Shakira baru saja memulai lembaran baru di bangku kelas 2. Namun siapa sangka di halaman pertamanya ia bertemu dengan Aji, sosok pria yang notabene digandrungi banyak hawa karena image cool yang keterlaluan.
Pada kenyataannya lain untuk gadis temperamen semacam Shakira, di mana ia menemukan image sebenar dari Aji. Dari itu pula misteri tentang Aji mulai merangsang keingin tahuan Shakira. Satu per satu akan Shakira temukan dalam tiap lembaran kertas kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reirin Mitsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[SEASON 2] interview Calon Partner Belajar
Secangkir stroberi panna cotta menemani kegiatan seorang gadis berjilbab putih. Dia duduk di kursi panjang berbahan rotan dan dicat ampelas. Kebetulan tempat duduknya berada di luar, lumayan bisa menikmati deru kendaraan dan angin hangat khas siang hari.
Satu sendok teh panna cotta masuk ke mulut, mengeluarkan kepala sendok yang terhimpit bibir semerah bunga sepatu. Dia makan tanpa harus berpaling dari laptop selaku properti di kala melaksanakan skripsi.
"Assalamualaikum, Kir."
Iris seterang timah panas mengerling ke sumber suara: parkiran motor di depan lapak kafe. Ah, dua pria datang kepadanya, membawa tas gendong yang langsing—mungkin rata lebih tepat. Shakira tahu mereka, yang depan pasti Aji, yang belakang teman baru Aji.
"Waalaikumsalam," sahutnya kembali melahap satu sendok pudding lembut itu. Kali ini, yang dimakan adalah busa susu. Sensasi manis dan lembut dari busa susu menyita waktu untuk bercakap. "Lama banget lu."
"Iya, maaf," kekehnya menggaruk pangkal kepalanya. Aji dan temannya duduk di hadapan Shakira. Memesan minuman pun Aji yang bilang.
"Ngapain lu bawa cowok yang lagi nangis?" Sejenak Shakira merasa canggung sekaligus iba dengan pemuda bermata bengkak itu, sebelum akhirnya gadis berjaket hitam ini kembali berkutat akan kegiatannya. "Gak baik tau, Ji."
"Sebenarnya dia berhenti nangis waktu mau shalat subuh." Ucapan Aji terjeda oleh pesanan yang siap dinikmati. Satu cangkir susu cokelat tanpa glukosa disodorkan pada temannya, lain dengan dirinya yanh memesan lemon soda. "Cuma abis shalat dia nangis lagi."
"Gara-gara si Aura lagi?" tanya Shakira tanpa bertatap langsung dengan lawan bicara.
"Bukan." Aji mengerling malas pada pemuda di sampingnya. "Tanya aja sama orangnya."
"Elu mah...." Shakira mendesah dan tersenyum miring, kembali menatap pemuda bersurai model mangkuk terbalik. Malas rasanya ia bercakap dengan orang asing, akibat ulah Aura, Shakira jadi begini. "Lu kena—"
"Plis, ajarin gue materi yang lo paham, Kir!" Tak ada sesuatu yang mengagetkan, teriakan dia pun jadi. Nyaris Shakira niat memukul kepala dia dengan gelas kaca.
"Ya Allah, bisa kagak lu bilang gak pake teriak segala?" Embusan napas yang melegakan merilekskan tubuhnya untuk kembali duduk di bangku, meletakkan gelasnya kembali. "Lu kenapa lagi, Niko?"
"G-gue pengen kayak Aji, Kir," jawab Niko seraya melepas kacamata, mengusap matanya dengan punggung tangan. Rengekannya sempat menarik perhatian para pengunjung kafe, membuat Aji jengah dan mengurung muka di lipatan tangan.
"Niru si Aji? Buat apa?" Perhatian Shakira pun teralihkan. Sembari membenarkan jilbabnya, ia menyimpan dokumen lalu meng-shutdown sebelum menutup laptop.
"Gue lalai dalam melaksanakan perintah Allah." Begitulah yang dia katakan sebelum menangkup mukanya sendiri. "Cuma karena cewek, gue sampe lupa di jam berapa gue kudu shalat."
"Emang udah saatnya lu lupain tuh cewek." Jujur, tak ada cara alternatif lagi selain menepuk pundak Niko. "Mungkin Aura bukan cewek yang terbaik buat lu, kan."
"Dia udah ngehina gue secara gak langsung." Tangannya yang putih pucat berusaha meraih cangkir dengan gemetar. Ucapannya tak menberi kesan menggubris perkataan Shakira. Gadis berjaket putih ini sempat khawatir, takut cangkir yang dia ambil jatuh dan pecah. Nasib baik pemuda itu mengangkatnya sedikit tinggi.
Lantas, bibir merah kehitamannya menyesap minuman pesanan Aji. Um, cokelat panas. Perpaduan aroma kakao bubuk dan manis dari susu memberikan kenyamanan pada hatinya, memicu embusan melegakan hati. Ia melanjutkan kalimatnya, "Gue kira dia cinta sama gue apa adanya, makanya gue berusaha buat dia seneng. Nyatanya, usaha gue cuma dianggap sampah, patut dibuang tanpa harus melihat bentuknya."
"Niko...." Tatapan Shakira melemah, memburam, bertukar sayu. Ia tak kuasa melihat makhluk ciptaan-Nya menderita seperti ini, hanya karena seorang mojang.
