Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak yang Terlupa
Langit Wonosobo mulai berwarna jingga ketika mobil Danendra memasuki halaman rumah. Untuk sesaat, tak satu pun dari mereka yang langsung turun. Keduanya masih tersenyum mengingat obrolan sepanjang perjalanan tadi.
Kemudian Niken memecah suasana. "Terima kasih, Mas. Hari ini aku senang sekali."
Danendra menatap Niken dengan penuh kelembutan. "Aku juga. Besok kita lanjutkan ke Lereng Mahitala."
Mata Niken kembali berbinar. "Iya."
Mereka pun turun dari mobil. Saat memasuki ruang tamu, aroma masakan dari dapur menyambut kedatangan mereka.
Bi Inah yang sedang membawa teko teh langsung tersenyum. "Alhamdulillah, Mas Danen sama Mbak Niken sudah pulang."
"Iya, Bi."
"Ya sudah, Bibi mau melanjutkan pekerjaan Bibi dulu sebelum Magrib."
Niken mengangguk. "Baik, Bi."
Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, Ratih keluar sambil membawa beberapa lipatan pakaian yang baru saja disetrika. Tatapannya langsung tertuju pada Danendra yang wajahnya tampak ceria. Kemudian beralih kepada Niken, pipi menantunya itu masih tampak memerah, entah karena udara yang terlalu dingin ataukah karena terlalu banyak tersenyum di sepanjang perjalannan pulang.
"Kalian sudah pulang?" Suara Ratih terdengar datar, tetapi tidak sedingin sebelumnya.
"Iya, Bu." Jawab Danendra, "tadi aku jemput Niken, lalu kami mampir makan."
Ratih mengangguk. "Kalian sudah makan? Kalau begitu nanti kalian tetap makan malam walau sedikit."
"Iya, Bu."
Niken berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam. Entah mengapa, setiap berhadapan dengan ibu mertuanya, ia masih saja merasa canggung.
Ratih memperhatikannya beberapa saat. "Niken."
"Iya, Bu?"
"Sepertinya kamu kedinginan." Ucap Ratih yang membuat Niken cukup terkejut.
"Sedikit, Bu." Jawab Niken.
Kemudian Ratih memanggil Bi Inah. "Bi."
"Iya, Bu." Jawab Bi Inah sambil mendekat.
"Udara sore begini biasanya gampang bikin masuk angin. Nanti buatkan wedang jahe hangat untuk Niken."
"Baik, Bu." Ucap Bi Inah dengan senang hati.
Niken memandang ibu mertuanya dengan mata membulat sebelum akhirnya berkata. "Terima kasih, Bu."
Ratih hanya mengangguk singkat. "Hm."
Danendra yang berdiri di samping Niken ikut merasa heran. Ia tahu... bagi orang lain, perhatian seperti itu mungkin terasa sederhana. Namun bagi Niken, itu sebuah perubahan yang sangat berarti untuknya.
Ratih memang belum menjadi sosok yang hangat, namun setidaknya ia mulai menunjukkan kepedulian tanpa disertai prasangka.
Pradipta yang baru keluar dari ruang kerjanya melihat pemandangan itu sambil tersenyum tipis. "Danen."
"Iya, Yah?"
"Besok jadi mengajak Niken berkeliling?"
"Iya, Yah."
Pradipta mengangguk kemudian beralih kepada Niken. "Bagaimana menurutmu, Nik?"
Niken tersenyum malu. "Saya ngikut Mas Danen saja, Yah."
"Lereng Mahitala itu pemandangannya sangat cantik. Besok minta sama Danen mengelilingi banyak tempat di sana, supaya kamu tidak penasaran."
Semua tertawa kecil.
Bahkan sudut bibir Ratih ikut terangkat meski hanya sesaat. Dalam benaknya, terlintas ucapan-ucapan yang pernah keluar dari mulutnya—ucapan yang menuduh Niken datang ke rumah tanpa membawa kehormatan. Ratih mungkin belum sanggup mengakui bahwa penilaiannya selama beberapa hari terakhir mungkin saja keliru, namun ia mulai memahami bahwa kehormatan seorang perempuan tidak dapat diukur hanya dari prasangka atau mitos lama yang diyakininya, terlebih seorang dokter yang diam-diam ia temui pun telah menjelaskan dengan baik.
Setelahnya, Danendra dan Niken menaiki tangga menuju kamar mereka. Sesampainya di kamar, Danendra langsung meletakan kunci mobil dan ponselnya di nakas.
