NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Atap Danmer

Aku duduk di sebuah kursi pendek di sudut ruang utama rumah Danmer, cukup dekat dengan perapian untuk merasakan panasnya pada sisi tubuh. Pakaian luarku telah kulepas dan digantung bersama mantel Marlow dekat pintu. Kemeja di punggung masih lembap oleh keringat, tetapi udara di dalam rumah perlahan mengusir dingin yang terbawa dari perjalanan.

Sebuah meja kecil berdiri di samping kursi. Di atasnya terdapat mangkuk kayu berisi minyak cengkih yang dicampur sedikit arak gandum dan air hangat. Cairannya berwarna kekuningan, dengan aroma tajam yang memenuhi bagian ruangan itu. Bau manis cengkih bercampur alkohol menusuk sampai ke belakang hidung dan membuatku sudah merasa perih sebelum obat tersebut menyentuh kulit.

Ishar duduk di bangku rendah tepat di hadapanku. Ia telah menggulung lengan gaunnya sampai siku. Satu kepangan tipis masih menjuntai di sebelah kanan wajahnya, sementara rambut pirang yang lain dibiarkan tergerai melewati bahu. Dalam cahaya perapian, rambutnya tidak lagi tampak sepucat ketika berada di bawah bulan. Warnanya menjadi lebih hangat, hampir seperti jerami kering yang terkena sinar matahari.

Ia mencelupkan ujung kain bersih ke dalam mangkuk, lalu memerasnya perlahan. Beberapa tetes minyak jatuh kembali ke cairan dan membentuk lingkaran-lingkaran kecil di permukaannya.

Tidak jauh dari kami, Marlow dan Rosh telah duduk di meja makan. Sebuah panci besi berisi rebusan domba diletakkan di tengah meja, bersama roti gandum hitam dan keju kambing. Kuahnya kental, penuh potongan kentang, wortel, jelai, bawang, dan daging yang direbus sampai lunak. Uapnya membawa aroma lemak dan rempah ke seluruh rumah, membuat perutku yang kosong langsung bergejolak.

Aku hampir bisa merasakan kuah hangat itu menyentuh lidah.

Namun Ishar menolak mengizinkanku makan sebelum wajahku dibersihkan.

Marlow tidak berusaha membelaku. Ia menerima mangkuk dari Rosh dan mulai makan seolah aku tidak sedang duduk beberapa langkah darinya dengan bibir pecah dan perut yang hampir melipat dirinya sendiri.

Percakapan mereka terdengar rendah, tetapi rumah itu tidak cukup besar untuk benar-benar menyembunyikan suara. Marlow sedang menjelaskan kejadian di jalan. Ia mengatakan bahwa kami mendengar teriakan Ishar, lalu menemukan Reiss dan dua temannya mengurungnya di dekat pohon ek. Penjelasannya singkat dan datar. Ia tidak membesar-besarkan perkelahian, tidak pula menyebut bahwa aku sempat dijatuhkan dan ditendang beberapa kali.

Rosh mengusap rahangnya ketika nama Reiss muncul. Punggungnya tetap bungkuk meski sedang duduk, sementara kedua tangannya yang kurus memegang mangkuk dekat dada.

“Anak itu tidak pernah tahu kapan harus berhenti,” katanya.

“Malam ini dia tahu,” jawab Marlow.

Rosh memandangnya beberapa saat. Marlow hanya meniup kuah pada sendoknya, lalu melanjutkan makan. Pria tua itu akhirnya menggeleng pelan, mungkin membayangkan bagaimana cucu tetua desa akan menceritakan kejadian itu kepada keluarganya.

Ishar menggeser bangkunya lebih dekat. Lutut kami hampir bersentuhan.

“Angkat dagumu.”

Aku menuruti, tetapi hanya sedikit.

“Lebih tinggi.”

Sebelum sempat membalas, ujung jarinya sudah berada di bawah rahangku. Ia memiringkan wajahku ke arah cahaya dan memeriksa luka di sudut bibir. Sentuhannya hangat, tetapi ujung jarinya memiliki sedikit bagian kasar, mungkin akibat pekerjaan di kebun atau membawa keranjang setiap hari.

