Shen Yunan mengalami kematian tragis. Dikhianati keluarga, dikhianati pria yang dia cintai, menghabisii orang yang mencintainya dengan tulus.
Mendengar tawa sang putra mahkota yang baru naik tahta, dengan pedang di tangan yang telah menusuknya, bersama Shen Yuxiao, putri palsu yang mencuri tempatnya di kediaman Marquis selama 17 tahun. Shen Yunan bersumpah, dia akan membalas mereka semua. Dia akan membuat semua orang yang menertawakan kematiannya menangis.
'Jika ada kehidupan kedua, aku akan habisi kalian semua!'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Bibi Mo mendengar ucapan orang-orang desa itu. Dan dia terlihat bingung.
"Iya dia Chao Yunan, maksud ku dia nona Shen Yunan. Dimana Mo Bian dan suaminya?" tanya bibi Mo.
Kepala desa segera mengetuk pintu rumah itu.
Tok tok tok
"Yunan, nenek Sun! apa kalian ada di dalam?" tanya kepala desa.
Ceklek
Pintu pun terbuka, Yunan dan nenek Sun keluar bersama dengan ekspresi tampak sangat lesu dan sedih.
"Yunan, mereka dari kediaman Marquis. Ternyata kamu adalah anak kandung Marquis yang tertukar saat bayi!" jelas kepala desa.
Bibi Mo dan pelayan yang ada di sampingnya terus melirik ke dalam rumah. Mereka sangat heran, kenapa tidak ada tanda-tanda Mo Bian akan keluar. Sepertinya di dalam rumah itu sudah tidak ada siapapun lagi.
"Dimana Mo Bian dan Chao Yanhui?" tanya bibi Mo yang mulai tak bisa menahan diri.
Kepala desa yang tadinya menatap penuh perduli pada Yunan. Kini mengalihkan pandangannya pada bibi Mo.
"Dua orang yang kamu sebutkan itu, nyonya. Sudah mati. Keduanya mati karena sudah melakukan perbuatan yang tidak baik dan mencemari desa ini!"
Tangan bibi Mo tampak meremass satu sama lain.
"Apa yang sudah mereka lakukan?" tanya bibi Mo.
"Mo Bian selingkuh dengan tukang jagal, sementara suaminya membunuhh tukang jagal itu. Akhirnya warga desa memutuskan untuk menenggelamkannya dengan kurungan keranjang babi!"
Mata bibi Melotot.
'Dasar orang-orang desa tidak berguna. Nona ketiga pasti akan marah kalau tahu rencananya berantakan seperti ini!' batin Bibi Mo.
"Yunan, untung disaat seperti ini kebenaran tentang Yunan yang merupakan putri kandung kediaman Marquis terungkap. Aku sudah khawatir dia akan sendirian!" kata nenek Sun.
Warga desa yang lain juga sependapat dengan nenek Sun. Melihat betapa disayangi nya Yunan oleh warga desa, bibi Mo mendengus kesal. Pada akhirnya dia tidak mungkin bisa mencelakai Yunan di desa ini.
"Sudah! sudah! segera rapikan barang-barangmu... maksudku segera rapikan barang-barang nona!" kata Bibi Mo.
"Aku tidak punya barang-barang. Hanya pakaian ini yang paling bagus dan tidak robek!"
"Yunan, kasihan sekali kamu nak!"
Ucapan nenek Sun, membuat warga desa yang lain dan istri kepala desa menjadi sangat kasihan pada Yunan.
Satu persatu dari mereka memberikan uang, jepit rambut dan gelang juga barang-barang berharga mereka yang saat itu mereka bawa untuk Yunan. Nenek Sun segera mengambil sebuah kain dan membungkus semua yang diberikan oleh warga desa ke dalamnya. Setelah itu dia memberikannya pada Yunan.
Istri kepala desa bahkan memberikan sekantung perak untuk Yunan.
"Yunan, belilah pakaian yang bagus di jalan. Saat bertemu dengan kedua orang tuamu di kediaman Marquis. Kamu juga harus terlihat baik! semoga kamu bahagia setelah ini nak!"
Semua warga desa mendoakan kebahagiaan Yunan. Gadis itu tersenyum begitu tulus. Dan berpamitan pada keduanya.
Bahkan kepala desa mengantarnya sampai di kereta.
"Hati-hati di jalan Yunan!"
"Terima kasih banyak pak kepala desa, nyonya. Semuanya, kakek dan nenek. Kalian baik sekali. Yunan tidak akan pernah melupakan kalian"
Perpisahan itu benar-benar mengharukan. Sungguh berbanding terbalik dengan kehidupan lalunya. Tak ada warga desa yang sudi mengantarnya, apalagi memberinya sesuatu.