Terkadang, perempuan yang seharusnya dilindungi malah menyakiti hati kaum adam, kan?
Ia memilih untuk menunduk menghabiskan makanan manis pesanannya, melakukan hal yang sama dengan Aji. Sesekali, diam menjadi hal yang terbaik guna meredakan ketegangan makhluk sosial semacam para mahasiswa ini.
Shakira menunduk bukan akibat kehilangan kata-kata motivasi, ia hanya ... sadar diri. Apa yang istimewa dari sosok gadis temperamen, sampai dirinya dijuluki ustadzah galak. Toh, ia hanya sekadar gadis rumahan akibat sering mengurung diri di zona nyaman kaum rebahan: kamar. Pasti beda jauh dengan Aura bila urusannya soal kecantikan dan keelokan.
"Gue bakal balas dendam sama tuh cewek." Seraya bercakap demikian, tangannya mengepal hingga buku-buku jari memucat. Urat-urat berwarna hijau pun timbul di sekitar punggung tangan, begitu jelas di kulit putihnya.
"Jadi kamu mau balas dendam?" Akhirnya, pemuda bersurai hitam ini angkat bicara. Yah, dia berbicara dengan kepala menoleh ke samping. Biar Shakira tebak, dia terlanjur nyaman menangkup di lipatan tangan.
"Iya!" Satu gebrakan meja menciutkan nyali dua insan. Shakira mengangkat bahu sekali, Aji bangkit duduk dan angkat tangan. Dua pasang netra menonton akting sungguhan Niko, tatapan mereka pun sama-sama membulat. "Gue gak mau tinggal diam."
"Biar aku kasih tau, cara berbalas dendam yang baik," kata Aji merangkul leher Niko.
"Cepetan kasih tau gue." Niko menggertak, tak peduli giginya hancur sedikit demi sedikit. Mata dia cukup tajam, penuh kemurkaan, penuh dendam kesumat. Sebenci itukah Niko terhadap perempuan bernama Aura?
"Kalau mau tau, ikuti intruksi dari aku." Aji mengembangkan senyum semangat berolahraga. Jari telunjuk ia perlihatkan depan mata Niko. "Pertama, lakukan pernapasan terlebih dahulu. Tarik napas panjang-panjang ... embuskan perlahan."
Pemuda bermuka basah ini menuruti titah Aji. Tadi apa yang dia bilang? Tarik napas sepanjanh mungkin, lalu embus perlahan. Praktek bernapasnya direspons dengan anggukan memuaskan dari Aji.
"Begitu, terus lakukan cara tadi sampai kamu merasa tenang."
Membutuhkan waktu lama agar tubuhnya bisa rileks. Berkat tips Aji, tangan besar nan kurusnya tak gemetaran lagi untuk mengangkat cangkir. Minumannya mulai dingin, terlalu lama dibiarkan ditiup angin mungkin.
"Udah merasa santuy?" tanya Aji mengerling tajam, memberi kesan serius pada wajahnya. Iris hitam Aji terpantul cerminan Niko yang mengangguk mantap. "Aku punya rencana. Kita bakal bantu kamu buat balas dendam, tapi kau harus mengikuti beberapa kegiatan kami?"
"Kegiatan kalian?" Alis tebal Niko saling bertautan, ditambah kerutan di dahinya. "Emang kegiatan kalian sibuk, ya?"
"Yaa ..., bisa dibilang gitu." Salah satu bibir tipis Aji terangkat, mengerling untuk memantau Shakira yang sibuk membersihkan krim menggunakan jari. "Iya, kan, Kir?"
"Apa?" Muka Shakira sungguh terpahat serius. Tatapan iris emerald yang tajam bagaikan jarum, juga bibir merah dadu yang tak memiliki senyum apapun. Senyum pun terkesan mengejek. "Gua gak nyimak."
"Begini, kita akan bantu kamu, dengan cara kita," kata Aji saling menatap dua indan beda gender. "Kamu harus ikuti intruksi dariku mengenai keagamaan, kayak ngaji atau shalat gitu. Lalu Shakira bantu kamu lewat ilmu pengetahuan." Matanya mengarah kepada gadis berjilbab putih. "Kau juga mau balas dendam secara sehat, kan, Kir?"
Shakira menggumam pelan, menopang dagunya. "Iya sih, tapi gimana, ya? Gua trauma nerima partner belajar asing."
"Insya Allah gue bakal turuti apa kata lo," jawab Niko mengangguk mantap. "Apapun konsekuensinya kalau gue ngelanggar intruksi dari lo."
"Bener mau ngikuti perkataan gua? Gua jadi...," Shakira mengulum senyum kikuk dan mendesah pasrah, "kesannya gue jadi tukang nyuruh-nyuruh."
"Plis, gue butuh bantuan kalian berdua!"
Alhasil, kedua insan ini saling pandang. Pikiran mereka sama, tak rela ketika Niko sudah memohon. Shakira mulai meluruskan pikirannya, ia memejamkan mata. Sepertinya masalah Niko memiliki pelaku yang sama dengan masalah dirinya sendiri. Karena Aura. Tak ada salahnya kah bila harus membantu Niko supaya Aura bisa sadar diri.
Satu desahan panjang memberikan keputusam mutlak. Bibirnya terbuka dan bersuara, "Gua terima lo jadi partner belajar kita. Tapi lo kudu tepati janji lo." []
semangat thorr nexttt❤️❤️❤️
Next thorr