NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Beberapa langkah di belakang Arlan, Arjun ikut menghentikan langkahnya. Tak lama kemudian Aksan masuk dari arah garasi sambil sesekali menggeser layar ponselnya. Namun, begitu melihat Rani duduk tenang di ruang tamu, gerakan jarinya ikut terhenti. Ketiganya saling berpandangan.

Rani meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Bunyi porselen yang beradu dengan kaca terdengar pelan, tetapi cukup membuat perhatian mereka tertuju kepadanya.

"Duduk."

Arlan mendengus. Jemarinya menarik simpul dasi hingga terlepas begitu saja.

"Mama mau meniru gaya Tante Sintia?" tanyanya sinis. "Ingat, Ma. Mama sama dia nggak akan pernah sama."

Rani mengangkat wajah. Tatapannya begitu tenang.

"Aku tahu," jawabnya singkat. Lalu ia meraih map di atas meja, kemudian membukanya pelan. "Karena aku memang tidak perlu menjadi dia."

"Mama terlalu percaya diri," sahut Arjun.

"Harus." Sudut bibir Rani terangkat tipis. "Kalau aku tidak percaya pada diriku sendiri, lalu pada siapa lagi?"

Arjun membuka mulut hendak membalas, tetapi urung. Dengan kesal ia menjatuhkan tubuh ke sofa. Arlan ikut duduk di sampingnya, sementara Aksan memilih kursi paling ujung sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.

Rani membalik lembar pertama map di tangannya dengan santai.

"Kalian tidak perlu khawatir. Aku tidak memanggil kalian untuk memarahi atau memukul." Pandangannya bergantian berhenti pada ketiga putra Roy. "Menurutku, orang tua yang mendidik dengan tangan biasanya sudah kehabisan cara menggunakan kata-kata. Aku tidak berniat menjadi orang tua seperti itu. Meskipun kalian menginginkannya.

"Tapi lebih baik, Mama balik sewa preman aja buat membalas kami. Dengan begitu masalah selesai jadi tidak perlu main sandiwara seperti ini," cetus Aksan.

"Harusnya tapi aku bukan kalian."

Ruangan kembali sunyi dengan jawab Rani. Ia kemudian melanjutkan. "Ayah kalian sudah memberikan tanggung jawab untuk mendidik kalian kepadaku. Mulai hari ini ada beberapa aturan yang harus kalian ikuti."

Aksan mengernyit. "Ayah bukan menyerahkan. Mama yang memaksa Ayah."

Rani mengangguk kecil, seolah tidak keberatan dengan anggapan itu.

"Boleh saja kamu melihatnya seperti itu." Ia menutup mapnya sebentar. "Yang penting mulai hari ini aku bertanggung jawab atas kalian."

Arlan berdecak pelan. Entah karena kesal atau tidak punya bantahan, ia hanya menyandarkan tubuh ke sofa. Begitupun dengan Arjun.

"Aturan pertama." Rani kembali membuka mapnya. "Semua pengeluaran pribadi kalian akan dicatat. Setiap kali meminta uang, kalian harus memberi alasan yang jelas."

Arjun langsung mengangkat tangan.

"Dicatat buat apa?"

"Supaya kalian belajar bertanggung jawab atas setiap uang yang kalian keluarkan," jawab Rani.

Arlan terkekeh sinis. "Memangnya Mama siapa sampai merasa berhak ngatur uang kami?"

Rani menatapnya beberapa saat sebelum menjawab lagi. "Orang yang diberi tanggung jawab untuk mendidik kalian."

Aksan ikut menyela. "Kami mau dididik. Tapi bukan berarti Mama bisa seenaknya ngatur keuangan kami."

"Justru karena ini bagian dari pendidikan." Rani menyandarkan punggung ke sofa. "Selama ini kalian terlalu bebas menggunakan uang. Lama-kelamaan kalian menganggap semua masalah bisa diselesaikan dengan membayar orang lain."

Tatapannya berhenti pada Arlan. "Termasuk saat kalian menyuruh preman untuk mencelakaiku."

Arlan langsung mengatupkan rahang. Arjun menoleh pelan ke arah kakaknya, sementara Aksan mengembuskan napas panjang.

"Kalau menurut kalian aturan ini berlebihan," lanjut Rani tenang, "coba tanyakan pada nenek kalian bagaimana semua ini bisa terjadi."

Tak ada yang menyahut. Rani kembali membuka mapnya.

"Kalau sudah tidak ada yang ingin disampaikan, aku lanjut."

Ketiganya tetap diam.

"Aksan, uang saku harianmu seratus ribu rupiah. Arlan dan Arjun masing-masing lima puluh ribu."

Butuh beberapa detik sampai ucapan itu benar-benar mereka cerna.

Arlan sontak berdiri. "Lima puluh ribu? Mana mungkin cukup!"

Rani meraih cangkir tehnya, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali.

"Kalau lima puluh ribu terasa tidak cukup, berarti selama ini yang kalian anggap kebutuhan hanyalah kebiasaan." Tatapannya kembali bertemu Arlan. "Mulai sekarang kalian akan belajar membedakan keduanya."

Arlan hampir saja menggebrak meja, tetapi Aksan lebih dulu menatapnya tajam. Isyarat itu cukup membuat Arlan mengurungkan niatnya.

"Atur saja," ucap Aksan sambil menyandarkan tubuh ke sofa. "Kalau sudah selesai, kami mau istirahat."

Rani tersenyum tipis. "Siapa bilang sudah selesai?"

Ketiganya kembali menoleh.

"Aku masih punya jadwal lain untuk kalian."