Yunan menutup tirai jendela. Tatapannya lurus ke depan. Sementara bibi Mo dan pelayan juga para penjaga berada di belakang kereta yang berjalan pelan itu.
"Bibi Mo, bagaimana sekarang?" tanya pelayan itu.
"Bagaimana lagi? tidak mungkin juga kita habisi dia di jalan. Lebih baik biarkan nona ketiga yang mengurusnya nanti. Bukan salah kita juga kan? semua ini salah Mo Bian yang tidak bisa mengurus anak ingusan seperti Yunan itu!"
Yunan memang hanya melihat gerakan bibir bibi Mo yang terlihat mencibir seseorang. Tapi, meski hanya melihat gerakan bibir saja. Yunan tahu kalau bibi Mo pasti sedang bicara buruk tentangnya.
'Jangan khawatir bibi Mo. Sekarang bicaralah sesukamu. Nanti saat tiba di kediaman jendral. Kamu lah yang akan mati pertama kali!' batin Yunan.
Sementara itu di perjalanan, mereka semua melewati sebuah hutan. Disana, bibi Mo meminta semua untuk berhenti. Mereka istirahat dan makan sebelum istirahat malam.
Yunan yang juga dibawakan bekal makanan oleh nenek Sun tidak berniat sama sekali untuk turun dari dalam kereta. Lagipula kalau dia turun, dia pun hanya mendapatkan tatapan tidak senang dari semua orang, itu pasti. Itu akan merusak selera makannya.
Bakpao dingin yang di berikan nenek Sun menjadi pengganjal perutnya malam ini.
Sementara itu di luar kereta, bibi Mo dan para pelayan sedang duduk di dekat bebatuan. Mereka mungkin juga akan bermalam di tempat itu.
"Bibi Mo, apa wanita desa itu tidak lapar?" tanya pelayan wanita itu.
Bibi Mo melah mendengus tidak senang.
"Halah, untuk apa kita perduli. Orang seperti dia itu, pasti sudah terbiasa tidak makan. Dia tidak akan mati hanya tidak makan satu hari!"
Yunan mendengar itu, Bibi Mo sepertinya sengaja mengatakan semua itu untuk membuat Yunan merasa sedih dan terkucilkan. Sayangnya, Yunan sama sekali tidak terpengaruh. Dia bukan lagi seseorang yang selalu memikirkan orang lain. Rendah diri dan selalu berusaha mengalah untuk mendapatkan kasih sayang keluarga. Akhir tragis lah yang dia dapatkan ketika dia melakukan semua itu. Sekarang tidak lagi.
Setelah melewati malam, rombongan itu pergi berjalan lagi menuju ibukota. Bahkan mereka baru tiba di siang hari.
Begitu kereta berhenti, bahkan tidak ada pelayan yang memberitahu Yunan untuk turun. Tapi, kenapa dia harus menunggu pelayan. Yunan membuka tirai dan turun dengan melompat tanpa terjatuh.
Yunan setidaknya bersyukur, akibat pelatihan ketat dari Xie Yuzin. Dia sungguh menjadi ahli beladiri.
Bibi Mo mendengus kesal, ketika dia melihat Yunan turun dari kereta kuda tanpa jatuh. Padahal dia sengaja melarang kusir untuk menyiapkan tangga.
"Siapa itu?"
"Cantik sekali!"
"Lihat! siapa itu!"
"Tuan Marquis dan nyonya sedang keluar. Temui saja dulu nona ketiga!" kata bibi Mo dengan nada judes.
"Silahkan tunjukkan jalannya!"
Yunan berusaha berbicara dengan nada yang sangat halus.
Bibi Mo menunjukkan jalan menuju paviliun tengah, Shen Yuxiao sedang berada disana.
Ketika mereka akan berbelok ke taman utama Kediaman Marquis yang besar itu. Seseorang berjalan juga ke arahnya bersama dengan seorang pria berpakaian pengawal membawa pedang di tangannya.
Yunan mengalihkan pandangannya perlahan ke pria yang berjalan dengan tegap dan penuh wibawa itu.
Kelopak mata itu bergetar, melihat siapa yang sedang berjalan di depannya. Pria yang ternyata telah menyelamatkannya. Tapi, dia dihasut Xie Yuzin untuk menghabisi pria itu.
'Dia...' lirih Yunan dalam hatinya.
Langkah gadis itu terhenti, sementara bibi Mo segera memberikan hormat pada Liu Yuting.
"Salam tuan perdana menteri!"
Pria itu tidak merespon sama sekali, hanya terus berjalan maju dengan tatapan tegas. Bahkan melewati Yunan pun, pria itu tetap berjalan begitu saja tanpa menoleh sedikit Bun.
'Liu Yuting, syukurlah kamu masih hidup!'
***
Bersambung...
Gengsi aja di gedein.. Menggemaskan..🤣🤣🤣