Mengisahkan Perjalanan kisah cinta Adel Emanuella Sanjaya anak tunggal dari pasangan suami istri bapak Max Sanjaya dan ibu Jenny Andreas. Kisah ini berawal ketika Adel berkenalan dengan seorang polisi yang identitasnya sengaja di rahasiakan karena tugas negaranya. Di pertemukan lagi ketika Adel sudah menjadi seorang dokter. Saat itu Adel Emanuella Sanjaya baru tahu bahwa Karel Imanuel Barnabas seorang perwira Kepolisian berpangkat Iptu. Apakah cinta mereka bisa bertahan menembus segala cobaan dengan profesi Karel yang adalah seorang intel??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Jesika dan Evelin
"Mas, kamu akan dibawa dalam masalah ini."
"Pasti, harus terbuka kan??"
"Tetapi bagaimana kakakmu mas??"
Semua dilakukan oleh kedua perempuan ini, karena mereka cemburu Karel mencintai Adel. Dan Evelin tersinggung karena Adel menegurnya. Ego seragamnya tinggi. Namun penjelasan dokter Wibowo, membuat Evelin maupun orangtuanya terdiam malu. Di ruangan itu bukan hanya Adel, Karel, Kaleb, dokter Wibowo. Juga ada orangtua Evelin dan orangtua Karel dan Kaleb serta orangtua Jesika mertua Kaleb. Masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan atas mau penyidik.
"Sabar, harus tanyakan korban dia terluka. Kalau dia mau melalui jalur hukum itu haknya."
"Mas... Aku istri kamu."
"Kamu bersalah dan harus di hukum. Jadi berdoa saja apa maunya dokter Adel."
Kaleb sudah keluar ruangan itu. Dia tidak menyangka bahwa masalah yang melibatkan istrinya ini berhubungan dengan adik kandungnya. Apa ini yang menyebabkan Karel sengaja menjauh ke Australia waktu dia menikah. Kaleb langsung pulang ke rumahnya. Namun sebelum dia pulang, dia sudah berpesan kepada mamanya yang mengikuti dia, agar tidak mengijinkan Jesika ke rumah mereka dia mau beristirahat.
"Sayang......." Mamanya langsung memeluk anak pertamanya sangat erat. Mamanya juga syok ternyata Jesika bisa mempermainkan perasaan kedua anak laki - lakinya.
Adel meminta menyelesaikan secara kekeluargaan saja. Keputusan yang bijaksana menurut semua penyidik yang menangani kasus ini. Karena semua orang penting polri ada disini dan terlibat. Urusan secara keluarga selesai. Dokter Wibowo membawa adel pulang. Malam ini dia yang ketakutan minta di bawa ke rumah sakit saja. Dia akan beristirahat di ruang jaga bersama tenaga medis lainnya.
IPTU Evelin Sabara mendapat hukuman penahanan gaji tiga bulan dan tertunda satu kali kenaikan pangkat. Jesika dan Evelin membuat surat pernyatan dan disaksikan oleh semua orang diruangan itu.
"Kamu bisa pulang bersama kedua orangtuamu. Satu dua hari kami keluarga akan kerumah orangtuamu."
"Ma.... Aku mohon maaf." Jesika menangis memohon maaf, namun keluarga Barnabas sudah tidak peduli. Mereka pun pulang ke rumah.
"Dokter Wibowo bagaimana dengan dokter Adel??"
"Tadi dia minta di antarkan ke rumah sakit saja, dia takut sendiri di rumahnya komandan."
"Terima kasih atas bantuannya." papanya Karel menelepon dokter Wibowo untuk mengetahui kondisi Adel.
"Kamu tahu Karel, perempuan yang paling terluka dan trauma adalah Adel. Kenapa kamu tidak jujur dengan masalah yang kamu hadapi kepada mama dan papa??"
"Aku takut kakak kecewa ma, pa."
"Kakakmu pasti akan kecewa. Tetapi tidak dengan cara mengorbankan orang lain. Kasihan Adel."
Karel bersama mama dan papanya sudah sampai di rumah. Betapa leganya mereka waktu melihat mobil Kaleb ada di rumah.
"Kenapa ngak jujur dek??"
"Aku baru tahu, seminggu waktu kakak mau menikah. Kan selama itu aku berdinas di luar kota bahkan luar negeri."
"Berarti perempuan itu pacaran dengan kakak beradik. Itu alasan kamu ke Australia padahal kamu tahu kakak mau menikah??"
"Iya kakak."
"Dasar ular, aku akan bercerai dengan Jesika."
"Papa setuju."
"Mas... Nasib kamu gimana??"
