Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.
Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.
Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.
Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.
Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.
Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.
Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. PUTRI YANG KEMBALI BERSINAR
Hari ini, kediaman Rowan Desmond jauh lebih ramai dibandingkan biasanya. Khususnya ketika sore turun.
Para pelayan wanita berlalu-lalang di koridor dengan wajah penuh rasa penasaran. Beberapa bahkan hampir berlari kecil sambil menahan gaun mereka agar tidak tersandung.
"Apa benar?"
"Aku dengar dia sangat cantik!"
"Katanya seperti boneka hidup!"
"Tidak, sungguh! Aku melihatnya sendiri!"
Suara-suara antusias memenuhi koridor lantai dua.
Semuanya bermula ketika salah satu pelayan yang sejak pagi membantu Cecilia menjalani perawatan tubuh berlari keluar kamar tamu dengan wajah memerah karena terlalu bersemangat.
"Aku bersumpah demi Dewi Cahaya! Dia cantik sekali!"
Seruan itu membuat para pelayan lain langsung mengerubunginya.
"Siapa?"
"Nona Cecilia!"
"Benarkah?!"
Pelayan itu mengangguk berkali-kali.
"Kalian tidak akan percaya! Setelah mandi bunga, pijat, perawatan rambut, memakai gaun yang dibelikan Tuan Rowan, dan dirias sedikit, Nona Cecilia benar-benar terlihat seperti seorang putri!" ujar pelayan tersebut penuh semangat.
"Putri?"
"Bahkan lebih cantik dari sebagian besar bangsawan yang pernah kulihat! Dia cantik seperti Permaisuri dan Nyonya Duchess!"
Para pelayan terdiam.
Kemudian mereka langsung berbondong-bondong menuju kamar tamu.
Dalam waktu singkat koridor depan kamar Cecilia dipenuhi para pelayan yang ingin melihat sendiri seperti apa rupa gadis misterius yang selama ini tinggal di kediaman Rowan.
Mereka mengintip dari celah pintu.
Ada yang berdiri di ujung kaki.
Ada yang mendorong pelan rekannya agar mendapat posisi lebih baik.
Sementara itu di dalam kamar, Cecilia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi pusat perhatian seluruh pelayan wanita.
Gadis itu sedang duduk di depan cermin besar. Gaun berwarna biru muda dengan bordiran perak membungkus tubuhnya dengan sempurna.
Rambut pirang platinum Cecilia yang biasanya dibiarkan terurai kini ditata dengan lembut. Beberapa helai rambut sengaja dibiarkan membingkai wajahnya.
Riasan tipis memertegas mata sang gadis yang jernih.
Kulit putihnya terlihat bersinar dengan leher jenjangnya terlihat anggun.
Dan postur tubuhnya adalah postur seorang putri sejati; bahu tegak, punggung lurus. Gerakan halus.
Etika yang tertanam sejak kecil masih melekat dalam diri Cecilia meski tiga tahun terakhir ia hidup sebagai pemburu relik.
Bahkan para pelayan yang bertugas mendandani Cecilia beberapa kali dibuat terpaku hanya karena melihatnya duduk diam. Seolah-olah mereka sedang melihat lukisan hidup. Atau putri dari dongeng kuno.
Di saat yang sama kereta kuda kerajaan berhenti di halaman depan kediaman.
Rowan turun terlebih dahulu, disusul Garrick setelah selesai dengan urusan di istana tentang laporan mengenai roh jahat dari pagi.
Hari ini mereka akan mengantar Cecilia menuju istana sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh Kaisar.
Namun begitu memasuki bangunan utama, keduanya langsung menyadari ada sesuatu yang tidak biasa.
Kediaman yang biasanya tenang terasa jauh lebih hidup. Bahkan terlalu hidup. Para pelayan tampak berkumpul di satu arah. Suara bisik-bisik terdengar di mana-mana.
Garrick mengernyit, "Ada apa?"
Rowan mengangkat bahu. "Aku juga tidak tahu."
Mereka berjalan menuju sumber keramaian.
Semakin dekat ke kamar tamu, semakin banyak pelayan yang terlihat.
