NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:324.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Langkah kaki Adila terasa ringan namun pikirannya dipenuhi tanda tanya saat meninggalkan ruang VVIP 01. Di belakangnya, Maya dan Sari mengikuti dengan wajah yang masih syok sekaligus kagum. Baru saja mereka menyaksikan dr. Adrian Dewantara pria yang biasanya tidak peduli pada urusan pribadi siapapun menampar harga diri Revan dan Meisya dengan satu kalimat telak.

"Dila, tunggu!" Maya berbisik setengah berlari. "Kok dr. Adrian bisa tahu Revan itu suamimu? Bukannya di rumah sakit ini nggak ada yang tahu status pernikahanmu selain kita?"

Adila menghentikan langkah di depan stase perawat. Ia pun bingung. Ia selalu menggunakan nama profesionalnya dan tidak pernah memajang foto pernikahan di loker atau meja kerja. "Aku juga tidak tahu, May. Mungkin dia melihat data kepegawaian atau... entahlah."

"Tapi gila sih, diagnosis Malingering-nya tadi benar-benar bikin si pelakor itu mati kutu," Sari terkekeh puas. "Lihat muka mertuamu tadi? Merah padam kayak kepiting rebus!"

Adila tidak sempat membalas. Ia harus segera menyelesaikan laporan anamnesis karena dr. Adrian bukan tipe orang yang suka menunggu. Ia masuk ke ruang kerja residen dan koas, mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan status pasien. Namun, baru sepuluh menit ia berkonsentrasi, pintu ruangan itu terbuka dengan kasar.

Revan berdiri di sana. Wajahnya kusut, napasnya memburu, dan matanya memancarkan kemarahan yang tertahan.

"Dila, kita perlu bicara," ucap Revan tanpa memedulikan tatapan heran dari dokter lain di ruangan itu.

Adila menghela napas panjang. Ia bangkit, memberikan kode pada Maya dan Sari untuk memberi mereka privasi. Setelah pintu tertutup, Adila menatap suaminya dengan tatapan dingin yang biasa ia tujukan pada mayat di lab anatomi.

"Ini tempat kerja, Revan. Bukan panggung drama keluargamu," desis Adila.

"Drama keluargaku? Ini rumah tangga kita, Adila! Kamu dengar apa yang dikatakan dokter sombong itu tadi? Dia mempermalukanku di depan Meisya dan Mama! Dan kamu diam saja seolah menikmati itu?"

Adila melipat tangannya di depan dada. "Dia mengatakan kebenaran. Kamu yang mempermalukan dirimu sendiri dengan menggenggam tangan wanita lain saat istrimu sedang bekerja. Sekarang, mau apa kamu ke sini?"

Revan mengatur napasnya, mencoba melunakkan suaranya meski terdengar dipaksakan. "Dila... Meisya tidak mungkin pulang ke kampung sekarang. Kamu lihat sendiri kan, dia stres sampai sakit perut seperti itu. Meskipun dokter tadi bilang dia pura-pura, tapi dia hamil, Dila! Aku tidak bisa membiarkannya tinggal di apartemen sendirian dalam kondisi seperti ini."

Adila memejamkan mata sejenak. Rasa muak itu kembali naik ke tenggorokannya. "Jadi?"

"Izinkan dia kembali ke rumah kita. Hanya sampai bayinya lahir. Setelah itu, aku janji akan memulangkannya. Tolong, demi kemanusiaan," mohon Revan, mencoba meraih tangan Adila, namun Adila menghindar.

Adila menatap langit-langit ruangan. Ia lelah berdebat. Ia punya pasien yang lebih membutuhkan perhatiannya daripada memperebutkan satu pria plin-plan dan satu benalu. Namun, ia tidak akan membiarkan Meisya menang begitu saja.

"Baik," ucap Adila pendek.

Revan berbinar. "Benarkah? Terima kasih, Dila. Aku tahu kamu sebenarnya punya hati yang—"

"Dengarkan syaratku dulu," potong Adila tajam. "Dia boleh tinggal di rumah. Tapi bukan di kamar tamu lantai atas. Aku sudah menyiapkan tempat untuknya."

