Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Jeritan di Balik Pintu Terkunci
Keesokan paginya, ketika fajar baru saja menyingsing di atas langit Jakarta, kenyataan pahit menghantam kediaman Narendra dengan kekuatan penuh. Tiga buah mobil bak terbuka berlogo perusahaan logistik resmi terparkir di halaman depan mansion mereka. Beberapa pria berbadan tegap dengan seragam hitam tampak sibuk mengangkut barang-barang, sementara seorang kurir hukum berdiri di depan pintu utama dengan dokumen sita di tangannya.
Sheila, yang baru saja terbangun dengan gaun tidur katunnya, berlari ke lantai bawah dengan wajah panik saat mendengar suara gaduh dari arah luar.
"Mas Arka, Bangun Mas. Ada orang-orang jahat di depan." jerit Sheila histeris sembari mengguncang tubuh suaminya yang masih tertidur lelap di sofa ruang tengah akibat depresi berat semalaman.
Arka tersentak bangun, matanya yang merah dan kuyu menatap sekeliling dengan linglung sebelum akhirnya dia mengenali kurir hukum yang melangkah masuk ke dalam rumahnya setelah diizinkan oleh Siska yang juga tampak pucat pasi.
"Selamat pagi, Tuan Arka Narendra," ucap kurir hukum itu dengan nada suara formal yang dingin. "Saya adalah perwakilan hukum dari V-Tech Investment yang saat ini bertindak atas nama pemilik saham mayoritas Narendra Group. Berdasarkan surat keputusan penangguhan jabatan Anda kemarin siang, kami ke sini untuk mengeksekusi penarikan seluruh aset korporat yang selama ini digunakan oleh Anda dan keluarga secara pribadi."
Pria itu menyodorkan selembar kertas manifes panjang bertanda tangan Vira Mahendra.
"Dua unit mobil sedan mewah di garasi, tiga kartu kredit platinum atas nama Nyonya Siska dan Saudari Maya, serta seluruh komputer dan dokumen operasional yang ada di ruang kerja pribadi Anda di rumah ini resmi kami sita per jam delapan pagi ini."
"Nggak. Kalian tidak bisa mengambil mobil-mobil itu, Itu milik kami." teriak Maya yang baru turun dari kamarnya, langsung berlari ke luar untuk menghalangi para petugas yang sedang menaikkan kunci mobil ke dalam kotak penyimpanan. "Kak Arka, lakukan sesuatu. Kenapa kamu diam saja seperti orang bodoh?."
Arka hanya bisa mematung di tempatnya berdiri. Tubuhnya terasa lemas, tidak memiliki tenaga lagi bahkan hanya untuk sekadar berteriak marah. Dia tahu persis, secara hukum, Vira memiliki hak mutlak untuk melakukan ini semua. Seluruh kemewahan yang mereka nikmati selama tiga tahun terakhir ini hanyalah fatamorgana yang dibangun di atas uang korporasi, dan kini sang pemilik asli datang untuk mengambilnya kembali tanpa sisa.
Siska Narendra berjalan mendekati kurir hukum itu dengan napas yang memburu ego keangkuhannya yang terluka. "Kalian sampaikan pada Davira... maksudku bos kalian. Dia boleh saja mengambil barang-barang ini, tapi dia tidak akan pernah bisa menghapus fakta bahwa dia adalah wanita buangan dari rumah ini. Dia hanya pelacur korporat yang bersembunyi di balik modal asing."
Kurir hukum itu tidak menunjukkan reaksi marah sedikit pun atas makian Siska. Dia hanya mengulas senyuman tipis yang sarat akan rasa kasihan. "Nyonya Siska, saya sarankan Anda menjaga ucapan Anda. Karena jika kata-kata barusan sampai ke telinga tim hukum Atmadja Group yang saat ini ikut memantau kasus ini, saya rasa bukan hanya barang-barang ini yang akan disita, melainkan seluruh sisa tanah mansion ini juga akan berpindah tangan ke meja pengadilan sebelum minggu ini berakhir."
