NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 – Rahasia di Balik Pintu Astralis

Langit siang di Akademi Aetherion perlahan diselimuti awan tipis. Angin yang sejak pagi berhembus lembut mendadak berubah dingin membawa aroma hujan yang samar. Di depan gedung Astralis, keheningan menyelimuti seluruh taman tua itu, tidak ada suara burung maupun desiran dari suara dedaunan yang bergoyang.

Seluruh kehidupan disana seolah bangunan itu tengah menahan napas. Aurelia masih berdiri mematung didepan pintu batu yang terbuka sedikit. Tatapannya terpaku pada celah gelap di hadapannya. Entah kenapa, ada perasaan yang sulit dijelaskan memenuhi dadanya.

Perasaan itu bukan perasaan takut atau pun rasa penasaran, melainkan perasaan rindu, rindu pada sesuatu yang bahkan tidak pernah ia ingat sedikit pun. Disampingnya, Kepala Akademi menggenggam tongkat sihirnya semakin erat.

Kini, tatapan pria tua itu dipenuhi kecemasan, karena selama lebih dari dua puluh tahun, gedung Astralis tidak pernah terbuka. Tidak ada mantra, penyihir maupun kekuatan yang mampu membangunkan segel kuno itu. Namun hanya dengan satu sentuhan Aurelia, segel tersebut langsung runtuh.

“Aurelia. Masuklah.”

“Sendiri?” Pria itu mengangguk pelan.

“Hanya kau yang di izinkan masuk.”

“Tapi bagaimana kalau didalam berbahaya?”

“Kau tidak perlu takut.” Tatapan Kepala Akademi berubah menjadi lembut. “Tempat itu tidak akan menyakitimu.” Sahutnya lagi dan membuat Aurelia menelan ludah.

Masih ada keraguan dalam diri Aurelia, ia pun melangkah perlahan memasuki gedung tua tersebut. Begitu tubuhnya melewati ambang pintu, pintu batu di belakangnya tertutup sendiri. Suara benturannya menggema ke seluruh ruangan, Aurelia merasa terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya, pintu itu tidak bisa dibuka lagi dan ia kini sendirian.

Ruangan pertama di penuhi debu tebal, cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi yang retak dimakan usia. Terdapat rak-rak buku yang berdiri berjejer di sepanjang dinding, sebagian besar bukunya juga sudah usang.

Di langit-langit gedung itu tergantung lampu kristal yang telah lama padam. Namun ketika Aurelia melangkah, lampu-lampu itu mulai menyala satu per satu, bukan dengan api, melainkan cahaya putih yang menyala dengan sangat lembut.

Brak… Brak… Brak…

Beberapa rak buku disana mulai bergeser dengan sendirinya, lorong baru perlahan terbuka di tengah ruangan dan hal itu berhasil membuat Aurelia membelalakkan kedua matanya. “Apa ini?” Tanyanya sendiri.

Aurelia tidak menemukan jawabannya disana, karena disana hanya dia seorang diri. Suara langkah kakinya sendiri terdengar menggema, ia terus berjalan untuk menyusuri tempat itu dan lorong itu akhirnya berakhir disebuah aula besar yang berbentuk lingkaran.

Ditengah ruangan tersebut terdapat kolam kecil yang airnya bening seperti kaca, di atas kolam itu melayang sebuah tongkat sihir berwarna perak, tongkat yang sangat indah. Di ujung tongkat itu juga terdapat kristal berbentuk bintang yang terus memancarkan cahaya lembut.

Kepala Aurelia tiba-tiba merasa sakit, bayangan-bayangan aneh mulai memenuhi pikirannya. Ia melihat seorang wanita yang tengah tersenyum seraya memeluknya erat, ada juga pria yang tengah memegang tangannya.

Sesuatu yang berada di mimpinya seakan terulang, ada api, suara jeritan, rumah yang terbakar hingga seorang anak laki-laki yang menggenggam tangannya.

“Jangan menangis, aku akan kembali menjemputmu.”

Suara itu terngiang dalam pikirannya, Aurelia langsung memegangi kepalanya dan melenguh kecil. Air mata Aurelia tiba-tiba saja mengalir tanpa alasan, bayangan itu pun hilang secepat kemunculannya. Kemudian ia terduduk di lantai, Aurelia mengatur napasnya yang tampak tersengal.

Di luar gedung Astralis, suasana mulai berubah tegang. Beberapa professor datang berlari setelah mendengar kabar bahwa segel Astralis terbuka. Professor Cedric tiba paling awal dari yang lain, begitu melihat pintu gedung yang telah dibuka, wajahnya langsung pucat.

“Kepala Akademi, apa yang telah terjadi?” Pria tua itu hanya menggeleng pelan.

“Takdir sudah mulai bergerak.” Kepala Akademi hanya menatap pintu dihadapannya. Sedangkan Profesor Cedric ikut memandangi pintu dengan rasa yang penuh khawatir.

“Kita harus menghentikannya sekarang.”

“Sudah terlambat. Kalau gadis itu benar-benar pewaris Astralis, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.” Ucapan itu membuat seluruh professor disana saling berpandangan.

Tidak ada yang tidak tahu mengenai legenda tersebut, legenda yang telah di anggap dongeng selama puluhan tahun. Mengenai seorang anak yang membawa sihir bintang, kekuatan yang dapat menciptakan kehidupan atau menghancurkan dunia.

Sementara itu, di menara timur akademi, Orion berdiri sendirian dibalkon. Tatapannya tidak pernah lepas dari gedung Astralis, jubah hitamnya berkibar diterpa angin. Di tangannya masih tergenggam pita biru yang telah usang karena dimakan usia, dan pria tua dibelakangnya kembali bersuara.

