NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan di Bahu Jalan Tol

Matahari sempat terbit, namun bagi Naya, siang hari itu tak lebih dari perpanjangan malam yang membusuk.

Sepanjang hari, rumah mewah keluarga Adijaya dilingkupi kesunyian yang mencekam, sejenis sunyi yang biasanya mendahului badai besar. Naya mengurung diri di kamar tamu kecil di dekat dapur—kamar yang kerap ia gunakan jika tubuhnya terlalu lelah untuk naik ke lantai atas. Sementara di ruang tengah, bisik-bisik Ningsih terus merayap bagai ular, mematuki telinga Reza, meracuni sisa-sisa kewarasannya yang tersisa.

Ketika malam akhirnya jatuh menyelimuti kota, pintu kamar Naya didobrak kasar.

Reza berdiri di ambang pintu. Matanya merah, bukan karena air mata, melainkan karena amarah yang dipelihara sepanjang hari oleh egonya yang terluka. Setengah botol wiski yang ia tenggak di ruang kerjanya tercium dari napasnya yang memburu.

"Ikut aku," desis Reza, suaranya rendah namun bergetar hebat.

Naya tidak bergerak dari tepi ranjang. Ia menatap suaminya tanpa rasa takut. Kehilangan rasa hormat telah membunuh seluruh rasa gentar yang pernah ia miliki terhadap pria itu. "Ke mana?"

"Jangan banyak tanya! Kemasi beberapa pakaianmu yang tidak seberapa itu, lalu ikut aku. Aku tidak sudi melihat pencuri tinggal semalam lagi di bawah atap ibuku!" Reza merangsek maju, mencengkeram lengan Naya dengan kasar, memaksa wanita itu berdiri.

Cengkeraman itu begitu kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan seketika pada kulit Naya yang pucat. Namun, tak ada jeritan dari bibir Naya. Ia hanya mengambil sebuah tas jinjing kecil berisi beberapa daster katun usang—pakaian yang ia bawa dari kampung halamannya tiga tahun lalu—dan membiarkan dirinya diseret menuju garasi.

Mesin sedan hitam milik Reza menderu, memecah kesunyian malam sebelum melesat membelah jalanan kota yang mulai sepi.

Lampu-lampu jalan tol yang kuning temaram berkelebat cepat, memantul pada kaca jendela mobil bagai kilatan hantu yang enggan singgah. Di dalam kabin mobil yang kedap, udara terasa begitu tipis dan menyesakkan. Bau parfum mobil yang menyengat bercampur dengan hawa kemarahan Reza yang kian memuncak.

Reza mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Kecepatan mobil merayap naik, melompati angka seratus kilometer per jam.

"Mengapa kamu diam saja, Naya?!" Reza berteriak, memecah keheningan yang sejak tadi membungkus mereka. Ia melirik Naya yang hanya menatap lurus ke depan, seolah-olah suaminya hanyalah sebongkah batu yang berisik. "Di mana kamu simpan uang itu? Hah? Katakan padaku! Apakah kamu sudah mengirimkannya pada ibumu yang penyakitan itu di kampung?!"

Naya memejamkan mata sesaat mendengar ibunya dihina. "Aku tidak mengambilnya, Reza. Berapa kali harus kukatakan? Kebenaran tidak akan berubah hanya karena kamu berteriak."

"Bohong! Ibuku tidak pernah berbohong!" Reza memukul kemudi dengan telapak tangannya. Suara klakson sempat menjerit pendek di kegelapan malam. "Kamu tahu apa yang paling aku sesali? Menyelamatkanmu dari lumpur kemiskinan! Aku mengangkatmu, memberi makan dirimu dan keluargamu, mendudukkanmu di rumah mewah. Dan ini balasanmu? Kamu mencuri dari ibuku?!"

Cacian itu mengalir deras bagai racun yang disemburkan tanpa saring. Reza memuntahkan seluruh frustrasinya—frustrasi atas kariernya yang belakangan seret, frustrasi atas tekanan ibunya, dan frustrasi karena ia tahu, jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa terancam oleh ketenangan Naya yang tak biasa.

"Kamu tidak lebih dari benalu, Naya. Perempuan udik yang tidak tahu diuntung!" kata Reza lagi, suaranya sarat dengan kebencian yang mendalam. "Kamu pikir dengan diam begini kamu terlihat suci? Kamu menjijikkan!"

Naya menoleh lambat. Sorot matanya yang dingin bertemu dengan tatapan Reza yang menyala-nyala. "Jika aku memang semenjijikkan itu di matamu, mengapa kamu tidak melepaskanku saja sejak dulu? Mengapa harus menunggu fitnah ini untuk menunjukkan betapa kerdilnya jiwamu, Reza?"

