Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lindsey
Pagi-pagi sekali, Yura dan tim nya telah siap dan berkumpul di ruangan bu Cindy sebagai tempat titik kumpul untuk mereka.
Sebelum ketiga nya berjuang, mereka terlebih dahulu menyatukan tekad serta berdoa untuk keberhasilan tim ini.
Didalam perjalanan menuju SMA karya, Yura tersenyum melihat ucapan selamat yang dikirimkan oleh sahabatnya itu.
Namun ia terbelalak kaget saat melihat pesan kedua yang mengatakan kalau Liam ternyata datang menyusul.
Sontak ia menoleh ke kiri dan kekanan guna memastikan apakah perkataan Yura a itu benar. Namun lima detik kemudian, ia baru saja menyadari jantungnya yang berdebar lumayan kencang.
"Ada apa ini? Mengapa seolah aku mengharapkan kehadirannya? "
Yura mencoba mengusir pikiran diluar batas nya. Hal itu pula mengundang perhatian bu Cindy.
"Kamu aman kan ra? "
"Aman kok bu.. " ucap Yura.
Sepertinya bu Cindy membaca gelagat Yura dari sudut pandang yang salah. Ia malah tersenyum sambil memberi semangat.
"Kamu pasti merindukan tempat ini kan? "
Tidak seorang pun tahu jika masuk kembali kesekolah ini adalah mimpi buruk bagi Yura. Ia menyembunyikan semuanya dengan sangat baik bahkan dari ibunya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak terasa, mereka telah tiba didepan gedung serbaguna SMA karya. Yura menarik nafasnya kuat-kuat lalu menghembuskannya secara perlahan.
Tak disangka kedua temannya juga melakukan hal yang sama membuat kelucuan secara natural mengalir diantara mereka.
"Omo-omo,,, Lihat siapa yang datang ke sekolah kita dengan tidak tahu malunya? "
Ada suara-suara ribut yang mengganggu pendengaran mereka terutama Yura. Sejak awal saat diri nya dipilih untuk mengikuti lomba ini, ia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk seperti saat ini.
Bu Cindy dan yang lainnya saling pandang dan memastikan kalimat itu tertuju itu untuk siapa, Walaupun sudah sangat jelas terlihat Yura yang mencoba menahan dirinya.
"Bu, maaf. Aku harus menyelesaikan urusan pribadiku terlebih dahulu. Setelah itu aku akan segera menyusul.. "
Bu Cindy dan yang lainnya yang tidak tahu-menahu soal masalah ini hanya bisa pasrah sambil berdoa supaya masalah Yura segera selesai dengan baik.
"Yah, kamu pasti bisa. Kita tunggu kamu ya, Semangat !! " ucap bu Cindy.
Ia juga segera menahan tangan pak Don yang ingin ikut campur, ia menggelengkan kepalanya sambil mencoba menarik rekannya itu.
"Percaya sama Yura, ia pasti sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. "
Perkataan bu Cindy akhirnya pak Don terima walaupun dihatinya terasa sangat ganjal.
"Pantas saja ia sangat pendiam, ternyata ada masalah pembully an yang sangat memprihatinkan disini... "
Yura yang ditinggal oleh tim nya segera menghadap ketiga gadis itu. Ia sama sekali tidak takut, hanya sangat kesal karena membuang waktu nya saja.
Ia memasang senyum jahatnya, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan selama dirinya berada di desa Sensei.
"Apa, kamu pikir dengan pindah nya aku, Kamu bisa menjadi nomor satu? "
Yura kemudian tertawa keras, ia bahkan sampai menutup mulutnya dengan dramatis seolah-olah banyak mata yang memperhatikan mereka.
"Kamu pikir aku tidak bisa membuat tim mu kehilangan salah satu anggota nya? "
"Aku mampu melakukan semua itu.. " ucapnya dengan sombongnya.
"Lalu Ayahmu akan kehilangan wajahnya saat berita tentang kelicikanmu muncul kepermukaan.. "
Yura balik membalas dengan tak kalah menohok nya.
Salah satu Tangan gadis itu terlipat didada, dan satu lagi bergerak bebas mempermainkan anak rambutnya. Dia Lindsey si gadis ambisius yang tidak menerima kekalahan apapun.
Dengan didampingi oleh kedua sahabat nya, ia tak perlu memikirkan apapun selain jadi pemenang.
Kedua gadis disamping nya itu akan melakukan apapun yang membuat hatinya senang. Tentu karena orang tuanya termasuk orang berpengaruh dikota Par, membuat gadis itu merasa memiliki wewenang untuk melakukan apapun yang ia inginkan.
