Cerita kedua setelah kisah Anjani dan teman-temannya...
Dua tahun setelah kejadian menyeramkan di rumah tersebut,Sang pemilik rumah akhirnya mendapatkan kembali pelanggannya.
Di malam hari,Sang pemilik nampak dikejutkan oleh sepasang pengantin baru yang ingin membeli rumah tersebut.Merekapun tidak mempermasalahkan harga murah yang dilontarkan.Wajah mereka terlihat begitu kagum,ketika mengetahui rumah tersebut memliki desain yang unik.
Rumah itu berada di penghujung kota,sendirian,tanpa adanya tetangga sama sekali.Namun nyatanya,lingkungan yang sangat berteman dekat dengan suasana hutan tersebut,sangat diidam-idamkan oleh Sang isteri.Hal itu membuat Sang suami langsung menyetujui pembelian rumah itu.
Sang pemilik nampak tersenyum manis,ikut bergembira dengan perasaan mereka,hingga tak sampai hati untuk memberitahukan tentang apa yang terjadi pada rumah ini di dua tahun yang lalu.
Ralat,bukan tak sampai hati,namun ia memang sengaja untuk menutupinya.Keinginan akan uang,membuat hati nuraninya buta.Bahkan,ia tak tanggung-tanggung untuk meminta bantuan dari golongan iblis.
Rasa menyesal mendadak hadir,saat dirinya sudah menemukan sebuah kenyaman dari orang-orang baru.Hal itu membuatnya merasa bersalah.Ia bertekad,akan melindungi orang-orang tersebut dari kejahatan Sang raja iblis.Disinilah, kejadian-kejadian di luar nalar,mulai memasuki kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara Sulistia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.6
Di dalam rumah Irawan,tepatnya di area dapur,Amer dan Wulan terlihat berpelukan mesra.Mereka nampak saling pandang,kemudian mendadak tersenyum malu-malu.Entah kenapa,Wulan merasa Amer sangat bernafsu malam ini.
"Wulan..."
Amer mendadak mendekat,membuat jantung Wulan semakin berdegup kencang.Ia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam saat Amer hendak mencium bibirnya.Mulanya,keadaan mereka benar-benar tenang.Namun,saat mereka mendengar suara gaduh yang berasal dari luar rumah,baik Amer maupun Wulan mendadak menjadi terjaga karenanya.
Keadaan yang awalnya baik-baik saja,kini mandadak ricuh,saat mereka mendengar suara pintu yang diketuk tiba-tiba.Ketukan yang terdengar kuat tersebut,membuat Wulan merasa sedikit tersentak.Bingung dan takut,Wulan hanya bisa diam sembari terus menduga-duga,siapa yang mengetuk pintu sampai menimbulkan bunyi berdecit seperti itu.Berbeda dengan Wulan,Amer malah terlihat marah.Pria berambut cepak itu nampak memandang tajam,seolah-olah dirinya mengetahui,apa yang ada dibalik pintu tersebut.
"Biar kuperiksa." Ucap Wulan sembari hendak berdiri.Namun,Amer tiba-tiba saja mencengkram lengannya,membuat Wulan menautkan alisnya bingung.
"Kenapa?"
"Kenapa??" Wulan terlihat mengulangi pertanyaan Amer barusan.Melihat Amer yang hanya diam saja,Wulan mendadak berdecak. "ada yang mengetuk rumah ini,Amer!kita harus melihatnya." Balasnya heran.
"Itu bukan siapa-siapa." Ucap Amer akhirnya.Ia terus menghalangi Wulan dengan berbagai alasan.Ia tidak mau,jika dirinya harus kehilangan Wulan lagi.
"Bagaimana kau tau??" Tanya Wulan yang mendadak curiga.Namun,Amer kembali diam.Pandangan matanya pun terlihat kosong.Merasa ada yang aneh,Wulan akhirnya memutuskan untuk membuka pintu.Ia yakin,jika ketukan itu berasal dari sosok teman mereka,yaitu Irawan.
