"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 029: Arga Menyusun Tim
Kiara datang ke Villa Puncak setelah tengah malam.
Mobilnya berhenti di depan gerbang tanpa pengawal keluarga. Sopir tidak ikut turun. Lampu jalan di lereng membuat wajah Kiara terlihat lebih pucat daripada biasanya, tetapi ketika ia berdiri di depan pintu utama, punggungnya tetap lurus.
Arga membuka pintu sendiri.
Ia tidak bertanya kenapa ia datang selarut itu.
Ia hanya berkata, "Masuk."
Kiara melewati ambang pintu dan untuk pertama kalinya benar-benar melihat rumah yang selama ini hanya menjadi bayangan di kepalanya.
Villa Puncak tidak berteriak kaya. Tidak ada patung emas. Tidak ada lampu kristal yang memaksa orang menatap langit-langit. Ruang tamunya luas, kayunya hangat, jendelanya menghadap gelap pegunungan. Justru karena tidak berteriak, tempat itu membuat Kiara semakin sadar bahwa Arga tidak pernah kekurangan apa pun yang dulu dianggap keluarganya sebagai ukuran harga diri.
Di meja rendah, Arga meletakkan segelas air.
Kebiasaan itu lagi.
Kiara menatap gelas tersebut beberapa detik sebelum duduk.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana," katanya.
"Mulai dari yang membuatmu datang."
Kalimat itu sederhana.
Tidak memaksa.
Tidak menyindir.
Kiara akhirnya mengeluarkan map dari tasnya.
Nishikura.
Proposal kerja sama.
Catatan Sinta.
Analisis struktur saham yang ia tulis sendiri sampai dini hari.
Arga membaca tanpa ekspresi berlebihan.
Kiara memperhatikan tangannya. Ia membalik halaman dengan pelan, berhenti pada bagian-bagian yang tepat, seolah sejak awal tahu mana klausul yang beracun dan mana yang hanya hiasan.
"Mereka ingin aku menikah dengan pewaris keluarga mereka," kata Kiara.
"Aku tahu."
Kiara menatapnya cepat.
Arga mengangkat wajah. "Gacrux memberi laporan bahwa Nishikura mendekati Ratna."
"Kamu sudah tahu?"
"Belum detail."
"Kenapa kamu tidak bilang?"
Pertanyaan itu keluar lebih tajam daripada yang ia rencanakan.
Arga tidak membela diri.
"Karena aku tidak ingin mengambil alih sebelum kamu memutuskan sendiri harus berdiri di mana."
Kiara terdiam.
Ia datang dengan kemarahan, malu, takut, dan rasa lelah yang menempel di tulang. Ia siap mendengar Arga berkata "aku sudah menduga" dengan nada dingin. Ia siap marah kalau Arga menyuruhnya tenang. Ia bahkan siap jika Arga berkata bahwa ini akibat pilihannya sendiri.
Ia tidak siap mendengar ia diberi ruang untuk memilih.
"Aku sudah menolak," katanya pelan. "Aku bilang aku punya suami."
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Arga menatapnya.
Tidak lama.
Tetapi cukup lama untuk membuat Kiara menyadari kalimat itu baru saja berpindah dari ruang tamu Rumah Anggrek ke antara mereka berdua.
"Aku dengar," kata Arga.
"Dari siapa?"
"Belum penting."
"Arga."
"Sinta punya orang yang khawatir padamu. Gacrux punya orang yang khawatir pada risiko. Kadang dua kekhawatiran itu bertemu."
Kiara hampir tersenyum, tetapi terlalu lelah.
"Aku tidak tahu kamu bisa membantu atau tidak," katanya akhirnya. "Aku bahkan tidak tahu aku berhak meminta. Tapi aku tidak punya orang lain untuk diajak bicara."
Arga menutup map.
"Kamu berhak."
Dua kata itu membuat sesuatu di dada Kiara turun sedikit.
Tidak hilang.
Tetapi turun cukup jauh untuk ia bisa bernapas.
"Aku kenal beberapa orang," lanjut Arga. "Mereka bisa melihat dokumen ini."
Kiara menatapnya. "Beberapa orang?"
"Pengacara. Akuntan forensik. Orang yang mengerti tata kelola perusahaan."
"Kamu bicara seperti orang yang punya daftar siap pakai."
"Aku suka menyimpan nomor penting."
"Kamu selalu menjawab setengah."
"Malam ini, setengah dulu cukup untuk membuatmu tidak sendirian."
Kiara tidak membalas.
Karena kali ini, ia tidak ingin merusak kalimat itu.
Satu jam kemudian, layar di ruang kerja Villa Puncak menyala.
Dinda Permata muncul dengan wajah yang terlalu segar untuk pukul dua pagi.
"Aku tahu kamu akan menelepon malam ini," katanya kepada Arga.
"Kamu selalu ingin terdengar seperti peramal."
