NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: tamat
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Bab 35

Suara denting piring dan sendok terdengar jelas di ruang tengah. Weni dan Vena sedang asyik menikmati jajanan pasar hasil 'ambil' dari rumah sebelah. Mulut mereka tak henti bergerak, bukan hanya mengunyah, tapi juga mengoceh soal berita besar yang baru saja mereka dapatkan.

"Pokoknya orangnya pasti berada Ven," ujar Weni sambil mengambil potongan puding cokelat. "Mobilnya mewah, bajunya rapi, orang tuanya juga kelihatan terpandang banget. Nasib si Celsi emang kadang nggak masuk akal."

Vena mengangguk pelan, tapi matanya terlihat kosong. Ada rasa aneh yang menjalar di dadanya. Campuran antara kaget, iri, dan sedikit rasa tidak terima.

"Terus kapan mereka nikah Bu?" tanya Vena pelan.

"Belum tahu. Kan baru lamaran," jawab Weni santai. "Tapi yang pasti, si Celsi sekarang udah punya harapan baru. Dapet yang jauh lebih baik dari yang dulu."

Kalimat itu melayang di udara. Tak sadar, pintu kamar belakang terbuka sedikit. Rangga baru saja keluar dari kamar mandi. Handuk kecil di leher, rambutnya masih basah. Langkah kakinya terhenti tepat di balik dinding pembatas.

Telinganya menangkap setiap kata.

Celsi dilamar.

Orang kaya.

Ganteng kayak orang Cindo.

Dada Rangga terasa sesak tiba-tiba. Udara seakan menyempit. Dia berdiri mematung, jemarinya mengepal kuat di samping badan. Celsi? Mantan istrinya? Akan menikah lagi?

Pikirannya berputar kacau. Selama ini dia pikir Celsi akan tetap sendiri. Menunggu. Atau setidaknya hidup susah seperti dulu. Tapi kenyataan mengatakan sebaliknya. Wanita itu akan bahagia lagi. Bersama orang lain.

"Rangga!" seru Weni dari ruang tengah. "Ngapain berdiri di situ? Masuk sini, lihat nih makanan enak."

Rangga menghela napas panjang berusaha menetralkan detak jantungnya yang memburu. Dia menyibakkan handuk dari lehernya lalu berjalan masuk dengan wajah yang dipaksa datar.

"Nggak mau Bu. Aku lagi kenyang," jawabnya singkat.

"Yah, masa sih? Ini sisa lamaran lho Celsi..."

"Aku keluar sebentar," potong Rangga cepat. Dia tak sanggup mendengar nama itu lagi keluar dari mulut Weni. "Motor mau diservice. Bunyi aneh dari kemarin."

"Lho, kan belum sarapan?" tanya Vena heran melihat suaminya yang tampak terburu-buru.

"Nanti saja di jalan. Aku pergi dulu."

Tanpa menunggu jawaban, Rangga langsung melenggang keluar. Pintu ditutup dengan suara yang agak keras. Dia menaiki motor tuanya, memakai helm, lalu melaju meninggalkan rumah dengan pikiran yang berkecamuk hebat.

 

Jalanan kota terasa panas dan berdebu. Tapi Rangga tak peduli. Dia tidak benar-benar pergi ke bengkel. Dia hanya berkeliling tanpa tujuan yang jelas.

Masih cinta.

Kalimat itu muncul begitu saja di benaknya. Rangga mengakui itu. Walaupun dia sudah menikah dengan Vena, walaupun hidupnya sudah terlihat tenang, tapi bayangan Celsi tak pernah benar-benar hilang. Ada rasa bersalah, ada rasa rindu, dan yang paling menyakitkan sekarang adalah rasa tidak rela.

Bagaimana bisa Celsi semudah itu menggantikannya? Bagaimana bisa ada pria lain yang berhak memiliki senyum itu, memiliki hidupnya?

"Aku nggak boleh diam," gumam Rangga pelan. "Aku harus tahu siapa dia. Siapa orang yang berani-beraninya mengambil Celsi dariku."

Niatnya bulat. Dia harus mencari tahu identitas calon suami Celsi.