"Aku tidak bisa mempertahankan hubungan toksis ini ma, lihat Adel yang baru masuk dalam hidup ade menjadi korban ulah dia."
"Tetapi bagaimana kamu??"
"Aku tadinya tidak mau sekolah. Karena mau fokus buat mempunyai anak. Namun karena masalah ini, aku harus sekolah."
Keputusan sudah buat. Dua hari kemudian keluarga Barnabas datang mengembalikan semua barang Jesika. Dan memberitahukan tentang proses cerai yang sudah di ajukan. Jesika menangis pun dan memohon saat itu tidak mempengaruhi keputusan keluarga Barnabas terutama Mayor Kaleb Imanuel Barnabas. Orangtua Jesika dan saudara - saudaranya terima semua keputusan ini. Dan mereka menerima kembali anak perempuan mereka. Berarti sudah tidak ada hubungan kekeluargaan.
Oleh pihak rumah sakit IPTU dokter Evelin di pindah tugaskan dari rumah sakit polri ke klinik kesehatan di polres Jakarta Utara.
"Dokter, aman. Mak lampir di IGD mutasi ke poli kesehatan."
"Ooo ya."
Selama seminggu ini, Karel tidak perna datang ke rumah sakit, karena disibukan dengan perampungan kasus teroris yang mau disidangkan. Namun setiap hari dia mengirim bunga dan makanan kepada Adek juga kata - kata cinta. Jujur sebenarnya Karel tidak siap melihat kondisi perempuan yang dia cinta yang mukanya lebam, karena di tinju oleh Evelin, juga pergelangan tangan yang biru bekas diikat tali dengan paksa.
Waktu dilokasi saja. Karel memeluk Adel, air matanya jatuh dadanya turun naik. Dia menangis namun tidak bersuara, dia sangat sulit melihat orang yang dia cintai menangis ataupun terluka.
Adel di jemput oleh papa dan mamanya Karel dan Kaleb di rumah sakit, mereka mengundangnya makan malam bersama disebuh restoran. Sengaja orangtua kakak beradik ini yang menjemput. Karena semenjak kasus itu. Adel tidak mau bertemu dengan Karel. Karena dia takut, terjadi sesuatu kepadanya. Bahkan setiap Adel memilih tinggal di rumah sakit sudah dua minggu ini.
"Maaf ya tante sama om mengajak kamu keluar."
"Terima kasih tante, om. Lumayan sudah dua minggu aku ngak perna keluar rumah sakit."
Papa dan mama Karel dan Kaleb hanya tersenyum. Mereka sadar bahwa karena kasus ini, membuat Adel takut keluar. Sampai di sebuh mall besar di Jakarta, Adel di ajak ke restoran yang ada di lantai empat.
"Adel....."
"Ya tante."
"Hari ini om ulang tahun. Tante mohon maaf, jika sebentar ada anak - anak tante."
"Jika Adel merasa tidak nyaman, om bisa mengusir mereka berdua tidak ikut makan bersama kita."
"Jangan om. Ini kan hari bahagia om. Makan bersama keluarga itu penting. Tetapi kenapa Adel di ajak ya."
"Tante dan om, mau mohon maaf atas apa yang Adel alami akibat ulah kedua anak tante dan om."
Kamu ngak marah kan?? Kalau kamu tidak nyaman om akan menelepon kedua anak om untuk tidak ada di restoran itu."
"Jangan om. Adel aman kok."
Dan benar di ruangan VIP restoran itu sudah ada kakak beradik Kaleb Imanuel Barnabas dan Karel Imanuel Barnabas. Senyuman Karel waktu melihat Adel, itu yang dia rindukan. Adel akui bahwa dia sangat merindukan sosok yang dua minggu tidak Adel lihat. Namun tidak bagi Karel selama dua minggu dia selalu menjaga Adel dalam jarak jauh. Sebagai seorang intel, penyamarannya dan strateginya sukses.
Karel mempersilahkan Adel duduk di kursi yang sudah dia siapkan. Dan dengan gugup Adel duduk disamping kursinya Karel. Karel melihat kegugupan Adel. Dia meraih tangan yang gemetar dibawa meje itu. Begitu disentuh bukan hanya gemetar namun juga dingin. Sebenarnya Karel ingin memeluknya langsung. Namun dia takut di tolak oleh Adel.
Beberapa detik kemudian suhu tubuh Adel normal, itu bisa Karel rasakan. Dan Adel akui lagi, bahwa sosok laki - laki ini sangat berarti bagi dirinya, meskipun ada rasa takut sedikit atas profesinya sebagai intel polisi.