Untuk lebih mengena lebih baik baca dulu PROGRAMMER SOLEHAH
ini season keduanya menceritakan kehidupan anak - anaknya.
Ammar Putra Ibrahim Al Malik jatuh cinta dengan seorang gadis yang mahir coding Annisa Rahma Wijaya.
Tetapi Cinta Mereka masih sama - sama tertahan dikarenakan Annisa mengetahui jika sahabatnya juga menaruh hati kepada Ammar.
Belum lagi Ammar harus melanjutkan studi S2 nya di luar negeri seperti permintaan Papinya untuk meneruskan perusahaan keluarga Mereka..
Akankah Mereka bersatu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aeni Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wisuda
Ammar sedang berkaca di depan cermin, Dia sudah mengenakan kemeja putih polos lengan panjang yang dipadukan dengan celana hitam polos menggunakan dasi dan juga jas.
Ada raut kegembiraan di wajahnya namun juga terbesit kesedihan yang mendalam. Hari ini dia akan di wisuda dan hari ini pula Ammar harus melanjutkan studinya dan meninggalkan seluruh keluarga serta kekasih hatinya.
Ammar berjalan keluar menuju ruang makan untuk sarapan bersama Mami, Papi dan juga Adik tercantiknya Ameera.
"Abang, ayo duduk sarapan."
Mami sedang melayani Papi rasanya tak kuasa menetap putranya.
"Iya Mi.."
"Anak Papi gagah sekali, udah pantas ke kantor memimpin perusahaan."
Ammar tersenyum dan duduk di samping Adiknya.
"Sudah makan dulu ya."
Mami Syakila sudah nampak cantik sekali mengenakan setelan kebaya yang sangat serasi dengan Papi juga Adiknya.
Ammar menatap Maminya yang nampak sendu menghiasi wajahnya, namun Dia urungkan untuk berbicara takut merusak suasana pagi itu.
Selesai sarapan Ammar mendekati Maminya yang sedang membereskan peralatan makan milik Papi Ibra dan mendekapnya dari belakang.
"Mi... maafin Ammar ya Mi.."
Mami Syakila tak bisa lagi menahan tangisnya, air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya yang mulus padahal sudah bermake-up juga.
Papi Ibra dan Ameera hanya memandang Mereka, membiarkan Mereka berdua saling berpelukan mungkin ada kata yang tak bisa diucapkan tetapi hanya air mata yang bisa bicara.
Mami Syakila memeluk putra kesayangannya, mengusap punggung putranya dengan penuh sayang.
"Mami.. Ammar sayang Mami."
Ammar ikut mengeluarkan air matanya.
"Putra kebanggaan Mami sudah besar sekarang, tak terasa Kamu sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa rasanya baru kemarin Mami melahirkan Mu. Kini Kamu sudah menjadi seorang sarjana dan harus melanjutkan studi lagi S2 kamu. Doa Mami selalu menyertai kamu Sayang."
Ammar mencium kening Maminya dan menghapus air mata yang membasahi pipi Maminya.
"Doakan selalu Ammar ya Mi."
"Pasti Sayang."
"Sudah yuk Mi, nanti terlambat Abang." Papi memeluk Istrinya.
"Abang, semangat... Ini kan hari bahagia untuk Abang." Ameera memberi semangat kepada Abangnya.
Ammar merangkul adiknya berjalan keluar, "Si kecil udah besar juga."
"Hisss.. udah dewasa ini bukan anak kecil lagi." Ameera memeluk pinggang Abangnya.
Kali ini Papi Ibra sengaja meminta Pak Anton untuk mengantarkan mereka sampai ke kampus Ammar, tak ingin membuat anaknya yang sedang berbahagia untuk menyetir diri.
Mobil melaju ke kampus menembus lalu lintas pagi itu yang lumayan sudah padat dengan aktivitas orang-orang yang berangkat bekerja.
Sesampainya di kampus Ammar telah di sambut sahabat-sahabat mereka yang sengaja hari itu datang semua bersama orang tua mereka.
Ammar terlihat sedang mencari seseorang yang dia tunggu, siapa lagi kalau bukan Annisa.
"Nyari calon istri ya.." celetuk Rendi.
"Belum datang ya Nisa."
"Nanti juga datang Bang.." Ameera.
Tak lama muncul seorang gadis yang datang bersama dengan kedua orang tuanya.
"Ciyee....siapa itu.." celetuk sahabat - sahabat Ammar saat melihat kedatangan Annisa.
Annisa tambah cantik sekali mengenakan gamis yang dipadukan dengan jilbab yang diberikan oleh Ammar.
"Assalamualaikum Abang."
"Waalaikumsalam Sayang, makasih udah datang."
Annisa tersenyum manis dan terlihat malu - malu.
"Ma, Pa. Terima kasih sudah meluangkan waktunya." Ammar mencium tangan Mama dan Papa calon mertuanya.
"Iya, selamat ya Ammar."
"Makasih Ma, Pa."
Kemudian terdengar panggilan untuk seluruh wisudawan dan wisudawati memasuki ruangan upacara.
Ammar masuk ke sana bersama kedua orangtuanya dan juga adiknya sedangkan yang lain sudah disediakan ruangan khusus bagi anggota keluarga yang mengikutinya dan bisa menyaksikan acara itu.
Acara berlangsung hampir 3 jam, Ammar menjadi mahasiswa yang berprestasi berhasil meraih nilai cumlaude. Papi dan Maminya sangat banyak sekali dengan prestasi yang diraih oleh Ammar.
Ammar kini sedang berfoto bersama semua teman-teman satu angkatannya. Di sana nampak Gina yang selalu mencoba mendekat kepada Ammar.
"Abang dekat banget sama cewek itu."
Annisa yang mendekati ke arah Ammar bersama para sahabatnya melihat Gina yang berusaha mendekati Ammar merasa cemburu walaupun Ammar terlihat menghindarinya.
"Abang.." Ameera merasa tak tahan lagi melihat Gina yang mencoba mendekati Abangnya.
Ammar menoleh ke arah Ameera dan melihat Annisa, yang tersenyum padanya.
"Selamat Bang." Annisa memberikan sebuah boneka wisuda untuk calon suaminya.
"Makasih Sayang.."
Ammar tersenyum manis kepada Annisa.
"Ciyee... Sayang... Siapa kenalin Bro." kata teman Ammar.
"Oh Iya, ini calon istri Ku. Annisa ini teman - teman Abang."
Ammar bangga memperkenalkan Annisa kepada teman - temannya, tentu saja Gina yang memandang tak suka.
"Apa Ammar, calon istri, nggak salah kamu." Gina memasang muka merah padam menahan amarahnya.
"Iya Gina, ini Annisa calon istri Ku."
"Terus Kamu anggap apa Aku, selama ini kita dekat." Gina sudah kehilangan akal sehatnya hingga memalukan dirinya sendiri.
"Maaf Gina kita teman selama ini, aku nggak pernah menganggap Kamu lebih."
"Huuuuuu... jadi cewek jangan kepedean Mbak." celetuk Riri membuat Gina melotot ke arahnya.
"Nggak usah ikut campur Kamu." bentak Gina.
"Aku harus ikut campur Mbak, karena Mbak cantik yang terhormat sudah mengganggu Abang saya dan calon istrinya." Riri berani.
"Dasar anak kecil ya Kamu." Gina mau menjambak jilbab Riri tapi di cegah teman - temannya.
"Sudah Ri, ayo semua kita pergi saja."
Ammar mengajak semuanya untuk meninggalkan lokasi daripada terjadi keributan.
"Ayo Sayang, kita temui orang tua kita saja." Ammar mengajak Annisa dengan memberikan tangannya. Tapi Annisa meraih jas Ammar dan berjalan di sampingnya.
"Maaf ya Bang."
"Nggak papa Sayang."
Mereka berjalan beriringan menuju ke tempat orang tua Mereka.
"Abang kenapa kita pergi, aku bisa jambak - jambak itu cewek." Riri masih emosi saja.
"Udah Ri malu kalau kamu bertengkar di sana."
"Udah Ri, orang kayak gitu nggak usah di ladenin." Ameera merangkul pundak Riri.
"Emosi aku Ra..."
"Aku juga emosi, tapi ya sudah lah masa di acara Bang Ammar malah kita ribut. Mending kita makan bareng, senang - senang nanti sore Bang Ammar berangkat lho."
"Iya Ra."
Mereka menemui orang tua dan kemudian Papi Ibra mengajak Mereka semua makan siang bersama ke sebuah restoran yang telah dipesannya.
Annisa nampak sedih di dalam mobil karena nanti sore Ammar akan terbang dan akan bertemu nanti jika ada waktu libur.
"Kenapa Sayang."
Mama Ana memperhatikan putrinya murung.
"Nggak papa Ma."
"Doakan Ammar Sayang, kamu jangan sedih di depan Dia, nanti malah bikin Ammar berat hati mau pergi."
"Iya Ma."
"Bismillah ya Bang, semua akan baik - baik saja sampai kita bertemu lagi dan di pertemukan dalam keadaan bahagia." Doa Annisa
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Masih mau lanjut