Mendengar nama Atmadja Group disebut, Siska seketika membeku. Lidahnya mendadak kelu, dan dia mundur satu langkah dengan tubuh yang gemetar hebat. Bayang-bayang Adrian Atmadja yang berdiri tegap di belakang Vira bagai algojo tak kasatmata yang siap menebas leher mereka kapan saja jika mereka berani bertindak macam-macam.
Sementara itu, di kantor pusat V-Tech Investment, suasana terasa begitu tenang dan efisien. Vira Mahendra duduk di balik meja kerjanya, menatap laporan eksekusi penarikan aset dari rumah keluarga Narendra yang dikirimkan oleh tim hukumnya lewat tablet digital.
Reno masuk ke dalam ruangan dengan membawa secangkir kopi hangat, wajahnya dipenuhi oleh senyuman kepuasan yang teramat lebar. "Semua aset korporat sudah berhasil ditarik, Kak. Si ular betina Sheila kabarnya sampai menangis histeris di lantai teras saat mobil Alphardnya dibawa pergi oleh tim kita."
Vira meletakkan tabletnya perlahan, tidak ada kilat kegembiraan yang berlebihan di wajahnya, hanya ada kepuasan dingin yang terukur dengan baik. "Ini baru permulaan, Reno. Kehilangan mobil dan kartu kredit baru merupakan luka goresan kecil bagi mereka. Aku ingin melihat bagaimana mereka bertahan hidup ketika tagihan utang pribadi Arka di bank-bank swasta mulai jatuh tempo bulan depan tanpa adanya subsidi dari gaji CEO-nya."
"Dan mengenai Arka... apa yang harus kita lakukan padanya selanjutnya, Kak? Dia sekarang hanya menjadi staf biasa di bagian administrasi bawah setelah jabatannya ditangguhkan," tanya Reno dengan nada meremehkan.
Sebelum Vira sempat menjawab, pintu ruang kerjanya diketuk perlahan. Sekretaris pribadinya masuk dengan membawa sebuah buket bunga mawar putih murni yang sangat besar, jauh lebih indah dan segar daripada mawar merah murahan yang dikirimkan oleh Arka beberapa hari lalu.
Di tengah buket mawar putih itu, terselip sebuah kartu ucapan kecil dengan logo timbul berlapis emas berlambang Atmadja Group. Vira mengambil kartu tersebut dan membaca tulisan tangan yang gagah dan rapi di dalamnya:
Untuk Vira.
Aku mendengar bahwa pembersihan di Narendra Group berjalan dengan sangat lancar pagi ini. Mawar putih ini adalah simbol dari awal yang baru, awal di duniamu yang bersih dari bayang-bayang masa lalumu yang kotor. Elvano menitipkan salam, dia bilang dia tidak sabar menunggu akhir pekan ini untuk mengajakmu pergi ke kebun binatang pribadi kami. Semoga harimu menyenangkan, Ratu-ku.
Adrian Atmadja.
Membaca pesan dari Adrian, rasa dingin yang sempat menguasai wajah Vira seketika menguap begitu saja, digantikan oleh rona merah tipis yang menghiasi kedua pipi tirusnya. Seulas senyuman tulus yang sangat manis dan hangat terukir di bibirnya, sebuah pemandangan yang membuat Reno yang menyaksikannya langsung berdeham kecil dengan nada menggoda.
"Ehem... sepertinya ada yang sudah mulai membuka hatinya untuk sang kaisar bisnis nih," goda Reno sambil menaikkan kedua alisnya.
Vira buru-buru melotot kecil ke arah adiknya, mencoba mengembalikan ekspresi datarnya meski detak jantungnya di dalam dada tidak bisa berbohong bahwa dia merasa sangat bahagia dan dihargai. "Diam kamu, Reno. Kembali bekerja ke ruanganmu sekarang sebelum aku memotong bonus tahunanmu."
Reno tertawa renyah, lalu membungkuk hormat dengan gaya bercanda sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Vira sendirian yang kini beralih menatap mawar putih di mejanya dengan perasaan aman yang kian menebal di dalam jiwanya.