Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.
Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Dominic tanpa basa-basi lagi. Kalau bukan karena Daddynya. Sudah Dominic bunuh Antonio itu.
Daddy nya ini melebihi iblis sangking jahat nya. Tidak punya pri-kemanusian sama sekali. Yang ada di pikiran nya hanya ambisi, kekuasaan dan tahta.
"Aku ingin cucuku ikut aku"
"Aku menghormati mu karna kau adalah Daddy ku. Tapi ini kau kelewat batas Tuan Salvatore." Jelas ini batasan dari kesabaran Dominic selama ini.
Selama ini dirinya terlalu lunak rupanya dengan Antonio. Apalagi katanya? Cucu? Cihhh!! Sangat memalukan.
Dirinya tahu apa yang ada di pikiran pria gila itu. Pasti Antonio ingin Damian menjadi seorang iblis sepertinya. Dirinya tidak akan membiarkan itu terjadi. Cukup Dirinya saja yang di siksa oleh Daddynya. Keturunannya jangan sampai merasakan apa yang dirasakan waktu itu.
Saat Antonio lengah. Damian langsung menggigit tangan Antonio dengan sekuat tenaganya.
Dominic memanfaatkan kesempatan.
Dorrr...
"shhhh..." Ringis Antonio karena lengan nya tertembak. Damian berlari ke arah Dominic.
Anak buah Dominic mengepung. Tapi Antonio hanya menatap datar. Tidak ada ketakutan sama sekali di matanya. Hampir mirip dengan Damian.
Dorrr...
Pintu kaca jendela di tembak. Otomatis semua orang menoleh. Itu jendela kamar utama.
Isabella...
Antonio langsung meninggalkan tempat seperti bayangan. Dirinya tidak ingin mati sia sia disini dulu. Dirinya harus memisahkan Dominic dan Isabella terlebih dahulu.
"Brengsek kamu Antonio!!" umpat Dominic.
Ada yang mengejar Antonio dan anak buah nya. Ada sebagian yang berlari ke dalam rumah untuk melihat keadaan
"Anakku, dimana yang sakit?" Khawatir Dominic. Damian langsung menggelengkan kepalanya. Tapi Damian menunjukkan pergelangan tangannya yang sudah membiru.
Tapi Damian rasa, itu hanya rasa sakit kecil.
"Ahkkkk..." Teriakan kencang terdengar. Itu adalah istrinya.
"Istriku." Dominic langsung berlari sambil menggendong Damian. Kenapa suaranya terdengar. Karena kaca sudah rusak akibat yang di tembak tadi.
Jeremy telah datang, tapi terlambat. Ia sudah Mengusahakan datang dengan cepet. Tapi karena siang jalanan macet sekali.
"Tuan, maafkan saya" sesal Jeremy. Dominic tidak punya waktu. Ia begitu khawatir dengan istrinya.
"Jaga Damian" Dominic menyerahkan Damian. Lalu ia berlari ke atas. Tidak ada yang bisa membuka pintu. Kecuali hanya dengan mata nya.
"Sayang.." Dominic melihat istrinya ketakutan menatap kaca yang berserakan dan ada bangkai burung nya.
Dominic tentu saja langsung memeluk istrinya. Mencurahkan rasa sayang nya agar istrinya merasa lebih baik.
"Maaf sayang" Cup...
"Semua baik-baik saja."
Walaupun Antonio adalah Ayah nya, kali ini Dominic tidak akan segan-segan lagi memberikan pelajaran kepada nya. Lihatlah sekarang, istrinya jadi ketakutan.
Sungguh, Dominic tidak rela Isabella mengeluarkan air mata kesedihan.
"Ini lah yang ku takutkan bersama kamu Dominic. Aku takut Damian akan jadi korban karena musuh-musuh kamu." lirih Isabella.
"Maaf sayang. Aku mencintai kalian berdua. Aku tidak akan menyangkal jika ada bahaya selanjutnya yang akan datang menghampiri kita. Tapi aku akan melindungi kalian dari bahaya itu." Dominic tidak akan menjanjikan apapun karena bahaya bisa datang kapan saja.
