Hana seorang gadis cantik yang periang, humoris dan berbuat jahil adalah salah satu hobinya. Tapi itu semua dia lakukan hanya pada orang orang yang sudah Hana anggap dekat dengannya. Hana gadis yang suka menolong, tapi itu dia lakukan secara diam diam, tidak suka pamer pada orang lain. Hana paling senang dengan tantangan, dia menganggap segala sesuatu tanpa ada tantangan rasanya hambar, layaknya makanan hambar.
Meskipun Hana gadis cantik, dia sama sekali belum pernah berpacaran hingga dia duduk di bangku kuliah. Dia menganggap berpacaran itu hanya menyia nyiakan waktunya. Tidak pernah mau menaruh hati pada laki laki, tetapi bukan berarti tidak ada laki laki yang menaruh hati padanya. Hanya saja mereka semua tidak ada yang berhasil merebut hati gadis itu.
Tapi siapa sangka, seorang gadis yang dianggap sudah mati rasa ternyata menyukai seorang pengusaha muda yang tinggal di luar negeri. Entah sejak kapan gadis itu menjadi pengagum laki laki tampan itu. Hana hanya kebetulan saja melihat wajah pria itu di beranda media sosialnya. Ada rasa ingin mengenal pria itu lebih banyak lagi, ada juga rasa ingin bertemu langsung dengan laki laki tampan itu.
Hingga takdir mempertemukan mereka, laki laki yang Hana kagumi ada di depan mata. Tapi Hana tidak terlihat bahagia pada pertemuan itu. Hana justru terlihat dingin, dan bersikap seolah olah tidak mengenal pria itu. Entah apa yang membuat gadis itu tidak menggambarkan rasa bahagia di wajahnya. Padahal seharusnya dia akan melompat kegirangan karena bertemu orang yang begitu dia kagumi, layaknya seorang fans jika bertemu dengan idolanya akan melompat kegirangan
"Apa dia tidak mengenalku?? padahal aku pengusaha terkenal yang wajahnya sudah tersebar dimana mana? Apa dia orang kuno??" heran pria itu dalam hati sambil memberi tanda tangan dan berswafoto bersama orang orang yang berdesak desakan ingin bertemu dengannya.
"Narsis!!!" batin Hana sambil berlalu meninggalkan kerumunan itu dengan sekotak kue di tangannya.
Kehidupan Hana juga mulai berubah drastis sejak dia magang di perusahaan luar negeri yang membuka cabang di negaranya. Kebahagiaan dan masalah datang secara bergantian; baik itu dari pekerjaan, teman, pasangan dan keluarga. Hal itu membuat Hana semakin dewasa. Seperti apakah kisah Hana si gadis aneh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yafsil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RATU JALANAN
"Hana!!! Bangun!!" suara dari balik pintu kamar Hana, tidak lupa dengan gedoran pintu yang keras. Siapa lagi nika bukan Safira, ibu Hana.
"Sebentar ma! 5 menit lagi!" jawab Hana santai, belum mau meninggalkan kasur tercintanya. Kasur itu masih menghipnotisnya di alam mimpi.
"TASYA HANA SUNITRA!!" teriak Safira tidak mau membiarkan putrinya tertidur lagi. "Awas jika mama mendapat SP dari kampusmu karena kamu terlambat!!" mengancam Han agar Hana terbangun dari tidurnya.
"Haisshhh!!! kenapa dia muncul lagi sih? pria menyebalkan itu mengganggu waktuku bersama BTS!! Awas saja jika ketemu lagi, gue tumpahin lagi jus durian di kepalanya. Enak aja bilang makanan kesukaan gue bau busuk!" kesal Hana yang sudah dalam posisi duduk.
"TASYA HANA SUNITRA!! 10 menit lagi kau tidak turun ke ruang makan, ibu akan ulangi hukuman yang sama seperti sebelumnya!" ancam Safira dan berlalu meninggalkan pintu kamar Hana.
