Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mia hamil
Ramdan tertegun, pria itu turunkan terlebih dulu kopi di mejanya, hendak berjalan mendekat ke arah Mia, namun tiba-tiba tangannya di tahan oleh Gian di belakang. Membuat pria itu menoleh.
"Kenapa?"
Wajah Gian tampak pucat, seperti menyembunyikan sesuatu di benaknya. Membuat kening Ramdan mengerut.
Mia yang kesal Ramdan di hentikan oleh Gian lantas berjalan mendekat dengan berani, menghentakkan kakinya kesal. Lalu meraih tangan Ramdan yang di genggam oleh Gian.
"Kamu jangan ikut campur!" sinis Mia kesal.
Gian melotot, rasanya ia ingin menyumpel mulut Mia. Dia yakin sekali Mia punya niat lain di belakangnya.
"Cewe gila! Hijaban doang rapi, aslinya lonte." geram Gian, tentu dalam hati.
Akhirnya ia memilih untuk tidak berurusan denganereka. Duduk di kursinya. Toh nanti dia pasti tau infonya dari Ramdan, temannya itu kan selalu terbuka dengannya.
Sementara Mia langsung menarik tangan Ramdan keluar dari divisinya. Membuat Ramdan tertegun. Ia merasa heran, perempuan secantik Mia bisa-bisanya mencarinya. Padahal di bar Minggu lalu wanita itu terlihat malu-malu kepadanya.
Ramdan tertegun saat Mia membawanya ke tempat sepi yang sulit di jangkau karyawan. Mia langsung memepet tubuhnya pada tembok, membuat Ramdan tertegun dan cukup terkejut dengan keberanian wanita berhijab di depannya.
"Mia, kenapa?" tanya Ramdan heran, "Ngapain kamu bawa aku ke tempat ini?"
Mia tatap Ramdan intens, sebelum akhirnya menghela nafas panjang. Wanita itu lantas menurunkan tangannya yang bertumpu di sisi tubuh Ramdan, merogoh tas ransel miliknya untuk menyerahkan lempengan kecil berwarna putih biru ke arah Ramdan.
Kening Ramdan mengerut, "Testpack?"
Ia benar-benar tak mengerti dengan arah berfikir Mia kemana. Padahal sebelumnya mereka tidak dekat. Hanya sesekali berpapasan itupun jarang. Baru kemarin di bar lah mereka berani mengobrol satu sama lain.
Ia raih testpack dari Mia, lalu memutarnya. Tertegun Ramdan disitu. Ia melihat garis dua merah melintang jelas di tengah lempengan testpack. Lalu menatap Mia yang juga menatapnya itu heran.
"Kamu hamil?"
"Iya."
"Lalu?"
Ramdan semakin tak mengerti. Apa hubungannya Mia hamil dengan dirinya? Kenapa Mia malah mencari dirinya untuk menyampaikan hal yang ngga bersangkutan dengan dirinya?
Ramdan benar-benar di buat penasaran dengan gelagat Mia. Wanita berhijab yang biasa tenang dan polos, ternyata punya sisi tersendiri dimana suka mepetin lelaki seperti ini.
"Aku hamil, mas. Dan ini anak kamu."
Bagaikan disambar petir di siang bolong, testpack di tangan Ramdan langsung luruh ke bawah, menatap kosong Mia di depannya yang sama sekali tak menyiratkan kebohongan dimanik matanya.
Namun Ramdan tentu saja tak mempercayai hal itu. Hamil? Anaknya? Lelucon darimana itu? Ia bahkan tak pernah merasa tidur bersama dengan Mia. Terlintas pun tidak.
"Ahahah....Mia, aku tau kamu butuh tanggung jawab. Tapi tidak seharusnya melempar tanggung jawab pada orang yang tidak tau apa-apa sepertiku." kekeh Ramdan, berjalan pelan menghindari Mia, berniat kembali ke kantornya.
Namun Mia yang tau Ramdan menghindar itu lantas menarik kembali ke dalam, lalu menutup pintu hingga ruangan yang semula masih terdapat cahaya dari luar, kini gelap, hanya ada cahaya samar-samar dari celah jendela.
"Mia kamu apa-apaan sih?! Saya gapernah nyentuh kamu yah! Bahkan terlintas pun tidak!" geram Ramdan, baginya, dipaksa adalah hal paling menyebalkan.
Mia menatap tajam Ramdan di depannya. Meski malam itu adalah keinginannya, namun bayi di dalam kandungannya ini sama sekali bukan maunya. Mia mungkin lupa meminum pil kontrasepsi. Namun tetap saja, nasi sudah menjadi bubur.
