Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Salah Server di Lapak Penguasa Kantin
"Buset, nama lo cantik banget, persis kayak orangnya tanpa pori-pori begini! Skincare lo apa sih? Air wudu?" puji Sindy tulus dengan mata berbinar-binar kagum menatap kulit Alin yang seputih porselen.
Alin seketika tersipu, kedua pipinya merona merah muda tipis. "Ih, enggak kok. Aku nggak cantik, aku biasa aja, remah-remah rempeyek warung. Justru kamu yang kelihatan lebih modis dan cantik."
"Hmm, oke! Gue akuin, gue emang cantik dari lahir. Mata lo emang nggak salah lihat, Lin. Kejujuran lo gue hargai," sahut Sindy penuh percaya diri tingkat dewa sembari mengibaskan rambut kuncir kudanya ke udara.
"Kalau gitu, berhubung kita sudah saling mengakui kecantikan masing-masing, lo mau kan ikut bareng gue serbu kantin? Kebetulan gue belum punya temen makan nih, males kalau harus mojok sendirian kayak jones."
"Oke, ayok!" jawab Alin ramah.
"Kantin Garuda, sini aku datang!" seru Sindy penuh semangat juang.
Tanpa permisi, ia langsung menggandeng erat tangan Alin dan menariknya paksa keluar kelas, membelah keramaian koridor menuju pusat kuliner sekolah.
Suasana kantin SMA Garuda siang itu benar-benar padat merayap seperti pasar tumpah. Suara riuh obrolan gosip dan tawa menggelegar memenuhi ruangan yang mulai pengap oleh aroma uap bakso urat dan minyak gorengan.
Setelah mengantre dengan perjuangan sikut-menyikut yang melelahkan, Alin akhirnya berhasil membeli satu mangkuk soto ayam dan satu kotak susu rasa stroberi kesukaannya.
Masalahnya, sekarang Alin dan Sindy berdiri kebingungan di tengah lorong kantin sambil memegangi nampan. Hampir seluruh kursi dan meja kayu di sana telah terisi penuh oleh pantat para siswa senior kelas 11 dan 12. Hanya tersisa satu meja kosong di sudut paling pojok belakang yang tampak sangat terpencil dan dekat dengan tempat pembuangan sampah.
"Lin, ayok kita ke sana! Gue udah nemuin tempat kosong ber-AC alami alias angin jendela!" Sindy menunjuk ke sudut ruangan dengan heboh.
"Di mana? Orang penuh semua tempat duduknya, Sindy. Gimana kalau kita bungkus terus makan di kelas aja? Aku agak risi dilihatin kakak kelas terus," tawar Alin yang merasa aura kantin ini terlalu mengintimidasi dirinya sebagai anak baru kelas 10.
Sindy langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat seirama kuncir kudanya. "Tuh, di pojok dekat tong sampah masih kosong melompong, Lin. Cacing di perut gue udah demo anarkis minta diisi bensin, Lin. Waktu istirahat cuma sebentar. Kelamaan kalau kita harus jalan balik ke kelas yang jauhnya kayak antar-provinsi itu. Ayoklah!"
"Ya sudah deh, ayok." Alin pasrah.
Alin dan Sindy pun duduk di kursi pojok dan mulai menikmati makanan mereka. Namun, sepanjang mengunyah sotonya, Alin tampak sama sekali tidak fokus. Berkali-kali sepasang mata bulatnya mencuri pandang ke arah sebuah meja besar yang terletak strategis di area tengah kantin—meja eksklusif yang tampak paling bersih dan dikelilingi oleh cowok-cowok perlente penguasa kelas 12.
"Lihatin siapa sih lo? Dari tadi gue perhatiin, mata lo melirik ke arah kakak kelas hits yang di meja tengah terus," goda Sindy sambil menyenggol pelan lengan Alin menggunakan sendoknya.
"Jangan bilang lo langsung naksir salah satu dari penguasa sekolah itu? Spek lo tinggi juga ya baru hari pertama jadi anak kelas 10."
