Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EnamBelas—Satu Suap Akan Ku Balas Dua Suap!
Langkah Gu Mingyue belum sepenuhnya sampai di ambang pintu paviliunnya ketika suara derap langkah kaki terdengar mendekat dengan cepat. Seorang pelayan dari kediaman utama bergegas menghampiri Fan Li'er sebelum akhirnya membungkuk hormat kepada Gu Mingyue.
"Nona Besar, Tuan Besar ingin Anda segera datang ke kediaman utama untuk menghadiri makan bersama," lapor pelayan tersebut.
Gu Mingyue mengangguk pelan, lalu berbalik untuk mengikuti pelayan itu. Sesampainya di aula makan kediaman utama, atmosfer ruangan terasa canggung. Gu Lian tampak berjalan di belakang dengan wajah murung, melangkah beriringan bersama calon suaminya, Zhao Yuchen, yang masih tampak tegang.
Di salah satu sudut meja, Selir Lin terlihat sedang duduk lemas sambil menyesap air putih dari cawannya. Begitu melihat putrinya datang, ia langsung memasang wajah sayu penuh drama. "Gu Lian, Ibu sedang berpuasa demi mendoakan kelancaran pernikahanmu."
Gu Lian segera melangkah mendekat ke arah ibunya. Ia mengelus jemari wanita itu dengan raut sedih. "Ibu, jangan sampai menyiksa diri seperti ini hanya karena memikirkan anakmu."
Selir Lin menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan kamu yang bersalah, Anakku. Hanya saja..." Lirikannya yang tajam seketika jatuh ke arah Gu Mingyue yang baru saja melangkah masuk. "Ibu merasa bersalah tidak bisa memberikan mas kawin yang pantas untukmu, hanya karena ada seseorang yang sengaja menahannya dengan kejam."
Gu Mingyue yang mendengar sindiran terang-terangan itu hanya tersenyum tipis tanpa riak emosi. Ia berjalan melewati mereka dengan langkah santai.
"Dan seseorang seharusnya tahu diri untuk tidak mengharapkan apa yang sejak awal bukan menjadi hak miliknya," decih Gu Mingyue pelan, hampir tak terdengar namun tajam menembus ulu hati. Tanpa memedulikan tatapan menusuk dari ibu dan anak itu, ia langsung memilih salah satu kursi yang kosong dan duduk dengan anggun.
"Kakak, kau sangat tega," ucap Gu Lian, suaranya bergetar menahan kesal.
Gu Mingyue yang mendengar ucapan itu hanya tersenyum samar. "Adik, apakah menurutmu Kediaman Shen tidak pantas menerima mas kawinku?"
Zhao Yuchen yang baru saja meminum tehnya langsung tersedak. Ada perasaan dihina dan direndahkan yang menyergap dadanya. Antara Mingyue memang sengaja menyindir statusnya yang berada di bawah Shen Mufeng, atau gadis itu sedang menabuh genderang perang bersamanya.
"Bukan seperti itu... tapi..." Gu Lian seketika kehilangan kata-kata.
"Tapi apa, Adik? Haruskah aku yang mengalah dan pergi ke Kediaman Shen hanya dengan membawa selembar kain sutra sulaman dan beberapa tael perak?" tanyanya sarkas. "Atau, haruskah aku tidak membawa apa pun? Kurasa mas kawin sangat penting untuk menunjukkan kehormatan dan rasa syukur dalam sebuah pernikahan."
Gu Lian dan ibunya seketika terbungkam. Zhao Yuchen menatapnya dengan sorot mata yang kian dingin membeku.
Namun, Gu Mingyue belum menyerah. "Lagi pula, kurasa Tuan Muda Zhao bukanlah orang materialistis yang menilai pernikahan dari kekayaan dan kedudukan," ucap Gu Mingyue sembari mengalihkan tatapannya, menatap lurus ke sepasang netra Zhao Yuchen. "Bukankah Tuan Muda Zhao dikenal luas sebagai calon menteri yang jujur dan anti-korupsi?"
Seketika itu juga, tubuh Zhao Yuchen membeku.
"Kakak, kurasa kau terlalu serius," sela Gu Lian, mencoba terkekeh pelan demi mencairkan ketegangan yang mencekik calon suaminya.
"Tidak, itu justru pujian yang sangat baik, Adik," pungkas Gu Mingyue dengan senyum kemenangan yang mematikan.
Namun, belum sempat Gu Lian membalas, ayah mereka datang dengan langkah tegap. Pria paruh baya itu menarik kursi makan hingga berderit keras. "Mari makan," ucapnya tanpa basa-basi.
Gu Mingyue melemparkan senyum kemenangan terakhirnya pada Gu Lian, lalu mengalihkan pandangan ke arah Zhao Yuchen yang kini hanya bisa menunduk dalam sembari menyantap makanannya dengan canggung.
Denting suara porselen yang beradu berbaur dengan aroma kaldu sup ayam rempah yang tercium samar. Di tengah keheningan itu, ketegangan terasa kian mencekik ketika derap langkah kaki terburu-buru terdengar masuk dari arah luar.
"Jenderal Besar, ada utusan dari Kediaman Shen."
Ayah Mingyue mengernyit samar. "Baik, katakan pada mereka untuk menunggu sampai kami selesai makan."
Gu Mingyue menundukkan kepalanya, menyembunyikan binar antisipasi di matanya. Ia mulai menebak-nebak kejutan besar apa lagi yang telah disiapkan oleh Shen Mufeng untuk pagi ini.
Begitu acara makan bersama selesai, mereka semua berpindah ke ruang tamu utama. Gu Mingyue berjalan dengan dagu terangkat, lalu mengambil posisi duduk dengan tegap, berdampingan dengan Gu Lian yang wajahnya kian mendung.
Seorang utusan militer melangkah masuk dengan tegas. "Jenderal Besar Gu, kami dari Kediaman Shen datang untuk mengirimkan hadiah pertunangan bagi Calon Nyonya Besar kami."
Semua orang di ruangan itu terdiam sesaat. Belum sempat mereka mencerna ucapan tersebut, derap langkah kaki dari belasan prajurit berbaju zirah terdengar masuk, mengusung beberapa peti kayu besar berukir indah.
Begitu utusan itu memberikan isyarat agar peti-peti tersebut dibuka, napas Selir Lin dan Gu Lian seolah terhenti di tenggorokan. Jajaran perhiasan mewah, batangan tael perak, emas, serta kain sutra merah pekat untuk pakaian pernikahan digelar di depan mata. Kilauan emas dari mahkota pengantin dan batu giok murni memantulkan cahaya yang menyilaukan seisi ruangan.
Gu Mingyue tersenyum sangat puas melihat pemandangan itu.
Sang utusan kemudian membungkuk hormat tepat di hadapan Gu Mingyue, lalu berkata dengan lantang, "Ini adalah hadiah khusus dari Jenderal Agung, sebagai bentuk penghormatan atas keberanian Nona Besar Gu."
Gu Mingyue sedikit memiringkan kepalanya, melirik ke arah Zhao Yuchen yang tengah menyesap teh. Gerakan tangan pria itu seketika terhenti dengan cangkir yang masih menempel di bibirnya, sementara sepasang matanya melebar menatap deretan peti emas di depan mereka.
"Calon suamiku ternyata cukup kaya," ujar Gu Mingyue dengan kekehan pelan yang terdengar begitu renyah, namun sarat akan provokasi.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada sang utusan, memberikan anggukan apresiatif yang anggun. "Sampaikan pada Tuanmu, saya sangat berterima kasih atas kemurahan hati Kediaman Shen."
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya