Takdir tak selalu buruk untuk kita. Jadikan masa lalu menjadi pelajaran untuk lebih baik di masa depan.
Seperti yang di alami seorang guru cantik bernama Aretha Zayba Almira. Ia sempat terpuruk dengan masa lalu kelam dan trauma mendalam yang di ciptakan mantan kekasihnya. Harus kehilangan kehormatan yang ia jaga hingga hampir mati bunuh diri. Tapi ia bisa bangkit dan merubah hidupnya menjadi lebih baik. Sempat menutup hati pada beberapa pria yang datang padanya, hingga takdir menemukannya dengan seorang pria yang mau menerima semua masa lalu dan memperlakukan Amira seperti seorang ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Republik Septy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi di parkiran sekolah
Amira menenteng tas nya untuk segera pulang, ia segera menuju parkiran tempat mobilnya berada. Parkiran itu sudah sepi dikarenakan para siswa sudah pulang terlebih dulu.
Tetapi sebelum sampai ke mobilnya berada ia di kejutkan oleh dua sosok tak jauh dihadapan nya.
Amira pun mematung, tubuhnya sedikit bergetar menahan rasa yang bergejolak dalam diri. Memang ia mencoba untuk tegar tapi jika melihat adegan itu di depan matanya langsung, ia merasa agak risih.
Arif sang mantan tunangan nya sedang bercanda ria di depan mobil nya yang terparkir tidak jauh dari mobil Amira. Bahkan Amira bisa melihat semuanya dengan jelas.
Siska yang melihat Amira pun sengaja menempel kan buah dada nya yang besar ke lengan Arif dan menggesek kan nya. Arif pun tambah sumringah mendapat kan perlakuan Siska yang agresif.
" kenapa sayang? kamu udah nggak tahan lagi ya?" tanya Arif sangat menggoda dan masih jelas terdengar di telinga Amira.
" iya nih yang. Aku udah nggak tahan pengen di jamah sama kamu. " Suara Siska dibuat se manja mungkin dan sesekali mengerling ke arah Amira.
" Aku kan tadi udah ngajakin cepat kerumah, tapi kamu nya masih mau disini. " ujar Arif sembari menyelipkan anak rambut Siska ke belakang telinga wanita seksi tersebut.
Amira yang mendengar itu pun bukan nya cemburu tetapi malah jijik dengan sikap kedua manusia gila ini. Bermesraan di tempat umum, bahkan ini sedang di lingkungan sekolah. Bagaimana jika ada guru lain atau para siswa yang lain, mereka berdua benar-benar nggak waras.
Apalagi status Arif yang notabene nya seorang guru, Sangat tidak pantas Arif melakukan hal tidak senonoh. Amira pun sangat geram ingin menenggelamkan kedua manusia yang tidak punya akhlak ini ke dasar samudera yang terdalam.
Ingin mengamuk pun rasanya tidak mungkin. Sehingga ia hanya berdiri dan sesekali beristighfar kepada Allah agar ia tak melewati ambang batas emosi. Ia pun mengalihkan pandangannya dan dengan cepat menuju mobilnya.
Tapi baru saja ia sampai dan akan meraih handel mobil, ia mendengar suara keributan.
Bug.. bug..
Aaaaa...
Suara jeritan wanita
Sontak saja Amira pun menoleh ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya Amira melihat Daffa dengan brutal menghajar Arif. Arif pun tidak tinggal diam dan menghajar Arif balik.
Sehingga terjadilah baku hantam antara siswa dan guru tersebut. Terdengar jeritan minta tolong dari bibir Siska yang terlihat sangat panik.
Amira pun segera menghampiri mereka dengan sedikit berlari. Ia tidak menghawatirkan Arif, ia bahkan tidak perduli lagi dengan pria brengsek itu. melainkan ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Daffa.
" Daffa hentikan. " teriak Amira melerai perkelahian antara guru dan siswa tersebut.
Tapi tidak ada yang mendengar kan dan berhenti, mereka terus saja menghajar satu sama lain seperti punya dendam tersembunyi yang sekarang baru bisa dilampiaskan.