"Gawat!! Mama memang atasan Hercules, dia berhasil membuat Hercules ketakutan!" gumam Hana dan segera beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi. Hana tidak menghabiskan mandinya selama 5 menit, bisa dikatakan Hana mandi hanya 4 menit kurang. Hana keluar kamar mandi dan segera mengenakan pakaiannya dan berlari ke cermin.
Memberikan sedikit polesan di wajahnya, tidak lupa mengoles pelembab bibir dan mengkucir rambutnya. Hana berlari ke arah meja belajar, menyambar tas dan kaos kaki yang dia letakkan di meja tadi malam. Hana berlari keluar kamar menuju meja makan, semua orang sudah menunggunya.
"Sorry mom, dad!" kata Hana santai seakan akan tidak ada kesalahan besar yang dia buat. Hana duduk di seberang Remon yang sudah menatapnya dengan ekspresi heran. Remon memang selalu keheranan dengan sifat adik perempuannya.
"Sudah berkumpul semua kan? Hana! Kau pimpin doa makan!" suruh Lexon ingin memberi putrinya itu kesadaran.
"Hah?? kok Hana sih? kan kemarin udah Hana, sekarang giliran kak Remon dong!" Jawab Hana tidak terima dengan perintah ayah.
"Tiket konser?" balas Lexon memberi ancaman dengan lembut.
"Iya iya!" jawab Hana dan segera memimpin doa.
"Selamat makan!!" teriak Hana setelah memimpin doa, itu sukses membuat semua orang di meja makan menatapnya tajam. Hana hanya terkekeh dan melanjutkan makannya.
Selesai makan, Hana menyalam tangan kedua orang tuanya. Hana mendekati Remon seakan akan ingin memeluk saudaranya itu. Nyatanya salah, Hana membisikkan sesuatu. "Kak, pinjam motor ya! Nanti aku titipkan salam sama Melani!" bisik Hana dan segera meninggalkan ruang makan, dia berbalik sebentar dan mengedipkan matanya sebelah ke arah orang yang dia sayangi.
"Entah meniru siapa putrimu itu? Apa mungkin ucapan si pria blasteran nyata ya pah? Ibu tidak bisa bayangkan jika itu nyata dan jodohnya putra si pria blasteran" kata Safira mengingat cerita suaminya. Safira sangat heran dengan sifat putrinya, dirinya dan suaminya tidak memiliki sifat aneh seperti Hana.
"Bisa jadi mah! Hahahahahaha..... kasihan putra si pria blasteran! Pasti kewalahan dengan sifat putri kita!" jawab Lexon tertawa membayangkan. Dia semakin rindu dengan sahabatnya itu, pria yang menjadi saingannya di kampus. Mulai dari saingan kepintaran dan juga saingan ketampanan.
"Apa papa gak pernah dapat kabar? Mungkin saja mereka juga mencarimu pa!" tanya Remon yang juga penasaran dengan pria blasteran yang selalu ayahnya ceritakan. "Gue juga penasaran sama putra paman blasteran? Apa dia lebih tampan dariku? Atau kami justru jadi saingan karena tampan? Tapi kurasa aku yang lebih tampan!" bangga Remon sambil tersenyum membayangkan dirinya yang tertampan di negaranya.
"Pede bangat ya putra mama! Nanti kalah saing, mau ditaro dimana itu muka? di kolong meja?" olok Safira dan segera meninggalkan meja makan mengikuti suaminya. Safira harus membantu suaminya bersiap berangkat ke perusahaan.
"Remon! Jangan terlalu lama melamun! Masa iya atasan lebih dulu tiba daripada bawahan? Ayah sudah mau berangkat ini!" teriak Safira yang tidak juga melihat Remon beranjak dari ruang makan.
"Enak aja! Papa kan di bawa supir, aku bawa mobil sendiri! Yang pasti aku akan tiba duluan! uek!" ejek Remon dan segera memakai sepatunya. Bergerak menuju garasi dan mengeluarkan BMW hitamnya.
"Aduh pah! Mama heran deh, kenapa kedua anakmu semuanya aneh? Tapi tetap aja lebih aneh putrimu!" kata Safira sembari geleng kepala. Dia menyerahkan tas kerja suaminya dan merapikan jas suaminya. Dia mengantarkan suaminya ke garasi dan melihat mobil Remon yang sudah tidak terlihat.