Wulan kemudian bangkit,mendekati pintu,lalu membukanya dengan perasaan tenang.Ia malah ingin menasehati dan memberitahu Irawan,bagaimana cara mengetuk pintu yang baik dan benar.Namun,saat pintu besar itu sudah terbuka lebar,Wulan malah merasa syok.Matanya terus melotot diiringi tubuhnya yang mulai bergetar.Sosok itu tidak menampilkan seperti apa yang ia bayangkan.Sosok itu malah menampilkan diri Amer yang sebelumnya sempat berada bersamanya di area dapur.
Seperti kejadian kemarin,Amer yang berada di hadapannya ini langsung mendekat padanya.Ia memeluk,mengelus rambutnya,sampai mengkhawatirkan keadaannya.Diam-diam,Wulan kembali menoleh ke belakang,mencoba untuk melihat kehadiran Amer yang tengah bersamanya tadi.Walaupun letak dapur dan pintu utama terbilang cukup jauh,tetap saja siapapun akan bisa memantau sebagian tubuh seseorang di sana.Namun,Wulan kembali syok saat tidak melihat siapapun diarea dapur tersebut.
"Wulan,kau tidak apa-apa??kau baik-baik saja,Kan??"
Amer terus berucap panik.Sembari memeluk Wulan,ia tak henti-hentinya untuk menanyakan keadaan isterinya tersebut.Amer bahkan masih memikirkan kata-kata Irawan di sepanjang perjalanan pulang tadi,hingga sempat membuatnya gusar sekaligus khawatir.
"MENJAUH!!"
Wulan berteriak,mendorong dada bidang Amer hingga membuat pria itu kaget.Tiba-tiba saja,Wulan sudah kembali ke situasi buruknya.Wulan bahkan hendak memukulnya,saat Amer mencoba untuk mendekat.
Saat ini,Wulan benar-benar terpuruk,pikirannya pun mendadak kalut.Ia tidak percaya lagi dengan sosok Amer.Kini,ia mencoba untuk mencari keberadaan Irawan.
"Dimana Irawan??" Tanyanya dengan nafas yang tersengal-sengal.Ia sama sekali tidak menampilkan raut wajah yang bersahabat.Ekspresi Wulan kepada Amer,seakan membuat dirinya merasa seperti begal yang hendak merampok seorang wanita.
"Dia..." Amer meneguk air liurnya tegang,berusaha untuk tetap tenang dalam menghadapi sikap Wulan yang tiba-tiba saja menjadi pemberontak. "...Irawan akan pulang sebentar lagi.dia menyuruh kita untuk pulang sekarang-"
"TIDAK!!" Teriak Wulan. "aku tidak percaya lagi denganmu!!" Ucapnya. "dimana Irawan??kau apakan dia?!"
"Wulan,tenanglah!"
Tak peduli rasa pusing dan perut yang mual akibat kejadian tadi,Amer terus berusaha membujuk Wulan untuk pulang.Menurut Irawan,mereka akan berada dalam bahaya,jika tidak segera menuruti apa yang ia perintahkan.
Wulan masih mengamuk.Ia terus berteriak di ambang pintu.Ia sama sekali tidak peduli tentang suaranya yang mulai serak dan sakit.Demi apapun,Wulan tidak akan mau untuk ikut dan percaya pada Amer lagi.Karena terus-menerus menjerit,Wulan akhirnya menderita sakit kepala.Rasa pusing yang tiba-tiba menyerangnya itu,membuatnya seketika ambruk tak sadarkan diri.
Melihat hal tersebut,Amer tentu saja bersikap sangat panik.Ia berusaha mendekat dengan langkah kaki yang terdengar letih.Ia juga berusaha untuk membangunkan Wulan.Namun,wanita itu tetap tidak mau untuk membuka matanya.Alhasil,Amer akhirnya memutuskan untuk menggendong Wulan.Detik ini juga,Amer akan membawa Wulan pulang,meskipun itu harus berjalan kaki.
