NovelToon NovelToon
Yan Kai

Yan Kai

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: DANTE-KUN

Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.

Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Yan Kai terus melangkah menembus lebatnya pepohonan. Langkahnya tidak pernah berhenti. Sementara itu, di luar Hutan Larangan, ketujuh murid inti masih berdiri memperhatikan punggung Yan Kai yang perlahan menghilang di balik kabut.

Beberapa saat berlalu. Sosok Yan Kai sudah tidak lagi terlihat. Pemimpin rombongan menganggukkan kepala pelan. "Sudah cukup. Ia tidak mungkin menemukan jalan keluar dalam keadaan seperti itu."

Murid inti lainnya ikut mengangguk. "Hutan Larangan bukan tempat yang bisa ditinggalkan semudah itu. Kalaupun tidak mati diterkam Binatang Iblis, ia akan tersesat sampai kehabisan tenaga."

Tanpa berkata lebih banyak, ketujuh murid inti itu akhirnya berbalik, meninggalkan Hutan Larangan dan kembali menuju Sekte Hutan Bambu. Tak lama kemudian, tempat itu kembali dipenuhi keheningan.

Sementara itu, Yan Kai terus berjalan semakin jauh. Semakin dalam ia memasuki Hutan Larangan, suasana menjadi semakin mencekam. Kabut putih keabu-abuan menggantung begitu pekat di antara pepohonan raksasa, jarak pandangnya bahkan tidak sampai sepuluh meter.

"Buruk..." Yan Kai mengerutkan alis. "Kalau seperti ini aku bahkan tidak tahu sedang menuju ke arah mana."

Ia hanya bisa mengandalkan nalurinya. Sesekali ia menandai batang pohon dengan goresan batu agar tidak kembali ke tempat yang sama, namun kabut yang pekat membuat semuanya terlihat hampir serupa.

Saat sedang menyingkirkan ranting-ranting di depannya, tanpa sengaja lengan kirinya menyentuh tanaman merambat berwarna ungu tua yang dipenuhi duri kecil.

"Ck!"

Duri itu langsung menusuk kulitnya. Beberapa tetes darah keluar. Yan Kai buru-buru menarik tangannya. Namun baru beberapa detik kemudian, rasa panas mulai menjalar dari luka tersebut.

"Racun?"

Wajah Yan Kai sedikit berubah. Urat-urat hitam mulai tampak merambat perlahan di lengannya. Racun itu menyebar dengan sangat cepat. Yan Kai segera mencoba menekan lukanya. Namun sebelum sempat melakukan apa pun, energi kegelapan di dalam dantiannya tiba-tiba berdenyut.

Wuuung...

Energi hitam itu bergerak sendiri, tanpa diperintah, tanpa dikendalikan, mengalir menuju lengan kirinya. Sesaat setelah mencapai bagian yang terkena racun, hal yang luar biasa terjadi.

Racun yang sedang menyebar itu seolah bertemu dengan pemangsa alaminya. Seluruh racun langsung diselimuti energi kegelapan, kemudian lenyap—tidak dimurnikan, tidak dinetralkan, melainkan benar-benar dilahap hingga tidak menyisakan sedikit pun.

Dalam beberapa tarikan napas, seluruh rasa panas menghilang. Kulit Yan Kai kembali seperti semula, bahkan bekas luka kecil akibat tusukan duri juga menutup perlahan.

Yan Kai memandang lengannya dengan wajah takjub. "Racun... tidak berpengaruh?" Ia mengepalkan tangannya perlahan. Meskipun belum memahami sepenuhnya sifat energi kegelapan itu, kini ia kembali menemukan kemampuan lain yang dimilikinya. Energi tersebut ternyata mampu melahap racun yang masuk ke dalam tubuhnya.

Yan Kai tersenyum tipis. "Setidaknya aku tidak perlu terlalu khawatir mati karena racun."

Namun senyum itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba daun-daun di belakangnya bergerak.

Srrt...

Yan Kai langsung menoleh. Kabut di belakang pepohonan perlahan terbuka. Dua mata hijau menyala tampak menatapnya dari balik semak. Sebuah geraman rendah terdengar.

"Grrrr..."

Beberapa detik kemudian, seekor macan kumbang berukuran hampir tiga meter keluar dari balik kabut. Tubuhnya dipenuhi otot padat, taringnya yang panjang memantulkan cahaya dingin. Aura buas langsung memenuhi sekeliling.

Yan Kai tanpa sadar menelan ludah. "Binatang Iblis..."

