Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 - Mengikuti Sistem
Mata Faris membelalak semakin lebar. Dia takut semua yang dilihatnya hanyalah halusinasi akibat tekanan mental yang terlalu berat. Namun layar biru transparan itu tidak menghilang. Tulisan-tulisan yang melayang di hadapannya tetap terlihat jelas seolah benar-benar nyata. Jantungnya berdetak semakin cepat.
"Aku pasti sudah gila..."
Itulah kesimpulan pertama yang muncul di benak Faris. Bagaimana mungkin sebuah layar bisa muncul begitu saja di udara? Bagaimana mungkin ada suara aneh yang berbicara langsung di dalam kepalanya?
Bagi Faris, semua ini terlalu tidak masuk akal. Ia telah menghabiskan hidupnya mempelajari logika, ilmu pengetahuan, dan berbagai konsep teknik. Dia percaya pada hal-hal yang bisa dijelaskan secara rasional.
Sementara apa yang terjadi sekarang jelas tidak masuk akal. Karena itulah dia memilih mengabaikannya.
"Kalau ini mimpi, nanti juga hilang."
Faris memejamkan mata lalu bersandar pada dinding dingin sel tahanan. Beberapa menit berlalu. Saat dia kembali membuka mata, layar itu masih ada.
Bahkan tulisan baru kembali muncul.
[Ding!]
[Pengguna mengabaikan sistem.]
[Tidak masalah.]
[Sistem akan tetap membantu pengguna.]
Faris langsung memalingkan wajah. "Aku tidak mau melihat."
[Ding!]
[Pengguna sedang bersikap keras kepala.]
Sudut mata Faris berkedut. Entah kenapa dia merasa sistem itu sedang mengejeknya. Ia akhirnya memutuskan tidur dan tidak memikirkan semua itu. Namun malam itu ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi wajah ibunya.
Apakah ibunya sudah mengetahui dirinya ditangkap? Apakah ada yang mengurusnya? Bagaimana jika penyakit ibunya kambuh?
Semakin dipikirkan, dadanya semakin sesak. Dibandingkan sistem misterius itu, kondisi ibunya jauh lebih penting.
Keesokan harinya, kehidupan penjara berjalan seperti biasa. Para tahanan dibangunkan sejak pagi. Mereka diberi sarapan sederhana lalu diarahkan untuk mengikuti berbagai kegiatan pembinaan. Sebagian membersihkan lingkungan. Sebagian bekerja di dapur. Sebagian lainnya mengikuti pelatihan keterampilan.
Hari itu Faris ditempatkan di area workshop kayu. Ruangan itu cukup luas dan dipenuhi berbagai peralatan pertukangan sederhana. Di sana para tahanan diajarkan membuat kursi, meja, lemari, dan berbagai perabot rumah tangga.
"Hei anak baru!"
Seorang sipir menunjuk Faris.
"Kamu ikut kelompok pembuatan lemari."
Faris mengangguk pelan. Ia sebenarnya tidak memiliki pengalaman khusus dalam membuat furnitur. Namun selama bekerja serabutan bertahun-tahun, setidaknya dia cukup terbiasa menggunakan alat-alat sederhana.
Di salah satu sudut workshop, tumpukan papan kayu sudah tersedia. Seorang instruktur menjelaskan desain lemari yang harus dibuat.
Modelnya sederhana. Lemari dua pintu dengan tiga rak di bagian dalam. Sebagian tahanan langsung mulai bekerja.
Sementara Faris hanya berdiri memandangi gambar rancangan tersebut. Tanpa sadar kebiasaannya kembali muncul. Ia mulai menganalisis, menghitung, dan membayangkan struktur. Lalu suara yang sangat dia kenal kembali terdengar.
[Ding!]
[Mendeteksi aktivitas terkait profesi Insinyur.]
[Fitur Analisis Struktur aktif.]
Faris langsung menghela napas kesal.
"Lagi..."
Namun kali ini sesuatu yang berbeda terjadi. Saat dia melihat rancangan lemari tersebut, berbagai informasi tiba-tiba muncul di kepalanya.
Titik beban, keseimbangan struktur, efisiensi penggunaan material, bahkan beberapa kelemahan desain langsung terlihat jelas.
Faris membeku. Karena informasi itu terasa begitu alami. Seolah-olah dia memang sudah mengetahuinya sejak lama.
[Ding!]
[Sistem menemukan 12 kelemahan desain.]
[Apakah pengguna ingin melihat solusi?]
"Tidak."
[Ding!]
[Pengguna berbohong.]
Faris hampir tersedak. Entah kenapa sistem itu terasa sangat menyebalkan. Meski begitu, rasa penasarannya perlahan muncul.
"...Tunjukkan."
Sesaat kemudian gambar lemari baru muncul di hadapannya. Desainnya jauh berbeda. Lebih kokoh, efisien, dan yang paling menarik, bagian dalamnya memiliki sistem rak geser yang dapat dilipat sehingga kapasitas penyimpanan menjadi hampir dua kali lipat.
