"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
"Pak Ranu, sepertinya kita sedikit melenceng dari jalur," ucap Supardi, supirnya, dengan nada cemas. "Sinyal hilang total. Tidak bisa buka peta sama sekali."
Mobil yang membawa Ranu dan supirnya melaju perlahan membelah jalanan berkelok yang dikelilingi hutan jati. Langit mulai berubah warna, semburat jingga perlahan memudar digantikan kelabu yang kian pekat. Ranu duduk di kursi belakang, tatapannya kosong menatap jendela. Hatinya masih terasa berat. Kepergiannya ke Kota Bayangan bukan sekadar tugas membuka cabang baru untuk Global Sentosa CV. Tetapi upaya untuk menjauhkan diri dari rasa yang tak seharusnya tumbuh, rasa yang ia simpan rapat untuk Ning, istri adiknya.
Ranu menghela napas pelan. "Terus saja pelan. Pasti ada pemukiman warga di sekitar sini. Kita tanya arah."
Waktu terus berjalan. Matahari benar-benar tenggelam, menyisakan remang cahaya dari lampu kabin mobil yang mulai redup. Hingga akhirnya suara mesin mendadak tersendat, lalu mati total. Mobil berhenti tepat di tikungan dekat perkampungan kecil.
"Ada apa ini?" tanya Ranu sambil membuka pintu.
"Sepertinya ada masalah pada mesin, Pak. Atau mungkin ban juga bermasalah," jawab Supardi sambil memeriksa bagian bawah kendaraan. "Malam sudah gelap, sulit memperbaikinya sekarang."
Ranu menatap sekeliling. Jauh dari keramaian, hanya ada suara jangkrik dan angin yang berdesir. Tubuhnya terasa lelah, bekas masa koma satu setengah tahun lalu kadang masih terasa saat ia terlalu banyak beraktivitas.
"Kita cari tempat istirahat dulu. Besok pagi baru diperbaiki," kata Ranu.
"Ada apa ini, Bapak-bapak?"
Tak lama, seorang lelaki paruh baya melintas.
"Oh, ini, pak. Mobil kami ngadat. Tiba-tiba mati sendiri," jawab Supardi.
"Ngadatnya gimana, Pak? Boleh saya periksa?" tanya pria itu lagi.
Supardi tanpak ragu, melirik majikannya yang hanya diam mengamati. Lalu pria itu mengulurkan tangannya. "Saya Burhan. Saya tinggal di pemukiman sekitar sini, kebetulan saya cukup tau mesin. Saya kerja di bengkel," jelas pria bernama Burhan itu.
Supardi langsung tersenyum, menyambut uluran tangan itu dengan sama ramahnya. "Wah, beruntung sekali, Pak. Boleh. Silahkan. Saya supir Pak Ranu. Saya Supardi."
Pak Burhan lantas mengecek bersama Supardi. Mereka tampak serius membicarakan kronologi mobil berhenti hingga kemungkinan kerusakan mesin.
"Udah malam banget, ini pak. Kita juga nggak ada alatnya. Kalau berkenan, menginaplah di rumah saya saja," ucap Pak Burhan ramah. "Rumah saya sederhana, tapi cukup untuk beristirahat."
Ranu dan Supardi saling berpandangan, lalu mengangguk setuju. Mereka berjalan kaki sebentar sampai tiba di sebuah rumah panggung yang tampak asri. Di beranda, seorang wanita paruh baya tersenyum menyambut.
"Loh, pak? Sama siapa?"
"Mereka tersesat dan mobilnya rusak. Biarkan mereka istirahat di sini malam ini," kata Pak Burhan kepada istrinya.
"Baiklah. Silakan masuk," sahut wanita itu, lalu menoleh ke arah dalam rumah. "Galuh, tolong siapkan minum dan makanan ringan untuk tamu kita."
Tak lama kemudian, muncullah seorang wanita muda dengan wajah lembut tapi agak jutek. Itulah Galuh Putri. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun yang memandang Ranu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Silakan duduk," ucap Galuh dengan suara lembut.
Anak kecil itu mendekat, menarik ujung baju Ranu sedikit. "Om dari mana? Kenapa malam-malam datang ke rumahku?" tanyanya polos.