 

Gerai geprek milik Celsi terlihat ramai seperti biasa. Asap dari wajan penggorengan mengepul, aroma bawang putih dan cabai memenuhi udara. Rangga memarkirkan motornya agak jauh, lalu berjalan mendekat seolah hanya pelanggan biasa.

Matanya menyapu ruangan. Mencari sosok yang dia cari. Tapi Celsi tidak ada di sana. Hanya ada beberapa karyawan yang sibuk melayani pembeli.

Rangga duduk di meja paling pojok.

"Pak, pesan satu paket biasa sama es teh," pesannya pada pelayan yang lewat.

Pelayan itu mengangguk lalu pergi. Tak lama kemudian, datanglah seorang pria bertubuh agak kekar dengan wajah tegas. Itu Joko, kepercayaan Celsi yang juga sering membantu mengurus gerai.

"Ini pesanannya Pak," ujar Joko sambil meletakkan piring berisi nasi dan ayam geprek.

"Makasih Mas," jawab Rangga. Dia menyuap makanannya, tapi rasanya hambar. Pikirannya hanya satu.

Dia memberanikan diri.

"Mas," panggil Rangga pelan.

Joko yang hendak pergi menoleh. "Iya Pak? Ada kurang?"

"Bukan. Cuma mau tanya dikit," Rangga menyenyir, berusaha terlihat santai. "Pemilik tempat ini... Bu Celsi ya? Kok hari ini nggak kelihatan?"

Joko menatap Rangga dari ujung kepala sampai kaki. Ada insting waspada yang muncul. Wajah pria di depannya ini terlihat familiar, tapi tatapannya terlalu intens.

"Iya Bu Celsi. Beliau lagi ada keperluan di rumah Pak," jawab Joko singkat.

"Oh... begitu," Rangga menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Gini lho Mas. Aku ini... teman lama keluarga. Jadi dengar-dengar kalau Bu Celsi ini sebentar lagi mau menikah ya? Benar nggak sih?"

Joko semakin curiga. Alisnya terangkat. "Oh? Bapak teman lama juga? Kok aku nggak pernah lihat sebelumnya?"

"Eh... iya soalnya aku jarang ke sini," Rangga mulai gelagapan. "Cuma penasaran aja. Yang mau nikah sama dia itu siapa sih Mas? Orang sini juga?"

Joko menyilangkan tangan di dada. Senyumnya mengembang tapi dingin.

"Maaf ya Pak, urusan pribadi Bos saya itu bukan ranah saya buat nyebar ke orang lain," jawab Joko tegas. "Lagipula, Bapak ini siapa sebenarnya? Kenapa kepo banget soal jodoh orang?"

Rangga tersentak. Darahnya naik tapi tak bisa berbuat apa-apa. Posisi dia sekarang ada di wilayah kekuasaan Celsi.

"Bukan gitu... aku cuma tanya..."

"Kalau mau makan silakan, kalau mau cari masalah jangan di sini ya," potong Joko lagi. "Saya kerja, Bapak makan. Selamat menikmati."

Joko pergi meninggalkan Rangga yang terdiam dengan wajah memerah menahan malu dan marah. Rangga tak betah lagi di situ. Dia menghabiskan makanannya dengan cepat, membayar, lalu pergi dengan langkah lebar.

"Oke... kalau begitu caranya," gerutunya. "Aku akan cari tahu sendiri."

 

Hari-hari berikutnya, Rangga berubah menjadi pengintai diam-diam. Setelah pulang kerja, alih-alih langsung pulang ke rumah, dia sering parkir di tempat yang agak tersembunyi tak jauh dari rumah Pak Rahman atau dekat gerai makan Celsi.

Dia menunggu.

Dan penantiannya tidak sia-sia.

Sore itu, matahari mulai condong ke barat. Sebuah mobil sedan warna hitam elegan berhenti di depan gerai. Pintu terbuka, keluar seorang pria dengan setelan kemeja yang rapi, potongan rambut modern, dan aura yang sangat berbeda dari orang-orang di sekitar situ.

