Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Kebakaran
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Silakan coba beberapa saat lagi."
Sudah kesekian kali Arinta mencoba, tapi tak kunjung mendapat jawaban. Ia masih bisa sedikit berpikir positif, kalau semua orang disana sudah tidur, mengingat sudah hampir jam dua belas malam.
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang sibuk-"
Ah, kali ini teleponnya sibuk, yang berarti si penerima sedang menerima panggilan lain.
Arinta merebahkan dirinya dengan perasaan yang masih belum tenang. Semoga saja tidak ada apa-apa.
Sial. Arinta baru bisa benar-benar tidur saat menjelang pagi. Akhirnya pagi ini ia terlihat sangat lesu.
"Semalem kenapa sih? Kamu kayak abis maraton itu, berantakan banget," ucap Miza mengomentari penampilan Arinta yang seperti zombie.
"Perasaan Arinta tiba-tiba nggak enak. Arinta udah coba hubungin panti, awalnya nggak diangkat, terus dicoba lagi malah sibuk panggilannya."
"Panti? Rumah Kasih maksud kamu?"
"Iya! Kita bisa kesana sekarang kan?" tanya Arinta.
"Tapi kan katanya mau ke makam..."
"Nanti pulang dari panti kita ke makam," jawab Arinta.
"Ya udah," sahut Miza tanpa penolakan.
Arinta menepuk kepalanya pelan seakan melupakan satu hal.
"Lupa!! Ada janji kerkom hari ini sama Diah."
"Terus? Nggak jadi?" tanya Miza.
"J-jadi. Bisa nanti sore kok kerkomnya," jawab Arinta memutuskan mentah-mentah.
Arinta tidak bisa bernapas lega saat sampai di panti. Garis polisi sudah di pasang disebagian bangunan, sementara sebagian lagi sudah habis di lahap si jago merah.
"Maaf pak, ini ada apa ya?" tanya Miza pada seorang warga yang kebetulan ada disana.
"Tadi malem ada kebakaran, pak. Lumayan gede, berhubung banyak anak-anak kecil, korbannya juga lumayan banyak, ditambah lagi pas tengah malem."
"Yang bener? Tapi semua selamet kan?" tanya Arinta was-was.
"Selamat kok, neng. Tapi lumayan banyak yang luka parah, katanya ada yang langsung sadar pas apinya baru muncul, jadi sebagian anak-anak ngalamin luka ringan aja," jelasnya sambil sedikit berbisik.
"Bapak ini saksi? Kok nggak ke kantor Polisi?" tanya Miza.
"Bapak takut sama Polisi, jadi mending pura-pura nggak tau aja," jawabnya lagi sambil berbisik.
"Terus sekarang anak-anak pada diungsikan kemana, pak?" tanya Arinta yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Kalo itu bapak kurang tau. Itu semalem langsung dibawa sama orang-orang Dinsos, sebagian yang ngalamin luka dibawa ke rumahsakit."
"Rumahsakit mana?" tanya adik dan kakak itu bersamaan.
"Rumahsakit Salimun."
Miza langsung tancap gas begitu mengetahui rumahsakit yang di maksud adalah tempatnya bekerja, lebih kepaksaan Arinta sih.
"Kamu setakut itu ya kalo anak panti kenapa-kenapa?"
"Mereka kan anak-anak," jawab Arinta mengeluarkan alasan lain.
"Temen kamu yang kembar itu nggak mungkin kenapa-kenapa, mereka udah gede, bisa lari duluan," ucap Miza santai.
"Mereka nggak egois. Justru karena mereka udah gede, pasti ngalah sama yang kecil-kecil."
"Iya iya. Kamu nggak usah khawatir, kebakaran itu nggak bakal makan nyawa. Tadi kamu liat sendiri kan? Bangunannya masih utuh, cuma sampingnya-"
"Cuma?! Itu hampir abis loh bangunannya. Kata si bapak tadi juga kebakarannya lumayan gede."
"Iya, oke. Sekarang kamu tenang dulu."
Arinta tidak menyahut lagi, matanya sibuk menyapu jalanan yang tidak begitu ramai dengan mobil, hanya beberapa motor. Bangunan-bangunan yang belum pernah Arinta lihat pada tahunnya, mungkin dua puluh tahun kemudian, semua bangunan diperbagus atau mungkin diratakan.
Mata Arinta terpaku pada satu hal yang baru saja ia lihat. Mobil sudah menjauh, tapi Arinta masih berusaha melihat kebelakang.
"Liatin apa sih? Temen kamu?" tanya Miza.
Baru Arinta mau menjawab, tapi langsung diurungkan. Pasalnya yang ia lihat adalah ayah, ibu dan dua orang bocah kecil, yang bisa ditebak itu adalah Fara dan Ari.