---
Malam semakin larut.Semua orang di kota telah meninggalkan aktivitas mereka untuk berkelana ke alam mimpi.Namun,tidak demikian dengan pria gemuk satu ini.Diketahui,pria gemuk itu rupanya mempunyai aura positif yang sangat dahsyat,hingga membuat Irawan sangat bersemangat untuk menangkapnya.
Kini,pria itu tengah berada di sebuah halte.Nampaknya,ia hendak pulang menuju rumahnya dengan menaiki bus.Pria itu juga tidak sendiri.Di samping kanan dan kirinya,ada beberapa orang yang nampaknya mempunyai tujuan yang sama.Karena tempatnya yang tidak memungkinkan,Irawan akhirnya kembali untuk bersabar.Supaya gelagatnya juga tidak mencurigakan,Irawan akhirnya ikut duduk di halte tersebut,sembari memainkan ponselnya seperti orang-orang yang berada disampingnya.
TIIIN!
Klakson yang membuat dirinya kaget itu,rupanya berasal dari sebuah bus yang baru saja datang.Satu persatu,orang yang berada di halte mulai memasuki bus tersebut.Namun,pria gemuk incaran Irawan itu,nampaknya sama sekali tidak tertarik.Bahkan,saat bus hendak berjalan,pria itu tetap saja fokus dengan ponselnya.Hingga saat bus benar-benar pergi,Irawan akhirnya memberanikan diri untuk menyapa orang tersebut.
"Sendirian,Mas?" Tanya Irawan basa-basi.
"Tidak,saya berdua bersama adik saya."
Mendengar jawaban tersebut,Irawan mendadak gelagapan.Tidak seperti dugaannya,ternyata pria ini tengah bersama orang lain.Irawan lalu memandang lingkungan sekitar yang terlihat sepi.Namun,tidak ada tanda-tanda manusia yang berkeliaran di daerah tersebut.
"Maaf,mas,adiknya dimana??" Tanya Irawan lagi.
"Saya sendiri,Mas!" Balas pria tersebut sembari berdecak. "apa kamu tidak melihat,jika hanya ada kita berdua disini??'" Ucapnya lagi yang terdengar kesal.Pria itu kemudian kembali fokus menatap layar ponselnya.
Irawan menghela nafas lega.Ucapan pria itu,rupanya hanya mengujicoba kesehatan jantungnya.Irawan juga mendadak kesal,saat mendapat jawaban yang menurutnya terdengar sarkas tersebut.
"Mas harus ikut saya."
Pria itu kembali mendongak,menatap Irawan dengan pandangan tak mengerti.Ia lalu kembali bertanya,mengenai maksud dari ucapan Irawan tersebut.
"Mas harus ikut saya..." Ucap Irawan lagi. "...sekarang..." Sambungnya dengan senyum yang mengerikan.
BUGH
Cepat dan tepat,Irawan akhirnya dapat melumpuhkan pria tersebut.Tubuhnya yang gempal itu,nampak terjatuh bebas di atas trotoar setelah Irawan memukul kuat kepalanya.Irawan lalu menyeret tubuh pria tersebut hingga sampai ke lokasi mobilnya.Irawan sangat bersusah payah saat dirinya memasukkan tubuh gempal itu kedalam mobilnya.Dengan usahanya yang tanpa pamrih tersebut,Irawan akhirnya berhasil.Kini,ia hanya akan kembali ke rumahnya,dan menyerahkan pria menyebalkan itu kepada Sang iblis.
---
Malam semakin larut.Burung gagak pun semakin gencar dalam mengeluarkan suaranya.Tanpa berlama-lama lagi,Irawan kemudian masuk ke dalam rumahnya,menyeret orang tersebut,lalu melewati pintu rumahnya yang sudah terbuka lebar.Ia menduga,jika Amer dan Wulan sudah pergi dari sini.Hal tersebut sudah cukup membuatnya merasa lega.
Tanpa berlama-lama lagi,Irawan kemudian membawa pria itu menuju ruangan rahasianya dengan Sang iblis.Begitu masuk,ia langsung berteriak memanggil Sang iblis,berharap makhluk itu datang dan juga menerima apa yang ia bawa.
Tak berapa lama kemudian,kepulan asap hitam mendadak muncul dihadapannya.Kepulan asap itu semakin lama semakin tebal,hingga akhirnya meninggi dan membentuk sesosok tubuh iblis yang sangat menakutkan.
"Lihat??aku sudah membawa pesananmu.kau tau??orang ini mempunyai aura positif yang sangat dahsyat!dengan langsung menghisapnya,kau akan langsung menjadi kuat!"
Irawan terus berceloteh,membuat Sang iblis semkain jengah.Rencananya hancur sudah ketika sosok Amer yang asli kembali datang di saat yang tidak tepat.Terus mengingat momen itu,membuat Sang iblis seketika murka.Mendadak,ia memancarkan sinar kemarahan hingga membuat Irawan terdiam dengan perasaan yang campur aduk.
"DASAR TIDAK BERGUNA!!"
Sang iblis berteriak,menimbulkan suara bergelombang yang membuat kedua telinga Irawan mendadak sakit.Tak hanya itu,tubuhnya juga mendadak terpental karena tidak kuat menahan guncangan hebat bak angin badai tersebut.Irawan mengerang,merasakan sakit luar biasa di punggungnya.Ia hanya bisa memandang aktivitas Sang iblis yang mulai menyedot semua darah si pria gemuk.Setelah itu,ia melihat pemandangan tubuh yang amat kurus saat Sang iblis telah selesai menyedot semua darahnya.
Sang iblis bangkit,kembali memandang Irawan dengan tatapan tajamnya.Dengan kecepatannya yang nampak melebihi angin,Sang iblis tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya.Wajahnya yang sangat dekat itu,membuat Irawan seketika menjerit tertahan.
"Dasar manusia bodoh!! berani-beraninya kau membantah perintahku!" Murka Sang iblis.Ia lalu dengan ceapt mencekik Irawan hingga membuatnya terlihat susah bernafas.Tubuhnya juga diangkat,hingga kedua kakinya melayang-layang di atas lantai.Irawan semakin tersiksa,saat Sang iblis kembali berbicara padanya dengan seringaian mengerikan.
"Dengar..." Sang iblis mendekatkan wajah buruknya kepada Irawan. "...aku masih menginginkan wanita itu.kali ini,aku tidak akan meminta bantuanmu lagi.namun jika kau masih menghalang-halangiku,aku akan menghabisimu di detik itu juga!kau mengerti??"
Irawan sangat susah untuk bicara,bernafas pun ia tidak sanggup.Untuk menyelamatkan dirinya,Irawan mengangguk saja sembari meminta untuk dilepaskan.Saat itu juga,Sang iblis merentangkan jari-jarinya,membuat tubuh Irawan jatuh ke lantai dengan keras.Tanpa perduli apapun,Sang iblis kemudian menghilang,meninggalkan Irawan sendirian dengan luka-lukanya yang mengerikan.
---
Pagi menjelang,sinar mentari kembali hadir dan menyilaukan benda apapun yang ia temukan.Dan tanpa sengaja,sinar itu malah mengganggu seorang Wanita yang nampaknya tengah mencoba untuk bangun.
Wulan mengerjap-erjapkan kedua matanya,kemudian memandang area sekitarnya dengan perasaan kaget.Wulan mengingat-ingat kembali tentang apa yang terjadi semalam.Hingga saat ia tersadar,Wulan kembali merasakan ketakutan.
Saat ini,ia sudah berada di kamarnya sendiri.Wulan sangat berharap,jika yang membawanya kembali ke rumah,itu karena usaha teman baiknya,yaitu Irawan.Entah mengapa,ia mendadak ketakutan saat kembali mengingat Amer.Wulan bahkan terus memukul kepalanya,saat wajah Amer tiba-tiba melintas tanpa permisi di dalam pikirannya.