Mata Faris membelalak. "Itu..."
Ia belum pernah melihat desain seperti itu sebelumnya. Bahkan di buku-buku teknik yang pernah dia baca.
[Ding!]
[Desain Lemari Penyimpanan Efisiensi Tinggi.]
[Tingkat teknologi: Dasar.]
[Tingkat kesulitan: Mudah.]
Faris terdiam cukup lama. Akhirnya dia memutuskan mencoba. Bukan karena percaya pada sistem, melainkan karena penasaran. Bagaimanapun juga, tidak ada ruginya mencoba.
Pekerjaan pun dimulai. Para tahanan lain bekerja mengikuti rancangan standar yang diberikan instruktur. Sementara Faris diam-diam membuat beberapa perubahan kecil. Ia memotong papan dengan ukuran berbeda..Mengubah posisi penyangga. Menambahkan rel sederhana dari kayu pada bagian dalam.
Beberapa tahanan mulai memperhatikannya.
"Apa yang dia lakukan?"
"Tidak tahu."
"Sepertinya dia salah membuat."
Mereka tertawa kecil. Namun Faris tidak peduli. Ia terus mengikuti petunjuk yang muncul dari sistem. Semakin lama bekerja, semakin terkejut dirinya. Karena setiap langkah terasa begitu jelas. Bahkan kesalahan-kesalahan kecil yang mungkin terjadi langsung terdeteksi sebelum benar-benar terjadi.
Seolah ada seseorang yang terus membimbingnya. Beberapa jam kemudian lemari itu selesai.
Ruangan mendadak hening. Semua mata tertuju pada hasil karya Faris. Bahkan instruktur yang awalnya tidak terlalu memperhatikan kini berjalan mendekat.
"Apa ini?"
Faris gugup. "Saya hanya mencoba membuat sedikit perubahan."
Instruktur membuka pintu lemari. Lalu membeku. Ia mencoba menarik salah satu rak. Rak itu bergeser keluar dengan mulus. Kemudian dilipat. Muncul ruang penyimpanan tambahan di belakangnya.
Instruktur membuka bagian lainnya. Semakin lama matanya semakin membesar. "Siapa yang mengajarimu membuat ini?"
"Tidak ada," jawab Faris.
"Jangan bercanda!"
"Saya serius."
Instruktur menatap Faris beberapa saat. Tatapan itu dipenuhi kebingungan. Karena desain seperti ini jelas bukan hasil pemikiran orang biasa. Bahkan beberapa pengrajin berpengalaman mungkin tidak akan langsung memikirkannya.
Para tahanan lain juga mulai berkumpul.
"Wah..."
"Keren."
"Itu bisa dilipat."
"Lebih banyak ruang penyimpanan."
Suara kekaguman terdengar dari berbagai arah. Untuk pertama kalinya sejak ditahan, Faris merasakan sesuatu yang sudah lama hilang. Pengakuan akan bakatnya. Meski sederhana, tetapi tetap membuat hatinya bergetar.
[Ding!]
[Misi Tersembunyi Selesai.]
[Membuat desain pertama sebagai Insinyur.]
[Hadiah: 5 Poin Sistem.]
Faris menghela napas. Kali ini dia tidak lagi langsung menganggap sistem sebagai halusinasi.
Karena hasil yang diberikan terlalu nyata. Namun ia juga belum sepenuhnya percaya. Bagaimanapun juga, semua ini masih terasa seperti mimpi.
Sementara itu, jauh dari penjara, di sebuah rumah tua yang hampir roboh, Siti perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa semakin lemah.
Sudah beberapa hari dia tidak melihat Faris pulang. Awalnya dia berpikir anaknya sedang bekerja lembur. Namun semakin lama perasaan tidak tenang di hatinya semakin kuat.
"Faris..." Suaranya lirih.
Rumah itu terasa sangat sunyi. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara pintu dibuka. Tidak ada suara anaknya yang biasa menanyakan keadaan dirinya setiap pagi. Hanya kesunyian.
Siti berusaha bangun dari tempat tidur. Dadanya terasa sesak. Tubuhnya gemetar. Namun rasa khawatir membuatnya memaksakan diri. Ia harus mencari tahu. Dengan susah payah, wanita itu menurunkan kedua kakinya ke lantai. Pandangan matanya berkunang-kunang. Namun dia tetap memaksa berdiri.
"Faris..."
Baru beberapa langkah berjalan, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Tubuh Siti jatuh keras ke lantai. Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Akhh!"
Napasnya memburu. Dada kirinya terasa seperti diremas sesuatu. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Ia mencoba bangkit..Namun tubuhnya tidak mau bergerak. Rasa sakit semakin kuat. Air mata perlahan mengalir di pipinya.
"Faris..."
Suara itu terdengar sangat lemah. Hampir tidak terdengar..Wanita itu tidak tahu bahwa putra satu-satunya sedang berada di dalam penjara. Tidak tahu bahwa hidup Faris sedang hancur.