Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊
Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
"Hei hei... Kenapa ini, bukannya cepet packing malah pada bercanda aja. Ayo cepet, semuanya udah pada nungguin di depan loh!" kata Mama yang mengagetkanku.
"Sabaarr lah Ma, ini masih banyak loh perintilan bayi. Mama kayak nggak pernah punya bayi aja deh!" kata Lia.
"Hush.. Kalau Mama nggak pernah punya bayi, terus kamu gimana? Masa langsung jadi gede gitu?" tanya Mama dengan kesal, sementara Lia hanya terkekeh lucu mendengar perkataan Mama.
"Ya makanya itu Ma. Ini tuh banyak banyak, makanya lama...." jawab Lia.
"Bukan lama karna packing nya, tapi lama karna kalian sambil ngobrol. Ngomongin apa sih?" tanya Mama membuatku dan juga Lia saling pandang.
"Apa sih Ma, kepo aja. Kita cuma ngobrol biasa aja lah... Biasakan anak muda!" kata Lia dengan tengil.
"Alaahh anak muda! Mama juga masih muda kali... Tapi, Mama beneran loh. Kalian tuh ngomongin apa sih? Kok tadi Mama denger di depan ada menghargai dan menghormati segala, mana suara Lia lagi yang ngomong" kata Mama membuat Lia mengerucutkan bibir.
"emang kenapa sih Ma kalau Lia yang ngomong?" tanya Lia dengan wajah kesal.
"Ya nggak apa-apa, makanya Mama nanya kalian ngomongin apa?" tanya Mama.
"Kita tuh cuma ngomongin mertua Mbak Nisya loh Ma, Lia bilang sama Mbak Nisya kalau mertua nya itu serakah. Tapi kata Mbak Nisya biar gimana pun dia mertua Mbak Nisya yg harus Mbak Nisya hormati. Ya Lia bilang aja kayak gitu sama Mbak Nisya, buat apa menghormati orang yang gak menghargai kita. Yang ada, nanti harga diri kita yang akan diinjak-injak. Bener kan Ma?" kata Lia.
"Hush... Iyaa bener sih memang, tapi nggak begitu juga konsepnya" kata Mama yang gemas dengan perkataan Lia.
"Nah kan.. Nyalahin juga nih Mama, terus maksudnya yang bener itu gimana? Diem aja ngebiarin harga diri diinjek-injek dengan alasan menghormati? Ya ampun Ma, sekarang jaman emansipasi kali Ma. Jangan terus-terusan yang muda yang di suruh buat ngalah dong, kalau yang tua yang salah ya salah. Yang muda berhak juga buat menyalahkan!" kata Lia membuat Mama menggelengkan kepala.
"Udah cepat Nis, jangan dengerin ocehan adik kamu yang nggak ada faeddah nya itu. Dia belum merasakan aja yang namanya punya mertua, kalau udah merasakan nanti hmmm apa masih bisa dia ngomong kayak gini!" kata Mama.
"Yeee mertua aku mah nggak bakalan kayak mertua Mbak Nisya. Selain selektif pilih calon, Lia juga akan selektif pilih mertua. Walaupun Lia cinta sama anaknya, kalau emak nya macam Mertua Mbak Nisya ya.... Sorry, sorry aja deh... Mendingan nggak jadi!" kata Lia.
Mama yang sudah gemas dengan perkataan Lia pun membungkam mulut anak terakhirnya dengan lemparan bantal yang tepat mengenai wajah Lia.
"Bisa diam nggak kamu! Cepat selesaiin ini packingan!" kata Mama membuat Lia terkekeh.
"Iya iya..." jawab Lia dengan mengerucutkan bibir.
"Nih.. Kalau Mama yg mertua Lia, nggak masuk jadi kandidat calon suami anaknya!" gumam Lia yang masih bisa aku dan Mama dengar.
Setelah lima belas menit menyelesaikan packingan barang milik Nisya dan anak-anaknya, mereka pun keluar dari kamar itu menuju mobil yang memang sudah siap berangkat. Mereka sudah rapih, sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk bersiap.
"Udah semua ini?" tanya bapak.
"Udah... Udah semua kok, tinggal berangkat aja kita!" jawab Mama yang langsung di angguki oleh semuanya.
"Kita berangkat pakai satu mobil aja nggak apa-apa kan? Kita pakai mobil paling luas kok, biar anak-anak juga nyaman, nanti biar Ryan sama Lia di jok belakang. Nisya, Mama sama anak-anak di jok tengah" kata bapak.
"Nggak apa-apa Pak, itu juga udah cukup. Lagian fortuner kita kan besar, jadi bisa masuk semua" kata Mama membuat Bapak menganggukkan kepala.
"Ayo berangkat, semuanya udah masuk. Adila, sama Uti apa sama Akung?" tanya Syahrul pada anak pertamaku.
"Emm sama Akung aja deh!" jawab Adila.
"Yaudah ayok masuk kalau gitu, ayok kita jalan. Kita akan liburan singkat kali ini" kata bapak membuat semuanya tersenyum.
Masing-masing kami masuk kedalam mobil, dengan senyum mengembang. Sepanjang perjalanan, Adila terus bernyanyi diiringi oleh lagu yang diputar olah Syahrul sebagai pengemudi.
"Om.. Lagunya ganti dong, itu loh naik-naik ke ouncan gunung" kata Adila.
"Kita kan nggak mau ke gunung Dil, kita mau ke puncak nya aja!" kata Syahrul.
"Om... Kan emang lagu nya begitu..." kata Adila. Kami yang mendengar perdebatan keduanya pun tersenyum.
"Syahrul ini seneng banget godain keponakannya, udah setel aja lah apa yang dia mau!" kata Bapak membuat Syahrul terkekeh di balik kemudinya.
"Kalau godain dia itu seru loh Pak, sama kayak Mbak Nisya nggak bisa di ajak bercanda!" kata Syahrul sambil mencari pemutaran lagu yang diinginkan Adila.
"Kok jadi Mbak yang di bawa-bawa sih Rul?" tanyaku dengan bibir mengerucut.
"ya kan emang Mbak Nisya nggak bisa di ajak bercanda, coba deh kalau bercanda dikit aja pasti Mbak Nisya langsung ngambek. Kayak dulu, iya nggak Yan?" kata Syahrul mencari dukungan dengan Ryan.
"Yoi Mas...!" jawab Ryan mendukung perkataan Syahrul.
"Tapi nggak usah di perjelas kayak gitu juga kali Rul, Yan....!" kataku.
"Nah.. Tuh kan mulai kan..." kata Syahrul membuatku semakin mengerucutkan bibir.
"Udah-udah jangan ngeledekin Mbak kalian kayak gitu, Syahrul fokus aja nyetir nggak usah kebanyakan ngomong!" kata Mama menengahi.
"Lagian, Mbak Nisya itu nggak pernah berubah masih aja tukang ngambek. Coba kalau didepan suami sama mertuanya, pasti cuma bisa diem mana bisa ngambek kayak gitu!" kata Syahrul membuat Lia tertawa.
"Betul... Betul banget Mas. Kalau di depan Suami sama mertuanya udah kayak ayam sayur, eh apa kerupuk di siram air?" kata Lia.
"apaan si kamu itu Li, Rul. Nggak boleh kayak gitu, suatu saat kalian pasti ngerasain apa yang Mbak kalian rasain. Nggak baik mengejek kayak gitu!" kata Mama.
"Tau nih.. Kayak nanti nggak pada punya mertua aja!" kataku.
"yeee Mbak... Jaman sekarang mah, selain seleksi calon juga harus seleksi mertua. Walaupun kita laki-laki juga kalau dapat mertua macam Bu Ratih ya... Amit-amit Mbak!" kata Ryan.
"Bener banget tuh Mas. Mas Ryan yang laki-laki aja nggak mau kan, gimana lagi aku!" kata Lia.
"nggak boleh ngomong kayak gitu, biar bagaimana pun beliau orangtua. Dulu, mungkin dia nggak seperti itu dan semoga Mama sama Bapak nggak jadi mertua yang seperti itu juga!" kata bapak.
"Nah iyaa bener banget tuh Pak. Jangan sampai Mama sama bapak kayak mertua Mbak Nisya yang keliatan banget nggak rela anak lelakinya membahagiakan anak dan istrinya. Amit amiitttt" kata Lia.
"Hush... Si Lia ini ya kalau ngomong emang...!" kata Mama.
"Emang bener kan Ma?" kata Syahrul.
"Nggak salah juga sih!" jawab Mama membuat kami semua terkekeh.
Bersambung...