Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Keputusan Rahardja
Ranti mulai merasa tidak tenang. Ia melirik putrinya sekilas, lalu kembali menatap Rahardja. Entah mengapa, firasatnya mengatakan pembicaraan malam ini tidak akan berjalan sederhana.
Sementara itu, Chantika hanya menarik napas pelan. Matanya bertemu sesaat dengan ayahnya.
Tanpa sepatah kata pun, ia sudah mengerti. Rahardja akhirnya telah mengambil keputusan.
Dengan langkah perlahan, keempat anggota keluarga itu memasuki ruang keluarga.
Rahardja meletakkan sebuah map di atas meja. "Inilah yang ingin Papa bicarakan."
Tatapannya bergantian mengarah kepada Saras dan Chantika. "Saras, sebelum Papa mengatakan apa pun, Papa ingin mendengar penjelasanmu."
Saras berusaha tersenyum. "Soal kontrak itu, Pa? Bukannya sudah jelas? Semua tertulis di kontrak itu."
Rahardja tidak menanggapi. Beliau beralih memandang putri sulungnya. "Chantika."
Chantika mengangguk pelan. Ia tidak membuka map itu. Sebaliknya, ia menatap Saras dengan tenang.
"Aku tidak akan bertanya sebagai kakakmu." Ia berhenti sejenak. "Aku akan bertanya berdasarkan fakta."
Saras mulai merasa tidak nyaman.
"Fakta pertama. Kamu masuk ke hotel bersamaku."
Saras mengangguk pelan. "Iya."
"Fakta kedua. Kamu keluar dari kamar Bryan dengan alasan mengambil berkas di mobil."
"Benar."
"Fakta ketiga. Rekaman CCTV memperlihatkan kamu menyerahkan sesuatu kepada seorang pria di lobby."
Wajah Saras sedikit berubah. "Itu cuma..."
Chantika mengangkat tangan pelan. "Tunggu. Aku belum selesai."
Ranti mulai merasa tegang.
"Fakta keempat,"lanjut Chantika. "Setelah itu kamu tidak menuju mobil Bryan. Kamu justru pergi menggunakan mobilmu sendiri."
Saras mulai menggenggam kedua tangannya.
"Fakta kelima. Beberapa menit kemudian kamu kembali ke hotel dan meminta petugas keamanan membantumu mencariku."
Sorot mata Chantika tidak berubah sedikit pun. "Fakta keenam. Setelah pencarian dihentikan, kamu kembali ke kamar Bryan dan baru keluar keesokan paginya."
Ranti seketika menoleh pada putrinya, matanya membulat sempurna. "Saras?"
Saras menelan ludah yang terasa membatu. Tenggorokannya tercekat. "Itu..."
"Yang ingin kutanyakan sederhana." Chantika mencondongkan tubuh sedikit. "Kalau kamu benar-benar khawatir mencariku, kenapa setelah pencarian dihentikan kamu memilih kembali ke kamar Bryan, bukan ikut mencariku?"
Saras tidak langsung menjawab.
Ranti mulai gelisah. "Mungkin... mungkin Bryan meminta Saras kembali membahas pekerjaan."
Rahardja akhirnya angkat bicara. "Itulah sebabnya Papa meminta kontrak ini diperiksa."
Ia membuka map dan menggesernya ke arah Saras. "Dari hasil pemeriksaan tim legal, kontrak ini berisi klausul yang memberikan keleluasaan kepada investor meminta apa pun selama bisa diklaim berkaitan dengan proyek."
Ranti mengernyit. "Apa maksudnya?"
Rahardja menjelaskan dengan tenang. "Artinya, kalau investor meminta makan malam, perjalanan berdua, bahkan pertemuan di hotel, semuanya bisa dianggap bagian dari pekerjaan."
Wajah Ranti perlahan memucat. "Mana mungkin..."
"Itu bukan pendapat Papa." Rahardja mengetuk pelan map tersebut. "Itu hasil analisis tim legal."
Chantika melanjutkan dengan suara datar. "Kalau dikaitkan dengan kejadian malam itu, muncul pertanyaan lain."
Tatapannya kembali tertuju pada Saras. "Apakah Bryan memang mengincar investasi... atau sejak awal sedang berusaha mendapatkan akses kepada keluarga kita?"
Saras refleks menggeleng. "Tidak! Bryan memang investor!"
"Kalau begitu." Rahardja menyela lembut. "Jawab satu pertanyaan Papa."
Saras menunggu dengan napas tertahan.
"Kenapa kamu tidak membawa kontrak ini ke tim legal perusahaan sebelum menandatanganinya?"
Pertanyaan itu sederhana. Namun membuat Saras membeku.
Ranti perlahan menoleh ke arah putrinya. "Saras..."
