Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14 - Tuduhan di Kantor Polisi
Keesokan paginya, Naya dipanggil ke kantor polisi.
Laporan itu dibuat oleh Darto dan istrinya.
Tuduhannya: penculikan anak, pemerasan, dan penggunaan dokumen palsu.
Naya membaca surat panggilan dengan tenang, tetapi Yuni langsung meledak.
"Mereka yang mukul anak, mereka juga yang lapor? Waras tidak?"
Lila duduk di sofa apartemen, memeluk boneka kelinci kecil dari sekolah. Matanya berpindah dari Yuni ke Naya.
Naya menyimpan surat itu ke map.
"Aku pergi."
"Aku ikut."
"Kamu jaga Lila."
Yuni menolak, tetapi Naya menatapnya dengan mata yang membuat bantahan berhenti.
"Kalau aku tidak pulang sampai sore, hubungi Raka."
"Kenapa bukan Arkan langsung?"
Naya mengambil tas.
"Karena aku tidak mau terbiasa diselamatkan dia."
Di kantor polisi, Darto dan istrinya sudah menunggu. Istri Darto memakai kerudung rapi dan menangis di depan seorang penyidik perempuan.
"Kami memang orang kecil, Bu. Tapi kami sayang anak itu. Tiba-tiba perempuan mantan napi datang, bawa orang kaya, lalu anak kami dirampas."
Naya duduk di kursi seberang.
Istri Darto menunjuknya. "Itu dia! Dia mengancam kami. Dia bilang punya uang dan koneksi."
Naya membuka map.
"Saya minta semua pemeriksaan dilakukan dengan pendamping Dinsos."
Penyidik perempuan menatapnya. "Kamu tahu prosedur?"
"Saya belajar setelah empat tahun prosedur dipakai untuk mengubur saya."
Ruangan senyap.
Darto mendengus. "Tuh, kan? Orangnya kasar."
Naya mengeluarkan foto luka Lila, rekaman suara bentakan, surat pemeriksaan dokter, dan salinan dokumen panti.
"Saya juga membawa laporan medis. Anak itu mengalami kekerasan fisik berulang. Kalau Bapak dan Ibu merasa ini fitnah, silakan jelaskan memar lama di paha, lengan, dan punggungnya."
Istri Darto langsung menangis lebih keras.
"Namanya juga anak aktif! Jatuh sendiri."
"Jatuh sendiri di tempat berbeda selama berbulan-bulan?"
Penyidik perempuan mengambil foto itu. Wajahnya berubah serius.
Darto mulai gelisah.
"Kami cuma mendidik. Anak itu bisu, susah diatur."
Naya menatapnya.
"Dia diam karena takut pada kalian."
"Kamu siapa ngomong begitu? Baru datang sehari sudah merasa paling tahu?"
"Saya ibunya."
Istri Darto tertawa tajam. "Ibu yang dari mana? Empat tahun tidak muncul. Jangan-jangan kamu buang dia karena masuk penjara, sekarang mau ambil setelah tahu ada orang kaya mau bantu."
Pintu ruangan terbuka.
Rania masuk bersama Pak Hendra, pengacara keluarga Pradipta.
Naya tidak terkejut.
Ia sudah menebak ada tangan Pradipta di balik laporan ini.
Rania memakai pakaian sederhana, wajahnya cemas, seolah datang sebagai adik baik hati.
"Pak, Bu, maaf saya terlambat. Saya keluarga Mbak Naya."
Naya tidak menoleh.
Penyidik bertanya, "Anda?"
"Rania Pradipta. Saya... adiknya. Saya khawatir Mbak Naya bertindak emosional. Dia baru bebas dari lapas. Kondisi mentalnya belum stabil."
Naya akhirnya menatapnya.
Rania melanjutkan dengan suara lembut, "Kami sekeluarga sebenarnya ingin membantu. Tapi Mbak Naya selalu menolak. Dia pernah kehilangan anak, jadi mungkin ketika melihat Lila, dia..."
"Lanjutkan," kata Naya.
Rania tampak terluka. "Kak, aku tidak mau mempermalukanmu."
"Kamu datang ke kantor polisi untuk menyebut saya tidak stabil, tapi tidak mau mempermalukan?"
Pak Hendra masuk, suaranya tenang. "Bu Penyidik, keluarga kami hanya ingin memastikan anak tersebut berada di tempat yang tepat. Mbak Naya memiliki riwayat pidana dan trauma. Kami khawatir ia belum mampu menjadi wali."
Penyidik perempuan menatap Naya.
Naya membuka map kedua.
"Ini surat bebas saya. Ini berkas lama kasus tabrak lari yang sedang saya ajukan untuk peninjauan ulang. Ini bukti transfer keluarga Pradipta kepada keluarga korban setelah saya dipaksa mengaku. Ini salinan pesan anonim yang mengarah pada informasi bahwa anak perempuan saya tidak meninggal seperti yang mereka katakan."
Rania membeku.
Pak Hendra juga tidak sepenuhnya tenang lagi.
Naya meletakkan foto gelang kecil di meja.
"Saya tidak meminta polisi hari ini memutuskan hak asuh. Saya meminta perlindungan sementara untuk anak yang diduga korban kekerasan, pemeriksaan dokumen adopsi, dan tes DNA resmi."
Kata DNA membuat Rania tidak bisa menyembunyikan reaksinya.
Penyidik melihat itu.
"Tes DNA?"
Naya mengangguk.
"Saya siap."