Tinggi. Putih. Tatapannya tenang tapi berwibawa.

Jantung Rangga berdegup kencang. Itu dia! Itu yang dikatakan tetangga! Wajahnya benar-benar seperti orang Tionghoa peranakan, bersih dan terawat.

Pria itu masuk ke gerai. Terlihat Joko menyambutnya dengan sangat hormat. Mereka berdua duduk di meja khusus, berbicara dengan serius. Sesekali pria itu tersenyum, tapi senyumnya terlihat mahal dan penuh percaya diri.

Rangga mengamati dari balik kaca helmnya. Rasa cemburu dan takut bercampur menjadi satu. Pria ini terlihat sempurna. Terlihat kaya. Terlihat sangat mampu memberikan kehidupan yang jauh lebih baik daripada yang pernah Rangga berikan dulu.

Dengan susah payah, Rangga mulai mencari informasi lewat berbagai cara. Bertanya pada kenalan, menyelidik pelan-pelan. Dan akhirnya dia tahu namanya.

Aska.

Dan bukan sembarang orang. Aska adalah pemilik dari beberapa proyek perumahan dan ruko-ruko besar di kota ini. Seorang pengusaha properti yang sukses di usia muda.

"Brengsek..." Rangga memukul setir motornya keras-keras. "Kenapa harus dia? Kenapa orang sekuat itu yang mau ambil Celsi?"

Kepanikan mulai melanda. Rangga tahu dia tidak bisa menang secara terang-terangan. Aska terlalu tinggi levelnya. Tapi dia tidak bisa membiarkan pernikahan itu terjadi. Ada ide gila yang muncul di kepalanya.

 

Beberapa hari kemudian, di sebuah kantor pemasaran milik perusahaan Aska.

Rangga berdiri di depan resepsionis dengan pakaian yang dirapikan sebaik mungkin. Wajahnya dipaksa serius.

"Saya mau bertemu dengan Pak Aska. Saya berminat menyewa salah satu ruko di lantai dasar ini untuk usaha," kata Rangga.

Alasannya klasik. Dan karena dia datang dengan niat 'menyewa', dia langsung dipersilakan masuk menemui bos besar itu.

Ruangan kerja Aska luas, minimalis, dan sangat modern. Aska duduk di balik meja kerjanya. Saat melihat Rangga masuk, dia langsung berdiri dan mengulurkan tangan dengan senyum ramah nan profesional.

"Selamat siang. Saya Aska," sapanya hangat. Suaranya berat dan menenangkan.

Rangga menjabat tangan itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Siang Pak. Saya... Rian. Iya, saya dengar lokasi ini strategis banget Pak. Jadi tertarik mau sewa."

"Silakan duduk Pak Rian."

Selama hampir satu jam, Aska menjelaskan dengan sangat detail. Lokasi, harga sewa, sistem kontrak, fasilitas keamanan, semuanya dijelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti tapi tetap terlihat berkelas. Rangga hanya mengangguk-angguk tak jelas, pikirannya sibuk menelaah sosok di depannya ini.

Muda. Kaya. Baik budi bahasa.

Benar-benar lawan yang berat.

"Wah... ternyata Bapak ini masih muda banget ya sudah sukses segalanya," Rangga mulai memancing, memasang wajah sok akrab. "Pasti istri Bapak juga bahagia sekali ya punya suami seperti ini. Sudah pasti ibu-ibu sosialita yang cantik kan?"

Aska tertawa kecil. Suaranya renyah. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menatap keluar jendela kaca besar dengan pandangan yang lembut, seolah sedang membayangkan seseorang yang sangat dia sayangi.

"Saya belum menikah Pak Rian," jawab Aska pelan.

Rangga pura-pura kaget. "Wah! Kok bisa? Pasti banyak yang naksir dong?"

Aska mengangguk perlahan. "Benar. Tapi hati saya sudah terikat pada satu wanita saja."

"Oh... jadi sudah ada calon?"

"Insyaallah," Aska tersenyum, senyum yang tulus dan penuh cinta. "Wanita itu sangat spesial. Cantik, pintar, dan... perjalanannya untuk sampai ke titik ini tidak mudah."