"Mas aku serius! Ini beneran anakmu. Kita melakukannya, di malam aku nganterin kamu pulang karena mabuk. Kita ke hotel, dan kamu bermain gila sama aku."
DEG!
Tatapan Ramdan berubah kosong. Fikirannya langsung melompat ke kejadian 1 Minggu yang lalu. Padahal ia tidak mau mengingatnya demi menebus kesalahannya pada Aza. Namun mendengar ucapan Mia barusan, entah mengapa otaknya langsung memaksa mengingat kejadian yang hampir ia lupakan.
"Ngga, kamu pasti bercanda. Anak itu bukan anak aku! Aku dengan istriku saja belum dapat momongan, masa sama kamu—"
Ucapan Ramdan terhenti. Ia terdiam sejenak. Memikirkan kemungkinan demi kemungkinan yang semakin menguatkan kesimpulan yang selama ini dia ambil.
"Tunggu....jika memang Mia hamil anakku? Berarti Aza beneran mandul dong?"
Mia yang kesal Ramdan bengong berdecak kesal. Ia langsung merogoh tas miliknya, lalu menunjukkan foto-foto tel*njang dimana Mia menindih Ramdan yang terlelap di bawahnya. Eksis di depan kamera.
"lihat, kita memang tidur bersama!"
Ramdan melotot syok. Ia terdiam cukup lama. Kejadian kali ini benar-benar membuatnya terkejut.
"Jadi aku beneran nidurin kamu?" Ramdan tatap Mia kosong.
Sementara Mia mengangguk serius. Lalu menarik tangan Ramdan itu untuk menyentuh perutnya. Sengatan listrik tiba-tiba menyambar dari telapak tangan Ramdan, hingga tembus ke otak.
Sentuhan tangannya di perut Mia seolah menjadi desiran hasrat tersendiri di tubuh Ramdan. Ia terdiam dengan tatapan kosong. Otaknya serasa ngebleng hingga tak bisa berkata-kata.
Disaat Ramdan dan Mia saling berhubungan. Lain dengan Aza yang kini tampak menyedihkan. Tubuhnya mulai sakit-sakitan. Ia kerap merintih karena merasakan sakit di area sensitif miliknya.
"Sakit sekali....padahal aku sudah berhenti minum obat penyubur, kenapa masih terasa sakit?" rintih Aza disela ia berbaring di atas tempat tidur, menekan perutnya yang terasa nyeri.
"Aku harus kembali ke rumah sakit." desis Azalea disela merintih. Mencoba memaksakan tubuhnya untuk bangkit, duduk dengan lemah di sisi ranjang.
Ia bangkit perlahan, mencoba menahan rasa sakit untuknya bersiap-siap sebelum pergi ke rumah sakit.
Setelah sekian lama ia naik taksi, kini sampailah Aza di rumah sakit kepercayaannya. Sesampainya di rumah sakit, wanita itu langsung menuju ke tempat resepsionis.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya sang petugas resepsionis.
Azalea lantas mendongak, "Saya mau ketemu Dokter Edward. Apa hari ini dia ada di rumah sakit?"
Sang petugas segera mengecek jadwal dokter spesialis. Sementara Aza berdiri sembari menekan-nekan perut bagian bawahnya yang terasa sakit.
"Awss....kenapa gabisa ditahan sih?" desis Azalea, semakin nyeri.
Sang resepsionis lantas mendongak setelah selesai mengecek jadwal dokter spesialis. Menatap Aza yang merintih di depannya dengan tatapan iba.
"Maaf, untuk hari ini Dokter Edward ada tugas di tempat lain. Hari Senin baru ada, mba."
Senin? Azalea mana mungkin bisa menahan selama itu. Rasa sakitnya saja sudah sehebat ini. Sementara hari Senin masih 3 hari lagi. Ia benar-benar tak sanggup menunggunya.
"Apa tidak ada dokter lain, mba?"
Sang resepsionis yang semula fokus pada laptop di depannya itu mendongak, tersenyum ramah, "Spesialis SpOG yah?"
Aza mengangguk kecil. Butuh beberapa menit ia menunggu, namun ternyata sang resepsionis bilang untuk dokter SpOG hari ini kosong. Akhirnya kedatangannya ke rumah sakit ini pun jadi sia-sia.
Aza duduk di kursi depan pos satpam rumah sakit sembari menunggu taksi, merunduk lesu.
"Aku harus cari dokter kemana lagi?"
Sampai tiba-tiba seseorang menghampiri dirinya.
"Lea?"