Hingga akhirnya mereka menemukan hampir seluruh pelayan wanita berdiri di depan satu area.
Area kamar tamu, tepatnya depan pintu kamar Cecilia.
Melihat Rowan datang, para pelayan langsung panik. Mereka buru-buru membungkuk hormat.
"Tu-Tuan Rowan!"
"Anda sudah kembali!"
Rowan menatap mereka bergantian dan bertanya, "Ada apa sampai kalian berkumpul di sini?"
Para pelayan saling pandang. Kemudian salah satu dari mereka maju.
Dengan wajah malu-malu pelayan itu menjawab, "Kami hanya ingin melihat Nona Cecilia."
"Melihat Cecilia?" ulang Rowan
"Karena ternyata beliau sangat cantik," jelas sang pelayan malu-malu.
Rowan berkedip.
Garrick juga terlihat bingung. "Sangat cantik?"
Pelayan itu mengangguk cepat. "Benar, Tuan. Beliau seperti Putri sungguhan! Lebih cantik dari kebanyakan bangsawan! Kami belum pernah melihat kecantikan seperti Nona Cecilia sebelumnya."
Para pelayan lain langsung mengangguk setuju.
Rowan dan Garrick saling pandang. Rasa penasaran muncul di wajah keduanya.
Akhirnya Rowan mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
"Boleh aku masuk?" tanya Rowan sopan.
"Silakan." Suara Cecilia terdengar dari dalam.
Rowan membuka pintu, lalu melangkah masuk bersama Garrick.
Di dalam kamar masih ada beberapa pelayan yang membantu merapikan gaun Cecilia. Melihat Rowan datang mereka langsung membungkuk hormat, kemudian bergeser perlahan untuk memberikan jalan. Memerlihatkan sosok yang sejak tadi menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kediaman.
Dan saat itulah napas Rowan tertahan. Matanya sedikit melebar hingga untuk beberapa detik ia hanya berdiri diam memandang Cecilia.
Gadis itu terlihat sangat berbeda. Gaun mewah yang dikenakan, rambut tertata rapi ditambah riasan tipis. Semuanya menyatu dengan sempurna. Namun yang paling menarik perhatian Rowan bukanlah pakaian itu.
Melainkan cara Cecilia membawanya. Setiap gerakan, ekspresi, tatapan, semuanya begitu alami. Seolah-olah ia memang dilahirkan untuk berada di lingkungan istana.
Karena memang itulah kenyataannya. Cecilia adalah seorang putri.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama ... Putri itu kembali bersinar.
Senyum perlahan muncul di wajah Rowan. Kini ia benar-benar mengerti mengapa para pelayan begitu heboh.
Di sampingnya Garrick tampak membeku. Mata pria paruh baya itu mulai memerah. Lalu tanpa sadar ia tersenyum sedih penuh kerinduan dan nostalgia.
"Sudah lebih dari tiga tahun ..." Suara Garrick terdengar serak.
Cecilia menoleh.
"Sejak terakhir kali aku melihat Anda dalam pakaian seperti ini, Nona. Lihatlah betapa cantiknya Anda." Air mata mulai berkumpul di sudut mata Garrick.
Cecilia terdiam.
Garrick menundukkan kepala. "Maafkan saya, Nona. Saya tidak bisa membuat Anda mengenakan pakaian mewah dan aksesoris mahal seperti ini. Padahal Anda adalah Putri kami yang sedang berusaha untuk kerajaannya."
Suasana mendadak menjadi hening.
Namun Cecilia justru tertawa hangat nan tulus lalu berkata, "Tidak perlu seperti itu, Garrick."
Garrick mengangkat wajahnya.
Cecilia tersenyum. "Kau dan yang lain sudah memberikan semua yang kubutuhkan selama ini."
"Tapi-"
"Kalian selalu melindungiku. Kalian menjauhkanku dari kelaparan. Bahkan tetap berada di sisiku meski seluruh dunia berubah. Itu adalah hal termewah yang pernah kumiliki. Kau dan yang lain sudah memberikanku lebih dari cukup," ucap Cecilia.
