Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 – Petualang yang Ditolak?
Suasana di dalam Guild Petualang perlahan kembali tenang, namun udara masih terasa berat. Para petualang kembali berbisik-bisik, tapi mata mereka tak sekalipun beranjak dari arah Haruto—dan slime biru kecil yang kini duduk santai di bahunya, sesekali memutar matanya yang bulat seolah tak paham mengapa dirinya menjadi pusat perhatian.
"Pyoo..."
Haruto mengusap tubuh kenyal temannya itu dengan jari telunjuk. "Hebat juga ya... siapa sangka kau lebih terkenal daripada pemilikmu sendiri."
Pochi memiringkan kepala. "Pyoo?"
Daichi tertawa kecil, namun matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam. "Kalau mereka tahu kemampuan asli slime itu, mungkin bukan hanya aula ini yang gempar—seluruh benua akan bergejolak."
Haruto hanya terkekeh kaku, merasakan ada hal yang sengaja tidak diucapkan pria itu.
Belum sempat ia bertanya, suara Elena terdengar memecah keramaian. "Haruto, ikutlah denganku. Ada yang ingin kukenalkan."
"Baik!"
Mereka berjalan menuju meja pendaftaran di sudut paling dalam aula—tempat yang jarang dikunjungi pemula, dengan ukiran lambang Guild yang terlihat jauh lebih tua dan megah daripada yang lain. Di sana duduk seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun, rambutnya memutih di pelipis, wajahnya berkerut penuh pengalaman, namun sorot matanya menembus lurus ke dalam jiwa siapa pun yang berhadapan dengannya.
Di atas meja kayu gelap itu tertulis tulisan emas yang samar: Pengawas Utama Pendaftaran Petualang.
Pria itu membuka buku setebal lengan orang dewasa yang tertutup kulit naga. "Nama lengkap."
"Haruto Kazehara."
"Asal usul."
Haruto terdiam. Jika ia mengaku dari Jepang... apakah mereka akan percaya? Atau malah menganggapnya pembohong?
"Eh... tidak diketahui," jawabnya pelan.
Pengawas itu mengangguk pelan, seolah jawaban itu tidak sama sekali mengejutkan baginya. "Usia?"
"Enam belas tahun."
Pria itu kemudian mengambil kristal bening yang memancarkan cahaya samar, lalu meletakkannya di atas meja. Saat cahaya kristal menyentuh Haruto, warna di dalamnya perlahan berubah—menjadi biru tua yang berputar deras, seolah samudra yang tak pernah tenang.
Alis pengawas terangkat tinggi. "Sihir Air..." Ia berhenti sejenak, menatap kristal itu tak percaya. "Dan cadangan mananya... sungguh tak masuk akal. Seperti jurang yang tak berdasar."
Wajah Haruto langsung berseri-seri. "Berarti saya bisa langsung mendaftar, kan? Bisa langsung mengambil misi?"
Pochi pun ikut bangkit dari bahunya, mengangkat tubuh kecilnya. "Pyoo!"
Pengawas menutup buku besar itu perlahan. Wajahnya kembali serius. "Sayangnya... belum bisa."
Senyum Haruto membeku seketika. "...Hah?"
"Nak," ujar pria itu dengan nada rendah namun tegas. "Menjadi petualang bukan sekadar memiliki banyak mana atau elemen langka. Yang terpenting adalah mampu mengendalikannya—sehingga kau tidak mencelakai dirimu sendiri, atau rekanmu."
Haruto menggaruk pipinya yang terasa panas. "Kalau sedikit saja... mungkin bisa?"
"Bisakah kau memanggil setetes air menggunakan sihirmu sekarang?"
Haruto terdiam.
"Belum."
"Mengumpulkan mana di ujung jari?"
"...Belum juga."
"Atau sekadar merasakan aliran mana di dalam tubuhmu?"
Kali ini Haruto hanya bisa menunduk.
Pengawas tersenyum tipis, namun tak ada jejak ejekan di wajahnya. "Itulah jawabannya."
Haruto menjatuhkan bahunya. Jadi... benar saja, ia ditolak.
Namun pria itu segera menunjuk kristal yang masih berwarna biru pekat. "Elemen Air adalah salah satu elemen paling sulit dipelajari. Banyak penyihir menghabiskan puluhan tahun hanya untuk memahami alirannya. Jika kau dipaksakan pergi ke lapangan sekarang... nyawamu bisa hilang dalam sekejap, bahkan sebelum kau sempat menyadari bahayanya."
Daichi yang berdiri di samping mengangguk setuju. "Dia benar. Petualang peringkat pemula saja minimal sudah mampu melemparkan satu peluru air atau membentuk perisai sederhana."
Haruto menghela napas panjang. "Jadi... saya ditolak?"
"Bukan ditolak," potong pengawas cepat. "Kau hanya belum siap. Dan itu jauh lebih baik daripada diterima namun berakhir sebagai mayat di hutan pinggiran kota."
