Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Buang Om Ganteng
Rina berdiri mematung di tengah ruangan yang sempit. Ia menatap sekeliling unit apartemen studio berukuran 10x20 meter itu dengan rasa jijik dan kecewa yang mendalam. Tidak ada kemewahan, tidak ada sofa empuk berbahan kulit, dan tidak ada pemandangan luas ibu kota seperti yang biasa ia nikmati di tempat Adrian.
Tempat ini terasa seperti sangkar kecil yang sengaja disiapkan untuk menyembunyikannya dari dunia luar.
“Gila, sedrastis ini?” gerutu Rina tapi dia tetap masuk ke dalam apartemen.
Tanpa membuang waktu, Rina langsung merogoh tasnya untuk meraih ponselnya berniat untuk mengabari suaminya jika dia sudah sampai di apartemen yang sudah dipilihkan untuknya.
Sambungan terhubung.
Rina menunggu dengan napas tertahan, berharap Adrian akan mengangkat dan memberikan penjelasan masuk akal atau setidaknya mengubah pilihan tempat tinggalnya.
Namun, panggilan itu terus berdering panjang tanpa ada jawaban.
“Kemana dia?” gerutu Rina sambil mencoba meneleponnya sekali lagi tapi dia kembali kecewa.
“Mungkin tuan sedang sibuk,” terang supir yang masih berdiri di ambang pintu.
“Oh!” jawab Rina sambil mengangguk.
“Bawaannya ini aja, kan?” tanya supir sebelum melangkah kembali ke ambang pintu.
“Ya, itu aja,” ucap Rina dengan mata yang masih berkaca-kaca.
“Jadi udah semua ya, Non. Kalau gitu saya ijin pamit,”
“Ok!”
"O, iya!” Sopir itu teringat pada pesan Adrian. Dia merogoh saku bajunya lalu menyodorkan sebuah kertas. “Ini nomor saya, Nona. Kalau besok Nona mau jalan-jalan keliling kota, silahkan hubungi saja," ucap sopir itu sopan sebelum pergi meninggalkan unit apartemen.
Rina tidak menjawab, dia terlalu fokus pada rasa kesal di dada pada Adrian. Dia hanya mengambil secarik kertas itu lalu menutup pintu.
“Seperti ini akhirnya,” desis Rina lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Keesokan paginya, udara dingin Kota Bandung yang menembus jendela kaca tidak sebanding dengan rasa dingin yang merayap di dada Rina. Semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak.
Begitu matahari pagi memancarkan sinarnya, ia teringat pada tawaran untuk pergi jalan-jalan ditemani sopir keliling kota.
Rina pikir ini bisa jadi hiburan baginya daripada terus kecewa di dalam apartemen mini ini.
Tangannya segera meraih ponselnya dan menekan nomor yang diberikan padanya berharap ini bisa jadi awal baru baginya di kota kembang ini.
Namun, begitu tombol panggil ditekan, suara operator terdengar jelas: “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”
Rina mengerutkan kening. Ia mencoba meneleponnya beberapa kali lagi dan hasilnya tetap sama.
Seketika itu juga kesadaran pahit menghantam benaknya telak-telak.
Ia tidak hanya dipindahkan ke tempat terpencil tapi lebih parah dari itu, ‘Rina sedang dibuang.’
“Hah! Sudah aku duga!” kesal Rina lalu menyandarkan kepalanya di kursi. “Aku memang sudah dibuang! BODOH!”
KRING!
Sebuah transfer dana sebesar satu miliar rupiah baru saja masuk ke rekening pribadinya dari rekening Adrian.
“Apa ini?” bisik Rina lalu menghitung nol di transferan yang masuk ke rekeningnya. “Untuk apa dia kirim uang sebanyak ini?” geramnya lalu mencari tombol untuk mentransfer uang itu kembali ke rekening Adrian.
“Kalau mau buang anak orang sekalian aja buang. Gak usah sok kasih uang 1 milyar! Njir!”
Mata Rina penuh dengan bulir air mata, dia sudah terlalu muak dengan permainan ini.
Kemarin Adrian bilang pria kaya itu punya hutang tapi hari ini malah transfer uang kepadanya sebanyak ini. Keliatan banget bohongnya.
Rina mulai mengetik nomor rekening Adrian di M-bankingnya tapi saat dia bersiap mengirimkan kembali uang itu Rina terdiam. “Ah! Kenapa harus dibalikin! Bodoh! Dia aja gak bisa ngembaliin semua keceriaanku!”
Istri simpanan itu lalu menatap sekeliling apartemen sempitnya. Ia berada di kota yang baru pertama kali ini dia datangi tanpa pekerjaan dan tanpa keluarga di dekatnya hanya selembar ijazah sarjana yang baru dia terima beberapa bulan lalu.
Jika ia mengembalikan uang itu atas dasar gengsi semata terus bagaimana ia akan bertahan hidup ke depannya?
Rina menarik napas dalam-dalam, lalu membatalkan transaksinya. Ia menutup aplikasi bank tersebut. Baiklah, batinnya dingin. Jika ini harga untuk membuangku, uang ini akan aku jadikan modal untuk bangkit. Rina mulai bisa berpikir jernih.