Ishar mendekatkan kain basah ke wajahku.

“Jangan bergerak.”

“Aku tidak bergerak.”

Kain itu menempel pada bibir yang pecah.

Rasa panas menusuk begitu cepat hingga seluruh tubuhku tersentak. Seolah seseorang menekan bara kecil langsung ke dalam luka. Kepalaku spontan tertarik menjauh dan kursi berderit di bawah tubuhku.

“Demi Jessiah—”

Plak.

Telapak tangan kiri Ishar mendarat ringan di atas kepalaku.

Pukulannya tidak sakit. Namun bunyinya cukup jelas untuk membuat Marlow menoleh dari meja. Ia melihatku, kemudian melihat Ishar yang masih memegang kain. Setelah itu ia kembali pada makanannya tanpa mengatakan apa pun.

Aku menatap gadis itu dengan mulut sedikit terbuka.

“Jaga bicaramu,” katanya sambil mencelupkan kain kembali ke dalam minyak. “Jangan sembarangan menyebut nama Jessiah.”

“Kau memukulku.”

“Aku mengingatkanmu.”

“Dengan tangan?”

Aku menatapnya tajam. Ia tidak tampak merasa bersalah sedikit pun. Perhatiannya tetap pada kain, seolah memukul kepala tamu adalah bagian biasa dari pengobatan.

Sebuah pikiran lama dan angkuh muncul di kepalaku. Tidak seorang pun di istana akan berani melakukan itu. Pelayan bahkan meminta izin sebelum merapikan kerah pakaianku. Para penjaga menundukkan kepala jika aku melewati mereka. Guru-guruku mungkin pernah memarahiku, tetapi tidak ada yang menepuk kepala putra mahkota seperti anak kecil yang berbicara kotor.

Beraninya seorang gadis desa memukul kepala seorang pangeran.

Mungkin sebulan lalu jika ada rakyat yang bahkan menyentuh kepalaku, dia akan dihukum. Namun aku bukan pangeran di rumah ini. Aku Kal Primm, pemuda asing yang datang dengan pakaian kotor dan wajah babak belur. Bahkan bila Ishar mengetahui siapa diriku, aku mulai menduga tangannya tetap akan bergerak dengan cara yang sama.

Ia menatapku ketika menyadari aku belum berhenti memandang.

“Ada masalah?”

“Tidak.”

Ia mengangkat kain lagi. Kali ini aku memaksa tubuh tetap diam ketika minyak menyentuh bibir. Rasa perih masih datang, tetapi aku sudah bersiap. Jari-jariku mencengkeram sisi kursi, sementara rahang kukatupkan agar tidak mengumpat lagi.

Ishar membersihkan darah kering dengan gerakan pelan. Ia membalik kain, memakai bagian yang masih bersih, kemudian mengusap kulit di bawah hidungku. Setiap kali wajahku bergerak, jemarinya menahannya kembali pada tempatnya.

Di meja makan, Rosh bertanya tentang tujuan perjalanan kami.

“Ke barat,” jawab Marlow.

“Blue Lake?”

“Kami akan melewatinya.”

Rosh mengangguk pelan. “Jalur utara lebih cepat, tapi bagian dekat rawa akan sulit setelah hujan. Kalau kalian berangkat pagi, ikuti jalan penggembala sampai bukit bercabang. Ambil sisi yang melewati pohon-pohon pinus.”

“Kami akan mengingatnya.”

Marlow tidak memberi penjelasan lain. Rosh juga tidak mendesak. Ia tampaknya cukup mengerti bahwa dua pengelana bersenjata yang datang malam-malam tidak selalu ingin menceritakan seluruh hidup mereka kepada orang yang baru dikenal.

Aroma rebusan semakin kuat. Aku melirik ke arah meja saat Rosh membuka tutup panci untuk menambahkan kuah pada mangkuk Marlow. Potongan daging yang lunak jatuh dari sendok besar, diikuti kentang dan bawang.

Perutku berbunyi cukup keras untuk didengar Ishar.

“Aku lapar,” kataku.

