Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Lantai Tiga
Sementara kehidupan enam gadis di kelas X-A berjalan dengan normal dan tenang tanpa ada satu pun gesekan terbuka, sebuah atmosfer yang berbeda justru sedang terbangun di lantai tiga gedung utama sekolah, tepatnya di dalam ruang kerja pengurus OSIS SMA Garuda Bangsa yang sunyi dan ber-AC dingin. Di balik sebuah meja kerja besar yang terbuat dari kayu jati berukir rapi, seorang siswa senior dengan setelan jas OSIS berwarna biru tua yang kaku sedang menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kulit hitam.
Nama di papan dada kuningan jasnya tertulis dengan tegas Gavin Dirgantara Ketua OSIS. Gavin memiliki postur tubuh yang tinggi, wajah yang tampan dengan garis rahang yang tegas, namun sepasang matanya yang berwarna hitam elang selalu memancarkan kecurigaan yang tajam terhadap segala anomali yang terjadi di sekolah kekuasaannya. Sebagai anak kandung dari Kepala Yayasan Garuda Bangsa sekaligus cucu dari seorang mantan jenderal intelijen negara, Gavin telah dilatih untuk membaca perubahan ekspresi wajah dan gestur tubuh sekecil apa pun dari orang-orang di sekitarnya.
"Ada sesuatu yang tidak sinkron dengan data profil enam murid baru di kelas X-A, Gavin," ucap seorang anggota divisi keamanan OSIS sembari menyerahkan sebuah tablet elektronik tebal ke atas meja kerja jatinya.
Gavin mengambil tablet tersebut dengan gerakan tangan yang konstan, matanya yang tajam langsung menyapu lembaran profil digital milik Azrint, Eriza, Miya, Fyrline, Aleyna, dan Camellia. Layar kaca tablet itu memantau bahwa seluruh kolom latar belakang keluarga dan riwayat akademis keenam siswi tersebut menampilkan simbol peringatan enkripsi berwarna merah darah. ACCESS DENIED. ENCRYPTION PROTOCOL LEVEL 9.
"Protokol level sembilan?" Gavin menaikkan sebelah alisnya yang tebal, sebuah senyuman sinis yang sarat akan intrik pengawasan terukir di sudut bibirnya yang kaku. "Ini adalah jenis dinding enkripsi yang biasa digunakan oleh badan intelijen militer negara atau kartel internasional luar negeri. Bagaimana bisa ada enam siswi baru di dalam satu kelas yang sama memiliki sistem proteksi data segila ini di dalam peladen yayasan sekolah kita?"
"Bukan cuma masalah data digital, Ketua," lanjut anggotanya dengan nada suara yang merendah penuh kecemasan. "Semalam, satelit pemantau keamanan yayasan mendeteksi adanya gangguan frekuensi radio aneh di sekitar gerbang barat tepat pada saat jam pulang sekolah. Dan fajar subuh tadi, laporan dari intelijen pelabuhan menyebutkan ada tiga helikopter hitam tanpa registrasi resmi mendarat di atas dek sebuah kapal kargo yang dilaporkan sempat hilang dari radar Syahbandar."
Gavin mengetuk-ngetuk permukaan meja jatinya menggunakan pulpen hitam dalam ritme yang sangat monoton, otaknya yang cerdas langsung menyusun potongan-potongan informasi mencurigakan itu menjadi sebuah garis linier yang mengarah pada satu kesimpulan. Matanya kembali terpaku pada foto buram keenam siswi baru tersebut.
"Azrint... Eriza... Miya... Fyrline... Aleyna... Camellia..." Gavin mengeja nama depan mereka satu per satu dengan ketegasan wibawa yang murni sebagai penguasa dunia atas di sekolah ini. "Mereka semua berada di lajur yang sama saat gangguan sinyal itu terjadi kemarin sore. Dan hari ini, hari Selasa, mereka berenam masuk sekolah seperti biasa dengan ekspresi wajah yang sangat tenang, polos, seolah-olah tidak ada satu pun kejadian besar yang menimpa hidup mereka malam tadi."
Gavin berdiri dari kursi jabatannya, melangkah perlahan mendekati jendela kaca besar ruang OSIS yang menghadap langsung ke arah halaman tengah sekolah di mana para murid sedang menikmati sisa waktu istirahat mereka. Pandangan mata elangnya terkunci rapat pada sosok Azrint yang sedang meminum jusnya di dekat air mancur, lalu bergeser ke arah Eriza yang duduk menyendiri di sudut pilar beton, hingga ke lajur belakang kantin tempat Aleyna dan Camellia berada.
"Mereka pikir mereka bisa menyembunyikan cakar mereka dengan sangat mudah di bawah atap Garuda Bangsa ini," gumam Gavin dengan nada suara yang rendah namun sarat akan tantangan yang pekat. Sebagai ketua OSIS yang memegang kendali atas kedisiplinan dunia atas sekolah, Gavin merasa otoritasnya sedang ditantang secara halus oleh kehadiran enam gadis misterius dari dunia bawah tanah tersebut.
Gavin membalikkan tubuhnya kembali menghadap sang anggota dengan ketegasan yang mutlak, meletakkan tablet elektroniknya ke atas meja dengan dentingan keras. "Mulai besok hari Rabu, buatkan dokumen jadwal inspeksi mendadak ke kelas X-A atas nama pengurus inti OSIS. Gue sendiri yang akan memimpin pemeriksaan atribut, kerapian, dan isi gawai mereka di depan kelas. Kita lihat saja nanti, seberapa pintar enam anak baru ini menjaga ketenangan normal mereka saat topeng mereka gue desak dari depan."
Ketegangan baru yang tak kasat mata kini telah lahir di lantai tiga SMA Garuda Bangsa. Enam siswi utama kelas X-A yang selama dua hari ini sibuk menjaga jarak kaku dan fokus sepenuhnya pada kehidupan normal mereka sendiri, kini harus bersiap menghadapi ancaman baru dari Gavin Dirgantara sang ketua OSIS dunia atas yang siap mengusik ketenangan mereka demi membongkar rahasia besar yang tersembunyi di balik seragam SMA mereka. Permainan diam di bawah lampu kelas kini telah kedatangan seorang pengawas baru yang tidak kalah mematikan.