Cerita ini mengisahkan seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya karena kecelakaan yang dialami suaminya. Dimas, sebelum kepergiannya ia menitipkan pesan pada Dinda istrinya, untuk mendonorkan jantungnya pada pasien di rumah sakit yang sama. Dengan persetujuan Dinda akhirnya jantung itu di donorkan pada seorang pasien.
Setahun kepergian Dimas, Dinda mulai mencari kesibukan lagi. Walau belum hilang rasa sedih serta rindunya pada Dimas. Dinda bekerja di sebuah perusahaan dengan rekan-rekan yang sangat baik padanya salah satunya Ana. Ana juga sahabat Agra CEO perusahaan tempat mereka bekerja dan juga orang yang mendapatkan donor jantung Dimas.
Diawal pertemuan, Dinda dan Agra ada rasa ketertarikan pada mereka berdua. Tapi, Dinda dan juga Agra tidak terlalu menggubris hati mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu Agra memahami hatinya yang telah jatuh cinta pada Dinda. Dengan berbagai alasan, Agra mengajak Dinda untuk menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Mawarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Kedatangan Tamu
Hal yang sangat membingungkan bagi Beno adalah Vio hari ini terlihat seperti sedia kala. Vio seceria biasanya. Tapi, Beno tidak mau ambil pusing. Mungkin saja Vio telah ikhlas dan merelakannya, pikir Beno.
Vio mendatangi bilik Ana, meminta Ana untuk membantunya mereview pekerjaannya. Karena banyak sekali data-data yang harus dibuat. Vio sudah yakin dengan pekerjaannya. Tapi, ia butuh seseorang agar bisa meyakinkan lagi bahwa pekerjaannya telah benar.
Vio begitu terlihat asik bekerja sama dengan Ana. Tidak ada yang mesti dicurigai. Bahkan Beno, Lucy dan Denada ikut lega melihat keakraban mereka. Karena Lucy dan Denada berpikir bahwa Vio akan menjadi orang ketiga di antara Ana dan Beno.
***
Agra pulang di jam makan siang. Ia sama sekali tidak konsentrasi saat bekerja mengingat Dinda yang lagi kesakitan. Di kantornya, ia bolak-balik mencari informasi seputar menstruasi. Dari apa yang dirasakan saat wanita menstruasi, obat untuk menghilangkan rasa sakit saat menstruasi sampai keperluan apa saja untuk wanita menstruasi, semua di jelajahi Agra.
Saat ini, sebelum pulang ke rumah ia singgah di minimarket. Ia mengambil beberapa botol minuman untuk wanita yang lagi menstruasi. Lalu ia mengambil beberapa bungkus pembalut. Ia memilih pembalut yang bersayap dan panjang. Agra sudah mencari informasi tentang hal itu agar Dinda merasa nyaman. Tidak lupa juga Agra membelikan coklat dan wafer coklat untuk Dinda supaya Dinda lebih tenang. Karena biasanya wanita menstruasi itu emosian. Begitulah yang Agra baca.
Saat melakukan pembayaran di kasir, pegawai kasir itu berbisik-bisik dan senyam-senyum pada temannya saat menghitung belanja Agra. Tapi, Agra pura-pura tidak tahu saja. Lagian ini untuk istrinya kenapa mesti malu, pikirnya.
Setelah itu barulah Agra pulang ke rumahnya. Sampai di rumahnya, Agra langsung ke kamar Dinda. Ia mengetuk pintu dan memanggil nama Dinda.
"Ya, masuk aja", ucap Dinda dengan suara sedikit gemetar.
Agra pun masuk dan melihat Dinda sedang meringkuk di kasur.
" Din, kamu kenapa? Kita ke dokter aja yuk", ucap Agra sambil mengelus kepala Dinda.
Dengan menahan rasa sakit, Dinda perlahan duduk dan dibantu juga dengan Agra, "Nggak perlu Gra. Ini biasa terjadi kok".
"Ya, udah kalau gitu ini buat kamu", ucap Agra sambil memberikan bungkusan belanjaan. " Aku juga udah beli minuman untuk meredakan nyeri".
Dinda heran dan penasaran isi dari bungkusan itu. Ia membukanya dan melihat isinya. Tentu Dinda terkejut melihat paket lengkap buat wanita menstruasi itu. Dari mana Agra bisa tahu barang-barang ini, pikir Dinda.
"Kamu yang beli ini semua? Kok kamu tau sih apa yang aku perlukan?", tanya Dinda penasaran.
"Iya, tadi aku cari infonya di web", jawab Agra malu.
Lalu Dinda tertawa membayangkan Agra yang berbelanja kebutuhan istrinya.
"Kenapa ketawa?", tanya Agra bingung.
"Terus waktu di kasir kamu nggak di ketawain gitu sama mbak-mbaknya?", tanya Dinda penasaran.
