Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:
"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."
Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Pintu Endoskopi
Pagi itu, sinar matahari pagi yang pucat menerobos celah tirai kamar rumah sakit, namun tidak mampu mengusir ketegangan yang menggantung di udara. Hari ini adalah hari penentuan. Endoskopi. Prosedur medis yang bagi Viona terdengar menakutkan, seperti sebuah invasi ke dalam tubuh ibunya yang sudah rapuh.
Rani sudah dipindahkan ke ruang persiapan sejak pukul tujuh pagi. Pak Wahyu duduk di kursi tunggu dengan punggung tegak, meski jari-jarinya terus-menerus mengetuk-ngetuk lututnya—tanda gugup yang jarang ia tunjukkan. Zidan berdiri di samping adiknya Viona, sambil menatap layar ponselnya tanpa benar-benar membacanya. Viona duduk di antara mereka, kakinya bergoyang-goyang gelisah, matanya terpaku pada pintu ganda bertuliskan
"RUANG ENDOSKOPI – DILARANG MASUK".
"Sudah dua puluh menit," gumam Viona pelan, suaranya serak karena kurang tidur. "Kenapa lama sekali?"
Zidan menoleh, lalu melangkah mendekat. Ia berjongkok di depan Viona, menyamakan tinggi pandangannya. "Prosedurnya butuh ketelitian, Vion. Dokter harus memastikan tidak ada luka atau tumor. Waktu bukan indikator bahaya."
"Tapi aku takut, Kak," bisik Viona, matanya berkaca-kaca. "Bagaimana kalau hasilnya buruk? Bagaimana kalau Ibu harus operasi besar?"
Pak Wahyu mendengar percakapan itu. Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati anak-anaknya. Wajahnya tenang, berusaha menjadi jangkar bagi kedua pemuda itu.
"Viona, Zidan," ucap Pak Wahyu lembut. "Kita sudah melakukan yang terbaik. Kita punya dokter terbaik, fasilitas terbaik, dan doa yang tulus. Sekarang, kita serahkan sisanya pada Tuhan. Panik tidak akan mengubah hasil medis."
Zidan mengangguk setuju, meski tatapannya tetap waspada. "Benar, Pak. Tapi wajar jika Viona cemas. Ini ibunya."
Pak Wahyu tersenyum tipis pada putra sulungnya. Ada kebanggaan tersembunyi di matanya melihat bagaimana Zidan, yang dulu selalu dingin dan individualis, kini bisa memahami perasaan orang lain dengan begitu dalam. Perubahan itu datang karena Viona. Gadis itu telah melembutkan hati batu Zidan tanpa disadari siapa pun.
Tiba-tiba, pintu ruang endoskopi terbuka. Seorang perawat keluar, membawa clipboard. Ketiganya langsung berdiri serentak, napas tertahan.
"Keluarga Ibu Rani?" panggil perawat itu.
"Iya, kami!" jawab Pak Wahyu cepat, melangkah maju.
Perawat itu tersenyum ramah. "Alhamdulillah, prosedurnya lancar. Ibu sudah sadar dan dipindahkan ke ruang pemulihan. Dokter Hendra akan segera menemui Bapak untuk menjelaskan hasilnya."
Helaan napas lega terdengar bersamaan dari ketiga anggota keluarga itu. Bahu Viona yang tegang akhirnya rileks. Air mata kebahagiaan mengalir di pipinya.
"Masya Allah..." desis Pak Wahyu, menutup matanya sejenak sebagai bentuk syukur.
Zidan meletakkan tangan di punggung Viona, memberikan tekanan ringan yang menenangkan. "Lihat? Aku bilang semuanya akan baik-baik saja."
Viona menoleh pada Zidan, tersenyum lebar meski masih basah oleh air mata. "Kakak emang paling jago bikin janji manis yang jadi kenyataan."
Zidan mendengus kecil, tapi sudut bibirnya tertarik naik. "Itu bukan janji manis. Itu prediksi berbasis probabilitas medis."
Mereka tertawa kecil, melepaskan ketegangan yang menumpuk semalaman. Beberapa menit kemudian, Dr. Hendra keluar dari ruang pemeriksaan. Wajahnya tampak lebih santai daripada kemarin.
"Selamat pagi, Bapak, Ibu," sapa dokter. "Saya punya kabar baik. Hasil endoskopi menunjukkan adanya tukak lambung (maag) yang cukup parah dan menyebabkan pendarahan minor. Tidak ada tanda-tanda kanker atau tumor. Ini berita yang sangat melegakan."
Viona hampir melompat kegirangan. "Jadi... Ibu nggak kenapa-napa serius, Dok? Cuma maag?"
"Bukan 'cuma' maag, Nona," koreksi dokter sambil tersenyum. "Tukak lambung yang sampai berdarah itu serius dan butuh penanganan intensif. Tapi kabar baiknya, ini bisa disembuhkan total dengan obat-obatan rutin, perubahan pola makan ketat, dan manajemen stres. Ibu tidak perlu operasi."
Pak Wahyu menghela napas panjang, rasa berat di dadanya seolah terangkat. "Terima kasih banyak, Dok. Apa yang harus kami lakukan sekarang?"
"Ibu akan rawat inap tiga hari lagi untuk stabilisasi. Setelah itu, pulang dengan resep obat selama empat minggu. Dan yang paling penting," dokter menatap mereka bergantian, "Ibu harus istirahat total. Tidak boleh bekerja berat, tidak boleh stres, dan makan harus teratur. Siapa yang akan menjaga Ibu di rumah nanti?"
Pertanyaan itu membuat hening sejenak. Biasanya, Rani yang mengurus semua hal di rumah. Tapi sekarang, dia yang harus dijaga.
"Aku," jawab Zidan dan Viona secara bersamaan.
Mereka saling menatap, lalu tersenyum.
"Bisa dibagi tugas," usul Pak Wahyu bijaksana. "Zidan, kamu atur jadwal kerja dari rumah atau delegasikan ke timmu. Viona, kamu bantu pantau obat dan makanan Ibu. Bapak akan bantu urusan logistik dan keuangan."
Zidan mengangguk. "Siap, Pak. Aku akan minta asisten pribadi untuk menangani meeting fisik, jadi aku bisa fokus di sini dan di rumah."
Viona merasa dadanya hangat. Melihat ayahnya (Pak Wahyu) dan kakaknya (Zidan) berdiskusi dengan serius demi kesehatan ibunya membuatnya merasa dilindungi. Ia tidak sendirian. Ia memiliki pasukan penjaga yang tangguh.
Sore harinya, setelah Rani diperbolehkan kembali ke kamar biasa dan kondisinya jauh lebih baik, Viona izin sebentar ke kantin rumah sakit untuk membeli makan siang. Zidan menemaninya, meski ia mengaku "hanya ingin mengambil udara segar".
Di kantin yang ramai, mereka duduk di meja pojok. Viona memesan sup ayam hangat, sementara Zidan hanya memesan kopi hitam.
"Kakak nggak makan?" tanya Viona.
"Nggak lapar," jawab Zidan singkat.
Viona mendesah kesal. "Kak, jangan mulai lagi. Ibu sudah sembuh sebagian, tapi kalau Kakak sakit karena kelaperan, siapa yang mau ngurus kita bertiga? Ayah kan udah tua, nggak kuat ngurus anak-anak bandel."
Zidan mengangkat alis. "Aku bandel?"
"Iya! Bandel karena nggak mau jaga kesehatan sendiri padahal ahli banget nyuruh orang lain hidup sehat," goda Viona sambil menyendokkan sedikit sup ayamnya ke mangkuk kecil kosong di depan Zidan. "Nih. Minum kuahnya aja. Biar ada tenaga buat mikir strategi bisnis Kakak."
Zidan menatap mangkuk kecil itu, lalu menatap Viona. Ada kilatan lembut di matanya. Perlahan, ia mengambil sendok itu dan meminum kuah supnya.
"Enak," komentarnya datar.
Viona tersenyum puas. "Tuh, kan. Rasanya kayak perhatian adik tiri yang sayang kakak tirinya."
Kalimat itu terlontar begitu saja, tanpa filter. Viona langsung menutup mulutnya, menyadari betapa intimnya pengakuan itu. Wajahnya memerah.
Zidan diam sejenak. Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Viona lurus-lurus. Tatapan itu intens, membuat Viona lupa bernapas.
"Vion," ucap Zidan pelan.
"I-iya, Kak?"
"Jangan pernah ragu tentang perasaanku padamu," lanjut Zidan, suaranya rendah namun tegas.
"Mungkin aku tidak pandai mengucapkannya dengan kata-kata puitis seperti di buku-buku sastra kamu. Mungkin caraku kaku dan penuh logika. Tapi setiap tindakan yang kulakukan—mengantarmu, menjagamu, memastikan kamu makan, memastikan Ibu selamat—itu adalah bahasaku."
Jantung Viona berdebar kencang. Ini adalah kali pertama Zidan berbicara secara eksplisit tentang "perasaan". Bukan sekadar tanggung jawab, bukan sekadar efisiensi. Tapi bahasa cinta.
"Aku mengerti, Kak," bisik Viona, matanya berkaca-kaca. "Dan aku menghargainya. Lebih dari apa pun."
Zidan tersenyum tipis, senyum yang mencapai matanya. "Bagus. Karena aku tidak berencana berhenti 'berbicara' dengan bahasa itu."
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman. Di tengah keramaian kantin rumah sakit, di antara aroma masakan dan suara obrolan orang lain, mereka menemukan dunia kecil mereka sendiri. Dunia di mana batas-batas kabur, di mana logika dan emosi bertemu, dan di mana cinta tumbuh di tempat yang paling tidak terduga: di bawah bayang-bayang krisis keluarga.
Saat mereka kembali ke kamar Rani, Pak Wahyu sedang membaca koran di samping ranjang istrinya. Rani sudah bangun dan tersenyum lemah melihat anak-anaknya masuk.
"Dari mana kalian?" tanya Rani parau.
"Belajar cara merawat diri sendiri, Bu," jawab Viona ceria, duduk di tepi ranjang dan memegang tangan ibunya. "Supaya kami bisa merawat Ibu lebih lama lagi."
Rani tersenyum, matanya menyapu wajah Zidan dan Viona, lalu menatap suaminya. Ada kepuasan mendalam di hati wanita itu. Ia tahu, keluarganya utuh. Bukan karena darah, tapi karena pilihan untuk saling mencintai, saling menjaga, dan saling bertahan.
Dan di sudut ruangan, Zidan menangkap tatapan Viona. Sebuah anggukan kecil, sebuah senyuman rahasia. Janji tanpa kata. Bahwa apapun yang terjadi berikutnya, mereka akan menghadapinya bersama.