NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Bukti Kedua

Mencari bukti kedua

“Maaas.”

Dengan riang, Miska memeluk tubuh kekasih gelapnya, usai membuka pintu kamar hotel. Gadis remaja yang baru lulus dan sudah tidak gadis itu, tersenyum lebar. Lalu, langsung menubruk pria yang merupakan suami orang.

“Akhirnya, Mas bisa datang juga.”

Elang membalas senyum dan pelukan itu. “Demi kamu, apa sih yang ngga?”

Miska mendongak dan menjawab dengan suara manja. “Makin cinta deh sama kamu, Mas.”

“Kalau makin cinta, kenapa kuliah di luar negeri? Kenapa ga di sini aja sih?”

Miska tersenyum lebar. “Bakal kangen ya sama aku?”

Elang mengangguk. “Ya, kangen goyanganmu.”

Miska tertawa. “Nakal!”

Bukannya marah karena Elang hanya menganggapnya sebagai pemuas saja, tapi wanita muda itu justru malah bangga dengan keahliannya. Keahlian bergoyang di atas ranjang. Keahlian yang tidak dimiliki oleh Rindu, istri sah Elang selama ini.

“Justru nanti kita lebih leluasa, Mas. Mas kan bisa alasan perjalanan bisnis. Deket kok, Mas. Cuma Singapura,” ucap Miska.

“Singapura? Katanya Australia?” tanya Elang.

“Ga jadi, kata Mami kejauhan. Di Singapura aja, supaya Papi Doni juga bisa leluasa ketemu Mami di sana.”

Elang menggelengkan kepala. Pasalnya, kelakuan ibu dan anak itu sangat sama. Tidak anak, tidak ibunya, sama – sama selingkuh. Kasihan sekali Rayendra. Dia kerja banting tulang hanya untuk istri dan anak yang bukan darah dagingnya.

Lalu, bagaimana dengan Rindu?

Elang pun menggelengkan kepalanya lagi. Jika, sudah menyangkut nafsu, Elang mengabaikan semua termasuk rasa cintanya pada sang istri.

Elang merasa hanya manusia biasa yang tidak kuasa menahan godaan, terutama godaan wanita, ditambah wanitanya seperti Miska yang cantik, muda, sexy, dan bergairah.

Elang, laki – laki normal yang tidak bisa menolak suguhan hidangan lezat, meski hidangan lezat itu pernah disuguhkan dan dinikmati orang lain sebelumnya, mengingat Miska memang sudah tidak perawan ketika pertama kali Elang bercinta dengannya.

Melihat Miska yang hanya berbalut lingerie merah marun kesukaan Elang, pria itu pun menariknya. “Berapa lama kamu di Singaporee?”

Miska tertawa menggoda. “Hanya satu minggu. Setelah pendaftaran selesai, aku pulang lagi dan berangkat lagi.”

Cup

Elang mengecup bibir Miska. “Baiklah, karena kita akan berpisah satu minggu, maka kamu harus melayaniku sebanyak yang aku mau.”

Miska tertawa genit. “Dengan senang hati, Tuanku.”

Sungguh, Elang sangat senang. Bersama Rindu, ia tak pernah mendapatkan kemanjaan seperti ini. menurutnya Rindu terlalu kaku dan mandiri. Tidak ada sisi manja pada diri istrinya itu, sehingga Elang pun memilih bersikap yang sama, meski sebenarnya ia pun merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan selama ini pada istrinya.

Rindu terlalu polos hingga dibodohi selama lima tahun ini pun, wanita itu tidak curiga.

lima tahun ini pun, wanita itu tidak curiga.

Bruk

Elang melemparkan tubuh Miska ke ranjang, membuat wanita muda itu tersenyum senang. Bahkan kini ia sudah membuka lebar kedua kakinya, menunjukkan bagian inti yang ternyata tak mengenakan kain lagi.

“Ayo, Mas. aku sudah tidak tahan.”

Elang menyeringai. Dengan cepat, pria itu membuka pakaian serta ikat pinggangnya.

“Kamu harus dihukum anak kecil.” Elang memukul tubuh sekaligus itu.

“Kecil‑kecil sudah sangat menyukai hubungan intim! Dasar, wanita nakal muda!”

Dihina seperti itu, justru Miska semakin tersenyum lebar.

“Nikmati tubuh gadis muda ini, Tuan. Ayo, lakukan!”

Elang menaiki tubuh itu dan mengungkungnya. Lalu, ia menyatukan kedua tangan Miska dan dinaikkan ke atas kepalanya. Tak lupa, sebelumnya Elang mengikat kedua tangan itu terlebih dahulu oleh ikat pinggangnya tadi.

“Aku sedang ingin bermain kasar, Sayang.”

Permainan yang tak pernah ia lakukan sekali pun kepada istrinya. Setiap kali bercinta dengan Rindu, gaa Elang standar – standar saja, berbeda dengan ketika bersama Miska. Ia mampu mengeluarkan semua fantasi s*xnya kepada gadis muda itu.

Miska kembai memasang senyum menggoda. “Silahkan, Tuan! Aku milikmu.”

Elang semakin bersemangat. Kegiatan panas itu pun segera dimulai.

Prang

Di tempat lain, Rindu menjatuhkan sebuah gelas saat ia sedang makan siang bersama ibu mertuanya di sebuah mall. Makan siang yang sangat kesiangan karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh siang.

“Rindu, kamu tidak apa – apa?” tanya Bella panik melihat menantunya menyenggol gelas miliknya hingga terjatuh.

Pelayan restoran segera menghampiri kursi yang diduduki Rindu dan Bella.

“Maaf, Ma. Rindu menjatuhkan minuman Mama.”

Bella langsung menggeleng. “Tidak. Tidak apa. Bukan minumannya yang Mama khawatirkan, tapi kamu. Kaki kamu tidak kena pecahan gelasnya kan?”

“Tidak, Ma.” Rindu menggeleng. entah firasat apa yang sedang Ia rasakan saat ini, rasanya dadanya berdetak tak karuan. Keresahan melanda hingga ia memikirkan sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin.

“Maaf ya, Mba. Saya tidak sengaja memecahkan gelasnya,” ucap Rindu pada pelayan.

Pelayan yang berseragam itu menoleh dan tersenyum. Biasanya, ketika hal ini terjadi pada customer, kebanyakan tidak ada yang mengucapkan maaf.

“Tidak apa, Bu. Kami akan menggantikan yang baru.”

Rindu mengangguk. “Terima kasih.”

“Sama – sama. Sebentar kami akan ambilkan minum yang baru,” ujar pelayan itu.

Bella ikut mengangguk. Satu hal yang ia suka dari Rindu. Wanita lembut itu tidak pernah sungkan untuk mengucapkan maaf saat melakukan kesalahan dan berterima kasih ketika diberi sesuatu. Oleh karena itu, Bella senang memberikan apa pun pada Rindu.

Setelah jalan – jalan cukup lama di pusat perbelanjaan yang cukup mewah dan megah, Rindu dan Bella sampai di rumah. Mereka pulang tepat pukul sembilan malam.

“Hah! Ternyata lelah juga ya, Rin?”

Rindu mengangguk. “Iya, Ma. Kita lumayan lama di sana.”

“Ya, kita tuh kalau sudah belanja memang ga kenal waktu ya. Makanya Elang tidak pernah mau ikut kalau kita ajak ke mall.” Bella tertawa, setelah menjatuhkan tubuhnya ke sofa, begitu tiba di dalam rumah.

Rindu memaksa senyum dan mengangguk. “Iya.”

“Oh iya, Rin. Kamu tidak pernah tanya kalau keluar kota, suamimu itu ngapain aja? Kayanya akhir – akhir ini, Elang sering sekali keluar kota,” ujar Bella yang memiliki firasat tidak enak pada putranya. Mengingat ia pernah merasakan firasat yang sama dan terbukti, meski hingga kini Rindu tak mengetahui itu sama sekali.

Begitu Bella memergoki sang putra dengan sekretarisnya di Jogja. Ia langsung turun tangan dan memecat sekretaris itu. Bella menggantikan sekretaris Elang dengan seorang pria. kejadian itu terjadi sekitar tiga tahun lalu. Usai kejadian itu berlalu, sikap Elang pun berubah dan sikap itu kini kembali lagi.

“Elang kan kerja, Ma.”

Bella menarik nafasnya kasar. “Bagus sih kamu positif thinking, tapi sesekali kamu juga harus ikut kalau suamimu keluar kota. Supaya kamu juga tahu kegiatan suami kamu kalau diluar.”