“Aku tahu.”

“Kalau begitu aku bisa makan dulu.”

“Tidak.”

“Lukanya tidak akan pergi.”

“Sayangnya kotorannya juga tidak.”

Aku melihat Marlow merobek roti, mencelupkannya ke dalam kuah, lalu memakannya dengan tenang. Ia tahu aku sedang menatapnya, tetapi tidak memberi reaksi.

Ishar menekan kain ke sudut bibirku sedikit lebih keras. Rasa panas membuatku menarik napas tajam.

“Kau banyak bicara untuk orang yang kelaparan.”

Ia memindahkan kain ke goresan dekat pelipis. Luka itu lebih kecil, tetapi arak yang bercampur minyak tetap membuat kulit terasa terbakar. Aku menahan diri agar tidak bergerak, meski bahu dan leher mulai kaku karena duduk dalam posisi yang sama.

“Dari mana kau belajar melakukan ini?” tanyaku.

“Kakekku sering terluka saat masih bekerja di hutan. Kapak, duri, kayu patah. Setelah penglihatannya melemah, aku yang merawatnya.”

“Dan semua luka diberi minyak ini?”

“Tidak. Hanya luka orang yang terlalu banyak mengeluh.”

Aku hampir tersenyum, tetapi bibir pecah langsung berdenyut saat sudut mulut bergerak.

Ishar melihatnya.

Ia memiringkan wajahku ke kiri untuk memeriksa memar di bawah mata. Ujung jarinya menyentuh kulit dengan hati-hati. Bagian itu terasa nyeri, tetapi tangannya jauh lebih lembut daripada perkataannya.

Dari jarak sedekat itu, aku bisa melihat warna matanya dengan jelas. Hijau di sekitar pupil lebih gelap, kemudian memudar menjadi warna yang lebih terang di tepinya. Pantulan api bergerak di sana setiap kali ia berkedip. Ada bintik-bintik sangat kecil di sekitar hidungnya yang tidak terlihat di bawah cahaya bulan.

Aku baru menyadari sedang menatap ketika Ishar berhenti bergerak.

“Apa?”

Aku mengalihkan pandangan ke perapian.

“Tidak ada.”

Ia tidak tampak percaya, tetapi kembali pada lukaku. Kain hangat menyentuh rahang, lalu bergeser ke goresan di dekat telinga. Rambutnya jatuh ke depan, membawa aroma apel yang samar bercampur sabun dan asap kayu.

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Aku tidak mengerti alasannya dan tidak ingin memikirkannya terlalu lama.

Di meja, Rosh mulai menceritakan masalah antara Ishar dan keluarga Mellar. Ayah Reiss memiliki beberapa lahan luas di sisi timur desa, sedangkan kakeknya telah menjadi tetua Arlenville selama bertahun-tahun. Orang-orang Mellar mempekerjakan banyak warga saat musim panen dan memiliki sebagian besar lumbung yang digunakan selama musim dingin.

“Reiss tumbuh dengan terlalu banyak orang yang tidak berani menolak,” kata Rosh.

Tatapan pria tua itu berpindah kepada Ishar. Kebanggaan kecil muncul pada wajahnya, tetapi kekhawatiran tetap tinggal di sekitar mata.

“Aku tidak memulai perkelahian.", kata Ishar.

Ishar mengambil kain baru dan membasahinya dengan air hangat. Ia mulai membersihkan sisa minyak dari kulit di sekitar bibirku. Sentuhannya membuat rasa panas perlahan mereda.

“Apa tanganmu terluka?” tanyaku ketika melihat goresan tipis pada punggung tangannya.

Ia meliriknya sebentar. “Hanya terkena kulit pohon.”

“Kau belum membersihkannya.”

Ishar menatapku, seolah baru menyadari aku tidak sekadar mencari alasan untuk makan. Wajahnya sedikit melunak, tetapi ia segera kembali pada pekerjaannya.

“Aku akan membersihkannya nanti.”

Ia mengusap darah kering yang masih menempel di leherku, lalu memeriksa pipi dan pelipis sekali lagi. Kedua tangannya memegang sisi wajahku dan memiringkannya ke arah perapian. Aku bisa merasakan panas telapak tangannya pada kulit.