"Kangen mama, papa," ucap Arinta akhirnya.
"Nanti kan kita ngunjungin mereka."
Arinta menunduk, makam siapa? ibu ayah masih hidup!
Miza berjalan santai memasuki rumahsakit, berbeda dengan Arinta yang sedikit tergesa menuju resepsionis.
"Pasien dari panti asuhan yang semalem dimana?" tanya Arinta.
"Pasien atas nama siapa, kak?"
"Utama Pradipta? Utami Pradipta? Ada ngga?" tanya Arinta.
Ia mengangguk.
"Pasien atas nama Utama Pradipta dari panti asuhan Rumah Kasih?"
"Iya."
"Di ruangan nomor 127."
"Makasi-" Arinta langsung kabur begitu saja meninggalkan si resepsionis, bahkan Miza juga sudah tidak ia sadari keberadaannya sejak turun dari mobil.
Arinta memandangi Tama yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya hampir tak dikenali, sebagian tertutup perban yang melilit kepala hingga ke leher. Hanya matanya yang tertutup rapat, bulu mata yang dulu selalu bergerak gelisah kini diam dalam keheningan. Tabung oksigen menjulur dari hidungnya, membisikan suara pelan yang menyeramkan—seperti napas yang dipinjam dari mesin.
Tami berdiri di sudut ranjang, kedua tangannya terkepal hingga buku-bukunya memutih. Dia tidak berkata apa-apa. Tatapannya terpaku pada jemari Tama yang tergantung lemah di samping tubuhnya.
"Gua yang seharusnya ada di sana," bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.
Arinta menoleh, matanya basah.
"Nggak ada yang tau ini bakal kejadian, Mi." Suaranya bergetar, lebih seperti mencoba meyakinkan diri sendiri daripada sahabatnya. "Dia nyoba nyelametin anak-anak. Itu... itu bukan salah lu."
Tami menunduk, bayangannya sendiri terasa lebih berat daripada dunia di sekitarnya.
"Gua tahu. Tapi kenapa dia harus menderita sendirian?"
Arinta memegang kedua lengan Tami, memaksa kedua mata sayu itu untuk menatapnya.
"Tama nggak bakal kenapa-kenapa. Right? Dia cuma butuh istirahat sebentar."
Tami mengangguk pelan.
Arinta melepaskan pegangannya pada lengan Tami. Pandangannya turun ke pergelangan tangan sang sahabat.
"Lu luka juga? Udah diobatin, kan?"
"Udah."
Mata Arinta menyapu seisi ruangan tersebut. Ternyata ada pengasuh panti yang ikut menunggui, serta beberapa ranjang lain yang sedikit terlihat menumpuk padat di ruangan ini, dengan bocah-bocah kecil diatasnya yang terbaring dengan luka-luka.
Bukankah pasien kritis harusnya dipisahkan ruangannya?
"Sempit ya, neng? Ibu yang minta, supaya lebih leluasa ngawasin mereka semua," ucap seorang pengasuh yang Arinta belum ketahui namanya.
"Iya, bu. Nggak apa-apa banget, saya justru prihatin sama mereka."
"Bu Ira, nggak salah," ucap Tami meyakinkan wanita paruh baya itu.
Bu Ira malah berkaca-kaca. Bagaimana bisa ia biasa saja? Sedangkan anak-anaknya tidak dalam keadaan baik. Kamarnya memang tidak begitu dekat dengan pusat api, jadi kondisinya bisa dibilang baik-baik saja.
Miza yang sudah dari tadi ada di ambang pintu, urung untuk masuk. Ia lebih memilih menunggu diluar. Sejujurnya ia bingung kenapa Arinta sebegitu khawatir dan takutnya.
"Aida, Rafa, sama Alda? Mereka nggak apa-apa?"
Hanya ketiga bocah itu yang Arinta kenal, jadi ia hanya menanyakan bocah-bocah itu pada Tami.
Tami mengangguk.
"Syukur deh. Tapi mereka..." Arinta memandang anak-anak lain yang juga terbaring di ranjang rumahsakit, walaupun tidak separah Tama.
"Pengobatannya.."
"Ditanggung Dinsos, Ta. Kita nggak bakal ngemis-ngemis bantuan kok," jawab Tami.
"Kok ngomong gitu sih? Maksudnya apa?" tanya Arinta yang merasa tersinggung.
"Nggak."
Arinta harus bisa mengontrol emosinya disini, ini bukanlah rumah yang bisa bebas berbuat sesuka hati. Mungkin Tami sedang merasakan ketidakstabilan emosi, jadi wajar saja.
***