Garrick menggigit bibir. Matanya semakin berkaca-kaca.
"Oh, Nonaku yang malang. Semoga kebahagiaan dan kebaikan selalu diberikan untuk Anda," ujar Garrick dengan suara bergetar.
Cecilia tersenyum. Ia juga memerhatikan Garrick dari atas hingga bawah. Hari ini pria paruh baya yang sudah seperti kakaknya itu, kini mengenakan seragam formal kesatria. Memang seragam milik kediaman Rowan. Namun tetap saja pemandangan itu membuat Cecilia teringat masa lalu.
Saat kerajaan mereka masih berdiri megah. Saat para kesatria De Landon masih menjaga istana dan dunia mereka belum berubah menjadi negeri batu.
Tiba-tiba Rowan maju selangkah. Gerakannya tenang. Sempurna seperti seorang bangsawan yang telah menjalani pelatihan etika sejak lahir.
Rowan membungkuk di depan Cecilia. Lalu mengulurkan tangan.
"Kalau begitu, izinkan aku yang mendampingimu ke istana, Tuan Putri Cecilia De Landon." Senyum Rowan tampak begitu tampan.
Cecilia membeku. Sudah lama sekali sejak terakhir kali seseorang menyebut gelarnya dengan penuh penghormatan seperti itu.
Dadanya terasa hangat. Pipi gadis itu perlahan memerah. Namun berkat pendidikan kerajaannya, ia segera menenangkan diri. Dengan gerakan anggun Cecilia mengulurkan tangan.
"Mohon bantuannya hari ini, Tuan Desmond," ujar Cecilia.
Senyum Rowan semakin lebar. Ia mengecup lembut punggung tangan Cecilia. Membuat beberapa pelayan di belakang langsung menahan jeritan antusias.
Rowan lalu menegakkan tubuh. Mengulurkan lengannya.
Cecilia menggenggam lembut tangan Rowan. Dan mereka berjalan keluar kamar bersama.
Sebelum meninggalkan ruangan, Cecilia sempat menoleh. Ia memandang para pelayan yang sejak pagi membantunya.
"Terima kasih atas bantuannya hari ini," ujar Cecilia tulus.
Para pelayan langsung membungkuk hormat. "Kami yang berterima kasih, Nona."
Di sepanjang koridor bisik-bisik antusias kembali terdengar.
"Mereka cocok sekali."
"Seperti pasangan bangsawan dalam cerita."
"Lihat cara mereka berjalan ....."
"Aku tidak bisa berhenti melihat."
Cecilia pura-pura tidak mendengar.
Sementara Rowan tampak sangat menikmati situasi itu.
Tak lama kemudian mereka tiba di halaman depan. Kereta kuda kerajaan telah menunggu.
Rowan membantu Cecilia menaiki kereta. Kemudian ikut masuk dan duduk berhadapan dengannya.
Di luar Garrick memimpin pengawalan bersama para kesatria.
Rombongan pun bergerak menuju istana.
Hari ini bukan pesta biasa. Seluruh Kerajaan Aurelius mengetahui alasan acara itu diadakan adalah pesta dansa yang dibuat khusus untuk menyambut Cecilia. Sekaligus memberikan penghormatan kepada gadis yang telah menyelamatkan ribuan penduduk dari kerasukan roh jahat.
Nama Cecilia telah menyebar ke seluruh penjuru kerajaan.
Di dalam kereta, Cecilia memandang keluar jendela. Melihat jalanan ibu kota yang ramai.
Beberapa warga mengenali lambang keluarga Desmond pada kereta. Mereka membungkuk hormat saat rombongan lewat.
Tak lama kemudian istana Aurelius mulai terlihat.
Megah.
Berkilauan.
Dan penuh sejarah.
Sesampainya di sana, Rowan turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Cecilia turun.
Cecilia menerimanya. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, Rowan kembali menekuk lengannya. Isyarat agar Cecilia menggamit lengan Rowan.
Namun sebelum melakukannya, Cecilia bertanya pelan, "Apa tidak masalah aku datang denganmu seperti ini?"
Rowan menoleh. "Maksudmu?"
