Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 - Bertemu
Adnan melangkah masuk ke dalam kafe yang suasananya hangat namun tak terlalu riuh, aroma kopi yang baru diseduh menyelimuti ruangan yang diterangi lampu temaram. Matanya segera menyapu setiap sudut ruangan, dan tak butuh waktu lama untuk menemukan sosok yang dicarinya.
Di sudut paling belakang yang agak tersembunyi dari pandangan orang lain, duduk Gladys sendirian. Wanita itu mengenakan setelan jas berwarna gelap yang rapi dan berwibawa seperti biasanya, rambutnya tersusun rapi ke belakang, namun kesempurnaan yang selalu ia tampilkan kini tampak rapuh. Ada garis-garis lelah yang jelas terukir di wajahnya yang biasanya dingin dan tak terbaca, dan di hadapannya hanya ada secangkir teh yang sudah dingin, belum tersentuh sama sekali seolah ia sudah duduk diam di sana berjam-jam.
Saat melihat Adnan berjalan mendekat, ekspresi wajah Gladys yang semula tegang dan penuh kekhawatiran perlahan melunak. Ada pancaran rasa lega yang begitu nyata terpancar dari matanya, seolah ia baru saja melepaskan beban berat yang dipikulnya sendirian selama bertahun-tahun.
"Kau benar-benar datang," ucapnya pelan saat Adnan berdiri di hadapan mejanya. Suaranya tak lagi meledak-ledak atau penuh ancaman seperti di telepon, melainkan terdengar rapuh dan lelah, jauh berbeda dari sosok berwibawa yang ia kenal selama ini. "Duduklah!"
Adnan menarik kursi di hadapannya, duduk dengan sikap tetap waspada namun berusaha sebisa mungkin tetap tenang dan terbuka. "Aku menepati janjiku. Aku minta maaf atas kekacauan yang aku lakukan."
Gladys mengangguk pelan, menatap wajah Adnan lekat-lekat seolah memastikan pemuda itu benar-benar ada di sana dan bukan sekadar bayangan atau jebakan yang diciptakan oleh imajinasinya sendiri. "Simpan maafmu itu, Ad. Aku tahu pasti ini terasa sangat mencurigakan bagimu. Bahkan mungkin terasa seperti perangkap yang sudah kusiapkan dari awal."
"Maksudmu?" tanya Adnan langsung pada intinya, tak lagi berputar-putar.
Gladys menunduk perlahan, menatap cangkir teh dingin di hadapannya dengan pandangan yang kosong dan jauh. Napas panjang yang berat ia hembuskan perlahan, seolah mengeluarkan segala rasa sakit yang selama ini ia pendam sendirian.
"Sejujurnya..." suaranya tercekat sejenak sebelum ia mampu melanjutkan, "Aku memang marah saat kau hilang begitu saja. Tapi bukan karena ritualnya kacau. Aku marah karena takut kau pergi sebelum sempat kau tahu kenyataan yang sebenarnya. Aku memang sudah menduga kau akan ketakutan saat melihat apa yang terjadi malam itu. Siapa yang tidak akan gemetar melihat hal-hal yang tidak masuk akal dan mengerikan seperti itu? Tapi aku sama sekali tidak menyangka reaksimu akan sedrastis itu, secepat itu, dan sepeninggal itu tanpa meninggalkan jejak sedikit pun."
Adnan mengerutkan dahi dalam kebingungan yang semakin mendalam, tak mampu memahami maksud di balik setiap kata yang diucapkan wanita itu. "Aku benar-benar tidak mengerti. Kau bilang kau senang aku membuat kekacauan itu? Bukankah ritual itu sangat penting buat kalian? Bukankah aku sudah merusak persiapan kalian?"
Gladys mendongak perlahan, dan kali ini Adnan melihat kilatan air mata yang berusaha sekuat tenaga ia tahan di pelupuk matanya, sesuatu yang tak pernah sekalipun dia bayangkan akan ada pada sosok Gladys yang dingin, tegas, dan tak terkalahkan.