"Apa lagi?" Arjun menghela napas panjang.

Rani menutup map di tangannya, lalu berdiri. Ia melangkah pelan hingga berhenti tepat di depan Arjun.

"Mulai dari kamu, Ar."

Arjun mendongak.

"Setiap hari Senin dan Selasa, sepulang sekolah, kamu akan menemani Haikal."

"Apa?" Mata Arjun langsung membelalak.

"Kamu tidak salah dengar."

"Aku nggak mau."

"Itu bukan pilihan."

Arjun langsung bangkit dari duduknya.

"Aku nggak sudi menemani orang cacat."

Kalimat itu membuat senyum di wajah Rani perlahan memudar. Ia menatap Arjun beberapa saat, seolah memastikan tidak salah dengar.

"Ulangi."

Arjun mengerutkan kening. "Aku bilang aku nggak sudi menemani orang cacat."

Rani mengangguk pelan. "Kalau begitu, mulai hari ini belajar menghargai orang lain."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi berhasil membuat suasana ruang tamu kembali sunyi. Rahang Arlan mengeras, sementara Arjun memalingkan wajah dengan kesal. Bagi mereka, Haikal selalu menjadi sosok yang ingin dijauhi. Kini Rani justru meminta mereka menghabiskan waktu bersamanya.

Aksan mengembuskan napas panjang. Tatapannya bertemu dengan Rani selama beberapa detik sebelum akhirnya ia angkat bicara.

"Boleh saja." Suaranya terdengar datar. "Tapi kalau terjadi sesuatu sama Haikal, jangan salahkan kami."

Rani tidak bergeming. "Itu tidak akan terjadi selama kalian mengingat satu hal."

"Apa?"

"Haikal sekarang tanggung jawabku. Jadi, jangan pernah mencoba menyakitinya."

Aksan tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan melangkah keluar dari ruang tamu. Sementara Arlan dan Arjun saling pandang sejenak. Keduanya melempar tatapan sinis ke arah Rani sebelum menyusul kakak mereka.

Rani tetap berdiri di tempatnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. Seolah apa yang terjadi saat ini sudah sesuai keinginannya.

***

Begitu pintu kamar tertutup, Arlan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Embusan napasnya terdengar panjang hingga memenuhi ruangan.

Aksan yang sedang membuka kancing seragam menoleh sekilas.

"Bisa kecilin suara napasmu?"

Arlan memejamkan mata sesaat sebelum mengusap wajahnya kasar.

"Kak... aku benar-benar nggak paham." Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang. "Kenapa semuanya malah jadi begini?"

Arjun ikut merebahkan tubuh di atas karpet sambil menatap langit-langit.

"Benar, Kak. Mama berubah." Ia menghela napas pelan. "Rumah juga ikut berubah. Sekarang apa-apa diatur."

"Yang paling aneh itu Papa." Arlan mendengus kesal. "Mama minta apa saja dituruti. Padahal biasanya Papa nggak pernah dengar omongan siapa pun."

Gerakan tangan Aksan terhenti. Dompet yang hendak dimasukkannya ke dalam laci tetap berada di genggaman. Ucapan Roy di kantor polisi kembali terngiang di telinganya.

"Ikuti semua aturan Mama kalian. Kalau kalian masih membuat masalah, jangan salahkan Papa kalau hak waris kalian benar-benar dicabut."

Aksan mengembuskan napas pelan. Selama ini Roy selalu berpihak kepada mereka. Namun, sejak kejadian di kantor polisi, pria itu seperti berubah menjadi orang yang berbeda.

"Apa Papa menyembunyikan sesuatu?"

1
this that PINK VENOM
.
this that PINK VENOM
😍
Lee Mba Young
Lemah tu Rani. ya sdh nikmati saja wanita lemah.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: authornya liyer ngurus pendaftaran sekolah anak 🤭
total 1 replies
partini
aihhh bikin esmosi dah ,,Rani masih PA ternyata ga guna
partini
Ko bisa Rani ga tau ehhhh ayo Yo macam mana pula kau ran 10 ran 10 ran aihhhh ga guna 🤦
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: reinkarnasi kak, bukan ini dia amnesia, yakin amnesia bukan reinkarnasi🙏
total 3 replies
partini
OMG ku kira tidak ternyata iya
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
partini: betul itu fakta di lapangan ortu nya membela kelakuan buruk anaknya si anak makin nglunjak Thor
ada di tempat ku Kya gitu tapi ujungya ortunya juga yg kelimpungan
total 2 replies
Atik@07
cetitanya seru banget, gak sabar up nya thor
partini: bisa bela diri kejutan apa lagi yg bisa
total 1 replies
partini
gila jahat bnggt,jadi ibu tiri yg super kejam dong selangkah di depan dari mereka percuma dong flashback kalau masih OON
partini
good
partini
OMG dua bab still the same penasaran ini Thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ditunggu kelanjutannya kak
total 1 replies
partini
ku kira like boom ternyata masih omong" doang 🤦 ayo lah ran
nunggu dua hari lagi
partini
Rani gebrakan kurang jos Thor ,,
partini
Yo di servis yg bagus plus desahan yg manjahhjhh biar tu Kunti bogel meradang dengarnyan,ran ayo lah be smart bertahun tahun loh
partini
amnesia?
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
Wawan
Salam kenal untuk Rani ✍️
partini
gas lah lebih smart dong
partini
ulah si Kunti kayanya deh,,ayo ran be smart don't be stupid dong aihhhh gumussss dah
partini
lanjut Thor ,,keren biar pun sudah methong balik tapi pengang kendali
suami bego
srijati umijati
lho🥺
lanjutkan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!