Aku menahan napas tanpa sengaja.

Ishar begitu dekat hingga lututnya benar-benar menyentuh lututku. Matanya bergerak meneliti setiap goresan, tetapi pikiranku tidak lagi berada pada rasa sakit. Aku hanya memperhatikan kepangan kecil yang jatuh di sisi wajahnya, lekuk bibirnya ketika berkonsentrasi, dan cahaya api yang memutihkan sebagian rambutnya.

Akhirnya ia melepaskan tangannya.

“Selesai.”

Aku masih memandangnya.

Ishar mundur sedikit, lalu tersenyum. Senyumnya tidak lebar, tetapi cukup untuk menghilangkan ketegasan pada wajahnya. Matanya menjadi lebih hangat. Sesuatu bergerak di dalam dadaku, rasa ringan yang aneh dan membuat jantungku berdebar lebih keras daripada setelah berlari.

Pikiran tentang seorang rakyat jelata yang berani memukul kepala pangeran mendadak terasa konyol. Untuk beberapa saat aku bahkan lupa bahwa ia mengenalku dengan nama palsu.

“Kau boleh makan sekarang,” katanya.

Aku berdiri terlalu cepat. Nyeri pada rusuk langsung menusuk sisi tubuh dan memaksaku membungkuk sedikit. Ishar ikut bangkit, tangannya hampir mencapai lenganku.

“Rusukmu sakit.”

“Hanya memar.”

“Kau tidak tahu itu.”

“Aku masih bisa bernapas.”

“Kalau rasa sakitnya memburuk, katakan.”

Aku mengangguk, lalu berjalan menuju meja makan sebelum ia berubah pikiran dan memaksaku duduk kembali.

Rosh telah menyiapkan sebuah mangkuk. Ia mengisinya dengan rebusan sampai hampir penuh, lalu mendorong roti ke arahku. Uap kuah menyentuh wajah. Aku menunggu sebentar sebelum memasukkan suapan pertama, tetapi tetap saja rasa panas menyengat luka di bibir.

Aku tidak peduli.

Dagingnya lunak dan gurih. Kentang hancur di lidah, jelai membuat kuah terasa berat, sedangkan bawang memberikan rasa manis yang tidak kutemukan pada makanan perjalanan. Kehangatan turun ke perut dan menyebar ke seluruh tubuh. Aku makan lebih cepat daripada seharusnya sampai Marlow mengetukkan satu jari pada sisi mangkukku.

“Pelan.”

Aku mengunyah, lalu menatapnya.

Ia tidak menambahkan apa pun. Namun tatapannya cukup jelas untuk mengingatkanku agar tidak bertindak seperti seseorang yang tidak pernah melihat makanan.

Ishar membawa mangkuk obat ke dapur, membuang air bekas, lalu mengambil beberapa selimut dari sebuah peti di dekat tangga.

“Aku akan menyiapkan kamar kecil,” katanya kepada Rosh.

“Untuk Kal,” jawab kakeknya. “Marlow bisa memakai dipan dekat perapian.”

“Lantai cukup,” kata Marlow.

“Tidak di rumahku.”

Nada Rosh tetap ramah, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah. Marlow akhirnya mengangguk.

Ishar mulai menaiki tangga dengan selimut di lengannya. Sebelum menghilang di lantai atas, ia menoleh kepadaku.

“Jangan sentuh luka itu dengan tangan kotor.”

Mulutku masih penuh roti, jadi aku hanya mengangguk.

Ia menatapku beberapa detik untuk memastikan aku menurut, lalu melanjutkan naik. Papan-papan tangga berderit di bawah langkahnya. Cahaya lampu minyak yang dibawanya bergerak di dinding, kemudian menghilang di atas.

Ketika kembali melihat meja, kudapati Marlow sedang memperhatikanku.

Aku mengabaikannya dan kembali pada rebusan, sementara langkah Ishar masih terdengar samar dari lantai atas dan api di perapian terus menghangatkan rumah Danmer.

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!