"Bukan peramal. Aku membaca pola orang bodoh. Nishikura bergerak lebih cepat dari perkiraan?"
Kiara duduk di sisi lain meja, mendengar nama-nama yang selama ini hanya muncul di berita bisnis seolah mereka bagian dari percakapan rumah.
Arga tidak memperkenalkan dirinya sebagai pemilik apa pun.
Ia hanya berkata, "Kiara butuh tim hukum."
Dinda langsung serius.
"Aku kirim kontak Bu Kartika."
Nama itu membuat Kiara mengangkat kepala. "Kartika Wijaya?"
Dinda menatapnya dari layar. "Anda kenal reputasinya?"
"Semua orang di Sudirman tahu reputasinya. Dia mahal sekali."
"Mahal biasanya karena orang kalah membayar lebih mahal kalau terlambat."
Arga mengambil ponsel.
Tidak sampai sepuluh menit, panggilan lain masuk. Seorang perempuan berusia lima puluhan muncul di layar konferensi, berkacamata tipis, rambut disanggul rapi, suara tenang seperti hakim yang belum mengetuk palu.
"Saya Kartika Wijaya," katanya. "Saya sudah menerima ringkasan dari Bu Dinda. Ibu Kiara, saya perlu melihat proposal Nishikura, komunikasi tertulis dengan keluarga, struktur saham, dan semua notulen rapat yang berkaitan dengan keputusan strategis."
Kiara masih mencoba menyesuaikan diri dengan kecepatan semua ini.
"Malam ini?"
"Malam ini kita mulai daftar kebutuhan dokumen. Besok pagi tim saya masuk."
"Tim?"
"Commercial litigation, corporate governance, dan forensic accounting. Jika ada tekanan pemegang saham, kita harus tahu apakah mereka bergerak sebagai pemegang saham biasa atau memiliki kepentingan tersembunyi dengan pihak Nishikura."
Arga duduk diam, membiarkan Kartika menjelaskan.
Kiara menatapnya sesekali.
Laki-laki yang dulu di rumahnya disuruh menunggu di dapur kini duduk tanpa banyak bicara, sementara pengacara yang ditakuti para direksi Jakarta menerima telepon pukul dua pagi seolah itu hal biasa.
Rasa ingin tahunya naik lagi.
Namun kali ini, di atas rasa ingin tahu itu ada sesuatu yang lebih hangat.
Rasa aman.
Bu Kartika mulai membaca proposal Nishikura yang dikirim melalui kanal aman. Beberapa menit kemudian, alisnya bergerak.
"Menarik."
"Apa?" tanya Kiara.
"Bagian kerja sama distribusi dan akses regional ini dikaitkan dengan perubahan struktur pengaruh keluarga, tetapi tidak dijelaskan sebagai transaksi afiliasi atau potensi benturan kepentingan. Jika keluarga Nishikura sudah berkomunikasi dengan pemegang saham tertentu sebelum proposal resmi, ada kemungkinan kewajiban disclosure dan prosedur persetujuan internal dilanggar."
Dinda tersenyum tipis di layar.
"Jadi mereka terburu-buru."
"Atau terlalu percaya diri," kata Bu Kartika. "Saya tidak suka dua-duanya dalam dokumen hukum."
Ia membuka halaman lain.
"Kita juga perlu forensic accounting awal untuk melihat apakah ada biaya konsultasi, success fee, atau komitmen samping yang mengalir ke pihak keluarga. Kalau ada, posisi mereka jauh lebih lemah."
Kiara menatap dokumen itu seperti baru melihatnya berubah bentuk.
Beberapa jam lalu, map putih itu terasa seperti dinding.
Sekarang, di tangan orang yang tepat, ia mulai terlihat seperti pintu yang bisa dibongkar dari engselnya.
Bu Kartika menutup dengan satu kalimat:
"Dari pembacaan awal, proposal ini punya celah serius. Jika terbukti ada komunikasi tersembunyi dan kepentingan afiliasi yang tidak diungkap, Nishikura mungkin sudah salah langkah sejak halaman pertama."
Panggilan berakhir menjelang subuh.
Kiara tetap duduk di kursi, kedua tangan melingkari gelas air yang belum habis.
"Kamu bilang mengenal beberapa orang," katanya.
"Itu benar."
"Beberapa orangmu menakutkan."
"Mereka lebih ramah kalau dibayar tepat waktu."
Kiara akhirnya tertawa kecil.
Suara itu pendek, lelah, tetapi nyata.
Arga berdiri untuk mengambil kopi.
"Kia."
Ia berhenti karena panggilan itu.
Arga jarang memakai nama kecil itu.
"Kamu tidak harus menghadapi keluargamu sendirian."
Kiara menatapnya.
Di luar jendela, langit Puncak mulai memudar dari hitam ke biru tua.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, pagi tidak terasa seperti ancaman.
Ia mengangguk pelan.
"Aku tahu," katanya.
Dan kali ini, ia sungguh ingin mempercayainya.