Alin menggelengkan kepalanya dengan cepat, wajah cantiknya mendadak berubah serius. "Enggak, bukan naksir, Sindy. Sebenarnya... aku mau kasih susu kotak stroberi ini sama cowok yang di sana itu—tuh, yang lagi sibuk menunduk lihat HP sambil masang muka ditekuk. Aku nggak ada maksud genit atau apa, cuma mau ngucapin terima kasih secara formal karena dia udah berbaik hati kasih aku tumpangan gratis tadi pagi pakai Rolls-Royce saat bus aku pecah ban. Kalau nggak ada dia, mungkin sekarang aku udah dijemur di lapangan karena telat."
Sindy yang saat itu sedang mengunyah baksonya langsung tersedak hebat hingga kuahnya keluar dari hidung.
Uhuk! Uhuk!
Matanya membulat ngeri menatap Alin seolah-olah Alin baru saja mengaku sebagai buronan internasional.
"Maksud lo... Kakak kelas 12 yang paling ganteng tapi auranya kayak iblis pencabut nyawa itu?!" bisik Sindy dengan nada bergetar ngeri menunjuk ke arah meja tengah. "Gue kasih tahu ya, Alin sayang, sebaiknya lo jangan pernah cari mati dengan ngedeketin dia kalau mau selamat sampai lulus! Lebih baik lo dihukum jemur daripada punya urusan sama dia!"
"Lho, emangnya kenapa? Dia orangnya baik, sopan, dan teduh banget kok tadi pagi. Bukannya marah karena aku tuduh penguntit, dia malah senyum manis banget panggil aku 'kamu' dan ngajakin aku berangkat bareng naik Rolls-Royce putih mutiaranya," bela Alin mengingat kebaikan "Rayi" tadi pagi.
Sindy menepuk jidatnya sendiri dengan frustrasi. "Aduh, Alin! Lo salah lihat orang atau mata lo korslet?! Dia itu berandalan sekolah kita! Guru-guru di SMA Garuda aja nggak ada yang berani negur dia karena dia anak dari donatur terbesar yayasan sekolah kita! Mukanya emang ganteng spek anime, tapi kelakuannya galak dan ketus minus di bawah nol!"
Alin tetap pada pendirian teguhnya. "Ah, terserah kamu deh, Sindy. Aku yakin seratus persen nggak bakal salah orang, mukanya kan sangat familier. Udah ya, aku mau kasih susu kotak ini dulu ke dia sebelum bel masuk bunyi."
"Ya sudah! Kalau lo emang nekat nggak mau dengerin omongan gue, gue nggak bakal tanggung jawab kalau besok nama lo tinggal kenangan di mading sekolah!" pungkas Sindy pasrah, melihat temannya yang keras kepala itu berjalan menuju area berbahaya.
"Iya Sindy, tenang aja. Aku bakal baik-baik aja, paling cuma kenalan," ucap Alin sembari berdiri dari kursinya, menggenggam erat susu kotak stroberi dingin, lalu melangkah mantap menghampiri meja sekumpulan pemuda kelas 12 yang menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kantin tersebut.
Sementara itu, di meja tengah yang menjadi "singgasana" kantin, suasana tampak riuh oleh obrolan para senior kelas 12. Reno—yang untungnya mulesnya sudah reda setelah diberi obat dokter kemarin—sedang asyik meminum es teh manisnya.
Tiba-tiba, mata playboy-nya menangkap pergerakan sesosok gadis kelas 10 yang sangat cantik sedang berjalan ke arah mereka. Reno langsung menyikut heboh lengan Adit yang duduk di sebelahnya.
(Catatan pembaca: Adit yang duduk di samping Reno ini adalah ADIT ASLI yang wujud cowoknya sudah kembali normal sejak beberapa hari lalu, karena efek ubi rebus magis Linzy ternyata hanya bertahan sampai jam 00:00 tengah malam! Adit sukses melewati malam horornya di apartemen dan bersyukur 'burungnya' sudah kembali ke sangkar!)
"Kiw kiw! Ada cewek cakep spek bidadari khayangan jalan ke arah kita tuh, Bro. Bening bener anak kelas 10 zaman sekarang!"