"Di mana?"

"Kamar belakang. Di sebelah kamar mandi luar, dekat kamar Bi Ijah," jawab Adila datar.

Wajah Revan seketika berubah. "Apa?! Kamar belakang? Itu kan kamar pembantu yang tidak terpakai, Adila! Kecil, pengap, dan dekat gudang! Kamu mau menaruh wanita hamil di sana?"

"Tentu," sahut Adila tanpa ekspresi. "Dia datang sebagai penumpang, bukan sebagai anggota keluarga. Di rumah itu, aku adalah nyonyanya. Kalau dia merasa keberatan, silakan gunakan apartemen mewahnya yang masih dia bayar itu. Tapi kalau dia ingin perlindungan darimu di bawah atapku, maka tempatnya adalah di belakang. Sejajar dengan statusnya yang tidak tahu diri."

"Ini keterlaluan, Adila! Kamu menghina dia!" Revan membentak, suaranya naik satu oktav.

"Menghina?" Adila melangkah maju, menekan dadanya ke arah Revan dengan penuh penekanan. "Kamu bicara soal menghina? Kamu membawa pelakor ke rumah kita, membiarkan ibumu mengataiku tanah tandus dan produk gagal, lalu kamu mengharapkan aku menyiapkan karpet merah untuknya? Kamu pikir aku ini malaikat?!"

Adila memukul meja kerjanya dengan keras hingga beberapa alat tulis berhamburan. "Dia adalah parasit! Dan parasit tempatnya bukan di ruang utama. Kalau kamu keberatan, silakan ikut tidur di sana bersamanya di kamar belakang. Aku tidak keberatan kehilangan satu suami yang memang sudah tidak berfungsi menjaga harga diri istrinya!"

Revan terdiam, kaget melihat ledakan kemarahan Adila yang jauh lebih hebat dari sebelum-sebelumnya. Adila biasanya tenang, namun kali ini ia nampak seperti singa yang siap mencabik.

"Aku memberi Meisya tempat berteduh, itu sudah sangat manusiawi menurut versiku," lanjut Adila, suaranya kini rendah namun bergetar karena amarah yang meluap. "Jangan pernah tawar-menawar denganku lagi soal posisi wanita itu. Pilihannya hanya itu: kamar belakang, atau jalanan. Putuskan sekarang sebelum aku berubah pikiran dan memanggil kembali truk jenazah itu untuk menjemput kalian berdua!"

Revan menatap Adila dengan pandangan tidak percaya. Ia merasa istrinya telah berubah menjadi sosok yang asing dan kejam. Namun di balik itu, ia tahu ia tidak punya posisi tawar.

"Baik... aku akan sampaikan pada Meisya," ucap Revan lemah, bahunya merosot. Ia berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah gontai.

Begitu Revan pergi, Adila terduduk lemas di kursinya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh satu tetes, namun segera ia usap dengan kasar. Ia tidak boleh lemah.

Tiba-tiba, suara ketukan di pintu terdengar lagi. Bukan ketukan kasar seperti Revan, tapi ketukan yang sangat terukur.

Pintu terbuka, dan dr. Adrian berdiri di sana. Pria itu menatap Adila yang nampak berantakan selama beberapa detik, lalu meletakkan sebuah kopi kaleng dingin di atas meja Adila.

"Sepuluh menitmu sudah lewat untuk laporan anamnesis," ucap Dr. Adrian dengan suara dinginnya yang khas. "Jangan biarkan urusan domestik merusak akurasi medismu, Dokter Muda Adila. Pasien di bangsal tidak peduli suamimu bodoh atau tidak. Mereka hanya peduli kamu bisa mengobati mereka atau tidak."

Adila mendongak, tertegun. "Dokter... Dokter tahu?"

Dr. Adrian tidak menjawab secara langsung. Ia hanya berbalik pergi, namun sebelum benar-benar keluar, ia bergumam pelan. "Lain kali, kalau mau memasang CCTV, pastikan server-nya aman. Jangan pakai cloud umum yang mudah dilacak jika kamu tidak ingin orang lain tahu apa yang terjadi di rumahmu."

