NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 011: Angka Seratus Enam Puluh

Kevin tidur hampir tiga jam setelah itu.

Meilin tidak berani membangunkannya. Dia hanya mengganti air minum di samping kasur, mengecek suhu tanpa membuat gerakan besar, lalu kembali ke meja untuk menyelesaikan pesanan gambar.

Di luar, hari bergerak seperti biasa. Motor lewat. Pemilik kos berbicara dengan penghuni lain di lorong. Notifikasi Instagram masuk dua kali. Tapi di dalam kamar, setiap suara terasa lebih pelan karena Kevin akhirnya tidur tanpa mengerutkan dahi.

Menjelang sore, suhu tubuhnya turun ke 37,2.

Meilin baru benar-benar lega.

Kevin membuka mata ketika dia sedang menghitung daftar pesanan di buku catatan. Ada tiga calon pembeli, dua sudah bertanya harga, satu minta selesai besok pagi dengan alasan hadiah mendadak.

"Jangan ambil yang besok pagi," ucap Kevin serak.

Meilin menoleh. "Kamu bangun?"

"Dari tadi."

"Kamu pura-pura tidur?"

"Kamu bicara sendiri terlalu serius."

Meilin langsung menutup buku. "Aku tidak bicara sendiri."

"Kamu bilang, kalau ambil semua, aku mati. Kalau tidak ambil, uangnya sayang."

Pipi Meilin panas. "Itu bukan bicara sendiri. Itu rapat internal."

Kevin menatapnya beberapa detik, lalu suara napasnya terdengar seperti tawa kecil yang ditahan.

Meilin pura-pura tidak melihat.

"Aku harus pilih yang mana?"

"Lihat brief-nya."

Dia seharusnya menyuruh Kevin tidur lagi. Tapi Kevin sudah mengulurkan tangan, dan Meilin, yang masih penasaran dengan otak menakutkan itu, memberikan buku catatan serta ponselnya.

Kevin membaca tiga pesan calon pembeli. Wajahnya masih pucat, tapi matanya jauh lebih fokus daripada pagi tadi.

"Ambil yang kedua."

"Kenapa?"

"Foto referensinya jelas. Revisi kemungkinan sedikit. Deadline tiga hari. Harga bisa dinaikkan jadi 200 ribu karena dia minta background sederhana."

"Yang pertama?"

"Minta murah, tapi maunya banyak. Jangan."

"Yang ketiga?"

"Besok pagi. Kamu belum punya template cepat. Nanti begadang, lalu sakit. Tidak efisien."

Dia mengambil pensil dan membuat tiga kolom kecil di tepi catatan Meilin: waktu, revisi, risiko. Di bawah setiap calon pembeli, Kevin memberi tanda plus dan minus.

"Jangan cuma lihat harga," katanya. "Lihat berapa jam yang habis. Kalau seratus ribu tapi revisinya lima kali, kamu rugi. Kalau dua ratus ribu dengan brief jelas, itu lebih sehat."

Meilin menatap tabel kecil itu. Sederhana, tapi langsung membuat kepalanya terang. Selama ini dia hanya berpikir bagaimana mendapat uang. Kevin memikirkan bagaimana uang itu tidak menghancurkan tubuhnya.

Meilin menatapnya dengan mulut sedikit terbuka.

"Apa?"

"Kamu baru baca sekali."

"Cukup."

"Ko, sebenarnya IQ kamu berapa?"

Pertanyaan itu keluar sebelum sempat disaring.

Kevin mengembalikan ponsel. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

"Karena orang normal tidak membaca tiga chat calon pembeli seperti membaca laporan audit."

"Itu bukan audit."

"Jawab dulu."

Kevin memejamkan mata sebentar, seolah angka itu tidak penting. "Terakhir tes, seratus enam puluh."

Pensil di tangan Meilin jatuh ke buku.

"Seratus enam puluh?"

"Tes psikologi waktu SMA. Belum tentu akurat."

"Belum tentu akurat, tapi kamu mengatakannya seperti bilang harga telur."

"Harga telur lebih penting untuk hidup sekarang."

Meilin tidak tahu harus tertawa atau kagum. Dalam novel, Kevin disebut jenius, tapi angka seratus enam puluh terdengar tidak masuk akal ketika keluar dari mulut pria yang sedang duduk di kasur tipis, memakai kaus murah, dengan obat demam di sampingnya.

"Kamu dulu peraih nilai tertinggi SNBT nasional, kan?"

Kevin menatapnya.

Meilin membeku.

Terlalu cepat. Informasi itu seharusnya tidak dia ketahui dari Kevin sekarang.