"Karena aku bukan bagian dari kelompok itu dengan sukarela, Ad," ucapnya parau namun penuh penekanan yang tulus. "Aku terjebak. Terperangkap dalam lingkaran sekte sesat itu sejak aku masih remaja, dan sampai detik ini aku tak pernah punya jalan keluar yang aman. Semua yang kau lihat semalam... senyumku, sikapku, semangatku saat memimpin upacara... semuanya pura-pura. Aku harus melakukannya agar mereka tidak curiga, agar aku tetap hidup, dan agar orang-orang yang kusayangi di luar sana tetap aman dari ancaman mereka."
Keheningan yang berat seketika menyelimuti meja mereka. Kata-kata itu terdengar begitu mustahil untuk dipercaya, namun nada bicara dan ekspresi tulus yang terlihat pada wajah Gladys membuat hati Adnan diliputi keraguan yang semakin dalam.
"Malam itu..." lanjut Gladys, suaranya bergetar menahan emosi yang meluap, "saat kau masuk ke ruangan itu, saat kau melihat semuanya... aku tahu mungkin ini adalah satu-satunya kesempatan yang tak akan pernah datang lagi. Dan saat kau panik dan kabur membawa kamera itu... aku tahu kau membawa bukti yang bisa menghancurkan kekuasaan mereka. Bukti yang selama ini aku tak pernah berani merekam atau ambil sendiri karena mata mereka selalu mengawasi setiap gerak-gerikku."
Gladys tiba-tiba menatap tajam namun penuh harapan ke arah tas kamera yang diletakkan Adnan di samping kursinya.
"Kamera itu... rekaman ritual itu... apakah kau masih menyimpannya?" tanyanya dengan napas tertahan, seolah nasibnya bergantung pada jawaban yang akan diberikan Adnan.
Tanpa ragu lagi, Adnan meraih tas itu, mengeluarkan kamera tua hitam legam tersebut, lalu meletakkannya perlahan di tengah meja di antara mereka.
"Aku masih menyimpannya," akunya jujur. "Tapi ada satu hal yang sangat aneh dan mengerikan. Sejak kemarin aku sudah mencoba menghapusnya berkali-kali. Aku coba hapus per file, coba potong bagian-bagiannya, bahkan sampai memformat seluruh memori... tapi tidak bisa. Selalu muncul pesan kesalahan yang sama: TIDAK DAPAT DIHAPUS. Seolah rekaman itu sudah menyatu dengan jiwa benda ini sendiri dan tak akan pernah bisa musnah."
Gladys menatap kamera itu dengan campuran rasa takut dan harapan yang bertabrakan hebat di matanya. Namun saat dia kembali menatap wajah Adnan, keraguan yang perlahan muncul di mata pemuda itu tak luput dari perhatiannya.
"Kau ragu padaku," tukas Gladys, bukan sebagai pertanyaan melainkan pernyataan yang ia terima dengan pasrah.
Adnan menelan ludah yang terasa getir, berusaha jujur pada perasaannya sendiri meski ia tahu itu mungkin menyakiti hati wanita itu. "Maaf... tapi bagaimana caraku bisa langsung mempercayaimu sekarang? Malam itu... aku melihatmu dengan mata kepala sendiri. Kau tampak begitu menguasai keadaan, begitu tenang, dan bahkan... terlihat menikmati setiap detik dari kengerian yang terjadi di hadapanmu. Bagaimana mungkin aku bisa percaya bahwa kau sebenarnya hanyalah korban yang terjebak?"
Pertanyaan itu melayang berat di udara, menuntut jawaban yang tak mudah untuk diberikan. Gladys terdiam sejenak, tak langsung membela diri, namun Adnan melihat bagaimana bahunya perlahan merosot, dan bagaimana wajah yang selalu tampak kuat itu runtuh seketika menjadi wajah seseorang yang telah lama menderita dalam kesunyian yang mengerikan tanpa ada tempat untuk mengadu.