Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 04
Gambar wajah dan sosok Rosalina telah di dapat. Kael menghapus rekaman itu sebelum dia menyimpannya untuk dirinya sendiri. Kael menunjukkan rekaman sosok Rosa yang tak ada dirinya kepada Rowan.
"Oke Bos, aku langsung gerak. Tapi, kalau Tuan Besar tanya aku dimana, gimana?"
Rowan bertanya demikian tentu ada alasan. Jangan sampai dia dikata bolos kerja oleh sang bos besar karena tidak terlihat di perusahaan.
"Biar aku yang ngomong sama Papi. Kamu nggak perlu bingung soal itu. Yang penting lakuin tugas dari ku dengan benar," jawab Kael dengan wajah yang dingin.
Rowan mengangguk, jika memang demikian, maka ia pun akan melakukan tugas dengan senang hati tanpa berpikir apapun. Dan sejak saat itu, pencarian terhadap Rosa pun dimulai.
Namun gadis berambut panjang dengan warna hitam legam itu bak ditelan bumi. Rowan bahkan sudah mencari-cari ke pelosok desa, tapi tak ada yang tahu tentang seorang gadis bernama Rosalina.
Ada gadis dengan nama yang sama, namun semuanya itu bukan Rosalina yang dicari oleh Kael.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun dan tahun pun berganti. 4 tahun sudah Rowan dan Kael mencari. Meski perintah itu diturunkan kepada Rowan, namun bukan berarti Kael lepas tangan. Dia pun ikut mencari. Dengan dalih liburan, Kael mencari keberadaan gadis itu. Namun tetap saja nihil.
"Bos, sudah empat tahun, tapi masih kukuh nyar. Sebenernya ada apa sih diantara Bos sama cewek yang bernama Rosalina itu? Kenapa Bos sampai segininya?"
Rowan benar-benar merasa bingung sekaligus heran dengan tuannya yang satu ini. Bagaimana bisa dia mencari satu wanita dalam waktu selama ini. Dan dia masih terus mencari meski tak kunjung menemukannya.
Diamnya Kael juga membuat Rowan semakin tidak mengerti. Ingin rasanya ia membedah isi kepala tuan yang dilayaninya itu untuk melihat apa isinya. Namun tentu saja itu hanya sebuah ungkapan semata.
"Haaah, baiklah kalau tetep nggak mau jawab. Tapi sekarang Anda harus pulang Tuan Muda, sebab Tuan dan Nyonya besar sudah memeringati saya untuk mengingatkan Tuan perihal makan malam yang akan diadakan di rumah dalam beberapa jam lagi."
"Iya, crewet."
Fyuuuh
Kael membuang nafasnya kasar. Makan malam yang dijadwalkan ini bukan sebuah makan malam biasa. Makan malam kali ini adalah sebuah acara untuk perkenalan keluarga dengan seorang wanita yang sebenarnya sudah pernah dikenalnya sejak masa SMA.
Wanita itu lebih tepatnya adalah adik kelasnya dulu. Siapa sangka kedua orang tua mereka saling mengenal. Kael yang selama ini jomblo dan tak pernah berhubungan dengan wanita hingga usianya 28 tahun membuat kedua orang tuanya terutama sang ibu khawatir, sehingga akhirnya memutuskan untuk melakukan acara perjodohan.
Kael sudah berkali-kali menolak dengan alasan sibuk dengan pekerjaan dan akan menerimanya ketika waktunya senggang. Namun kali ini tak ada alasan yang bisa dia gunakan untuk menolak lagi. Sehingga mau tidak mau dia menerima jamuan makan malam sekarang.
"Bos."
"Iya iya, aku pulang sekarang. Kamu hari ini beneran ngejengkelin, Rowan."
Rowan hanya tersenyum simpul mendengar ocehan dari sang bos. Dia paham bahwa Kael sangat membenci yang namanya perjodohan. Berkali-kali pria itu menolak wanita yang ditunjukkan oleh orang tuanya, namun kali ini Kael menerima. Itu pun katanya hanya sebatas berkenalan.
Kedua orang tua Kael ingin segera melihat Kael menikah agar mereka bisa menghabiskan masa tua dengan tenang tanpa memikirkan Kael yang sendiri. Tapi Kael tidak berpikir demikian. Bahkan di mata Rowan, Kael sepertinya enggan untuk membina kehidupan rumah tangga.