Rindu mengangguk. Nasehat ini memang sering Bella ucapkan, tapi sekali lagi Rindu baru menyadari kebodohannya. Ia pikir, Elang memang pria yang dingin dan kaku yang hanya penggila kerja, bukan penggila wanita.

“Sekarang, orangnya mana? Di ruang kerja?” tanya Bella dengan menatap Rindu.

Rindu mengangkat kepalanya ke lantai dua. Pintu ruangan yang bisa terlihat dari ruang keluarga yang ada di lantai satu.

“Rindu lihat dulu ya, Ma.”

Bella mengangguk.

Rindu menaiki tangga dan membuka pintu ruang kerja, ternyata di sana ia tak mendapati suaminya.

Rindu langsung melangkahkan kakinya cepat ke kamar. Ia langsung membuka laptop dan melihat hasil penyadapan hari ini pada percakapan ponsel suaminya.

“Rin, sepertinya suamimu memiliki dua nomor.”

Rindu membaca pesan yang datang dari Sam melalui ponselnya sendiri.

Rindu sudah mengira hal itu, tapi hingga kini ia masih belum mendapati nomor telepon suaminya yang lain. Nomor telepon yang ia yakini biasa digunakan Elang untuk berinteraksi dengan Miska.

“Lang, malam ini ada acara ngga? Kita ke Club malam yuk!”

“Ayo, Lang! Udah lama nih kita ga bersenang – senang.”

“Iya, mentang – mentang udah dapet daun muda. Lupa dah sama kita.”

Deg

Rindu baru membuka grup chat teman-teman suaminya. sebelumnya, ia kira Elang memiliki teman yang baik – baik karena dari segi tampang, teman suaminya itu terlihat lurus – lurus. Atau mungkin, Rindu yang terlalu positif menilai orang. Entahlah!

“Oke, gue meluncur.”

Melihat sang suami membalas chat di grup itu, Rindu pun segera bangkit. Tak lupa, ia mematikan laptop itu dan menyimpannya kembali ke dalam tas seperti semula yang biasanya hanya ia gunakan untuk bekerja.

“Rin, kamu mau ke mana lagi?” tanya Bella bingung, saat melihat menantunya kembali rapih dan membawa tasnya.

“Ada kerjaan mendadak, Ma.”

“Kamu mau ke kantor malam – malam begini?” tanya Bella lagi.

“Soalnya berkas – berkas ada di kantor, Ma,” jawab Rindu bohong. “Kalau pun dikerjakan di rumah percuma, karena berkasnya harus Rindu ambil dulu di sana.”

Bella menarik nafasnya kasar. “Hah, tidak suami, tidak istrinya, sibuk semua. Bagaimana Mama bisa mendapatkan cucu kaau begini?”

Gumaman Bella terdengar lucu. Dahulu Rindu memang menggebu – gebu melakukan permintaan ibu mertua tercinta, tapi mendapati fakta kelakuan Elang saat ini, membuat Rindu malas untuk melanjutkan keinginan Bella itu.

Rindu mencari di mana gerangan letak club malam yang disebutkan teman Elang tadi. Setelah menemukan alamat persisnya, Rindu pun segera meluncur.

“Kartu membernya, Nona,” ujar seorang pria bertubuh tegap yang menghalang Rindu ketika ingin memasuki tempat itu, sesampainya di sana.

Rindu mematung sejenak.

“Baru ya?” tanya pria itu.

Rindu pun mengangguk. “Iya.”

“Kalau begitu registrasi dulu. Di sana!” pria bertubuh tinggi dengan otot di sana sini disertai wajah yang garang menunjuk ke sebuah tempat di sebelah kanan pintu masuk.

Rindu melihat gelagat aneh dari penjaga pintu masuk itu. terlihat prai itu berbisik pada temannya dan tersenyum menyeringai. Entah apa yang sedang mereka bicarakan dan rencanakan, membuat dada Rindu berdegup kencang. Sungguh, seumur hidupnya, baru kali ini ia memasuki klub malam.

“Okeh, terima kasih.” Rindu mengangguk patuh dan keluar dari antrian.

Namun, sebelum kakinya keluar dari antrian, tiba – tiba seseorang menahan lengannya.

“Wanita ini bersamaku.”

Rindu langsung menoleh ke belakang, ke sumber suara bariton yang sangat ia kenali.

“Pak Rayen!”

Rayen tersenyum. Lengannya masih setia menggandeng lengan Rindu.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!