Sementara Niken langsung mengambil pakaian ganti, "aku mandi dulu, Mas."
Danendra mengangguk.
Tak lama setelah Niken memasuki kamar mandi, suara gemericik air terdengar memenuhi ruangan.
Sementara itu, Danendra membuka lemari untuk mengambil pakaian yang akan ia gunakan untuk sholat. Namun saat menyusun beberapa pakaian yang sedikit berantakan, tangannya tanpa sengaja menyentuh sebuah kotak berwarna biru tua yang tersimpan di sudut lemari paling belakang.
Ia terdiam sejenak, mencoba mengingat kapan benda itu diberikan?
"Dibuka nanti saja setelah menikah. Pokoknya aku jamin akan berguna." Kata Rizky saat memberikan kotak itu sambil terbahak.
Danendra yang saat itu belum mengerti, hanya menggeleng. "Kamu ini ada-ada saja."
"Percaya sama aku, itu hadiah khusus buat pengantin baru."
Tidak lama kemudian, lamunan Danendra buyar. Ia membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, masih tersimpan rapi sebuah gaun tidur berwarna gading dan berbahan satin dengan lapisan kain tipis yang ringan, lengkap dengan kartu kecil bertuliskan ucapan selamat dari Rizky.
Danendra menghela napas panjang. Sejak malam pertama, ia bahkan belum pernah menunjukan hadiah itu kepada Niken. Apalagi setelah peristiwa malam pertama yang membuatnya merasa hadiah tersebut menjadi tidak pantas untuk dibicarakan, hingga akhirnya ia sendiri sempat lupa dengan adanya hadiah itu.
Perlahan ia tutup kembali kotaknya. "Jangan sekarang," gumamnya lirih lalu meletakannya kembali di lemari.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Niken keluar dengan baju rumahan yang sederhana, rambutnya yang masih basah tertutup rapi oleh handuk. "Mas, aku sudah selesai."
Danendra mengangguk cepat, lalu segera menyambar handuk. "Gantian aku," katanya.
Beberapa menit kemudian, Danendra juga selesai mandi. Kemudian mereka pun melaksanakan sholat Magrib berjamaah di kamar yang cukup luas itu.
Danendra menjadi imam, sementara Niken berdiri di belakangnya dengan hati yang dipenuhi rasa syukur. Dan usai berdoa, keduanya saling mengaminkan.
Setelah sholat dan berdoanya selesai, Niken membuka lemari pakaian untuk mencari pakaian yang nyaman saat digunakan di Lereng Mahitala.
"Mas, besok kita berangkatnya pagi?" tanya Niken.
"Sebenarnya aku mau mengajakmu sarapan dulu di sana, tapi kalau tidak bisa terlalu pagi juga tidak apa-apa."
Niken mengangguk, "kalau begitu aku siapkan pakaian dari sekarang."
Ia mulai mencari pakaian yang akan dibawa besok, sesekali Niken bertanya. "Mas, jaket tebal perlu dibawa?"
"Perlu," kata Danendra. "Di sana lebih dingin dari di rumah."
"Kalau sepatu?"
"Bawa aja, yang nyaman dipakai jalan."
Niken mengangguk sambil memasukkan pakaian ke dalam tas kecil.
Sementara itu, Danendra memperhatikannya dari tepi ranjang. Senyum tipis menghiasi wajah, betapa ia sangat berbahagia menikmati momen sesederhana melihat istrinya sibuk menyiapkan pakaian untuk perjalanan mereka.
Namun saat hendak merapikan lemari yang sedikit berantakan akibat pakaian yang ia ambil, kotak biru tua itu tanpa sengaja bergeser hingga jatuh ke lantai, mungkin karena Danendra tidak menyimpannya kembali dengan benar.
Bruk!
Niken langsung menoleh, "lho... apa itu?"
Begitu melihat kotak itu jatuh, wajahnya langsung berubah. "Nik, tunggu—"
Sayangnya, rasa penasaran Niken sudah lebih dulu mengambil alih. Ia segera memungut kotak tersebut. "Hadiah? Boleh aku lihat?"
"Itu..." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Niken sudah membuka tutup kotaknya perlahan.
Beberapa detik kemudian, matanya langsung membulat. "Mas...?" Wajah Niken langsung memerah saat mengangkat sehelai gaun tidur berwarna gading yang lembut itu. "Ini...?"
Danendra menutup mata sejenak sambil menghembuskan napas pelan. "Aku terlambat mencegahmu."
...****************...