Suara perempuan itu mulai bergetar. "Kamu... memang belum meminta bagian legal memeriksanya?"
Saras membuka mulut, tetapi tak satu pun kata keluar.
Rahardja tidak meninggikan suara. Justru nada bicaranya semakin tenang. "Papa belum menuduhmu melakukan kesalahan. Tapi Papa ingin kamu jujur. Karena mulai detik ini, yang Papa cari bukan lagi siapa yang benar... melainkan seberapa besar keluarga kita sudah dimanfaatkan oleh Bryan."
Saras hanya menunduk. Jemarinya saling memilin hingga buku-buku jarinya memutih.
"Saras," panggil Rahardja pelan. "Jawab Papa."
Saras mengangkat wajahnya perlahan, tapi tak menjawab.
"Setelah pencarian terhadap Chantika dihentikan," lanjut Rahardja. "mengapa kamu kembali ke kamar Bryan?"
"Kami... membahas kerjaan, Pa," dusta Saras.
Rahardja mengangkat satu alisnya. "Sampai harus menginap?"
Wajah Saras menegang. "Pa... itu gak kayak yang Papa pikirin."
"Kamu baru keluar keesokan paginya," lanjut Rahardja. "Apa yang membuat pembahasan pekerjaan berlangsung selama itu?"
Bibir Saras bergetar. "Bryan... ngajak aku minum. Kami sama-sama mabuk. Aku ketiduran di sofa kamar. Saat bangun... sudah pagi."
Rahardja tidak langsung menyahut. "Benarkah?"
Saras mengangguk cepat. "Iya, Pa."
Rahardja menarik napas pelan. "Tapi saat kamu pulang pagi itu, Papa lihat cara jalanmu beda. Seolah-olah kamu sedang nahan rasa sakit."
Wajah Ranti perlahan kehilangan warna. Tangannya yang sejak tadi menggenggam ujung pakaiannya mulai bergetar. "Saras..."
Suaranya lirih, dipenuhi kecemasan seorang ibu. "Apa Bryan melakukan sesuatu kepadamu?"
Saras spontan menggeleng keras. "Enggak, Ma!"
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Chantika yang sejak tadi diam hanya mengamati adiknya. Sebagai penyidik, ia lebih terbiasa memerhatikan bahasa tubuh daripada kata-kata.
Penolakan Saras terdengar tegas. Namun sorot matanya terus menghindar, napasnya tidak teratur, dan jemarinya masih gemetar. Semua itu justru menunjukkan tekanan yang luar biasa.
Rahardja menarik napas yang terasa berat. "Papa gak akan maksa kamu menceritakan hal yang bersifat pribadi."
Rahardja berbicara dengan tenang. "Tetapi kalau keadaanmu berkaitan dengan Bryan atau kontrak ini, Papa harus mengetahuinya. Papa bukan ingin menghakimimu. Papa ingin memastikan gak ada seorang pun yang memanfaatkan anak Papa."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Saras. "Papa... percayalah. Aku memang semalaman di sana. Tapi... gak terjadi apa-apa."
Ia menunduk semakin dalam. "Aku cuma... terlalu bodoh sampai percaya semua yang Bryan katakan."
Jawaban itu tidak mengaku, tetapi juga tidak meyakinkan.
Chantika terdiam. Sebagai penyidik, ia terbiasa berpegang pada bukti, bukan dugaan. Namun rangkaian fakta yang ada membuat penjelasan Saras terasa sulit diterima.
Semalaman di kamar hotel bersama Bryan, lalu keluar keesokan paginya dengan langkah yang tampak menahan sakit...
Kalau memang tidak terjadi apa-apa, mengapa semua itu begitu sulit dijelaskan?
Rahardja memijat pelipisnya pelan. Sorot matanya dipenuhi kekecewaan sekaligus kekhawatiran.
Di sisi lain, Ranti terus menatap putrinya. Naluri seorang ibu mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan Saras.
Bukan karena ia ingin berbohong... Melainkan karena luka itu mungkin terlalu berat untuk diucapkan.
Keheningan menyelimuti ruang keluarga selama beberapa saat. Hingga Rahardja akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Baik."
Semua mata tertuju kepadanya.
"Kalau begitu... soal kontrak dengan Bryan ini, Papa memutuskan..."
...🔸🔸🔸...
..."Kebohongan mungkin mampu menunda kebenaran, tetapi fakta akan selalu menemukan jalannya untuk berbicara."...
..."Kasih sayang seorang ayah bukan terlihat saat anaknya benar, melainkan saat ia tetap memilih melindungi meski mulai melihat kesalahan."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.
Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.
Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.
Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.
Weleeehhh Saras
Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.
Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.
Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.
Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.
Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.
Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.
Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.
Chantika memimpin tim surveillance.
The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.
Pertempuran nanti malam bakal seru.