Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 20
Hutan bambu itu mendadak menjadi jauh lebih senyap setelah jeritan terakhir Mas Ferdi padam. Desir angin yang menggesek dedaunan di atas sana terdengar seperti suara bisikan orang-orang mati yang meratapi nasib malang keluarga ini. Di atas tanah yang becek oleh sisa air hujan, jasad Mas Ferdi terbaring kaku dengan kondisi yang sama tragisnya seperti Mbak Selfi. Rongga dadanya kosong, menganga lebar tanpa ada lagi jantung yang berdenyut di dalamnya.
Di atas tubuh tak bernyawa itu, bayi Doni masih duduk mematung. Wajah keriputnya yang menjijikkan dipenuhi oleh lendir kental dan lumuran darah segar yang mulai mengering.
Sepasang mata merah darah milik makhluk itu perlahan bergerak, mengunci pandangannya tepat ke arah Siska yang masih terduduk lemas di atas tanah. Makhluk itu menjilat bibir mungilnya yang berkerut dengan lidahnya yang hitam, mengeluarkan suara kekehan rendah yang sangat serak. Suara itu bergetar di dalam dada Siska, mengirimkan gelombang rasa takut yang membuat seluruh persendiannya mati rasa.
Siska... sekarang giliranmu...
Meskipun makhluk itu tidak membuka mulutnya untuk berbicara, suara bisikan gaib itu terdengar sangat jelas di dalam kepala Siska. Suara itu terdengar seperti suara Doni saat masih suci, namun bercampur dengan gema suara berat yang sangat menyeramkan.
Siska tahu betul, tekanan gaib yang mengunci tubuhnya perlahan-lahan mulai mengendur seiring dengan selesainya makhluk itu menyantap jantung Mas Ferdi. Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Siska memaksakan kedua kakinya untuk bergerak. Dia mundur perlahan dengan cara menyeret tubuhnya di atas tanah, menjauh dari jasad kakaknya.
"Jangan... jangan mendekat..." bisik Siska dengan suara yang habis akibat terlalu banyak menangis.
Bayi berlendir itu tidak terburu-buru. Dia melompat turun dari atas perut jasad Ferdi, mendarat di atas tanah dengan suara kecipak basah yang memuakkan. Kedua kaki mungilnya yang meliuk patah ke dalam kembali digerakkan.
Srek... srek... srek...
Gerakan seretan itu terasa sangat santai, seolah-olah dia tahu bahwa mangsa terakhirnya ini tidak akan bisa lari ke mana-mana. Setiap kali tubuh keriput itu bergeser, lendir bening yang melapisi kulitnya meninggalkan jejak mengilat di atas tanah hitam hutan bambu.
Rasa sedih yang teramat sangat karena kehilangan Mas Ferdi seketika bergolak, bercampur aduk dengan insting bertahan hidup Siska sebagai seorang manusia. Dia tidak boleh mati di sini. Jika dia mati, maka lingkaran setan pesugihan cincin darah ini tidak akan pernah ada yang tahu, dan makhluk iblis ini akan terus berkeliaran di luar sana memburu korban-korban baru yang tidak berdosa.
Siska memaksakan dirinya untuk bangkit berdiri. Meskipun kedua lututnya gemetar hebat seperti mau copot, dia membalikkan badannya dan mulai berlari menembus rimbunnya pohon bambu.
Namun, hutan bambu itu seperti telah berubah menjadi jalan gaib yang menyesatkan. Ke mana pun Siska berlari, yang dia lihat hanyalah deretan batang bambu hijau tua yang kusam dan tinggi menjulang. Sinar matahari siang sama sekali tidak bisa menembus tempat ini lagi, membuat suasana di sekelilingnya menjadi semakin gelap, seolah-olah malam telah datang lebih cepat secara tidak wajar.
Napas Siska memburu, tenggorokannya terasa sangat kering dan perih karena menghirup udara lembap yang berbau busuk. Sambil terus berlari, tangannya meraba-raba kantong tas kecilnya yang masih menggantung di bahu. Dia mengambil ponselnya, mencoba menyalakannya dengan jari-jari yang basah oleh keringat dingin.
Layar ponselnya menyala, namun tidak ada satu batangan sinyal pun yang muncul di pojok atas. Angka jam di layar menunjukkan pukul dua belas siang, tetapi kegelapan di sekelilingnya sudah seperti pukul dua belas malam.
"Tolong... Siapa saja, tolong..." rintih Siska, meskipun dia tahu jeritannya tidak akan pernah terdengar sampai ke jalan raya di luar.
Tiba-tiba, kaki Siska tersangkut oleh akar pohon bambu yang menyembul dari dalam tanah.
BRUKK!