"Aku..." Dia langsung mengambil ponsel, pura-pura membuka Instagram. "Aku pernah lihat di internet."

"Tentang aku?"

"Mungkin."

Kevin menyipitkan mata.

Meilin menunduk, mengetik cepat di Notes dan menunjukkan layar.

Aku tidak mau membahas hal yang membuatmu tidak nyaman. Maaf.

Kevin membaca, lalu diam cukup lama.

"Aku memang pernah dapat nilai tertinggi," katanya akhirnya. "Beritanya kecil. Tidak penting."

"Itu penting."

"Tidak mengubah apa-apa."

"Tapi kamu masuk UI karena itu, kan?"

Kevin menatap langit-langit rendah kos sebelum menjawab. "Ekonomi. Beasiswa penuh."

Meilin menahan napas. Universitas Indonesia, beasiswa, nilai tertinggi nasional, IQ seratus enam puluh. Semua itu seharusnya menjadi pintu menuju hidup yang jauh lebih layak daripada kamar sempit dengan cat mengelupas.

"Lalu kenapa..."

Dia berhenti sebelum pertanyaan itu selesai.

Kevin menoleh. Matanya tenang, tapi bukan berarti tidak sakit.

"Kenapa aku di sini?"

Meilin menunduk. "Maaf."

"Hidup tidak selalu peduli CV."

Kalimat itu datar. Justru karena datar, Meilin merasakan beratnya. Ada banyak cerita di belakangnya, terlalu banyak untuk dia bongkar saat Kevin masih demam.

Meilin tahu maksudnya. Nilai tertinggi tidak membuatnya punya kamar layak. IQ tinggi tidak membuatnya kebal demam. Otak menakutkan tidak mencegah orang-orang mencoba menjebaknya.

Dia menatap tangan Kevin yang masih agak lemas di atas selimut.

"Tapi itu bagian dari kamu."

Kevin tidak menjawab.

Untuk mengalihkan suasana, Meilin membuka brief pembeli kedua. "Kalau background sederhana, maksudnya apa? Bunga? Langit?"

Kevin melirik layar. "Jangan bunga. Pasangan itu pakai baju kantor. Background kafe minimalis saja. Garis tipis. Fokus di wajah."

"Kamu yakin?"

"Kalau terlalu ramai, wajahnya tenggelam."

Meilin mengambil pensil. "Ajari aku lihat komposisi."

"Aku bukan seniman."

"Tapi kamu tahu apa yang hidup."

Kevin terdiam.

Meilin menggeser buku sketsa lebih dekat. Kevin awalnya hanya menunjuk dari tempatnya duduk. Tapi karena jarak meja terlalu jauh dari kasur, dia akhirnya turun dan duduk di lantai di sebelah Meilin, bersandar pada sisi kasur.

"Jangan duduk di lantai. Kamu sakit."

"Aku bosan di kasur."

"Lima menit."

"Kamu suka memberi batas waktu."

"Karena kamu suka melanggar batas tubuhmu sendiri."

Kevin tidak membalas.

Mereka duduk berdampingan di depan meja lipat. Meilin menggambar garis wajah, Kevin menunjukkan bagian yang terlalu berat, lalu Meilin menghapus dan memperbaiki. Bahu mereka sesekali bersentuhan. Pertama kali terjadi, Meilin menegang. Kevin juga diam sesaat.

Namun tidak ada yang menjauh.

Sentuhan berikutnya terasa lebih natural.

Di layar ponsel, pembeli kedua akhirnya menyetujui harga 200 ribu dengan DP setengah. Meilin hampir melompat, tapi Kevin mengangkat jari telunjuk.

"Catat dulu."

"Iya, Ko."

Dia menulis pemasukan baru. Saat menunduk, sehelai rambut jatuh ke pipinya. Meilin hendak menyelipkannya sendiri, tapi tangannya masih memegang pensil dan penghapus.

Kevin bergerak sedikit, seolah ingin membantu.

Lalu dia berhenti.

Tangannya turun kembali ke pangkuan.

Meilin pura-pura tidak melihat, tapi jantungnya sudah terlanjur berdetak lebih cepat.

Sore itu, Kevin hanya duduk lima menit seperti janjinya.

Lalu sepuluh.

Lalu dua puluh.

Ketika Meilin menoleh, pria itu sudah tertidur sambil bersandar di sisi kasur, kepala sedikit miring ke arah bahunya, napasnya lebih teratur daripada semalam.

Meilin tidak berani bergerak.

Jarak di antara mereka tinggal beberapa senti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!