Selama tiga minggu berturut-turut setelah hari kepindahannya hidup Rina diwarnai kemarahan yang tertahan dan kecemasan yang melelahkan.
Rasa penasaran dan rasa tidak terimanya membuncah setiap malam.
Mengapa Adrian mencampakkannya begitu saja setelah semua yang telah mereka lalui?
Hampir setiap hari Rina mencoba menghubungi nomor Adrian di minggu pertama namun tidak satu panggilan telepon pun dijawab suami sirinya itu.
Tidak cuma panggilan telepon, berkali-kali Rina mengirimkan pesan singkat tapi tidak satupun yang mendapatkan balasan.
“Dia udah mati apa gimana?” kesal Rina tapi terus saja mengirimkan pesan pada Adrian.
Semua pesan itu hanya menunjukkan tanda masuk tanpa pernah dibalas dan belakangan centang biru pun tak pernah muncul lagi.
Nomor Rina diduga kuat telah dimasukkan ke dalam daftar blokir oleh Adrian.
“Gila!” Hanya itu kata yang selalu keluar dari mulut Rina setelah pesannya tidak terkirim pada suaminya.
Malam-malam Rina di minggu kedua dipenuhi dengan air mata kekecewaan. Ia merasa seperti sampah yang disingkirkan begitu saja setelah dipuaskan. Pria hidung belang itu benar-benar mengabaikannya, membiarkannya terdampar sendirian di kamar studio yang sempit tanpa kepastian.
Namun, memasuki minggu ketiga, tangis Rina berganti menjadi determinasi.
Ia menyadari bahwa membuang pulsa dan energi untuk mengejar pria yang sudah tidak mempedulikannya adalah hal yang sangat bodoh. Ia harus menyibukkan diri agar tidak gila di dalam kamar apartemen ini.
Matahari baru saja terbit ketika Rina memutuskan untuk melangkah keluar.
Mengenakan jaket tebal dan sepatu kets, wanita muda itu membulatkan tekad untuk memanfaatkan sisa pengetahuan kuliner masa kuliahnya. Ia ingin membuka bisnis usaha roti, kue kering dan pastry kecil-kecilan.
Perjuangannya dimulai dengan menjelajahi jalanan Bandung yang asing.
Rina berjalan kaki menembus hawa dingin kawasan Braga, lalu naik transportasi umum menuju pasar-pasar tradisional dan pusat grosir besar di daerah Pasar Baru hingga area Gardujati.
Ia mendatangi toko demi toko bahan kue, mencatat harga, serta membandingkan kualitas tepung, mentega impor, hingga cokelat yang ditawarkan.
"Neng, kalau mau cari keju dan butter impor skala besar tapi harga miring, coba cek ke distributor di area Leuwi Panjang atau daerah Kopo," saran seorang pemilik toko bahan makanan di Pasar Baru saat melihat Rina sibuk membandingkan harga.
Tanpa membuang waktu, Rina langsung memburu alamat yang disarankan. Kaki dan betisnya terasa pegal luar biasa karena terus berjalan menyusuri lorong-lorong toko grosir yang penuh dengan debu dan tumpukan karung gula.
Kulit tangannya yang dulu selalu mulus kini beberapa kali tergores kardus saat ia membawa contoh bahan untuk dieksperimenkan.
Namun, Rina tidak menyerah. Setelah tiga hari berturut-turut berkeliling kota dari toko kecil hingga distributor besar, Rina akhirnya berhasil menemukan dua supplier langganan yang mau memberikan harga grosir terbaik dengan bahan berkualitas tinggi untuk usahanya.
Rina membeli oven listrik ukuran sedang, beberapa loyang, dan mixer profesional yang muat ditaruh di meja dapur sudut apartemennya.
Hari-hari berikutnya ia habiskan penuh dengan wangi adonan, bau vanila, dan panggangan kue yang harum. Ia terus mencoba berbagai macam resep sampai menemukan formula cheesecake dan cookies yang sempurna.
Setelah yakin dengan kualitas rasanya, Rina membuat akun media sosial khusus untuk bisnis kuenya. Ia menata kue-kue cantiknya di atas piring keramik kecil dekat jendela apartemen, mengambil foto dengan pencahayaan alami, lalu memasang iklan berbayar dengan jangkauan wilayah Bandung dan sekitarnya.
Ajaibnya, dalam beberapa hari iklan itu berjalan, pesanan demi pesanan mulai masuk dari pelanggan lokal. Rina begitu sibuk memanggang adonan, mengemas dus pesanan, dan mengurus pengiriman.
Waktunya tersita sepenuhnya, membuat ingatan pahit tentang Adrian perlahan terkikis oleh hasil keringatnya sendiri.
Hingga suatu sore, ketika Rina sedang sibuk mengikat pita di atas kardus pesanan kue, layar ponselnya yang tergeletak di meja dapur mendadak bergetar hebat.
Sebuah panggilan masuk tertera di layar. Nama yang sudah tiga minggu menghilang dari hidupnya dan tidak pernah membalas pesannya kini muncul terang-terangan.
Adrian meneleponnya.
Rina menghentikan jemarinya. Ia menatap layar ponsel itu dengan wajah datar tanpa ekspresi.
“Hah! Ternyata dia baru ingat kalau punya aku!” geram Rina sambil mengabaikan panggilan dari Adrian.