Siska terjatuh terjerembab ke depan, wajahnya menghantam tanah yang berlumpur. Ponsel di tangannya terlempar jauh, retak, dan langsung mati total. Rasa sakit yang menjalar di lutut dan siku tangannya membuat Siska meringis kesakitan. Dia mencoba untuk segera bangun kembali, namun suara gesekan itu sudah berada tepat di belakangnya.
Srek... srek... srek...
Hawa sedingin es kembali merayap naik dari ujung kaki Siska, membekukan seluruh darah di tubuhnya. Siska perlahan membalikkan tubuhnya dengan posisi terlentang, menatap ke arah datangnya suara.
Di antara sela-sela batang bambu yang gelap, wajah keriput bayi Doni muncul. Makhluk itu berdiri mematung hanya berjarak tiga meter dari tempat Siska terjatuh. Lendir di tubuhnya tampak berkilau aneh dalam kegelapan. Dua bola mata merahnya menatap Siska dengan sangat dalam, memancarkan pesona gaib yang mencoba melumpuhkan sisa akal sehat gadis itu untuk kedua kalinya.
Siska merasa kepalanya mulai kembali pening. Suara-suara bisikan aneh mulai kembali berdengung di dalam telinganya, menyuruhnya untuk menyerah, menyuruhnya untuk membiarkan bayi itu mendekat dan menyelesaikan tugasnya.
Ikuti ayahmu, Siska... Ikuti ibumu... Darahmu adalah milikku...
"Nggak! Aku nggak mau!" jerit Siska sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. Dia menggigit bibir bawahnya sendiri sekuat tenaga hingga mengeluarkan darah segar. Rasa sakit yang tajam dari bibirnya itu berhasil mengembalikan sedikit kesadarannya dari pengaruh hipnotis sang bayi iblis.
Siska meraba tanah di sekitarnya, tangannya mencari-cari benda apa saja yang bisa digunakan untuk membela diri. Jari-jarinya menyentuh sebuah patahan batang bambu yang ujungnya pecah menjadi runcing dan tajam seperti pisau. Tanpa ragu, Siska menggenggam potongan bambu tajam itu erat-erat dengan kedua tangannya.
Bayi Doni melihat gerakan Siska. Makhluk itu mendesis nyaring, merasa tersinggung karena mangsa kecilnya ini masih mencoba untuk melawan. Dengan gerakan yang secepat kilat, makhluk berkaki patah itu melesat maju di atas tanah, mengarah langsung ke dada Siska dengan kuku-kukunya yang hitam dan panjang terentang lebar.
"Pergi!!!" teriak Siska dengan histeris.
Saat tubuh berlendir itu melompat ke arahnya, Siska mengayunkan patahan bambu tajam di tangannya sekuat tenaga ke depan.
JLEB!
Ujung bambu yang runcing itu berhasil mengenai bahu kecil bayi Doni. Namun, alih-alih mengeluarkan darah merah, dari luka robekan di bahu makhluk itu justru keluar cairan hitam kental yang sangat busuk, mirip seperti oli bekas yang terbakar. Makhluk itu tidak merasakan sakit sama sekali. Dia justru menggunakan tangan kirinya yang kuat untuk mencengkeram bambu tersebut dan mematahkannya menjadi dua bagian dengan sangat mudah.
KREKK!
Siska terbelalak tidak percaya. Potongan bambu yang tersisa di tangannya terlepas. Kekuatan makhluk kecil ini benar-benar di luar akal sehat manusia.
Bayi Doni mendarat tepat di atas perut Siska. Berat tubuh bayi yang seharusnya ringan itu mendadak terasa seperti bongkahan batu besar seberat puluhan kilogram, menekan dada Siska hingga dia sangat kesulitan untuk bernapas. Lendir bening yang dingin dari tubuh bayi itu mulai merembes masuk menembus pakaian Siska, membuat kulit dadanya terasa seperti terbakar oleh rasa dingin yang teramat sangat menyiksa.
Wajah keriput yang menjijikkan itu kini berada hanya beberapa sentimeter di depan wajah Siska. Bau busuk dari mulut sang bayi yang berlumuran sisa darah Mas Ferdi langsung membuat Siska mual hebat. Makhluk itu membuka mulut mungilnya lebar-lebar, memperlihatkan deretan gigi tajamnya yang siap merobek dada Siska untuk mengambil tumbal darah yang terakhir.
Siska memejamkan matanya rapat-rapat, air matanya mengalir deras menyatu dengan lumpur di wajahnya. Di sudut hutan bambu yang sunyi dan gelap ini, dia menyadari bahwa dia benar-benar telah berada di ambang maut. Tidak ada lagi tempat untuk lari, dan tidak ada lagi orang yang akan datang untuk menyelamatkannya. Lingkaran kutukan pesugihan cincin darah itu kini siap ditutup dengan kematian dirinya.