Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBUAT TANDA JALAN,TULISANNYA KEBALIK
Beberapa hari lalu, banyak warga yang mengeluh soal jalan setapak di ujung desa. Jalannya bercabang-cabang, banyak yang nggak tahu arahnya ke mana, apalagi orang yang baru lewat atau pendatang. Sering ada yang nyasar, bahkan sampai muter-muter berjam-jam kayak kejadian Bima dan kawan-kawan dulu.
Pagi itu, Pak RT datang ke kantor sambil bawa papan kayu bekas dan cat.
“Kita pasang tanda jalan saja biar nggak ada lagi yang nyasar. Kalian yang masih muda dan bisa menulis rapi, tolong buatkan tulisannya ya. Nanti saya bantu pasang di persimpangan.”
“Siap Pak! Gampang kok itu,” jawab Ojak dengan semangat, merasa ini tugas yang paling ringan dan nggak akan bikin masalah.
Mereka pun mulai menyiapkan peralatan. Ada papan kayu, cat hitam, kuas, dan kapur buat menandai garisnya biar tulisannya nggak miring-miring.
“Supaya jelas dan gampang dibaca, tulisannya agak besar ya,” kata Bima sambil memegang kuas.
“Biar lebih rapi, saya buat garis batasnya dulu pakai kapur,” tambah Sari.
Awalnya semuanya berjalan lancar. Mereka tulis satu per satu: “Ke Kebun”, “Ke Sungai”, “Ke Jalan Raya”, “Ke Pemukiman”. Tulisan terlihat jelas, ukurannya pas, dan posisinya tegak lurus.
Sampai giliran papan yang paling besar, buat dipasang di persimpangan paling ramai. Isinya harus lengkap supaya orang langsung tahu arah mana yang harus dituju.
Karena hari sudah mulai terik, mereka mengerjakannya sambil duduk di teras, papan kayu diletakkan di atas dua balok kayu supaya enak dijangkau.
“Kita tulis yang paling penting dulu ya: “JALAN UTAMA”, terus di bawahnya arah ke mana saja,” usul Bima.
Ojak yang merasa tulisannya paling bagus, langsung mengambil alih kuas. “Serahkan saja ke saya, hasilnya pasti rapi dan jelas.”
Dia pun menulis dengan hati-hati, hurufnya besar dan tebal. Setelah selesai, dia mundur selangkah sambil mengamati hasil kerjanya.
“Nah, bagus kan? Pasti orang lihat langsung tahu arahnya.”
Mereka pun biarkan sebentar sampai catnya kering, sambil duduk santai minum air kelapa.
Setelah kering sempurna, Pak RT datang lagi untuk mengambil dan memasangnya. Dia mengangkat papan itu, lalu memutarnya sedikit supaya posisinya pas menghadap orang yang lewat.
Belum sempat dia mengikatnya ke tiang, tiba-tiba dia mengerutkan dahi dan membaca pelan-pelan sambil menggeleng-geleng kepala.
“Lho… kok tulisannya begini ya? “AMATU NALAJ”? Apa maksudnya ini?”
Mendengar itu, Bima, Ojak, Sari, dan Rara langsung mendekat. Mereka melihat tulisan itu dari arah yang sama dengan Pak RT, lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya ketawa terbahak-bahak.
Ternyata saat menulis tadi, Ojak meletakkan papan dalam posisi terbalik dari arah orang yang akan membacanya. Jadi tulisan yang aslinya “JALAN UTAMA”, kalau dilihat dari posisi yang benar malah jadi terbalik bacaannya.
“Ojak, kamu ini tulisnya buat dibaca dari mana? Dari atas atau dari bawah?” tanya Rara sambil menahan tawa sampai perutnya sakit.
Ojak sendiri melotot, lalu memutar papan itu ke arah yang dia pakai tadi. “Lho, dari sini tulisannya benar kok! JALAN UTAMA, jelas sekali!”
“Ya iya dong, dari posisi kamu duduk tadi benar. Tapi nanti yang baca orang yang lewat dari jalan, posisinya terbalik sama kamu! Makanya dia lihatnya jadi kacau!” jelas Bima sambil tertawa.
Pak RT ikut tertawa sambil meletakkan papan itu kembali. “Untung saja saya lihat dulu sebelum dipasang, nanti sudah terpasang banyak orang yang bingung. Bisa-bisa dikira ini tulisan bahasa asing yang nggak ada artinya.”
Ojak langsung menggaruk kepalanya yang nggak gatal, mukanya sedikit merah malu. “Waduh… saya lupa mikir posisi orang yang baca. Saya pikir yang penting tulisannya rapi dari sisi saya, ternyata salah arah total.”
Mereka pun membalik posisi papan itu, lalu Ojak menulis ulang dengan posisi yang benar. Kali ini dia memastikan dulu dengan berdiri di seberang, membacanya dari arah orang yang akan lewat.
“Nah, sekarang baru benar! JALAN UTAMA, jelas dan lurus,” katanya lega.
Tapi ternyata belum selesai sampai di situ. Saat mereka memeriksa papan-papan lain yang sudah jadi, ada juga yang salah posisi.
Yang tulisannya “KE SUNGAI”, kalau dibaca dari arah jalan jadi “IAGNUS EK”. Yang “KE KEBUN” jadi “NUBEK EK”. Semuanya jadi terbalik dan nggak ada artinya.
“HAHAHA! Ternyata bukan cuma satu papan saja yang salah. Kalau dipasang begini, orang malah makin bingung, bukan makin jelas,” kata Sari sambil mencatat mana saja yang harus diperbaiki.
Selama setengah jam berikutnya, mereka sibuk menghapus tulisan yang salah atau menimpanya lagi dengan posisi yang benar. Kali ini mereka saling mengecek satu sama lain sebelum dianggap selesai.
“Sudah, dibaca dari sini benar belum?” tanya Bima sambil berdiri di posisi jalan.
“Benar! Jelas sekali, nggak ada yang terbalik lagi,” jawab Rara sambil mengangguk.
Setelah semuanya benar, Pak RT mulai memasang satu per satu di setiap persimpangan. Tidak lama kemudian, warga yang lewat sudah bisa membaca dengan jelas dan mengucapkan terima kasih.
Saat mereka pulang ke kantor, Ojak masih jadi bahan ledekan.
“Besok kalau menulis lagi, jangan cuma lihat dari posisi dudukmu saja. Coba bayangkan kalau ada orang yang lewat, dia lihatnya seperti apa,” kata Bima sambil tertawa.
“Ya ampun, saya kira tugas ini paling gampang, ternyata bikin malu juga. Untung belum dipasang, kalau sudah terpasang bisa-bisa dijuluki ‘penulis terbalik’ seumur hidup!” keluh Ojak sambil ikut ketawa sendiri.
“Tapi lumayan juga kan? Sekarang kita tahu, bikin tanda jalan itu nggak cuma harus rapi, tapi juga harus tahu posisi orang yang akan membacanya. Kalau nggak, malah bikin orang makin bingung,” tambah Sari sambil tersenyum.
Begitulah hari itu berakhir. Tugasnya selesai dengan baik, meskipun sempat ada kesalahan konyol yang hampir bikin orang makin nyasar. Dan cerita tulisan terbalik itu jadi bahan lelucon yang terus diingat sampai lama.