"Pertandingan akan diadakan satu jam lagi, aku rasa waktu nya sangat pas.. " ucapnya.
Melalui lirikan mata nya saja, ia mampu mengirim telepati pada kedua gadis disamping nya.
"Oke, aku akan berlutut padamu dengan satu syarat.. "
Ketiga gadis itu tertawa sumbang. Terakhir kali mereka juga dijanjikan aksi yang sama namun berujung ditinggal kabur ke desa.
"Kamu itu penipu.. " Sahut salah satu gadis itu.
Yura membuang jauh pandangan nya mendengar gadis itu bicara. Penipu yang menuduh orang lain menipu. "Sungguh lucu!! "
Yura harus memohon kesabaran lagi pada Tuhan, sebab permintaan konyol gadis-gadis aneh ini sangat menguji kesabarannya.
"Aku yakin teman-teman mu itu sangat berharap besar sama kamu.. " ucap Lindsey.
"Oke, aku cuman minta satu. Tidak ada kecurangan dalam lomba. Maka aku akan berlutut. "
"Oke,, "
Kemudian Yura berlutut, mengesampingkan harga dirinya demi keberhasilan tim nya.
Kedua gadis itu merekam dengan ponsel mereka, bukti bahwa Yura hanya berada dibawah telapak kaki seorang Lindsey.
Tak tanggung-tanggung, gadis itu bukan hanya merekam, ia malah melakukan siaran langsung yang disaksikan oleh para penggemarnya.
"Judul nya, gadis murahan yang tidak tahu diri!!.. "
Namun tiba-tiba sebuah tendangan maut menghantam ponsel itu dengan sangat keras membuat siaran itu segera berakhir. Liam muncul bak pangeran yang siap menyelamatkan sang putri.
Liam segera membantu Yura berdiri dan membersihkan sisa-sisa debu yang menempel dilutut gadis itu.
"Mengapa tidak menghubungi ku? " ucapnya.
"Wow, setelah Steven, sekarang kamu punya bodyguard baru,, " Lagi-lagi ucapan Lindsey sangat merendahkan.
Liam segera mendorong tubuh Yura dengan pelan supaya gadis itu segera pergi. "Biar aku yang urus sisanya.. "
"Tapi video nya pasti sudah tersebar dan meledak di internet.. " ucap gadis itu Masih dengan tidak ada takut-takut nya sama sekali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Muncul nya Yura disambut dengan roman kegembiraan di mata tim nya. Apalagi bu Cindy yang sejak tadi berdiri tak tenang, entah sudah berapa kali ia mondar mandir disana.
"Sebenarnya aku tidak takut kalah, yang kutakutkan adalah kecurangan didalam organisasi.. "
Yura akhirnya membuka suara, ia tidak bercerita tentang masalah pribadinya. Melainkan kemungkinan permainan Orang-orang yang memiliki kuasa lebih tinggi.
"Tak apa, kita tetap harus berusaha sebaik mungkin. Biar itu menjadi urusan belakang.. " ucap bu Cindy menenangkan semuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lomba akhirnya dimulai saat jam menunjukkan pukul sembilan. Lindsey memimpin yang memimpin tim nya berdiri dengan anggun sembari memberi lirikan maut pada Yura.
Namun sayangnya, gadis itu tidak sekalipun melihat kearahnya. Lirikan maut itu tidak berarti sama sekali buat Yura.
Itulah yang membuat dirinya selalu ingin menang dari Yura. Dimulai dari Steven yang ia sukai ternyata lebih dulu dekat dengan Yura, hingga memperebutkan gelar nomor satu dikelasnya.
Bahkan keduanya sudah menjadi musuh bebuyutan sejak mereka masih duduk dibangku sekolah dasar. Dari sanalah ambisi keduanya berawal dan berlanjut hingga saat ini.
Yura kerap kali mendapatkan penindasan dari gadis itu namun selalu berakhir kalah karena Yura yang pantang terlihat lemah.
Yura selalu berhasil bangkit dan membongkar kecurangan-kecurangan yang ia buat demi mendapat gelar nomor satu itu.
Setelah sang lawan tidak berhasil ia intimidasi, Lindsey akhirnya menyerah juga. Setidak nya video kekalahan gadis itu sudah ada ditangan nya.
Tak sengaja matanya bertemu dengan mata sang Ibu yang sudah berada dibangku penonton bersama dengan para orang tua lainnya.
Kini terkuak alasan mengapa Lindsey terkenal ambisi dan tidak mau menerima kekalahan. Ada sang ibu yang selalu bertindak tegas bahkan cenderung kejam untuk setiap kegagalan yang gadis itu lakukan.
.
.
.
..
Bersambung...