Tapi satu yang pasti, dirinya pasti selalu melindungi keluarga nya.
"Ayo beristirahat ke kamar sebelah." Dominic langsung menggendong Isabella. Sesekali mencium Isabella.
"Tunggu sebentar disini, aku harus membereskan yang ada di luar."
Cup...
"Kita akan baik-baik saja kan?" Khawatir Isabella.
"Iya, sayang. Kita akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir istriku." Jawab Dominic dengan sangat menyakinkan.
Terpaksa Dominic harus meninggalkan istrinya yang sedang ketakutan. Tapi dirinya juga harus membereskan semua ke kacauan ini.
"Jeremy" Panggil Dominic. "Dimana Damian?"Lanjut Dominic bertanya.
"Tuan Muda ada di kamar nya bersama dengan Russo Tuan."
"Cari tahu peluru yang ada di kamar. Siapa pembuat nya? peluru itu bisa menembus kaca jendela. Perketat keamanan Mansion. Kalau bisa buat pengaman di setiap sudut. Aku mau tiga hari semua sudah selesai."
"Saya mengerti Tuan. Darius akan membantu saya nanti." Jawab Jeremy segera pamit.
"Sial! sial! sial!" Dominic tidak mengerti kenapa dirinya punya Daddy seperti Antonio. Emosinya kini benar-benar sedang berada di puncak nya.
Tapi Dominic masih mengingat disini ada anak di istrinya.
Dominic kembali ke kamar putranya terlebih dahulu. Ia harus melihat keadaan Damian. Putra nya itu pergelangan nya biru.
"Son" Panggil Dominic. Damian kini sedang di obati oleh Russo.
"Daddy, bagaimana keadaan Mommy?" Tanya Damian. Dirinya juga sangat mengkhawatirkan sang Mommy.
"Mommy baik-baik saja sayang." Dominic mengambil ahli untuk mengobati Damian. Russo juga keluar. Mungkin ayah dan anak itu butuh waktu berdua.
"Maafkan Daddy atas ke kacauan ini" Tapi bagaimana pun, ia sangat bangga terhadap putra nya. Sikap nya yang tenang dan tidak ada ketakutan di landa seperti ini, patut di ajungi jempol. Damian itu benar-benar penerus nya.
"Aku mengerti Dad, tapi apakah pria tadi...maksud Dami Daddy nya Daddy memang punya sifat menjijikkan seperti itu?" Tanya Dami dengan penasaran. Yang paling penasaran nya, kenapa Antonio mau Mommy nya mati.
"Iya, Dia memang seperti itu. Kamu harus berjaga-jaga jika dia datang. Tapi Daddy pastikan dia tidak akan berani membunuh mu."
"Aku tahu Dad. Apa Dami boleh berlatih bela diri seperti pengawal Daddy yang di belakang? Dami ingin menjadi kuat agar bisa melindungi Mommy darinya" Dominic menatap mata putranya. Terlihat ada kepercayaan tinggi di dalam nya.
"Tentu saja Anakku. Kamu memang harus menjadi kuat untuk melindungi Mommy. Kalau bisa harus lebih kuat dari Daddy." Bangga Dominic.
Dominic telah selesai mengobati pergelangan tangan Damian. Tak lupa juga Dominic membereskan obat-obatan nya.
Dominic meletakkannya tangan nya di bahu Damian " Daddy bangga kepada mu Damian. Sangat bangga, kamu memang di lahirkan kedua ini untuk menjaga Mommy."
"Aku juga tahu. Dan Dami juga bangga punya Daddy hebat seperti kamu" Dominic tersenyum mendengar nya. Dan ia langsung saja memeluk Damian.
"Daddy lebih bangga memiliki kamu Anakku." Dominic melepaskan pelukan nya lalu ia mencium kening Damian.
"Istirahatlah lah Son. Daddy harus menemui Mommy mu dulu."
"Baik Dad, tolong jaga Mommy." Jawab Damian.
"Daddy mengerti."