Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 PENGAKUAN HARUM YANG MENGEJUTKANKU
Singkat cerita...
Aku sampai di rumah, di sambut oleh Harum.
Bapak sudah berangkat menuju ke musholla untuk sholat Maghrib berjama'ah. Dan malam ini, Bapak akan pulang lebih malam.
Hal itu karena malam ini ada acara pengajian yang dikhususkan untuk bapak-bapak di desaku.
Aku sudah selesai mandi, langsung sholat Maghrib berjama'ah dengan anakku. Kami biasa melaksanakan sholat di dalam kamar saja.
Setelah selesai berdoa, aku pun segera mengajak Harum untuk makan bakso yang tadi ku beli.
"Nak, ayok, kita makan bakso." ajakku sambil merapikan mukenaku.
"Iya Bu, aku juga udah laper banget nih." jawabnya sambil merapikan mukenanya juga.
Setelah itu, kami berdua pun segera menuju ke dapur.
Ku siapkan dua mangkuk. Dan Harum sudah duduk di kursi meja makan.
Satu mangkuk ku isi dengan bakso urat untukku, dan satu lagi ku isi dengan bakso telur untuk Harum.
Sedangkan satu bungkus lainnya, ku taruh di atas meja makan saja. Karena itu untuk kakek Harum.
"Heeemmm... Gurih bangeeet..." ucap Harum saat tercium aroma kuah bakso yang masih cukup panas itu.
Aku pun hanya tersenyum.
"Kamu mau minum apa Nak? Air putih aja, atau teh manis anget?" tanyaku.
"Air putih aja Bu." jawabnya, sambil mulai meraba pelan sendok dan garpu yang sudah ku letakkan di mangkuk baksonya.
Aku langsung mengambilkan dua gelas air putih. Dan ku letakkan salah satunya di dekat mangkuk baksonya.
"Ini airnya, awas hati-hati, nanti malah kesenggol tanganmu." kataku.
Harum hanya mengangguk pelan, sambil mulai menyantap baksonya. Aku pun segera menikmati bakso itu juga.
Saat ku dengar suara kunyahan Harum, menambah seleraku. Semakin nikmat rasanya saat makan berdua dengannya.
Anakku sempat sedikit tersedak, saking lahapnya.
"Ehem! Pelan-pelan dong Nak makannya. Jangan buru-buru gitu ah!" ucapku, sambil mengelus pelan punggungnya.
"Uhukkk uhukkk! Aduuuhhh..."
Melihat anakku jadi batuk karena tersedak, aku pun membantunya untuk minum dulu.
"Pelan-pelan sayangkuuu..." ucapku sambil memegangi gelas di mulutnya.
"Alhamdulillah..." ucap Harum saat sudah lega lagi tenggorokannya.
Kami berdua pun melanjutkan makan bersama.
Ketika bakso di mangkuk kami berdua hampir habis, Harum mengajakku mengobrol.
"Bu, aku mau cerita sama Ibu..." katanya.
"Em? Mau cerita apa Rum?" tanyaku, sambil terus mengunyah pelan.
"Emmm... Tapi aku bingung gimana ceritanya sama Ibu."
Aku pun menghentikan makan sesaat. Dan ku tatap wajah anakku itu.
Dari wajahnya yang disinari lampu dapur, terlihat memang ada ekspresi sedikit berpikir.
"Kenapa bingung Nak? Cerita aja..." kataku.
"Emmm... Gimana ya Bu aku ceritanya?"
"Udah, cerita aja pelan-pelan..." ucapku, sambil kembali menyuap potongan bakso terakhir.
"Emang tentang apa sih? Tentang sekolahmu Nak?" tanyaku lagi.
"Bukan sih Bu..." jawabnya.
Aku jadi penasaran. Karena anakku sekarang terlihat seperti merenungi sesuatu. Sambil ia malah memainkan dengan pelan, garpu dan sendok di mangkuknya.
"Terus tentang apa Rum? Pengajianmu kah?"
Harum menjawab hanya dengan gelengan kepalanya.
"Emmm... Apa ada yang jahat atau jahil sama kamu di sekolah?"
"Enggak kok Bu, bukan itu..."
Semakin penasaran aku dibuatnya.
Kini, Harum mulai bersandar di kursinya. Ia taruh saja sendok dan garpu di atas mangkuk.
"Terus, apa dong Nak?"
Sejenak, ia terdiam.
Lalu, menatapku dengan mata putihnya.
"Emmm... Ibu..."
"Apa? Jangan bikin Ibu penasaran ah..."
"Tapi, Ibu jangan cerita sama Kakek dulu ya..."
Mendengarnya, aku pun jadi duduk lebih tegak, sambil memiringkan tubuhnya ke arahnya.
"Kenapa? Emang ceritamu ini tentang Kakek?" tanyaku lagi.
"Bukan juga Bu..." jawabnya sambil menggeleng pelan, tetap menatap wajahku.
"Terus apa sih? Penasaran banget Ibu nih!" desakku akhirnya.
Dan suasana di antara kami berdua berubah, terasa menjadi serius.
"Emmm... Bu..."
"Apa Rum?"
"Sebenernyaaa... Akuuu... Emmm..."
Tampak masih ragu-ragu ia.
Aku tak menjawab. Aku diam. Menunggu cerita lengkap darinya.
Dan akhirnya anakku itu berucap.
"Ibu... Sebenernya, aku bisa lihat loh Bu..."
Sontak, aku langsung mengerutkan dahiku sendiri.
Terkejut aku mendengarnya.
"Hah??? Apa Nak??? Kamu bilang apa barusan???" tanyaku dengan nada suara tak percaya.
"Iya Bu... Aku, bisa lihat..."
Sungguh, pengakuannya ini benar-benar tak ku duga sebelumnya.
Namun, aku tetap mencoba tenang, dan mencoba sangat menghargai pengakuannya itu.
"Tunggu, tunggu dulu... Kamu, bisa lihat??? Lihat gimana maksudmu Nak???"
"Iya Bu... Tapi..."
"Tapi apa???"
"T-t-Tapi..." malah mulai terbata-bata suara anakku itu.
Aku diam lagi.
Dengn segudang perasaan tak percaya, sekaligus semakin amat sangat penasaran dengan apa yang akan selanjutnya ia ucapkan padaku.
Dan...
Harum...
Mengatakan sebuah kalimat.
"TAPI, AKU BUKAN BISA LIHAT IBU, KAKEK, ATAU ORANG LAIN BU... YANG AKU LIHAT ADALAH... SEKAR ARUM..."
Kalimat yang baru saja ia ucapkan itu, langsung membuatku terdiam seribu bahasa.
Dan, tubuhku langsung terasa agak kaku.