Adila terpaku. Jadi Dr. Adrian tahu karena... dia melihat server CCTV-nya? Bagaimana bisa?

Namun sebelum Adila bisa bertanya, Dr. Adrian sudah menghilang di balik lorong. Adila menatap kopi pemberian sang dokter, lalu menatap pintu ruangannya. Perang ini baru saja naik ke level berikutnya, dan entah kenapa, ia merasa dr. Adrian adalah sekutu yang jauh lebih bisa diandalkan daripada pria yang masih berstatus suaminya itu.

1
Kaifstoryy
nama suaminya ganti2 mulu🤭

terus dibilang kerangka. berarti meninggalnya udah bertahun kan? jadi Meisya hamil anak siapa? 🤭
Ida Sriwidodo
Lohh.. katanya Revan ngga tau status Dila sebagai putri bungsu keluarag Wijaya.. piye ki thor? 😭😭🤔🤔
Ida Sriwidodo
Ini aneh lagi..
Meisya pergi kan diusir sama Revan sendiri.. dibeliin tiket pulkam one way.. bukan Meisya yang mencampakkan Revan karena dah jatoh misqueen...🤔🤔🤔
Sarifah_Aini97
Sumpah, bau-bau ada rahasia atau konflik besar yang bakal meledak nih🙂‍↕️
Sarifah_Aini97
Aduh, Adila kenapa nih? Pasti abis lihat atau baca sesuatu di HP-nya sampai tangannya gemeteran gitu.
Ida Sriwidodo
Lhah.. di bab terdahulu katanya mau ambil obgyn karena Dila mo fokus sama kesehatan reproduksi wanita 🤔😬
Ida Sriwidodo
Sampai sini jadi pen komen.. Hadi suaminya Meisya di bab ini katanya dah meninggal bertahun lalu.. tapi koq Meisya nya hamilnya baru sekarang yaa..? 🤔
Wulan Azka: apa saya salah ingat ya, yang saya ingat nama suami di Meisya itu Bayu 🤔
total 2 replies
Yuli Yuliawati
suami nggak dan keluarga g d otak tinggalin aja
Yuli Yuliawati
isteri sah tersakiti
awas aja pelakor dan suami durjana nggak dapat balasan nya
Yuli Yuliawati
Tinggalin aja suami durjana mu
Mama lilik Lilik
nama suami meysa, dari Bayu, Hadi,Danang,orang meninggal bisa ganti nama sampai 3x🤣
Wulan Azka: nah kan barusan di bab sebelumnya saya ikut komen soal nama suami Mesya, seingat saya namanya Bayu, kenapa jadi si Hadi
total 2 replies
Bunda
awal yang menarik,ijin baca kak🙏
Nay Chan
sebagai wanita aq suka sikap Adila💪🤣 buang yg lama cari yg baru🤭
Eric ardy Yahya
the punishment has begun Tiara . waktunya mendapatkan siksaan sesuai Peringatan Adila
Eric ardy Yahya
enak rasanya Tiara ? makanya kamu jadi orang gak usah kayak MONYET yang suka mengumpat
Eric ardy Yahya
gimana ya Rasanya Revan ? udah tersiksa ? semua tidak akan terjadi kalau otak kamu bukan Otak' Taik
Eric ardy Yahya
makanya Meisya , kalau punya otak dipakai , jangan malah kamu orang baik jadi wanita malam . gini kan rasanya dihina?
Eric ardy Yahya
makanya Revan , kalian enak ancam Adila bilang kamu akan menyesal blah blah blah dan seterusnya , sekarang ? kamu sendiri menyesal kan ? emak kamu udah tutup usia , Tiara jadi sole survivor alias ngekost , kamu dipecat , rumah kamu disita dan apa lagi yang mau dibanggakan? gak ada sama sekali
Eric ardy Yahya
makanya Revan , Adila udah kasih peringatan aja udah tepat sasaran , namun kamu sendiri yang tidak tau diri berlagak udah hebat , sekarang terima nasib kamu
Eric ardy Yahya
MAMPUS KAU REVAN , makanya jadi orang jangan kayak MONYET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!