“Kau masih menyimpan pita itu?” Orion menatap pita itu untuk beberapa saat.

“Dia yang memberikannya padaku, tepatnya empat belas tahun yang lalu.”

“Kau masih berharap dia bisa mengingatmu?” Pertanyaan itu membuat Orion terdiam, karena harapan itu memang sangat kecil, bahkan nyari mustahil. Namun entah kenapa ia tetap menyimpannya, sebagai pengingat bahwa suatu hari nanti mereka pasti akan bertemu lagi.

Kini, matanya kembali tertuju pada gedung Astralis, untuk pertama kalinya ia merasa sangat gugup, bukan karena ancaman musuh, melainkan karena takut melihat gadis itu terluka.

Di dalam aula Astralis, Aurelia perlahan berdiri. Rasa sakit dikepalanya mulai menghilang, tatapannya kembali tertuju pada tongkat sihir yang melayang di atas kolam. Aurelia merasa aneh dengan keberadaan tongkat itu. Pasalnya, tongkat itu perlahan turun semakin dekat hingga berhenti tepat di depan Aurelia.

Kristal berbentuk bintang yang di ujung tongkat memancarkan cahaya sangat terang. Lalu, tongkat tersebut jatuh perlahan ke telapak tangan Aurelia. Saat kulitnya bersentuhan dengan tongkat tersebut, seluruh gedung pun bergetar.

Kolam kecil ditengah aula berubah menjadi lautan bintang, airnya memantulkan langit malam yang dipenuhi rasi bintang, padahal di luar masih siang. Dinding-dinding tua memancarkan cahaya keperakan, ukiran-ukiran kuno mulai bermunculan di seluruh ruangan.

Sebuah suara lembut terdengar disana, suara itu bukan berasal dari luar, melainkan langsung didalam kepala Aurelia.

“Selamat datang kembali” Aurelia membeku dan mencari tahu dari mana asal suara itu.

“Siapa itu?”

“Kami telah menunggumu sangat lama”

“Siapa kalian?” Tidak ada jawaban yang diterima oleh Aurelia saat itu. Namun dipermukaan air perlahan muncul bayangan seorang wanita berjubah putih, wajahnya begitu cantik, rambut panjangnya berwarna hitam, matanya berwarna keemasan dan ia tersenyum lembut pada Aurelia.

Senyuman itu seolah seseorang yang telah lama merindukan anaknya. Aurelia menatap wanita dihadapannya tanpa berkedip, tanpa sadar air matanya mengalir, padahal ia tidak mengenal siapa sosok wanita dihadapannya.

Wanita dihadapannya kini mengangkat tangan dan menyentuh dadanya sendiri, kemudian ia menunjuk ke arah dada Aurelia. Sebuah cahaya kecil berpindah dari bayangan itu menuju liontin di leher Aurelia.

Cahaya liontin pun semakin terang, lalu sebuah senyuman dilemparkan untuk terakhir kalinya pada Aurelia, kemudian perlahan menghilang bersama ribuan cahaya kecil yang berterbangan memenuhi aula.

“Aku.. aku siapa sebenarnya?” Pertanyaan itu menggema di ruangan kosong.

Di luar gedung, langit Aetherion berubah drastis. Awan putih perlahan membentuk pusaran besar, ribuan burung cahaya terbang mengelilingi gedung Astralis. Seluruh murid keluar dari kelas mereka dan mereka memandangi langit dengan wajah bingung.

“Ada apa ini?”

“Apa ada serangan?”

“Tidak. Ini berasal dari Gedung Astralis.”

Lyra yang melihat kejadian itu juga langsung teringat pada Aurelia, wajahnya berubah menjadi pucat dan mengkhawatirkan Aurelia. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menuju taman belakang, tak peduli professor mencoba menghentikannya, ia hanya ingin memastikan teman barunya itu baik-baik saja.

Di dalam gedung Astralis, Aurelia memegang tongkat perak itu. Namun kini tongkat tersebut berubah menjadi jutaan partikel cahaya. Partikel-partikel cahaya itu masuk perlahan ke dalam tubuhnya, tidak terasa sakit sama sekali, justru yang ia rasakan adalah kehangatan.

Saat partikel itu masuk dalam tubuhnya, Aurelia merasa seperti ada bagian dirinya yang akhirnya kembali pulang. Di dinding aula tiba-tiba muncul tulisan kuno berwarna emas, Aurelia tidak pernah mempelajarinya, namun entah bagaimana ia bisa membacanya.

Ketika pewaris terakhir kembali, langit akan membuka jalannya. Bintang yang hilang akan bersinar sekali lagi dan mereka yang terpisah oleh waktu akan dipertemukan oleh takdir.

Sesaat setelah tulisan itu menghilang, seluruh cahaya didalam aula padam. Gedung kembali sunyi, pintu batu dibelakang Aurelia perlahan terbuka. Dari luar terdengar suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa.

Sebelum siapa pun sempat masuk di kejauhan, dari balik jendela tertinggi gedung Astralis, sepasang mata abu-abu diam-diam memandang Aurelia dengan tatapan yang dipenuhi kerinduan—Orion.

“Aku sudah menemukanmu, Aurelia. Hanya tinggal menunggu sampai kau mengingatku.” Bisiknya lirih.

Sementara itu, tanpa disadari siapa pun, sebuah simbol berbentuk bintang berujung tujuh perlahan muncul di pergelangan tangan kiri Aurelia, tanda yang akan mengubah hidupnya dan nasib seluruh dunia sihir.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!