Tak lama kemudian,pintu tiba-tiba terbuka,menampilkan Sosok Amer yang membawa senampan makanan.Ia lalu masuk dan duduk di sisi ranjang.Dengan cepat,Wulan menjauhkan dirinya.Ia melipat kakinya dan membuat kedua kakinya sebagai alat untuk berlindung.
Melihat hal tersebut,hati pria itu mendadak teriris.Ia lalu meletakkan nampan yang ia bawa,kemudian berusaha untuk lebih mendekat walaupun sedikit kepada Wulan.
"Hey..." Ucapnya. "...bagaimana keadaanmu?apa kau sudah merasa lebih baik?"
Amer membuka topik basa-basi terlebih dahulu,mencoba untuk membuat Wulan merasa tenang.Namun,Wulan nampaknya tidak menunjukkan reaksi yang diharapkan.Ia malah semakin menjauh,membuat Amer menghela nafas dengan perasaan sedih.
"Baiklah,terserah jika kau tidak ingin menjawab.tapi tolong,jawab pertanyaanku yang satu ini." Amer menatap Wulan dalam meskipun tidak ditatap balik olehnya. "apa yang terjadi semalam?kenapa kau bersikap seperti itu padaku??"
Wulan menoleh,memandang Amer dengan tajam.Ia masih belum percaya tentang orang yang telah membuat pikirannya kacau.Namun,anggapannya itu mendadak berubah,saat Amer menatap dirinya dengan pandangan penuh cinta.Pandangan itu,merupakan pandangan yang sangat Wulan sukai.Perlahan,Wulan akhirnya menyerah.Ia mendadak menangis hingga membuat Amer kembali merasa khawatir.
"Semalam,aku melihat diri kau yang lain." Wulan mencoba untuk menahan isak tangisnya,sementara Amer sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
"Kami berdebat,bercerita seperti biasa.hingga akhirnya...aku dan dia hampir..." Wulan menatap Amer dengan pandangan takut sekaligus gusar.Ia bimbang jika harus memberitahukan hal ini kepada suaminya.Terus-terusan mendapat tatapan yang penuh rahasia tersebut,membuat Amer semakin penasaran karenanya.
"Apa??" Tanyanya tak sabaran.
"...Kami hampir berciuman."
"Wulan!!"
Amer melepas pelukannya,menatap Wulan tak percaya.Bisa-bisanya,ia melakukan hal tersebut kepada yang bukan suaminya.
"Tolong jangan marah padaku!aku juga tidak mengetahuinya!kalian berdua sangat mirip!kalian bahkan seperti anak kembar yang identik!"
Wulan berusaha menjelaskan sembari menangis.Tentu saja,ia sangat menyesal setelah mengetahuinya.Wulan bahkan menghina dirinya sendiri,saat otaknya kembali mengingatkannya akan momen tersebut.Namun,dibalik kesedihannya,Wulan rupanya sudah memikirkan tentang kejadian aneh ini beberapa hari yang lalu.Ia bahkan lupa ingin memberitahu Amer,sehingga membuatnya kembali bertemu dengan sosok misterius yang menyerupai suaminya itu lagi.
"Sayang..." Panggil Wulan. "...untuk mencegah hal ini tidak terjadi lagi,bagaimana kalau kita membuat kata sandi yang sangat rahasia?aku yakin,rencana ini pasti akan berhasil!"
Wulan nampak menunggu jawaban dari Amer.Ia sangat berharap,jika suaminya itu langsung setuju mengenai rencana yang akan ia sampaikan.
Terlihat,Amer nampak diam saja.Meskipun kemarahannya belum reda,Amer nampaknya mencerna baik-baik ucapan Wulan barusan.Demi menjaga kehormatan isterinya dan menangkap sosok yang menyerupai dirinya,Amer akhirnya mengangguk setuju untuk ikut masuk ke dalam rencana Wulan.
---
btw luka bakar itu smpai separuh badan, kenapa gak dirawat di UGD? bahaya lho