernah padam.
Di sisi jalan yang berlawanan, Lira yang mengenakan baju sederhana dan kerudung tipis, berjalan sambil mendorong keranjang belanjaan, wajahnya tampak tenang dan damai. Ia sedang memilih sayuran segar di depan lapak pedagang.
Jarak mereka hanya lima langkah.
Angin pagi bertiup pelan, membawa aroma bunga melati yang sama persis dengan aroma yang dulu selalu dipakai Lira, aroma yang paling diingat dan dirindukan oleh Raga.
Raga tiba-tiba berhenti melangkah. Hidungnya mencium aroma itu, jantungnya seketika berdebar kencang sampai rasanya mau melompat keluar dari dadanya. Ia perlahan menoleh ke sebelah kanan, menatap sosok wanita yang berdiri di sana, punggungnya menghadap ke arahnya.
Postur tubuh itu, cara berdiri itu, rambut panjang yang terurai itu… Semuanya persis sama dengan Lira.
Raga mengangkat kaki, hendak melangkah mendekat, hendak memanggil nama itu dengan suara keras, harapan yang sudah lama mati kembali hidup berkobar di dadanya.
“Li…”
Namun tepat saat itu, seorang pedagang membawa keranjang besar penuh ikan lewat di tengah jalan, menghalangi pandangan sepenuhnya selama beberapa detik. Saat pedagang itu lewat dan jalan kembali kosong, sosok wanita itu sudah bergerak maju, berbalik badan, dan wajahnya tertutup sebagian oleh orang lain yang lewat di depannya.
Raga hanya sempat melihat sekilas sisi wajahnya, dan karena penampilan Lira kini jauh berbeda, rambutnya sedikit lebih pendek, dan wajahnya tidak lagi penuh riasan seperti dulu, Raga ragu sejenak. Ia mengira itu hanya bayangan matanya yang terlalu rindu, hanya khayalan hatinya yang selalu berharap. Ia menghela napas panjang dengan sedih, lalu menggelengkan kepalanya pelan dan melanjutkan langkahnya pergi.
Padahal, Lira sempat menoleh ke belakang tepat saat Raga berpaling. Ia sempat melihat sosok pria yang tampak lelah dan sedih itu, sempat merasakan hatinya bergetar hebat, sempat merasakan rasa sakit di dadanya kembali muncul tajam. Ia sempat berhenti bergerak, menatap punggung pria itu yang menjauh, merasa ada sesuatu yang sangat akrab, sesuatu yang sangat berharga, yang baru saja hilang dari pandangannya.
“Kenapa… Kenapa rasanya aku kenal dia… Kenapa rasanya aku sangat ingin memanggilnya… Kenapa rasanya sakit sekali melihat dia pergi…” gumam Lira pelan, bingung dan sedih, namun karena ingatannya kosong, ia hanya mengira itu perasaan aneh biasa, lalu kembali melanjutkan belanjanya.
Hanya berjarak lima langkah. Hanya terhalang beberapa detik saja. Tapi takdir memisahkan mereka lagi.
Kali kedua berpapasan: Di Taman Kota yang Sepi
Sore itu, matahari mulai terbenam, menyinari taman kota dengan cahaya jingga yang lembut dan indah. Angin sore bertiup sejuk, membuat daun-daun pohon bergoyang pelan, dan suasana di sana terasa begitu tenang dan damai.
Di salah satu bangku kayu yang terletak di sudut taman yang paling sepi, Raga duduk sendirian. Ia mengeluarkan foto Lira yang sudah kusam, pudar, dan ujung-ujungnya sudah robek karena sudah dibawa ke mana-mana selama tiga tahun. Ia menatap foto itu dengan mata yang basah berkaca-kaca, jari-jarinya mengusap lembut wajah wanita itu di atas kertas foto, seolah sedang mengusap wajah aslinya yang jauh di sana.
“Sayang… Di mana kamu sekarang… Apakah kamu juga sedang melihat matahari yang sama denganku… Apakah kamu juga sedang merasakan angin yang sama… Aku sudah hampir menyerah karena lelah, tapi aku tidak bisa… Aku tidak bisa hidup tanpamu… Aku rindu sekali… Rindu sampai rasanya mau mati…” bisik Raga pelan, suaranya parau dan penuh rindu yang menyayat hati.
Beberapa meter di sebelahnya, di bangku lain yang terhalang semak belukar rimbun, Lira juga duduk sendirian, membawa buku catatan kecil di pangkuannya. Ia sedang melukis pemandangan matahari terbenam yang indah itu, sesuatu yang selalu ia sukai meskipun ia tidak tahu kenapa.