Di tempat lain, di jalanan menuju kampus, Hana berpapasan dengan Remon. Remon heran kenapa dia bisa bertemu Hana, tidak biasanya Hana lambat. Tin......... klakson panjang Remon sukses membuat Hana kesal. Dia melirik ke mobil di samping dan semakin kesal dengan siapa yang dimobil.
"Dasar kakak tidak berakhlak!" teriak Hana dan menancap gas motor. Dia mengacungkan jari jempol kebawah, menantang Remon. Remon hanya terkekeh dan mencoba mengejar Hana. Untung jalanan tidak terlalu padat karena ini masih terlalu pagi.
"Beruntung dia naik motor! coba kalau aku juga naik motor, loh gak akan menjadi ratu jalanan!" kata Remon berbicara sendiri karena sudah kehilangan jejak Hana.
Hana menancap gas motor dengan kecepatan tinggi. Dia menyalip setiap mobil dan motor di depannya. Tapi sialnya, Hana salah menyalip motor. Motor yang dia salip adalah geng motor yang tidak senang dengan kekalahan. Kedua motor itu saling kejar-kejaran. Awalnya Hana mengira motor itu tidak mengejarnya, tetapi setelah sekian lama Hana memperhatikan spion, motor itu masih membuntutinya.
"Ternyata dia mengejarku! Sial!!" umpat Hana dan segera menambah kecepatan motor. Hana semakin gila di jalanan, dia sudah menjadi ratu jalanan yang tidak bisa di kendalikan.
"Sial!!! Brengs*k!!" umpat Hana lagi yang sadar jumlah motor yang mengejarnya bertambah jadi 3. Hana semakin di pepet kiri dan kanan. Hana akhirnya memutuskan untuk berhenti, jika dia semakin menambah kecepatan, itu sia sia. Hana sadar lawannya sekarang adalah anak geng motor. Mungkin Hana harus berbicara baik bahwa dia tidak bermaksud menyinggung anak geng motor.
Hana menepikan motor dan diikuti 3 motor lainnya. Hana membuka helmetnya dan sukses membuat 3 orang anak motor terkejut. Mereka tidak tahu bahwa lawan mereka wanita. Tapi ini kesempatan bagus, Hana dianggap gadis cantik.
"Wahh ternyata gadis cantik! Hai cantik, kenapa terburu buru? Hati hati dijalanan, gadis cantik dan terjatuh jadi monster loh!" ejek salah satu geng motor sambil mendekati Hana.
"Sorry kak! Aku gak ada rencana menyinggung kalian, aku buru buru ke kampus! Ini udah telat!" jawab Hana lembut, tidak lupa memasang wajah imutnya. Berharap itu sukses membuat ke 3 pria itu membiarkannya pergi.
"Gampang! Aku anterin mau? Gadis cantik gak boleh balapan!" menggoda Hana dan ingin memegang bahu Hana. Hana langsung cepat menghindar.
"Bangs*t! Gak bisa main kelembutan ini! gumam Hana dan langsung menatap tajam 3 pria di depannya.
"Iyah! Cewek cantiknya marah!" ledek anak geng motor.
Tiga pria itu semakin menjadi jadi, Hana seketika marah dan melayangkan tinju ke pria yang mencoba memegang bahunya. Pria itu tersungkur ke jalanan. Dua pria yang lain terkejut dan menyerang balik Hana. Kini jalanan sudah menjadi tempat adu tinju. "Sudah kubilang gue terlambat brengs*k!!!" teriak Hana kesal. Dia tidak memberi ampun.
Untung sebuah mobil mewah berhenti dan melerai pertengkaran. Jika mobil itu tidak berhenti, mungkin Hana sudah tiba di kantor polisi. Tiga pria motor sudah pergi meninggalkan Hana yang masih marah. Hana terduduk dan menangis, membuat pria yang melerai salah tingkah.
kalo kelakuan absurd memang begitu