Ranu hanya menatap sekilas, lalu membuang muka dengan ekspresi dingin. Ia tidak terbiasa dengan keramahan berlebih, apalagi saat hatinya sedang kacau. "Dari jauh," jawabnya singkat dan datar.
Galuh tersenyum tipis, menarik pelan tangan anak itu. "Jangan mengganggu tamu, Ka. Bermainlah sebentar."
"Ibuk, Galuh. bapak keluar sebentar ya. Mau nutupin mobil sama coba panggil warga buat bantu dorong."
"Iya, pak. Hati-hati."
Pak Burhan dan Supardi berpamitan untuk keluar, mencoba memeriksa kondisi mobil walau cahaya terbatas. Tinggallah Ranu bersama ketiga orang itu di ruang tengah. Tak lama, Galuh kembali membawa nampan berisi pisang goreng hangat dan teh manis.
"Ini silakan seadanya, Pak," katanya sambil meletakkan hidangan di meja.
"Terima kasih," ucap Ranu pelan.
"Ini tempatnya pinggiran desa, Pak. Jadi hanya ada seadanya saja," ucap Bu Burhan sungkan.
"Oh, tidak apa-apa, Bu."
Sejak tadi Ranu merasa tidak nyaman. Perjalanan panjang membuat tubuhnya terasa lengket oleh keringat dan debu jalanan.
"Apakah ada tempat untuk membersihkan diri?" tanya Ranu kepada ibu Galuh.
"Tentu ada. Kamar mandi ada di belakang rumah, terpisah dari bangunan utama," jawab wanita itu. Ia lalu memanggil Galuh lagi. "Galuh, coba anterin bapak ini ke kamar mandi."
Galuh mengangguk. "Iya. Buk." lalu berganti pada Ranu, "Ayo."
Ranu mengikuti langkah Galuh menuju halaman belakang. Udara malam terasa sejuk.
"Malam-malam, sebaiknya jangan mandi, Pak. Nggak bagus buat kesehatan. Lagian di sini airnya dingin buat orang kota. Kalau mau mandi baiknya panaskan air dulu. Tapi, gas lagi langka. Jadi harus pake kayu."
Ranu hanya mendengarkan tanpa merespon.
"Nah, ini kamar mandinya," katanya sambil menunjuk satu ruang di dekat sumur.
"Ini?" Ranu ragu.
"Iya, ini di desa, jangan disamakan kamar mandi kota."
Ranu menoleh menatap Galuh. Wanita jadi merasa tak nyaman. "Apa?"
"Kamu... Sensitif sekali, dikit-dikit kota z dikit-dikit desa."
"Yahz biasanya kan, orang kota rewel. Bagus sih, kalau bapak enggak," katanya lagi. "Saya nyuci di sini," tunjuknya di samping sumur. Tadi lagi nyuci, belum kelar. Kalau ada apa-apa, tinggal bilang aja."
Ranu melangkah masuk ke area sekitar kamar mandi. lalu mulai membersihkan diri. Setelah tubuh kena air dingin rasanya lebih segar walau harus pakai baju yang sama lagi.
"Benar katanya. Airnya emang dingin."
Ranu keluar begitu selesai, lantai semen di sana agak licin. Pikirannya yang melayang pada kenangan masa lalu membuat kewaspadaannya berkurang. Tiba-tiba kakinya kehilangan pijakan. Ia tergelincir.
Refleks, ia mencoba meraih sesuatu untuk menahan jatuh. Sayangnya, posisi Galuh yang sedang membungkuk di dekat situ menjadi titik tumpu yang tak terelakkan. Tubuh Ranu menindih tubuh Galuh hingga keduanya terjatuh ke lantai dalam posisi yang sangat dekat dan tidak wajar.
Galuh terkejut, matanya membelalak. "Apa..."
Belum sempat kalimat itu selesai, suara langkah kaki terdengar mendekat. Beberapa warga yang baru pulang dari ladang melintas dan melihat pemandangan itu. Wajah mereka langsung berubah, pandangan penuh kecurigaan dan salah paham terlihat jelas di wajah masing-masing.
"Kalian ini... apa yang sedang kalian lakukan?" seru salah seorang warga dengan nada tinggi.
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up