NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Retakan Memori yang Kelam

Dinding beton ruang bawah tanah Mansion Utama dinasti Garrick selalu menyimpan hawa dingin yang tidak sehat. Malam ini, kelembapan yang berbau besi tua dan semen basah terasa lebih pekat, merayap masuk ke sela-sela pakaian, menciptakan atmosfer mencekik yang sanggup merontokkan keberanian siapa pun. Di tengah ruangan, di bawah seberkas cahaya pucat dari lampu gantung tunggal, Doni terikat tak berdaya. Mantan kepala divisi logistik angkatan lama itu tampak ringkih di atas kursi besi berat yang mengunci pergelangan tangannya dengan rantai taktis berlapis baja.

Rambut peraknya yang biasa tertata rapi kini basah kuyup oleh keringat dingin yang mengalir dari pelipis, menetes ke lantai semen. Di sekelilingnya, kegelapan ruangan seolah hidup, diisi oleh bayangan-bayangan masif dari kelima kakak laki-laki Alana yang berdiri mengurungnya bagai sekumpulan predator yang siap menguliti mangsa.

"Satu tahun yang lalu, Doni," Dominic membuka suara. Langkah kakinya yang dibungkus sepatu boots militer berat bergaung konstan, menciptakan ketukan ritmis yang meneror mental. Dominic melangkah ke bawah sorotan lampu, membuat bayangan tubuh raksasanya menenggelamkan sosok Doni sepenuhnya. "Melalui pembersihan data siber dari peladen cadangan, kami menemukan jejak transaksi gelap berskala besar dari Zurich yang masuk ke rekening pribadimu. Kau memalsukan manifes perjalanan domestik dan membersihkan seluruh jalur perimeter luar paviliun barat malam itu. Katakan, instruksi spesifik apa yang kau terima dari Arthur Vance?!"

"Ampun, Signor Dominic! Saya bersumpah... saya bersumpah demi nyawa saya, saya tidak tahu kalau transaksi itu mengalir langsung dari Arthur Vance! Saya hanya menerima dana untuk menutup mata dan telinga dari aktivitas di perimeter luar!" Doni meratap, suaranya parau dan gemetar, memicu derit nyaring dari rantai besi yang mengunci tubuhnya.

Cedric melangkah maju dari kegelapan. Wajahnya yang penuh tato ular tampak kaku, matanya berkilat haus darah yang pekat. Tanpa suara, dia memutar belati taktis bergerigi di jemarinya dengan kecepatan yang mengerikan, sebelum tiba-tiba menempelkan ujung mata pisau yang sedingin es itu ke pelipis Doni. "Jangan berbohong di hadapanku, tua bangka. Arthur Vance, sang penasihat strategi aliansi global, tidak akan membuang dana jutaan euro ke rekening Swiss milikmu jika kau tidak melakukan pekerjaan kotor yang besar untuknya. Apa yang kau sembunyikan dari kami satu tahun lalu?!"

Di sisi lain meja interogasi, Alana duduk dengan keanggunan yang mutlak. Gaun beludru hitam yang dikenakannya melekat pas, menyembunyikan dengan sempurna bekas-bekas luka cambuk dari Eleanor yang kini mulai mengering di punggungnya. Sepasang matanya yang jernih menatap Doni dengan ekspresi The Ice Queen—datang tanpa kemarahan yang meledak-ledak, dingin, dan nyaris tanpa emosi manusia.

Namun, entah mengapa, sejak melangkah masuk ke ruangan bawah tanah ini, ada rasa sesak yang aneh di dada Alana. Bau semen lembap dan keheningan yang menggaung di tempat ini terasa terlalu akrab. Detak jantungnya mulai berpacu lebih cepat, menciptakan debaran abnormal yang membuat jemarinya yang memegang pena perak perlahan mendingin.

Xavier melangkah maju, merapikan manset kemeja sutranya dengan gerakan lambat yang elegan namun mematikan. Dia melemparkan selembar bermanifes bank yang telah dicetak tepat ke pangkuan Doni yang bersimbah peluh. "Jaringan bank gelap yang kau gunakan di Zurich telah kubekukan total dalam waktu tiga puluh menit terakhir, Doni. Kau tidak punya aset lagi di dunia ini, tidak punya pelindung, dan tidak punya apa-apa lagi untuk dinegosiasikan. Buka mulutmu sebelum Cedric memutuskan untuk memotong lidahmu."

Doni mendongak, menatap kelima pemuda Garrick yang kini telah menjelma menjadi penguasa absolut dunia bawah tanah Monako. Di ujung kehancuran mentalnya, di bawah tekanan gila dari tatapan haus darah mereka, pertahanan jiwa Doni runtuh sepenuhnya. Dia berteriak dalam keputusasaan yang histeris, sebuah pengakuan yang jujur namun sarat akan racun masa lalu.

"Saya terpaksa! Nyonya Eleanor yang membawa perintah itu kepada saya! Satu tahun lalu, Nyonya Eleanor menyuruh saya mengisolasi total paviliun barat selama tiga hari berturut-turut! Dia menyuruh saya mematikan seluruh CCTV, memutus alarm darurat, meredam suara, dan memalsukan laporan patroli agar tidak ada satu pun dari kalian para pemuda Garrick yang tahu..." Doni terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar, "...agar tidak ada yang tahu kalau Signorina Alana dikurung di dalam ruang isolasi putih tanpa cahaya dan tanpa suara untuk dipatahkan mentalnya atas perintah Arthur Vance! Kalian semua tidak ada yang peduli malam itu! Kalian semua mengabaikannya dan membiarkannya membusuk sendirian!!"

Deg.

Kata-kata Doni melesat bagai peluru perak yang menghantam tepat ke dada orang-orang di dalam ruangan tersebut.

Keheningan yang mencekik mendadak jatuh, merayap begitu berat hingga suara tetesan keringat Doni ke lantai semen seolah bisa terdengar. Dominic membeku di tempat, tangannya yang bersiap mencengkeram kerah Doni tertahan di udara. Cedric yang biasanya meledak-ledak mendadak menurunkan belatinya, rahangnya mengetat begitu keras hingga urat lehernya menonjol, sementara wajah Xavier berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Di balik meja monitor siber di sudut ruangan, Julian dan Adrian menghentikan gerakan jemari mereka di atas papan ketik.

Satu tahun lalu. Sebuah masa di mana mereka berlima masih terjebak dalam ego faksi masing-masing. Masa di mana mereka mengabaikan kehadiran Alana, menganggap adik perempuan mereka hanyalah anak haram yang tidak penting dan tidak layak mendapatkan perhatian mereka. Ternyata... di balik pengabaian mereka, di dalam rumah mereka sendiri, adik kecil yang kini mereka puja dan lindungi mati-matian, pernah disekap dalam ruang isolasi sensorik yang mematikan, dihancurkan mentalnya secara kejam tanpa ada satu pun dari mereka yang datang mengulurkan tangan. Penyesalan dan rasa bersalah yang teramat pekat mengalir seketika, membakar dada kelima kakak dengan rasa sakit yang luar biasa.

Namun, reaksi yang paling destruktif terjadi pada Alana.

Mendengar frasa "ruang isolasi putih", "tanpa cahaya", dan "membiarkannya membusuk sendirian", sesuatu di dalam labirin pikiran Alana mendadak pecah dengan bunyi retakan yang menyakitkan. Pena perak di jemarinya terlepas, jatuh ke lantai beton dan menggelinding dalam sunyi yang absolut.

Sepasang mata jernih Alana melebar sempurna, pupilnya mengecil. Napasnya mendadak tercekat di tenggorokan, menjadi pendek, parau, dan terengah-engah seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak lenyap. Sebuah denyutan rasa sakit yang luar biasa hebat menghantam pelipisnya, membuat seluruh pandangannya kabur, berputar, dan diselimuti kilatan warna putih yang menyilaukan.

Dinding pertahanan memori yang selama satu tahun ini dibangun oleh otaknya—sebuah mekanisme pertahanan jiwa otomatis untuk mengubur trauma yang terlalu mengerikan agar tidak merusak kewarasannya—runtuh sepenuhnya malam ini. Kata-kata Doni bertindak sebagai pelatuk yang menjebol gerbang neraka masa lalu Alana.

Secara instan, Alana tidak lagi berada di ruang interogasi Monako bersama abang-abangnya. Pikirannya ditarik paksa kembali ke sebuah ruangan satu tahun lalu. Sebuah ruangan di mana seluruh dinding, lantai, dan langit-langitnya berwarna putih bersih yang hambar. Tempat di mana lampu neon menyala dua jam dua puluh empat jam tanpa henti, tanpa ada sudut, tanpa ada bayangan, dan tanpa ada suara apa pun selain detak jantungnya sendiri yang perlahan membuatnya gila dalam kesendirian. Rasa sepi yang mencekik dan ketakutan eksistensial karena diabaikan oleh keluarganya sendiri mendadak membanjiri seluruh sistem saraf Alana di masa sekarang.

Alana perlahan bangkit dari kursinya. Gerakannya goyah, tidak ada lagi keanggunan mutlak dari The Ice Queen. Seluruh tubuhnya bergetar hebat—sebuah pemandangan yang belum pernah dilihat oleh kelima kakaknya semenjak gadis itu mengambil alih kendali dinasti. Wajah Alana seputih kain kafan, bibirnya yang biasa mengulas senyuman tipis yang manipulatif kini bergetar tanpa suara.

"Alana..." Dominic melangkah maju dengan kepanikan yang luar biasa, suaranya bergetar ketakutan melihat kondisi adiknya yang tampak seperti porselen retak yang siap hancur kapan saja. Dominic mengulurkan tangan raksasanya, mencoba menopang tubuh kecil adiknya.

"Jangan... jangan sentuh aku!" Alana mendesis serak, suaranya parau dan dipenuhi keputusasaan yang mentah. Dia melangkah mundur, menjauh dari jangkauan tangan Dominic.

Tatapan mata Alana menyapu kelima kakaknya bergantian. Di dalam bola mata yang biasanya dingin dan penuh taktik itu, kini hanya ada trauma mendalam seorang gadis remaja yang mengingat kembali kenyataan pahit: bahwa pria-pria masif di hadapannya ini adalah orang-orang yang dulu memilih untuk menutup mata dan membiarkannya membusuk dalam ruang isolasi putih tersebut.

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Alana berbalik dengan langkah yang limbung. Dia berlari meninggalkan ruang interogasi bawah tanah, mengabaikan panggilan panik dari kakak-kakaknya yang menggema di koridor beton. Dinding pertahanan sang Ratu telah runtuh, meninggalkan kelima abangnya terkunci di dalam ruang bawah tanah bersama badai penyesalan yang terlambat, rasa bersalah yang meremukkan dada, dan amarah luar biasa yang siap mereka tumpahkan untuk menghancurkan Arthur Vance di Swiss.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!