" Ya gitu deh", jawab Agra sambil menggaruk dahinya yang tidak gatal. "Emangnya aneh ya kalau laki-laki belanja ginian?"
Dinda mengangguk-angguk sambil tersenyum geli. Agra menjadi malu pada Dinda.
"Oh iya, kita perlu belanja lagi nggak buat besok?", Agra mengalihkan pembicaraan.
"Kayaknya gak usah deh. Kalau aku ingat-ingat kayaknya cukup. Cuma nambah stok beras aja", jawab Dinda tersenyum geli.
Agra pun jadi tersenyum juga, "Ya udah nanti aku telfon aja ke tokonya suruh bawa ke rumah langsung".
***
Malam harinya...
Tok, tok, tok, Dinda mengetuk kamar Agra.
" Agra", panggil Dinda dari luar kamar.
"Masuk aja Din", jawab Agra yang masih memainkan gawai-nya.
Dinda masuk kamar membawa tas berisi pakaiannya dan barang-barang yang lainnya. Agra merasa heran kenapa tiba-tiba Dinda pindah ke kamarnya. Agra lupa kalau besok akan kedatangan orang tua dan saudara-saudara Dinda.
Lalu Dinda sekali lagi mengingatkan Agra. Barulah Agra paham alasan Dinda pindah ke kamarnya. Agra membantu Dinda untuk merapikan pakaiannya biar cepat selesai karena sudah larut malam juga waktunya mereka untuk tidur.
Setelah itu Agra langsung berbaring di sofa menghadap badan sofa. Agra belum berani mendekati Dinda untuk tidur seranjang. Agra tidak mau Dinda ilfeel lagi padanya. Dinda mau sekamar dengannya saja itu sudah bagus.
Dinda melihat Agra yang tidur di sofa. Ternyata Agra masih mengingat hal itu.
'Maaf Agra, aku belum bisa menerimamu juga. Sampai saat ini pun aku masih berpura-pura menjadi istri yang baik untukmu. Dekat denganmu begini, langsung mengingat kejadian itu lagi. Aku masih berduka Agra hatiku belum sembuh' kata Dinda dalam hati sambil melihat sendu ke arah Agra yang tertidur.
***
Pagi harinya, Agra dan Dinda telah bersiap-siap menyambut tamu yang akan datang. Tidak lama kemudian tamu yang ditunggu-tunggu itu pun datang.
Agra dan Dinda menyambut orang tua mereka di depan pintu. Mereka menyalami orang tua mereka. Lalu menyuruh mereka dan lainnya masuk ke rumah.
Dinda maupun Agra tidak menyangka yang datang ke rumah mereka akan sebanyak ini. Ini namanya satu kampung yang datang, batin Agra.
"Aku nggak nyangka kalau mereka datang semua", ucap Dinda berbisik merasa tidak enak pada Agra.
"Jadi bahan-bahan makanannya cukup nggak?" tanya Agra dengan berbisik juga.
"Kayaknya kurang deh Gra. Gimana ini?", Dinda mulai panik.
"Em, kita minta bantuan Ana aja gimana?", usul Agra.
" Ya udah deh. Coba kamu tanya dia", Dinda setuju dengan Agra.
Dinda masuk ke rumah untuk menemani para tamu yang datang. Sedangkan Agra sedang menelepon Ana untuk meminta tolong padanya.
Setelah menelepon Ana, Agra ikut masuk ke dalam rumahnya. Dilihatnya sebentar saja rumahnya sudah berantakan di buat oleh bocah-bocah yang ikut menginap di rumahnya.
Agra menggaruk-garuk kepala melihatnya. Karena banyak barang-barang berharga di sana. Tapi, Agra tidak mau memarahi mereka. Walaupun orang tua mereka sudah mengizinkan Agra untuk memarahi anak-anak mereka yang nakal. Agra tetap tidak mau seperti itu.
Lalu, Agra mengajak anak-anak itu untuk bermain di halaman belakang yang lebih luas. Anak-anak pun setuju dan langsung mengikuti Agra ke halaman belakang. Agra juga ikut bermain bersama mereka. Agra tidak bisa menolak saat anak-anak itu merengek mengajaknya untuk ikut bermain.
"Om, gendong", ucap Citra, anak balita yang masih celat (belum fasih berbicara).
"Boleh sayang", ucap Agra yang langsung menggendong Citra.
Agra sosok yang ramah terlebih dengan anak-anak. Jadi, tidak heran anak-anak itu suka dengan Agra. Mereka tidak memperbolehkan Agra pergi dan harus tetap bermain bersama mereka.
***
So Happy Ending
Time Travel Lia mampir
Vio emang jahat banget sih
Time Travel Lia mampir
Time Travel Lia mampir
Time Travel Lia mampir