Ia lalu mengambil selembar kartu kayu berukir rumit, yang terasa hangat saat menyentuh tangan Haruto. "Kami akan menyimpan data pemeriksaanmu secara khusus. Saat kau sudah mampu berdiri tegak di atas aliran manamu sendiri... datanglah kembali. Aku sendiri yang akan memproses pendaftaranmu—dan mungkin, saat itu kau bukan sekadar petualang biasa."
Haruto menerima kartu itu dengan kedua tangan, namun hatinya terasa berat. Sejak terbangun di dunia ini, ia sudah membayangkan dirinya melawan monster, menyelamatkan orang, dan menjadi petualang hebat. Namun kenyataannya... ia bahkan belum bisa membuat setetes air pun.
Pochi seolah merasakan kesedihan itu. Ia menatap wajah Haruto sebentar, lalu memantul tinggi-tinggi ke arah kepalanya.
Pluk!
Dalam sekejap, slime biru itu berubah wujud menjadi topi berbentuk aneh yang menutupi sebagian rambut Haruto.
Beberapa petualang yang memperhatikan tak tahan tertawa. "Hahaha! Lihat itu, slime itu sedang menghiburnya!"
Haruto terkejut. "Pochi!"
Belum selesai ia bicara, tubuh slime itu berubah lagi—menjadi rambut biru yang berdiri tegak setinggi jengkal, melengkung ke segala arah seperti ombak yang membeku.
Seluruh aula pecah oleh gelak tawa.
"Wah, gaya rambut unik sekali!"
"Cocok sekali jadi badut guild!"
Haruto segera melirik pantulan pada bilah pedang besar milik petualang di sebelahnya. Wajahnya memerah padam. "Apa-apaan ini?!"
Ia berusaha menarik Pochi dari kepalanya, tapi slime itu justru semakin memanjang, menjulur tinggi ke langit-langit aula.
"Pyoo! Pyoo!"
"Jangan ditambah lagi, nanti pengawas marah!"
Bahkan pengawas yang sedari tadi bersikap kaku dan serius akhirnya menutup mulutnya untuk menyembunyikan tawa. Daichi sampai memegang perutnya sambil terbatuk-batuk menahan gelak.
"Haruto... aku sudah berkelana puluhan tahun, tapi baru kali ini melihat orang yang memakai slime sebagai aksesori rambut."
Akhirnya dengan susah payah Haruto berhasil memisahkan Pochi dari kepalanya. Slime itu kembali ke bentuk bulat semula, memantul-pantul di telapak tangan Haruto sambil memancarkan getaran gembira.
Haruto menghela napas panjang, lalu perlahan senyum tipis muncul di wajahnya. Ia tak bisa lagi merasa sedih melihat tingkah konyol temannya itu. "Dasar kau ya... bagaimana aku bisa terus murung kalau kau begini?"
Ia menunduk dalam kepada pengawas. "Terima kasih atas nasihat dan kesempatannya. Saya akan belajar sekuat tenaga."
Pengawas mengangguk puas, matanya berbinar seolah melihat sesuatu yang berharga. "Itulah semangat yang dicari seorang petualang. Ingatlah—pintu ini tidak tertutup selamanya. Hanya saja... ada hal yang harus kau ketahui sebelum kau kembali ke sini nanti."
Pria itu berhenti sejenak, menatap lurus ke mata Haruto.
"Kekuatan sihir airmu... bukan sekadar langka. Ia adalah sesuatu yang sudah lama hilang dari dunia ini."
Perkataan itu menggantung di udara, membuat bulu kuduk Haruto tiba-tiba meremang.
Daichi segera menepuk bahunya, memecah keheningan. "Sudahlah, urusan itu nanti dipikirkan. Mulai besok aku akan membawamu ke seseorang."
"Seseorang?" tanya Haruto, masih terbayang kata-kata pengawas tadi.
"Ya. Seorang penyihir air legendaris yang pernah menjadi rekan seperjalananku. Kalau ada orang yang bisa mengajarimu mengendalikan kekuatanmu yang liar itu... dialah satu-satunya orang yang tersisa." Daichi tersenyum, namun ada kilatan misterius di matanya. "Tapi berhati-hatilah. Orang itu tidak pernah menerima murid. Dan cara mengajarnya... katakanlah, cukup ekstrem."
Mata Haruto kembali berbinar, rasa penasaran dan semangat melenyapkan sisa kesedihannya. "Benarkah? Kapan kita berangkat?"
"Besok pagi-pagi sekali. Tempat tinggalnya jauh di pegunungan yang diselimuti kabut abadi." Daichi menatapnya tajam. "Sekali kau melangkah ke sana, tidak ada jalan mundur. Apakah kau siap?"
Haruto mengepalkan tangannya erat-erat, merasakan denyut mananya bergetar hebat di dalam dada—seolah menantikan petualangan yang sesungguhnya. Ia menatap kartu kayu di tangannya, lalu pada Pochi yang kini duduk tenang di telapak tangannya.
"Siap," jawabnya mantap.