"Bagaimana jika para bangsawan berpikir aku memiliki hubungan khusus denganmu? Nanti reputasimu bagaimana?" Cecilia tampak canggung.
Rowan menatap Cecilia beberapa detik. Lalu tertawa cukup keras.
"Siapa yang berani membicarakanku?" tantang Rowan.
Cecilia berkedip.
Rowan menyeringai. "Kau belum tahu seperti apa pengaruh keluargaku dan namaku, ya? Jangan remehkan aku. Aku sama terkenalnya dengan Kaisar, kau tahu."
Cecilia langsung tertawa. "Aku tidak tahu kalau kau punya sisi seperti ini. Terlalu percaya diri."
"Tentu saja. Terkadang aku harus sombong ketika diperlukan." Rowan mengangkat dagu.
Cecilia kembali tertawa. Untuk pertama kalinya sejak pagi, rasa gugupnya sedikit berkurang.
Mereka pun berjalan menuju aula utama.
Sesampainya di depan pintu besar, dua penjaga kerajaan segera membuka pintu.
Lalu salah satu dari mereka mengumumkan dengan suara lantang kedatangan mereka berdua.
"Yang Mulia Tuan Rowan Desmond! Dan tamu kehormatan Kerajaan Aurelius, Nona Cecilia De Landon!"
Suara itu menggema ke seluruh aula.
Dalam sekejap semua percakapan berhenti. Ratusan pasang mata menoleh bersamaan. Lalu mereka melihatnya.
Rowan dan Cecilia.
Bisikan langsung bermunculan.
"Itu dia?"
"Gadis yang menyelamatkan semua orang?"
"Dia sangat cantik."
"Astaga cantik sekali!"
"Dia rakyat biasa? Bangsawan?"
Para wanita bangsawan menatap Cecilia dengan takjub. Para pria pun tidak jauh berbeda ketika melihat sosok Cecilia.
Sementara Rowan tetap berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Ia sedikit menunduk ke arah Cecilia.
"Gugup?" bisik Rowan ke Cecilia.
Cecilia mengangguk jujur. "Sudah lama sejak terakhir kali aku datang ke acara seperti ini. Tanganku sampai dingin."
Rowan menahan tawa. "Kau sanggup menghadapi puluhan roh jahat. Tapi merasa pesimis hanya karena sebuah pesta?"
"Maaf saja. Aku bukan penikmat pesta dan anggur." Cecilia mendelik.
Rowan tersenyum lebar dan berbisik, "Tenang saja. Aku akan melindungimu dari undangan berdansa. Bagaimanapun juga aku seorang kesatria."
Cecilia memandang Rowan datar. Candaan itu sangat buruk. Namun entah kenapa membuatnya ingin tertawa.
Sayangnya tidak semua orang di aula menyambut kedatangan Cecilia dengan baik.
Di sudut ruangan, di antara kelompok bangsawan muda. Seorang wanita bergaun merah tua berdiri sambil menggenggam kipasnya terlalu erat.
Matanya terus mengikuti Cecilia. Tatapan yang tajam, dingin, dan penuh rasa tidak suka atau mungkin kebencian.
Alasannya? Karena satu alasan sederhana; Cecilia datang bersama Rowan Desmond.
Pria yang selama bertahun-tahun menjadi pusat perhatian para wanita bangsawan.
Pria yang sulit didekati.
Pria yang tidak pernah membawa pasangan ke acara apa pun.
Namun hari ini Rowan datang menggandeng seorang gadis. Dan gadis itu bahkan tampak seperti putri dari dongeng.
Kipas di tangan wanita bergaun merah itu berderit pelan. Matanya menyipit, dan bergumam, "Berani sekali mendekati Tuan Rowan ketika seharusnya aku yang berjalan di sisinya. Bukan perempuan tidak jelas asal usulnya itu."
Sementara di tengah aula Cecilia sama sekali belum menyadari bahwa dirinya baru saja menjadi pusat kecemburuan setengah kaum wanita bangsawan di Kerajaan Aurelius.
Terutama perempuan bergaun merah anggur yang terobsesi dengan Rowan Desmond.
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/