"Apa semua ini karena cewek itu? Cewek yang namanya Rosalina itu?"
Tiba-tiba Rowan memiliki pemikiran demikian. Alasan Kael menolak semua perjodohan mungkin saja karena wanita yang dengan gigih dicarinya tersebut,
"Apa mungkin benar bos ada hubungan sama cewek itu ya? Ah nggak tahu lah, bukan urusanku juga. Ya jelas aku udah beneran nyerah buat nyari cewek itu. Ah gila, empat tahun tapi nihil. Sebenernya ada di mana sih tuh orang, apa jangan-jangan udah meninggal kali ya. Jadi nggak bisa ditemui. Haaah lieur aing."
Rowan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia juga melenggang pergi dari ruangan Kael dan memutuskan untuk pulang. Rasanya tak habis-habis jika memikirkan tentang wanita yang tengah dicari oleh Kael itu. Alamat tidak ada, hanya bermodalkan gambar wajah dari kamera pengawas yang sebenarnya bisa dikata tidak terlalu jelas.
Apapun itu, Rowan benar-benar sudah menyerah untuk mencari. Ketika dia berkata demikian kepada Kael, sang tuan juga tak berkomentar apapun. Sehingga Rowan menganggap bahwa Kael pun telah menyerah juga untuk menemukan Rosalina.
Rowan nampak lelah sekali, dia mengemudikan mobilnya dengan sedikit lebih cepat. Ketika berhenti di lampu merah, mata Rowan memicing ketika melihat sosok yang familiar dalam ingatannya.
"Itu kok mirip sama wanita yang lagi dicari, tapi nggak ah. Aku pasti sangat kepikiran sampai terbayang-bayang. Ya kali saat kita nyerah buat nyari tiba-tiba tuh orang muncul. Ughhh Rowan, kayaknya kamu mah butuh healing deh biar nggak halusinasi."
Bruuum
Rowan kembali menjalankan mobilnya ketika lampu merah terlah berubah menjadi hijau. Ia juga mengusap wajahnya yang kasar karena merasa bahwa pikirannya menjadi kacau.
Sedangkan wanita yang tadi dilihat oleh Rowan itu kini sedang menaiki sebuah kendaraan umum. Dia menjinjing tas besar sambil menggendong seorang anak kecil yang nampak terlelap. Wanita itu tersenyum ke arah anak kecil itu seraya berkata, "Maaf ya Nak, kita harus berpindah-pindah kayak gini. Ibu janji kalau ini akan jadi yang terakhir."
Wanita yang hanya dilihat dari wajahnya bisa diketahui bahwa dia masih muda itu terlihat sama sekali tidak lelah meski membawa barang sambil menggendong seorang balita.
Raut wajahnya juga nampak tenang seolah tak terusik dengan riuh penumpang yang naik turun dari kendaraan yang dia naiki.
"Waah adiknya pules banget tidurnya, Teh. Kok sama sekali nggak keganggu sama suara orang-orang," sapa salah seorang penumpang yang naik bersamaan dengan nya tadi.
"Iya Bu, sudah kenyang dan sepertinya ngantuk sekali. Jadi pules tidurnya," jawabnya sembari tersenyum sopan.
Sebenarnya dia enggan ketika ada yang berbasa-basi begini. Karena ada ketakutan dalam dirinya jika pertanyaan akan menjadi lebih jauh. Namun ibu muda itu bersyukur ketika ibu penumpang yang baru saja berbicara itu tak lagi bertanya apa-apa lagi setelah itu.
Perjalanan yang di tempuh kurang lebih dua jam itu akhirnya sampai juga. Wanita dengan balita yang digendongnya itu turun di tempat yang sudah jadi tujuannya.
"Ibu, kita uda campai?"
"Al, kamu udah bangun ya? Udah sayang, kita udah sampai. Di sini udara akan lebih dingin jadi Al nggak akan kepanasan kayak di tempat sebelumnya."
"Oh beditu, ote. Al cuka dimana aja acal cama Ibu. Coalnya El cayaaang Ibu banyak-banyak."
Wanita itu tersenyum cerah. Ya hidupnya yang sulit selama empat tahun ini selalu baik-baik saja karena ada sang putra di sisinya.
"Rosa, ah akhirnya sampai juga."
"Ya, Rendi. Lama tak jumpa. Makasih udah mau nolongin aku."
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara