Askana sangat benci pada sosok pria yang sudah menodainya. Sampai pria bernama Rafan itu ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, sayangnya Askana menolak karena terlalu benci.
Mampukah Rafan mengambil hati Askana? Dan Membuatnya jatuh cinta, akan seperti apa kisah cinta mereka yang diawali sebuah kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khoirun Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29.
Hati Sanjaya terasa bahagia bisa melihat raut wajah putrinya bahagia. Terukir senyuman manis di wajah Safira semakin menambah kecantikannya. "Senyumanya sangat mirip sekali sama almarhumah Mamah-nya!" batin Sanjaya.
"Kenapa papah terus melirikku!" ujar Safira yang merasa terus diperhatikan oleh papah-nya.
"Kamu sangat mirip sama almarhumah mamah-mu, Fir! Papah jadi teringat akan wajah cantik mamah-mu."
"Fira juga sangat rindu Mama, Pah! Makanya Fira selalu betah kalau di rumah Askana karena ibu Askana sangat baik sekali sama Safira, ia selalu memperlakukan Safira sangat baik."
"Papah juga tahu! Papah bisa melihat kebaikan Askana juga ibu-nya dari raut wajah-nya, sekarang kamu mau pulang kerumah dulu atau langsung kerumah Askana?"
"Fira mau langsung ke-rumah Askana saja, tapi nanti papah mampir dulu ya ke supermarket depan sana soalnya Fira mau membeli cemilan untuk dibawa kerumah Askana. Oh iya, pah! Oleh-oleh yang papah beli dari Bandung untuk Askana dibawakan, Pah?"
Sanjaya pun menganggukkan kepalanya sambil memperlihatkan paperbag yang berisikan oleh-oleh untuk Askana yang belikannya dari Bandung, Safira tersenyum bahagia karena papah-nya tidak melupakannya, setelah sampai di depan supermarket Safira turun dari dalam mobil ia berpamitan kepada papah-nya untuk masuk kedalam supermarket. Sedangkan Sanjaya memilih untuk diam didalam mobil saja menunggu Safira.
Tanpa sengaja Sanjaya melihat sebuah mobil sport warna merah yang baru datang dan terparkir didepan supermarket pemilik mobil itupun keluar dengan setelan jas-nya dan berjalan dengan sangat gagah. Sanjaya terus memperhatikan pria tampan itu dari dalam mobil-nya iapun teringat akan sosok sahabatnya seakan mirip sekali dengannya, akhirnya Sanjaya memutuskan untuk keluar dari dalam mobil-nya mencoba untuk menyapa pemuda tampan itu.
"Afandi!" panggil Sanjaya kepadanya, iapun segera membalikan badannya dan menghampiri Sanjaya yang telah memanggilnya.
"Ini Afandi kan?" ujarnya lagi karena seakan tak percaya melihat sosok Afandi yang sekarang ada di hadapannya. "Kamu masih ingatkan kepada, Om?"
Afandi terlihat berpikir sejenak, ia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. "Ini, Om Sanjaya kan?"
"Benar sekali, Fandi!" Afandi pun langsung merangkul Sanjaya dan juga berjabat tangan dengannya.
"Gimana kabarnya, Om? Sudah lama kita tidak bertemu."
"Kabar Om baik, Fandi! Gimana kabar kedua orang tuamu?"
"Bunda sama Ayah sehat, Om!"
"Om juga sudah lama tidak bertemu dengan ayah-mu, kapan-kapan kita berkumpul seperti dulu lagi, biar Om yang akan mengatur tempatnya dan mengabari ayah-mu.
"Siap Om! Afandi tunggu undangannya."
"Kenapa kamu bisa ada di sini Fandi! Apakah pekerjaan di kantor-mu sudah selesai?"
"Sudah Om! Fandi baru saja selesai meeting dengan klient makanya Fandi langsung kesini ada kebutuhan yang harus dibeli."
Percakapan mereka berlangsung lama, Safira keluar dari dalam supermarket sambil membawa belanjaan yang sudah ia beli, ia terlihat begitu kerepotan karena terlalu banyak membeli barang.
"Pah!" Sanjaya pun belum juga menengok.
"Pah!" panggilnya untuk yang kedua kalinya kepada Sanjaya, akhirnya ia pun menengok kearah Safira. Sanjaya begitu kaget melihat putrinya begitu banyak membawa belanjaan ditangan-nya.
"Tolongin dong, Pah!" rengek manja Safira.
Sanjaya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah putrinya itu. Sedangkan Afandi ia begitu terpaku melihat wajah cantik Safira sekarang ini. "Ternyata Safira semakin cantik saja!" batin Afandi.
Sanjaya segera menghampiri Safira untuk membantu membawakan barang belanjaannya diikuti oleh Afandi, ia juga berniat ingin membantu Safira untuk membawakan barang belanjaannya ke dalam mobil Sanjaya.
Safira mengucapkan terimakasih kepada pria yang sedang berdiri disamping papah-nya, Safira masih menundukan kepala-nya ia belum menyadari tentang sosok pria yang ada dihadapannya.
"Gimana kabar kamu Safira?" Afandi memulai percakapan untuk menyapa Safira.
"Baik!" jawab Safira yang masih menundukan kepalanya napas-nya yang masih terengah-engah karena merasa capek setelah membawa barang belanjaannya, setelah merasa tidak asing dengan suara yang menyapanya ia pun mendongakkan kepalanya, Safira menjadi kaget melihat sosok pria yang ada dihadapannya, yang menatapnya sambil memberikan senyuman kepadanya.
"Kak Afandi!" ujar Safira dengan nada yang sedikit keras karena merasa kaget melihat sosok Afandi saat ini.
Afandi mengulurkan tangannya, Safira menyambutnya mereka pun berjabat tangan dengan penuh kebahagiaan, tak lepas senyuman manis yang keluar dari bibir Safira menyambut Afandi.
Harti Safira merasa bahagia sekali karena ia bisa kembali bertemu dengan Afandi sosok pria yang selama ini ia idamkan.
"Gimana kabar kamu, Fir?"
"Baik Kak!" ujar Safira sedikit malu menjawab sapaan Afandi.
"Gimana juga kabar ka Fandi?"
"Baik juga, Fir!"
Mereka terus saja berbincang saling menyapa dan juga tertawa, akhirnya Safira pun teringat kalau ia harus segera menuju kerumah Askana. "Maaf Kak! Mungkin sampai disini saja perbincangan kita karena Safira harus kerumah teman Safira untuk menjenguknya."
"Baiklah Fir! Kapan-kapan kita akan bertemu lagi." Safira melambaikan tangannya sambil memberikan senyuman manis kepada Afandi, ia pun membalas senyuman Safira.
"Om pamit ya Fandi!" ujar Sanjaya.
"Iya Om! Hati-hati diperjalanan."
Mobil Sanjaya berlalu pergi meninggalkan supermarket itu, Afandi pun langsung masuk ke dalam supermarket.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dirumah Askana terlihat Bu Asyifa sedang membaringkan tubuhnya diatas sofa, Askana yang melihat kejadian itupun langsung menghampirinya, ia begitu khawatir melihat kondisi ibu-nya yang terlihat sangat lemah.
Askana mendekati ibu-nya segera ia memeluk tubuhnya, Assyifa segera mengelus pucuk kepala putrinya. "Maafkan ibu ya Nak! Karena ibu selalu menyusahkanmu." Askana malah menangis mendengar ucapan yang dilontarkan oleh ibu-nya.
"Seharusnya Ana yang minta maaf sama ibu karena selama ini Askana belum bisa membahagiakan ibu ataupun merawat ibu dengan baik."
Askana tak mampuh lagi untuk berkata-kata ia terus saja menangis dipelukan ibu-nya, tak lama terdengar suara mobil yang berhenti di halaman rumahnya, segera Askana menghapus airmata-nya.
"Assalamualaikum?" terdengar ucapan salam dari luar rumah.
"Waalaikumsalam!" segera Askana menjawab sambil membukakan pintu.
"Safira!" Askana begitu kaget melihat sahabatnya yang datang kerumah-nya, ia juga dikejutkan oleh Sanjaya papah Safira yang datang berkunjung kerumah-nya.
"Silakan masuk Om, Fir!" Askana mempersilahkan masuk kepada Safira juga papah-nya.
Safira begitu kaget saat melihat Bu Assyifa sedang terduduk lemas di sofa, iapun segera menghampirinya menyalami-nya dan juga memeluknya.
Askana mempersilahkan Pak Sanjaya untuk duduk, segera Askana pergi kedapur untuk mengambilkan airminum dan juga makanan untuk disuguhkan kepada Pak Sanjaya.
"Gimana kabarnya, Bu Assyifa?"
"Alhamdulillah, baik!" terima kasih Pak Sanjaya sudah mau berkunjung ke rumah kami.
"Sama-sama, Bu! Justru saya yang harus berterima kasih karena mungkin akhir-akhir ini Safira selalu merepotkan ibu dan Askana disini."
"Kami sama sekali tidak merasa direpotkan oleh Safira, ia sudah seperti anak saya sendiri tidak ada bedanya dengan Askana."
"Pantesan saja Safira begitu betah tinggal di sini, Bu Asyifa sangat baik sekali terhadap putri saya."
Terlihat Safira mengambil paperbag dan juga belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket tadi, ia langsung memberikannya kepada Askana.
"Banyak banget sih Fir, belanjaan yang kamu bawa?"
"Ini oleh-oleh dari papah!" sambil memberikan paper bag kepada Askana. "Dan semua cemilan ini aku sengaja membelinya dari supermarket tadi biar kita bisa ngemil bareng."