Saat Raga selesai bicara, angin bertiup sedikit lebih kencang, membawa suara bisikan itu jelas terdengar sampai ke telinga Lira.
Kata-kata itu, nada suara itu, rasa sakit dan rindu yang ada di dalam suara itu… Semuanya begitu akrab, begitu dekat, begitu menyentuh tepat di lubuk hati terdalamnya.
Tangan Lira seketika berhenti bergerak. Lukisan di tangannya terjatuh ke rumput. Matanya melebar kaget, dadanya terasa sesak hebat, air mata tiba-tiba keluar deras dari matanya tanpa alasan yang jelas, seolah hatinya sendiri yang menangis mendengar suara itu.
Ia perlahan bangkit berdiri, berjalan pelan mengikuti arah suara itu, berjalan melewati semak belukar, ingin sekali melihat wajah orang yang memiliki suara yang begitu ia rindukan itu.
Namun tepat saat ia sampai di sisi bangku tempat Raga duduk, tepat saat ia akan melihat wajah pria itu… Telepon genggam Raga berbunyi keras, memecah keheningan taman itu. Raga segera mengangkat telepon itu, lalu sambil berbicara, ia bangkit berdiri dan berjalan pergi menjauh, punggungnya perlahan menghilang di balik jalan setapak, tanpa pernah melihat wanita yang berdiri hanya dua langkah di belakangnya itu.
Lira berdiri diam di sana, napasnya tersengal-sengal, air mata terus mengalir deras di pipinya, matanya menatap tempat kosong yang baru saja ditinggalkan Raga dengan pandangan kosong dan hancur.
“Hampir… Aku hampir melihatnya… Hampir saja…” bisiknya parau, dadanya terasa sakit luar biasa, rasa kehilangan itu datang lagi, lebih kuat dan lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Kali ketiga, yang paling menyayat hati: Di Toko Baju Kecil
Itu terjadi sehari sebelum Raga berencana pergi meninggalkan kota itu, melanjutkan pencarian ke kota lain yang jauh lagi. Ia sudah hampir putus asa, hampir percaya bahwa ia tidak akan pernah menemukan Lira lagi selamanya.
Ia masuk ke sebuah toko baju sederhana di pinggir jalan, hanya untuk sekadar membeli baju ganti yang sudah lama ia butuhkan. Di dalam toko itu, hanya ada dua orang: dia, dan penjahit baju wanita muda yang sedang duduk di belakang meja, sedang menjahit baju dengan teliti dan cekatan.
Penjahit itu adalah Lira.
Raga berjalan masuk, matanya sempat melirik sekilas ke arah penjahit itu, tapi karena wajah Lira tertunduk fokus menjahit, rambutnya terurai menutupi sebagian wajahnya, dan Raga sedang lelah serta sedih sekali, ia tidak memperhatikan dengan teliti, hanya mengira itu orang asing biasa. Ia berjalan ke arah rak baju di sisi lain, mencari ukuran yang pas.
Namun saat Raga berjalan melewati samping meja Lira, tiba-tiba jarum jahit yang dipegang Lira tergelincir, menusuk tajam jari telunjuknya.
“Aduh…” erang Lira pelan, jari jarinya langsung mengeluarkan darah merah segar.
Suara itu… Suara erangan kecil itu… Suara yang sama persis dengan suara Lira saat terluka dulu.
Tubuh Raga seketika menegang kaku di tempat. Darahnya berhenti mengalir, jantungnya berhenti berdetak sesaat. Semua rasa lelah, semua rasa sedih, semua rasa putus asa, lenyap seketika digantikan oleh rasa kaget dan rasa rindu yang meledak di dadanya.
Ia perlahan, sangat perlahan, memutar badannya, menatap wanita yang duduk di belakang meja itu.
Lira pun mengangkat wajahnya, menatap pria itu karena kaget ada orang yang berhenti bergerak tiba-tiba.
Mata mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun itu, mata mereka saling menatap langsung, jelas, tanpa penghalang apa pun.
Dua pasang mata itu, mata yang dulu saling jatuh cinta, mata yang dulu saling berjanji mati hidup bersama, mata yang dulu saling menangis dan bahagia bersama, kini saling bertatapan kembali, setelah terpisah begitu lama, begitu jauh, begitu banyak rasa sakit.
Satu detik… Dua detik… Tiga detik…
Di mata Raga, seketika penuh air mata, penuh rasa kaget, penuh rasa bahagia yang meledak-ledak, penuh rasa rindu yang sudah lama tertahan. Mulutnya terbuka lebar, hendak memanggil nama itu dengan suara keras, hendak berlari memeluk wanita itu erat-erat, hendak menangis sejadi-jadinya karena bahagia.