"Kerdil?!" Reza tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar gila di tengah raungan mesin mobil. "Aku yang menyelamatkanmu! Tanpa aku, kamu hanya akan menjadi buruh cuci atau pelayan murah di kampung halamanmu!"

Mobil melaju kian kencang, melintasi jembatan tol yang sepi di bawah langit malam tanpa bintang. Jam di dasbor menunjukkan pukul sebelas malam. Di kanan dan kiri jalan hanya ada bentangan sawah yang gelap gulita dan pepohonan liar yang tampak seperti bayangan hitam raksasa.

"Cukup, Reza. Hentikan mobilnya," ujar Naya pelan.

"Apa? Kamu mau turun?" Reza meliriknya sinis. "Bagus. Memang di sinilah tempatmu yang pantas. Di tempat yang gelap dan kotor!"

Tanpa memedulikan keselamatan, Reza menginjak rem secara mendadak. Ban mobil berdecit keras, bergesekan dengan aspal tol yang kasar, meninggalkan bau karet terbakar yang menyengat udara. Mobil itu berhenti dengan sentakan hebat di bahu jalan tol, hanya beberapa sentimeter dari pagar pembatas besi.

Reza menjangkau tubuh Naya, membuka paksa sabuk pengamannya, lalu mendorong tubuh istrinya ke arah pintu penumpang.

"Turun!" bentak Reza.

Naya menatap suaminya untuk terakhir kali. Di bawah temaram lampu kabin yang menyala otomatis saat pintu terbuka, ia melihat wajah pria yang dulu sangat ia cintai. Kini, wajah itu tampak begitu asing, begitu buruk rupa oleh kesombongan dan kebodohan.

Tanpa sepatah kata pun, Naya melangkah keluar. Kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit tipis menyentuh aspal tol yang dingin dan kasar. Angin malam yang kencang langsung menyergap tubuhnya, menerbangkan rambut hitamnya yang terurai.

Reza melemparkan tas jinjing kecil milik Naya ke atas aspal, tepat di samping kaki istrinya.

"Jangan pernah berani menginjakkan kakimu lagi di rumahku! Cari makan sendiri dengan tangan pencurimu itu!" teriak Reza dari dalam mobil.

Brak!

Pintu mobil ditutup dengan bantingan keras. Detik berikutnya, sedan hitam itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap knalpot yang menyesakkan dan deru mesin yang perlahan menghilang di kejauhan.

Naya berdiri mematung di bahu jalan tol yang sepi. Di sekelilingnya hanya ada kegelapan, desau angin malam yang menusuk tulang, dan sesekali deru truk kontainer yang melintas cepat, menggoyang tubuh ringkihnya dengan embusan angin yang dingin.

Perlahan, Naya berjongkok. Ia mengambil tas jinjingnya yang kotor terkena debu aspal.

Tidak ada air mata yang jatuh. Rasa sakit itu telah melewati batas maksimalnya hingga berubah menjadi mati rasa yang mutlak. Naya menatap lurus ke arah perginya mobil Reza. Sudut bibirnya yang terluka akibat tamparan pagi tadi perlahan terangkat, membentuk seulas senyum yang dingin dan mengerikan.

Ia merogoh saku dasternya yang longgar. Di sana, tersimpan sebuah ponsel kecil yang selama tiga tahun ini tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Layar ponsel itu menyala, memantulkan cahaya biru pada wajah Naya yang pucat namun kini tampak begitu berwibawa.

Naya menekan satu tombol panggilan cepat. Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum suara bariton yang sangat sopan dan penuh hormat terdengar di ujung telepon.

"Selamat malam, Nona Muda Naya. Kami telah melacak posisi Anda. Apakah saatnya kami menjemput Anda?"

Naya menghirup napas dalam-dalam, membiarkan angin malam mengisi paru-parunya dengan kekuatan baru.

"Jemput aku di KM 26 Tol Lingkar Luar," bisik Naya, suaranya sedingin es yang membeku di puncak gunung. "Dan mulai malam ini... hancurkan semua yang telah kubangun untuk keluarga Adijaya. Jangan sisakan sepeser pun."

"Baik, Nona Muda. Segera kami laksanakan."

Naya menutup teleponnya. Ia berdiri tegak di tepi jalan tol, memandang kegelapan malam bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai selimut yang akan mengakhiri masa penyamarannya yang sia-sia. Sang singa betina telah bangun dari tidurnya, dan tak lama lagi, mereka yang telah menginjaknya akan merasakan cakar yang paling mematikan.

1
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!