NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Penyesalan adalah sebuah penjara tanpa jeruji, dan Fatih kini mendekam di dalamnya dengan rantai yang ia pasang sendiri.

Wajahnya yang dulu cerah dengan aura ketenangan seorang pendidik, kini benar-benar runtuh. Matanya cekung, dikelilingi lingkaran hitam yang menandakan malam-malam tanpa lelap. Janggut tipisnya yang biasanya rapi kini tumbuh liar, tak terurus. Ia tampak jauh lebih kuyu daripada sepuluh tahun lalu saat ia kehilangan Wulan untuk pertama kalinya.

Dulu, kehilangan Wulan adalah sebuah misteri takdir—sebuah kepedihan yang lahir dari ketidaktahuan tentang perpindahan alamat. Namun kali ini, kehilangan Bella adalah sebuah belati yang ia tancapkan sendiri ke dadanya. Ia tidak kehilangan Bella karena takdir yang kejam; ia kehilangan Bella karena tangannya sendiri yang membukakan pintu dan mulutnya sendiri yang meneriakkan kata pengusiran.

"Bodoh... ceroboh... munafik," gumam Fatih berulang kali di depan cermin kamar yang kini terasa sangat luas dan dingin.

Ia menatap tangannya. Tangan yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjadi alat untuk mengusir bidadari yang dikirim Tuhan untuknya. Bayangan saat Iptu Deni menyodorkan foto-foto fitnah itu terus berputar seperti kaset rusak, mengejek intelektualitasnya, menghina iman yang selama ini ia banggakan. Bagaimana bisa ia, seorang ustadz yang mengajarkan tentang tabayyun (klarifikasi), justru menjadi orang pertama yang gagal menerapkannya pada istrinya sendiri?

Dukungan di Tengah Badai

Di ruang tamu, Abi Ahmad sedang duduk bersama AKBP Ridwan. Suasana terasa berat, namun kehadiran Ridwan memberikan sedikit titik terang di tengah kabut gelap yang menyelimuti pesantren tersebut. Fatih keluar dari kamar dengan langkah gontai, mencoba bergabung dengan mereka meski jiwanya seolah tertinggal di jalanan tempat Bella menghilang.

Ridwan menatap Fatih dengan pandangan prihatin.  pria yang juga pernah kehilangan belahan jiwa karena maut, ia tahu persis rasa sakit itu. Namun, ia juga tahu bahwa berdiam diri hanya akan memperdalam lubang luka.

"Ustadz... jangan larut dalam kesedihan yang menghancurkan," ujar Ridwan dengan suara rendah namun penuh wibawa. "Lebih baik kita salurkan energi itu untuk mencari. Saya pasti membantu, bukan hanya karena ini perintah Abi, tapi karena memang ini sudah menjadi tugas kepolisian untuk meluruskan apa yang telah dirusak oleh oknum kami."

Fatih mendongak, matanya yang layu menatap Ridwan. "Maafkan saya, Pak Ridwan. Saya telah merepotkan banyak orang karena kebodohan saya sendiri."

"Iya, Pak Ridwan," sela Abi Ahmad, suaranya parau namun tetap teduh. "Fatih sudah sangat menyesal. Kami semua sedang berikhtiar."

Ridwan mengangguk. "Tim saya sudah bergerak. Kami sudah menyebarkan informan ke terminal, stasiun, hingga penginapan-penginapan kecil. Status Deni kini sudah menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang) tingkat tinggi. Kami juga sedang melacak pergerakan aset Barja. Jika mereka masih memegang Mbak Bella, kami akan menemukannya. Tapi jika Mbak Bella melarikan diri sendiri... itu yang butuh usaha ekstra."

"Saya juga sedang menyebarkan informasi di media sosial saya, Pak," Fatih menambahkan dengan suara serak. "Setiap menit saya mengecek notifikasi, berharap ada orang yang melihatnya."

Fatih bangkit dari kursinya. Ia tidak bisa hanya duduk diam mendengar laporan. Adrenalin rasa bersalah mendorongnya untuk bergerak. "Sekarang saya akan berangkat bersama Lukman. Kami akan berkeliling, bertanya ke setiap sudut jalan jika perlu."

Abi Ahmad menatap putranya dengan tatapan yang sangat dalam. "Nak, berdoalah... Yakinlah Allah akan memberimu jalan. Bersabarlah menghadapi ujian ini. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un bukan hanya untuk kematian, tapi untuk segala hal yang kembali pada-Nya. Allah bersama orang-orang yang sabar."

"Iya, Abi... doakan Fatih," Fatih mencium tangan ayahnya, lalu melangkah keluar dengan tekad yang bercampur dengan rasa takut yang amat besar.

### **Langkah Awal di Muslimah Till Jannah**

Di sebuah sudut kota yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon peneduh, Wulan—nama yang kini ia pilih untuk mengubur Bella—mulai membuka lembaran baru. Fisiknya sudah benar-benar pulih, namun tatapan matanya masih menyimpan kabut luka yang sulit ditembus.

Ia duduk di teras samping bangunan putih itu, menatap taman kecil yang dipenuhi bunga melati yang harumnya menenangkan. Hasna menghampirinya dengan langkah tanpa suara, cadar putihnya berkibar ditiup angin pagi.