“Li… Lira… Kamu… Kamu ada di sini…”
Namun di mata Lira… Hanya ada kebingungan. Hanya ada rasa aneh. Hanya ada rasa sakit di dada yang datang tiba-tiba, tapi tidak ada ingatan. Tidak ada pengakuan. Tidak ada cinta yang dulu ada.
Lira hanya menatapnya dengan pandangan bingung, sedikit takut, lalu bertanya dengan suara lembut dan asing yang menghancurkan hati Raga berkeping-keping:
“Maaf… Apakah kita saling kenal, Tuan? Wajahmu terasa sedikit akrab… Tapi maaf, aku tidak ingat pernah bertemu denganmu sebelumnya.”
Kalimat itu seperti petir menyambar di tengah hari yang cerah. Harapan Raga yang baru saja mekar indah, seketika layu dan hancur seketika. Ia melihat wanita yang paling ia cintai, yang paling ia cari, yang menjadi seluruh hidupnya, ada tepat di depan matanya, dalam jangkauan tangannya… Tapi bagi wanita itu, dia hanyalah orang asing yang tidak dikenalnya, sama seperti ribuan orang asing lain yang ia temui setiap hari.
Raga menelan ludah dengan susah payah, menahan air mata yang mau keluar, menahan rasa sakit yang mau meledak dari dadanya, memaksakan senyum yang paling pahit dan paling menyedihkan yang pernah ada di dunia ini.
“Ti… Tidak… Maafkan saya, Nona… Saya salah orang… Kamu… mirip sekali dengan seseorang yang saya kenal dulu… Sama persis…” suara Raga keluar gemetar, hampir tidak terdengar.
“Oalah… Begitu rupanya,” jawab Lira dengan senyum sopan biasa, senyum yang sama seperti senyumnya kepada semua pelanggan lain, tidak ada bedanya sama sekali. “Tidak apa-apa, Tuan. Banyak orang yang bilang wajahku mirip orang lain. Ada yang bisa saya bantu?”
“Ti… Tidak ada… Terima kasih… Saya permisi dulu…” jawab Raga pelan, suaranya hampir hilang, ia segera berbalik badan, berjalan cepat keluar dari toko itu, berjalan menjauh, menjauh dari wanita yang ada di depan matanya, menjauh dari kebahagiaan yang ada di depan matanya, karena rasa sakit melihat orang yang dicintai tidak mengenalnya itu terlalu besar, terlalu menyiksa, tidak bisa ia tahan lagi.
Saat Raga berjalan keluar, air mata akhirnya mengalir deras di pipinya, jatuh membasahi jalanan aspal. Ia menangis dalam diam, menangis sampai dadanya sakit, menangis sampai ia hampir roboh jatuh di jalan.
Di dalam toko, Lira menatap pintu yang baru saja ditutup itu dengan pandangan bingung dan sedih. Dadanya masih terasa sakit sekali, hatinya masih berdebar kencang, dan entah kenapa, melihat pria itu pergi dengan wajah sedih, rasanya ia ingin sekali berlari mengejarnya, ingin sekali bertanya kenapa dia terlihat begitu sedih, kenapa rasanya hatinya ikut sakit saat melihat dia menangis.
“Kenapa… Kenapa rasanya sakit sekali… Kenapa rasanya seperti baru saja kehilangan bagian terpenting dari diriku…” bisik Lira pelan pada dirinya sendiri, tangannya memegang dadanya yang terasa perih.
Mereka bertemu. Mereka berpapasan. Mereka saling tatap mata. Mereka berjarak kurang dari satu meter.
Tapi mereka tetaplah dua orang asing. Dua orang asing yang saling mencintai di lubuk hati terdalam, tapi terpisah oleh dinding tebal bernama hilang ingatan, dinding yang membuat cinta itu ada tapi tidak bisa disentuh, tidak bisa dirasakan, tidak bisa disatukan.
Raga terus berjalan pergi, kembali melanjutkan perjalanan mencari Lira, tanpa tahu bahwa Lira yang ia cari itu baru saja ada di depannya.
Lira terus hidup damai, tanpa tahu bahwa pria yang menjadi cinta sejati hidupnya baru saja ada di depannya.
Dan takdir terus mempermainkan mereka, menyiksa mereka dengan rasa dekat namun jauh, rasa kenal namun asing, rasa cinta namun tidak bertuan, menyimpan rasa sakit itu di hati mereka berdua, sampai suatu hari nanti, dinding itu akan runtuh, dan ingatan itu akan kembali…
Namun sampai hari itu datang, mereka akan terus hidup dalam rasa sakit rindu yang tak berujung.
Bersambung ke Episode 21