Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.
Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:
punya rumah sendiri.
Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.
Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.
Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.
Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.
Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi di Kamar Lantai Tiga
Sesuatu yang paling mengerikan dari sebuah pembunuhan bukanlah darah yang berceceran di lantai.
Melainkan saat kau menyadari bahwa pelakunya masih berada di dalam ruangan yang sama denganmu.😭
-----
Mobil travel yang kutumpangi tiba di Jakarta saat langit masih berwarna abu-abu pucat.
Perjalanan panjang dari kampung membuat seluruh tubuhku pegal luar biasa. Namun anehnya, sejak membuka mata dari mimpi buruk tentang Shara beberapa jam lalu, dadaku terus terasa sesak.
Seolah ada sesuatu yang sedang menungguku.
Sesuatu yang buruk.
Aku turun di depan ruko menjelang pukul enam pagi.
Suasana masih sepi. Hanya suara kendaraan yang sesekali melintas di jalan raya dan bunyi kipas angin tua dari warung kopi sebelah gang.
Setelah berbincang sebentar dengan Mbak Anggi di lantai bawah, aku langsung mengangkat tasku dan berjalan menaiki tangga menuju lantai empat.
Semua terlihat normal.
Terlalu normal.
Namun begitu kakiku menginjak lantai tiga, langkahku perlahan melambat.
Ada sesuatu yang aneh.
Udara di koridor terasa pengap.
Dan... ada bau yang samar.
Awalnya aku mengira itu aroma selokan atau sampah yang terlambat dibuang.
Tapi semakin dekat aku berjalan ke arah kamar Shara, aroma itu semakin jelas.
Amis.
Menusuk.
Membuat perutku mendadak mual.
Aku berhenti.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Tatapanku jatuh pada pintu kamar Shara.
Sedikit terbuka.
Padahal selama ini perempuan itu selalu mengunci pintunya rapat-rapat saat tidur.
"Shara?" panggilku pelan.
Tidak ada jawaban.
Aku melangkah mendekat.
Bau itu kini begitu pekat hingga membuat tenggorokanku terasa pahit.
Tanganku yang membawa oleh-oleh mulai berkeringat.
Entah kenapa, mimpi buruk yang kulihat di dalam mobil tadi kembali terlintas di kepala.
Shara.
Gaun putih.
Darah.
Tolong...
Aku menelan ludah.
Lalu mendorong pintu itu perlahan.
Kreeeek...
Pintu bergeser.
Dan dunia seolah berhenti berputar.
Untuk beberapa detik aku tidak mampu memahami apa yang sedang kulihat.
Otakku menolak menerima kenyataan di depan mata.
Lantai kamar dipenuhi warna merah.
Merah di kasur.
Merah di dinding.
Merah di lantai.
Merah di mana-mana.
Di tengah genangan darah itu...
terbaring seorang perempuan.
Tubuhnya kaku.
Matanya terbuka.
Mulutnya sedikit menganga.
Seolah mati dalam ketakutan yang luar biasa.
Shara.
Aku tidak bisa bernapas.
Seluruh tubuhku membeku.
Pikiranku kosong.
Bahkan untuk berteriak pun aku tidak mampu.
Air mata langsung mengalir tanpa izin.
Lututku lemas.
Tubuhku hampir roboh.
Namun kemudian...
aku melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Ada orang lain di dalam kamar itu.
Seseorang sedang berjongkok di samping jasad Shara.
Membelakangiku.
Memakai jaket hitam.
Diam.
Tidak bergerak.
Aku bahkan tidak sadar kapan bungkusan oleh-oleh di tanganku terjatuh.
Plastik itu menyentuh lantai.
Suaranya kecil.
Sangat kecil.
Namun cukup untuk membuat sosok itu berhenti bergerak.
Perlahan...
sangat perlahan...
dia berdiri.
Lalu membalikkan badan.
Dan saat wajahnya terlihat jelas di bawah tudung jaket...
darahku seperti berhenti mengalir.
Anggun.
Aku mengenal mata itu.
Tatapan dingin itu.
Tatapan yang pernah kulihat malam ketika ia mengancam Shara.
Kini tatapan itu jauh lebih menyeramkan.
Karena di tangan kanannya masih ada pisau.
Dan pisau itu berlumuran darah.
Darah Shara.
Tubuhku spontan mundur.
Tapi terlambat.
Anggun bergerak secepat kilat.
Tangannya mencengkeram kerah bajuku.
Menyeretku masuk.
Punggungku menghantam dinding begitu keras hingga pandanganku berkunang-kunang.
Belum sempat aku menjerit...
ujung pisau itu sudah menempel di leherku.
Dingin.
Sangat dingin.
Aku bisa merasakan ujung logam tajam itu menyentuh kulitku.
Sedikit saja bergerak...
aku tahu leherku akan bernasib sama seperti Shara.
"Awas kalau buka mulut."
Suara Anggun terdengar seperti bisikan iblis.
Pelan.
Namun penuh niat membunuh.
"Awas kalau ada yang tahu gue ada di sini."
Air mataku mengalir semakin deras.
Aku bahkan tidak sanggup menjawab.
Yang ada di kepalaku saat itu hanya wajah suamiku.
Wajah Lala.
Wajah Andi.
Aku tidak ingin mati.
Tidak di sini.
Tidak sekarang.
Tidak sebelum melihat anak-anakku tumbuh besar.
Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku mengangguk pelan.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Anggun menatapku beberapa detik.
Seolah sedang menimbang apakah aku layak dibiarkan hidup atau tidak.
Lalu perlahan ia menarik pisaunya.
"Ada otak juga ternyata."
Ia menyeringai tipis.
Senyum yang membuat seluruh tubuhku merinding.
"Kalau mau teriak, tunggu sampai gue pergi."
Setelah itu ia mengambil kantong plastik hitam di sudut ruangan.
Memasukkan sesuatu ke dalamnya.
Lalu berjalan keluar kamar.
Tanpa terburu-buru.
Tanpa panik.
Seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan biasa.
Aku hanya bisa terduduk gemetar.
Mendengarkan suara langkah kakinya menjauh menyusuri koridor.
Turun satu per satu anak tangga.
Hingga akhirnya lenyap.
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Dan saat itulah seluruh pertahananku runtuh.
Aku merangkak mendekati tubuh Shara.
Tanganku menyentuh pipinya yang sudah dingin.
Air mataku jatuh di atas wajahnya.
"Shara..."
suaraku pecah.
"Ya Allah..."
Aku memeluk tubuh sahabatku itu sambil menangis sejadi-jadinya.
Jeritanku menggema memenuhi koridor lantai tiga.
Dan untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Jakarta...
aku sadar bahwa tempat ini bukan lagi sekadar tempat mencari nafkah.
Tempat ini telah berubah menjadi kubangan rahasia, darah, dan kematian.
Dan tanpa kusadari...
aku baru saja menjadi saksi hidup dari sebuah pembunuhan.