Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018: Buku Catatan yang Hilang
Keira menarik lengan bajunya turun.
"Tinta," katanya.
Hansel menatapnya. "Aku belum bertanya."
"Jawaban hemat waktu."
Ia keluar dari warung sebelum Hansel bisa menahan lebih jauh. Di trotoar, panas siang memantul dari aspal. Keira naik angkot pertama yang lewat, meninggalkan Hansel bersama pertanyaan yang belum selesai.
Senin pagi, pertanyaan lain menunggu di SMAN 7.
Bayu berdiri di depan loker kecilnya dengan wajah pucat.
"Mbak."
Keira baru masuk gerbang. "Apa?"
"Buku catatanku hilang."
Tidak perlu bertanya buku yang mana. Bayu memegang tasnya terlalu erat, seperti semua isi di dalamnya mendadak tidak berarti tanpa satu buku itu.
"Kapan terakhir kamu lihat?"
"Sabtu malam. Aku masukkan ke tas. Minggu aku nggak keluar. Tadi pagi sudah nggak ada."
Keira menatap ke arah kelas Laras.
Bayu mengikuti pandangannya, lalu langsung menggeleng pelan. "Mungkin bukan dia."
Kalimat itu keluar karena kebiasaan, bukan keyakinan. Bayu selalu mencari kemungkinan lain agar rumah tidak meledak. Keira memahami pola itu. Orang yang lama hidup di bawah orang seperti Bu Sri sering lebih dulu menyalahkan diri sendiri daripada menunjuk pelaku.
"Kamu ingin itu bukan dia," kata Keira.
Bayu terdiam.
"Beda."
Di ruang kelas XII IPA, Laras sedang dikelilingi dua teman. Ia membuka buku bersampul baru, halaman-halamannya penuh tulisan rapi. Ketika Bu Ratna memberi satu soal latihan, Laras mengangkat tangan lebih cepat dari biasanya.
Jawabannya benar.
Bu Ratna tersenyum. "Bagus, Laras. Cara kamu makin ringkas."
Teman-teman bertepuk tangan kecil.
Laras menunduk malu-malu, memainkan ujung rambut seperti tidak sengaja menjadi pusat perhatian. Namun Keira melihat bahunya. Terlalu tegang untuk orang yang benar-benar paham jawaban sendiri.
Di papan, ia menulis langkah kedua persis seperti catatan lama Bayu.
Persis.
Bahkan salah satu tanda panah kecil yang biasa dipakai Keira ikut disalin.
Bayu melihat itu dan wajahnya seperti ditampar.
Bayu berdiri di belakang pintu, wajahnya memucat. Keira tidak menghentikan Laras. Ia malah memperhatikan bagian mana yang Laras salin dan bagian mana yang tidak ia pahami.
Setelah kelas, Bayu hampir masuk untuk mengambil buku itu.
Keira menahan lengannya.
"Jangan."
"Itu bukuku."
"Kalau kamu ambil sekarang, dia hanya akan bilang kamu iri."
"Tapi..."
"Kita butuh dia memakai lebih banyak."
Bayu menelan napas. Sulit sekali membiarkan orang mencuri sesuatu yang ia bangun dengan susah payah. Namun Keira tidak terlihat marah. Itu membuatnya mencoba percaya.
"Mbak mau bikin soal baru?"
"Soal yang tidak ada di buku itu."
Bayu mengangguk. Kali ini matanya tidak hanya sedih. Ada api kecil di sana.
Mereka duduk di perpustakaan saat istirahat kedua. Keira menulis tiga pola soal baru di kertas kosong. Bayu mengerjakannya pelan. Kadang salah. Kadang berhenti lama. Keira tidak memarahi, hanya mengetuk bagian yang keliru.
"Jangan hafal jalannya. Pahami kenapa belok."
Bayu mengangguk, menghapus jawaban, lalu mencoba lagi.
Dari luar jendela, Laras melihat mereka. Ia tidak tahu apa yang mereka tulis, tetapi cara Bayu menunduk percaya pada Keira membuat dadanya panas.
Sore hari, Laras mengunggah Instagram Story.
Belajar itu soal konsistensi, bukan drama.
Di foto, buku barunya sengaja terbuka sedikit. Tidak cukup jelas untuk orang lain, tetapi cukup bagi Bayu untuk mengenali pola tulisan Keira di halaman yang disalin.