Rania cepat berkata, "Kak, tidak perlu sejauh itu. Ini bisa diselesaikan keluarga."
Naya tertawa pelan.
"Keluarga?"
Ia menatap Rania, lalu Pak Hendra.
"Empat tahun lalu juga kalian bilang ini urusan keluarga. Lalu saya masuk penjara."
Pintu terbuka lagi.
Arkan masuk.
Kali ini tidak hanya bersama Raka. Ada pengacara Wiratama dan seorang petugas Dinsos yang tampaknya sudah dihubungi sebelumnya.
Rania berdiri cepat. "Arkan, kenapa kamu..."
Arkan tidak menatapnya.
Ia menatap penyidik.
"Saya Arkan Wiratama. Saya saksi bahwa anak bernama Lila ditemukan dalam kondisi terluka, dan saya siap menyerahkan rekaman lokasi serta laporan medis lanjutan. Tim hukum saya akan membantu memastikan prosesnya sesuai hukum."
Darto dan istrinya langsung pucat.
Pak Hendra berusaha tersenyum. "Pak Arkan, ini urusan keluarga Pradipta. Sepertinya tidak perlu..."
Arkan menoleh padanya.
"Anak yang terluka bukan urusan pribadi siapa pun."
Rania berbisik, "Arkan, kamu tidak tahu semuanya."
"Aku sedang mencari tahu."
Kalimat itu membuat ruangan membeku.
Naya menatap Arkan. Ia tidak memintanya datang. Ia bahkan tidak ingin bergantung padanya. Tapi kali ini, kehadirannya membuat Darto berhenti berteriak, membuat Pak Hendra berhenti mengatur napas ruangan, membuat Rania kehilangan panggung.
Ia membenci kenyataan bahwa itu membantu.
Pemeriksaan berlangsung panjang. Dinsos mencatat temuan medis. Penyidik meminta Lila tetap dalam perlindungan sementara bersama Naya sambil menunggu asesmen, karena anak menolak kembali pada keluarga Darto dan ada bukti kekerasan.
Darto memaki saat keluar.
"Uang lima puluh juta itu tidak cukup! Kami akan tuntut lagi!"
Arkan hanya melirik Raka.
Raka mencatat.
Rania mendekati Naya di koridor.
"Kamu puas?"
Naya merapikan map. "Belum."
"Kamu mau apa lagi?"
"Kebenaran."
Rania tertawa kecil, tetapi matanya takut. "Kebenaran tidak selalu membuat hidupmu lebih baik."
"Kebohonganmu juga tidak membuat hidupku baik."
Rania mendekat, suaranya rendah.
"Hati-hati, Kak. Kalau kamu terus menggali, kamu mungkin kehilangan lebih banyak."
Naya menatapnya.
"Saya sudah kehilangan anak, kebebasan, nama baik, dan empat tahun hidup. Kamu mau ambil apa lagi?"
Rania tidak bisa menjawab.
Di ujung koridor, Arkan mendengar kalimat itu.
Empat tahun hidup.
Anak.
Kebebasan.
Semuanya mulai tersambung, tetapi belum membentuk gambar utuh.
Saat Naya berjalan melewatinya, Arkan berkata, "Aku antar."
"Tidak perlu."
"Aku tidak bertanya."
Naya berhenti.
Matanya menatap Arkan dingin.
"Belajarlah bertanya, Pak Arkan. Kalau tidak, suatu hari Bapak akan sadar sudah menyakiti orang sambil mengira sedang membantu."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Arkan berdiri di tempat.
Kata-kata itu mengenai sesuatu yang jauh di dalam kepalanya.
Malam kebun.
Suara perempuan.
Lepas.
Untuk pertama kalinya, Arkan takut pada ingatannya sendiri.
Di mobil, Naya duduk di kursi belakang sambil memeluk tas berisi dokumen Lila. Ia tidak meminta diantar, tetapi Arkan tetap menyuruh sopir mengikuti sampai rumah sakit Nenek Sari terlihat.
"Berhenti di sini," kata Naya.
Sopir menoleh ke Arkan lewat kaca.
Arkan mengangguk.
Naya membuka pintu, lalu berhenti. "Terima kasih untuk kantor polisi."
"Aku hanya menunjukkan bukti."
"Itu lebih banyak daripada yang dilakukan banyak orang empat tahun lalu."
Kalimat itu bukan pujian. Arkan tahu.
"Waktu itu aku tidak tahu."
Naya menoleh. "Orang kaya selalu bilang begitu. Tidak tahu. Tidak lihat. Tidak ikut campur. Tapi saat mereka butuh sesuatu, semua pintu bisa terbuka."
Arkan menerima pukulan itu tanpa membalas.
"Apa yang kamu mau dariku?"
"Jangan percaya saya."
Arkan mengerutkan kening.
Naya berkata pelan, "Percaya bukti. Karena kalau Bapak percaya saya, suatu hari orang seperti Rania bisa membuat Bapak ragu lagi. Tapi kalau Bapak pegang bukti, mereka tidak bisa menangis untuk mengubahnya."
Ia turun dari mobil.
Arkan melihat punggungnya masuk ke lorong rumah sakit.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rania.
`Arkan, aku takut Kak Naya semakin tidak stabil. Jangan biarkan dia dekat Rayyan.`
Arkan membaca pesan itu dua kali.
Dulu ia mungkin akan khawatir.
Sekarang ia hanya mengetik satu balasan.
`Aku akan percaya bukti.`
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