Ia pernah mendengar para murid sekte membicarakan makhluk seperti ini. Binatang Iblis dibagi menjadi lima tingkatan: Tingkat 1 setara dengan kultivator Pengumpulan Qi Tahap Awal hingga Menengah, Tingkat 2 setara dengan Pengumpulan Qi Tahap Puncak, Tingkat 3 setara dengan Pembangunan Fondasi, Tingkat 4 setara dengan Pemurnian Qi, dan Tingkat 5 merupakan keberadaan yang bahkan mampu mengancam para ahli Ranah Inti Emas.

Macan kumbang di hadapannya jelas merupakan Binatang Iblis Tingkat 2—kekuatannya satu tingkat penuh di atas Yan Kai yang masih berada di Ranah Pengumpulan Qi Tahap Menengah.

Macan itu menggeram pelan. Lalu...

swusss!!

tubuhnya melesat seperti kilat.

"Cepat!"

Yan Kai buru-buru memiringkan tubuhnya.

Clang!

Cakar tajam macan itu menggores batang pohon di belakangnya hingga meninggalkan bekas yang dalam. Belum sempat Yan Kai menarik napas, macan itu kembali menerjang. Pertarungan sengit pun dimulai.

Yan Kai mengandalkan kecepatan dan nalurinya, terus menghindari setiap serangan sambil mencari celah. Namun tubuh macan itu terlalu kuat.

Beberapa kali pukulan Yan Kai hanya membuat binatang itu mundur beberapa langkah tanpa luka berarti. Sebaliknya, sedikit saja terlambat menghindar—cakar macan langsung mengoyak bahunya.

Srett!

Darah segar mengucur. Yan Kai meringis kesakitan. Namun ia tidak berhenti. Energi kegelapan kembali memperkuat seluruh tubuhnya. Ia terus bertarung—menghindar, membalas, terjatuh, bangkit lagi.

Waktu terus berlalu. Keduanya sama-sama dipenuhi luka. Napas Yan Kai mulai memburu, tubuhnya penuh goresan, pakaiannya hampir robek seluruhnya. Namun macan kumbang itu juga mulai melemah, gerakannya tidak lagi secepat sebelumnya.

Yan Kai menggertakkan gigi. "Inilah kesempatan!"

Saat macan itu kembali menerjang dengan mulut terbuka, Yan Kai tidak menghindar. Ia justru maju, mengumpulkan seluruh energi kegelapan yang masih tersisa ke tangan kanannya. Lalu, dengan segenap tenaga...

Bukkk!!

Tinju Yan Kai menghantam tepat ke bagian bawah rahang macan tersebut. Suara retakan tulang terdengar jelas. Tubuh macan itu terpental beberapa meter.

Namun Yan Kai tidak memberi kesempatan. Ia segera melompat, mengangkat sebuah batu besar yang berada di dekatnya. "Lagi!"

Brakkk!!

Batu itu dihantamkan sekuat tenaga ke kepala macan. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Hingga akhirnya geraman macan itu perlahan menghilang. Tubuhnya tidak lagi bergerak.

Yan Kai terduduk di tanah sambil terengah-engah. Pertarungan itu hampir menghabiskan seluruh tenaganya.

Setelah memastikan Binatang Iblis tersebut benar-benar mati, ia teringat perkataan para murid sekte yang pernah didengarnya—setiap Binatang Iblis memiliki inti jiwa, benda berharga yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan kultivasi maupun alkimia.

Dengan menggunakan batu tajam, Yan Kai perlahan membelah bagian dada binatang itu. Beberapa saat kemudian, ia menemukan sebuah inti jiwa seukuran telur ayam yang memancarkan cahaya kekuningan. Yan Kai mengambilnya dengan hati-hati lalu menyimpannya di dalam kantong kecil miliknya.

Ia kemudian berdiri perlahan. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka, darah masih menetes dari beberapa bagian. Meski berhasil menang, kondisinya juga tidak jauh lebih baik.

Yan Kai memandang sekeliling yang masih dipenuhi kabut tebal. "Aku harus mencari tempat yang aman. Kalau ada Binatang Iblis lain datang sekarang, aku tidak akan mampu melawan lagi."

Dengan langkah yang mulai terasa berat, Yan Kai pun berjalan perlahan menembus kabut, berharap menemukan tempat untuk memulihkan luka-lukanya sebelum bahaya berikutnya datang menghampiri.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Anna
aku suka cerita nya mudahan ada lanjutannya
kay
semangat rhor💪 izin promosi🙏saya buat novel juga kalo tertarik mampir aja
Dante-Kun
👍🤲
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
Riski Kurniawan
Very Nice Thor..
BOIEL-POINT .........
very very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very very very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
yos helmi
💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!