"Mbak Hasna... bagaimana sebenarnya Mbak bisa menemukanku malam itu?" tanya Wulan, suaranya kini lebih stabil namun tetap terdengar perih.

Hasna duduk di sampingnya, menjaga jarak yang nyaman. "Allah yang memperjalankan kami, Wulan. Malam itu, kami baru saja pulang dari kegiatan sosial rutin komunitas, bagi-bagi sembako untuk warga pinggiran. Jalanan saat itu memang sunyi. Sopirku yang pertama kali melihat sosok berpakaian gamis tergeletak di pinggir aspal. Kami pikir itu kecelakaan, tapi saat kami mendekat, kami melihat luka batinmu jauh lebih besar daripada luka di lututmu."

Wulan menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Terima kasih, Mbak... jika bukan karena kalian, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini."

Hasna kemudian memperkenalkan dua wanita lain yang baru datang membawa beberapa kain jahitan. "Wulan, perkenalkan ini Ukhti Ratih dan Ukhti Susi. Mereka adalah bagian dari keluarga kita di sini. Ratih akan mengajarkanmu cara menjahit dan menyulam, dan Susi akan menemanimu dalam kajian-kajian kecil kita. Semoga kamu betah ya."

Ratih dan Susi tersenyum ramah, meskipun wajah mereka tertutup cadar, binar mata mereka memancarkan ketulusan. Wulan mengangguk pelan, mencoba membalas senyuman itu meski terasa kaku.

“Aku akan menjalani kehidupan baruku,” batin Wulan bergetar. “Tanpa Ayah Dahlan yang sudah tenang di sana, dan tanpa... Bang Fatih. Aku akan mengubur kenangan tentang pria yang mengusirku itu sedalam mungkin. Jika dia tidak membutuhkanku dalam hidupnya, maka aku akan membuktikan bahwa aku bisa bernapas tanpa kehadirannya.”

Setiap kali nama Fatih terlintas, ada rasa ngilu yang menjalar di dadanya. Itu bukan lagi cinta yang hangat, melainkan luka yang masih basah.

### **Pencarian dalam Bayang-Bayang Kesalahan**

Sementara itu, di bawah terik matahari yang menyengat kulit, sebuah mobil tua melaju perlahan menelusuri trotoar jalan raya. Fatih duduk di balik kemudi dengan tatapan yang menyapu setiap pejalan kaki perempuan yang ia temui.

Lukman duduk di sampingnya, memegang sekeping foto. Foto itu adalah satu-satunya kenangan fisik yang Fatih miliki bersama Bella: sebuah foto saat mereka mengucapkan ijab kabul. Di foto itu, Bella tampak begitu cantik dengan kebaya putih sederhana, matanya berbinar malu-malu menatap Fatih.

Fatih melirik foto itu, dan hatinya terasa diremas sembilu. "Lihat dia, Man... dia waktu itu merasa sendiri, dia merasa dirinys tidak pantas, dia ketakutan, harusnya aku menolongnya.. menjaganya.. tapi.. tapi aku malah mengusirnya."

"Sabar, Tih. Kita cari terus," ujar Lukman singkat. Ia tidak ingin menambah beban Fatih dengan banyak bicara, tapi ia terus berjaga, matanya tidak berhenti memindai kerumunan pasar dan halte bus.

Fatih menghentikan mobil di dekat sebuah pangkalan ojek. Ia turun dengan langkah terburu-buru, membawa lembaran kertas berisi foto Bella yang sudah ia cetak.

"Permisi, Pak... apakah pernah melihat wanita ini?" tanya Fatih kepada salah satu tukang ojek.

Si tukang ojek menggeleng. "Enggak pernah lihat, Mas. Wajahnya cantik, pasti gampang diingat kalau lewat sini. Tapi beneran saya enggak lihat."

Fatih pindah ke warung kopi di seberang jalan, lalu ke penjual asongan, ke setiap orang yang ia temui. Pertanyaan yang sama, jawaban yang sama: **Tidak lihat.**

"Bella... kamu di mana?" gumam Fatih saat ia kembali masuk ke mobil, kepalanya bersandar pada kemudi.

"Mungkin kita harus cari ke arah luar kota, Tih. Sesuai info dari Pak Ridwan tadi, sinyal ponsel oknum itu terakhir di arah utara," saran Lukman.

Fatih menghidupkan mesin mobilnya kembali. Setiap meter yang ia tempuh terasa seperti hukuman baginya. Ia mengutuk dirinya sendiri atas setiap detik yang terbuang. Ia membayangkan Bella yang sendirian, ketakutan, dan mungkin membencinya dengan segenap jiwa.

“Kalau pun aku menemukanmu, apakah kamu masih mau menatapku, Bella?” batin Fatih merintih. “Bella.. maafkan aku. Aku terlalu bodoh untuk menyadari bahwa bidadari yang dikirimkan Alloh untukku, dan aku sendiri yang mengusirnya.”

Matahari mulai condong ke barat, memberikan bayang-bayang panjang di aspal jalanan. Pencarian itu belum membuahkan hasil, namun bagi Fatih, berhenti berarti membiarkan dirinya mati perlahan dalam penyesalan. Ia akan terus berjalan, menembus debu dan dinginnya malam, demi menemukan kepingan hatinya yang hilang akibat tangannya sendiri.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!