Bayu screenshot.
Keira menyimpannya.
Malamnya, rumah Prasetyo tampak biasa. Bu Sri memasak sambal, Pak Prasetyo memperbaiki kipas angin, Bayu mengerjakan soal baru di ruang belakang. Laras duduk di kamar dengan pintu setengah tertutup, menyalin lagi dari foto-foto yang ia ambil.
Keira lewat di depan kamar itu tanpa suara.
Ia melihat sudut buku cokelat tua menyembul dari tas Laras.
Buku Bayu.
Keira tidak mengambilnya.
Belum.
Di ruang depan, Bu Sri menerima telepon. Suaranya direndahkan, tetapi rumah kecil tidak pernah pandai menyimpan rahasia.
"Iya, Pak. Laras sudah siap. Anak saya memang kuat di matematika."
Keira berhenti di dekat dispenser.
Suara laki-laki di seberang terdengar samar, tetapi beberapa kata cukup jelas: rekomendasi, kepala sekolah, jalur prestasi.
Bu Sri merendahkan suara lagi. "Yang penting jangan sampai anak lain ambil kesempatan itu. Laras sudah ikut bimbel, sudah disiapkan. Kalau bisa namanya masuk dulu, nanti nilai menyusul."
Keira menatap air di gelasnya.
Nilai menyusul.
Di rumah ini, bahkan kebohongan diberi jadwal.
Bu Sri tersenyum puas. "Asal namanya masuk daftar, nanti saya urus yang lain."
Bayu di ruang belakang berhenti menulis. Ia juga mendengar.
Keira mengambil gelas, menuang air, lalu tetap berdiri.
Bayu muncul di balik sekat dengan wajah pucat. Ia tidak berani bicara, tetapi matanya bertanya dengan jelas. Keira mengangkat satu jari ke bibir, menyuruhnya diam.
Di kamar, Laras menahan napas sambil mendengar nama UI disebut. Ambisi yang selama ini dibisikkan Bu Sri mendadak terasa sangat dekat. Bukan lewat kemampuan, tetapi lewat jalan belakang yang dibuka orang dewasa.
"Mama benar-benar bisa?" Laras berbisik setelah Bu Sri menutup telepon sebentar untuk mengambil charger.
"Kamu fokus saja belajar," jawab Bu Sri. "Urusan orang dewasa biar Mama yang pegang."
"Kalau Keira..."
Wajah Bu Sri mengeras. "Jangan sebut dia. Dia tidak punya apa-apa. Tidak punya les, tidak punya koneksi, tidak punya orang yang mau bantu."
Keira mendengar setiap kata.
Bayu juga.
Anak itu menunduk, jari-jarinya meremas kertas soal baru. Keira tahu ia sedang marah. Bagus. Marah yang diarahkan dengan benar bisa menjadi tulang punggung.
Telepon Bu Sri tersambung lagi.
Keira memberi isyarat pada Bayu untuk mengambil ponselnya. Bayu bergerak pelan, membuka aplikasi perekam suara, lalu meletakkannya di balik tumpukan buku dekat sekat.
Tangannya gemetar, tetapi ia tidak berhenti.
Di ruang depan, Bu Sri terlalu sibuk memastikan jalur Laras sampai tidak menyadari suara kecil ponsel aktif. Laras juga terlalu sibuk membayangkan dirinya disebut calon mahasiswa UI.
Keira menatap Bayu.
Anak itu menggigit bibir, lalu mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya menjadi korban yang menyimpan tangkapan layar. Ia ikut mengumpulkan bukti.
Percakapan itu berlangsung lima menit lagi. Ada nama kepala sekolah. Ada kata rekomendasi. Ada janji bahwa nilai bisa "dibantu narasinya" selama Laras tampil meyakinkan di kelas.
Ketika ponsel akhirnya dimatikan, Bayu mengambil alat perekam dengan tangan dingin.
"Mbak, ini cukup?"
"Untuk sekarang."
"Aku takut."
"Bagus. Orang yang takut biasanya lebih teliti."
Bayu hampir tertawa, tetapi wajahnya masih pucat. Ia menyimpan file rekaman itu ke folder yang sama dengan tangkapan layar Laras.
Materi Matematika kini benar-benar menjadi gudang perang kecil mereka.
Laki-laki itu berkata lebih jelas, "Sudah saya atur dengan kepala sekolah."