Aska menatap lurus ke mata Rangga, seakan tahu siapa lawan bicaranya sebenarnya, tapi tetap menjaga sopan santun.

"Dia wanita yang sangat kuat. Banyak orang mungkin melihat dia dari masa lalunya. Menilai dia dari apa yang sudah terjadi. Tapi bagi saya..."

Aska berhenti sejenak, menekankan setiap katanya.

"Masa lalu itu cuma cerita. Yang penting adalah sekarang dan nanti. Saya tidak melihat dia sebagai apa-apa selain wanita yang ingin saya jaga seumur hidup. Saya datang bukan untuk memperbaiki dia, bukan untuk menyelamatkan dia dari sesuatu. Saya datang karena saya memang ingin hidup bersamanya."

Suasana di ruangan itu mendadak hening.

"Kalau nanti sudah jadi istri saya, saya tidak akan pernah melepaskan dia. Apapun yang orang bilang, apapun yang terjadi di belakang, dia adalah masa depan saya. Titik."

Rangga merasa darahnya berhenti mengalir. Kakinya dingin. Kalimat itu seperti tamparan keras yang membuatnya sadar akan satu hal yang menyakitkan.

1
sunaryati jarum
Hubungan diawali kurang baik akan berakhir kurang baik juga, sungguh sangat adil
Lyeend
menantu? bukankah aska husband nya celsi,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
sunaryati jarum
Sifat iri kok piara Bu Weni,buang yang jauh toh cari Syukur , hidupmu akan nyaman
Susilawati Arum
kan bukannya Aska pernah bertemu sebelumnya dengan Rangga dan Vena..kok Aska nggak tau kalau itu Rangga
sunaryati jarum
Nah kan kecebong Aska sudah ada yang tumbuh di rahim Celsy,dia nggak ngalami tanda- tanda kehamilan
Dilla Fadilla
lanjut thor yg bnyk 💪
sunaryati jarum
Nah ketahuan jika kau memalsukan hasil tes kesuburan Rangga dan Celsi.
Ambo Nai
hamil kembar
sunaryati jarum
Semoga Chelsi hamil
sunaryati jarum
Nah benar perkiraan emak, yang mandul itu Rangga.Anak dulu yang dituduhkan anaknya, ternyata jebakan
sunaryati jarum
Ayo semangat buat adonan bayi Koh Aska,benih anda semoga tok cer langsung tumbuh Walau difonis mandul siapa tahu ada kesalahan.Dan kandungan Vena bukan benih Rangga.
Syahdu: Gak akan bosen deh, Novel ada chat lucunya😆 di I Love you Brutally. Cewek yang naksir kakak kelas secara terang-terangan! Terima kasih dukungannya🤍🫶🏻😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Bagus
sunaryati jarum
Nah ,sadar diri gitu Rangga.Prnyesalan tidak ada gunanya.Apalagi entar kamu sama Vera tak kunjung punya anak,tapi Celsi yang langsung hamil.Emak ingin tahu reaksi kamu dan ibumu.
Ma Em
Rangga kamu sdh menceraikan Celsi dan kamu sdh ada Vena perempuan pilihan mu sekarang Celsi sdh dapat pengganti mu jauh lbh baik seorang pengusaha properti yg sukses .
Lyeend
omongan yang mantap dan padu😂😂
sunaryati jarum
Ingin hati memprovokasi dan membatalkan pernikahan.Celsi ,belum keluar ucapannya sudah dikunci ,Asaka.Bravo Aska, sepertinya kamu tahu siapa yang mengaku Rian.
sunaryati jarum
Astaga saudara kok kaya gitu , tidak menghargai kakaknya,bukan itu anaknya yang merebut mantan suami Celsi
sunaryati jarum
Kukira tetangga julid ternyata baik malah memberi nasehat walau melalui candaan, segera menikah ya
sunaryati jarum
Ayo Celsi gugup ta, orang yang kau rindu menepati janjinya
sunaryati jarum
Ayo Celcy, terima .Toh kamu juga sudah ada rasa sama Aska
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!