Daffa yang terlihat sangat emosi terus saja menghajar Arif dan sebaliknya pun sama. wajah kedua nya sama-sama sudah tak berbentuk lagi, lebam bahkan darah sudah menghiasi wajah putih keduanya.
Amira tak tinggal diam ia maju mencoba melerai keduanya tepat di tengah antara Arif dan Daffa. Dan tak bisa dielakkan lagi pukulan Arif bersarang di pipi mulus Amira.
Aaa...
Teriak Amira terkejut dan shock mendapatkan pukulan yang tiba-tiba saja sudah mendarat di wajah nya. Ia memegangi wajah nya merasakan sakit dan terlihat ada darah di sudut bibirnya.
Daffa, Siska dan Arif melebarkan mata melihat Amira yang terkena pukulan dari Arif. Darah seolah mendidih dalam tubuh Daffa. Emosi tadi tidak sebanding dengan emosi yang sekarang.
" Brengsek kau" geram Daffa yang semakin emosi dan langsung menyerang Arif kembali dengan lebih brutal dan membabi buta. Amira yang melihat semuanya pun tak kuasa menangis dan menjerit.
" Hentikan. " Tapi semuanya tak di indahkan oleh Daffa hingga seorang Satpam sekolah berhasil melerai mereka. Arif sudah terbaring tak berdaya di bahu jalan parkiran.
Sedangkan Daffa meronta-ronta dalam cekalan pak Satpam.
" Sudah Dafa. Ibu mohon " ujar Amira lirih sembari bersimbah air mata. Daffa pun melihat kearah Amira yang sudah duduk bersimpuh di bawah dengan menangkupkan kedua tangannya. Hatinya terasa sakit melihat orang yang disayangi nya seperti itu.
Wajah yang bengkak dengan darah disudut bibir Amira dan deraian air mata mengalir membasahi wajah cantik nya. Rasanya ingin sekali membunuh pria yang tak pantas di panggil guru.
Daffa pun lantas menghampiri Amira yang terlihat sangat menyedihkan, sakit di wajah nya tak sebanding dengan yang hati nya rasakan. Dendam dalam dirinya pun semakin berkobar dan membakar hati nya yang sudah di penuhi kebencian yang teramat sangat kepada Arif.
" Bu Amira. Ibu nggak apa-apa?" tanya Daffa cemas
Tapi tidak ada Jawaban dari Amira dan brug..
Amira jatuh ke belakang, pingsan.
Daffa pun terkejut dan segera membawa Amira ke pangkuan nya ia lalu mengangkat tubuh mungil Amira ke dalam mobilnya dengan dibantu oleh pak satpam.
Daffa meletakkan Amira di kursi samping kemudi dan memakai kan seatbelt, setelah selesai ia pun segera menutup pintu mobil dan tak lama ia pun memasuki mobilnya dan duduk di bagian kemudi. Daffa segera melajukan mobil nya dengan cepat menuju rumah sakit.
Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Amira. Ia tidak memperdulikan sakit dan darah yang ada diwajahnya. Meski tidak sedikit luka yang ada di wajah nya.
Sedangkan Arif pun dengan wajah yang sudah tak berbentuk lagi hanya duduk bersender di mobilnya. Siska pun membantu nya menyeka darah yang ada di wajah kekasih nya itu. Dengan sedikit menangis ia memeluk Arif yang hanya diam menatap kosong.
" Kita kerumah sakit ya sayang" ujar Siska membuyarkan lamunan Arif.
Arif pun menoleh tanpa merespon ucapan Siska. Terlihat wajah Siska yang sangat khawatir dan ketakutan. Siska pun memapah tubuh Arif yang sudah lemas ke arah mobil mereka.
" Pak, tolong buka kan pintu mobil yang disebelah sana " ujar nya kepada pak satpam yang masih setia berdiri di tempatnya.
Pak satpam pun segera membuka pintu mobil dan membantu Siska memapah Arif masuk kedalam mobil. Dan Siska dengan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit membawa Arif yang sudah tak berdaya lagi.
Dia pun tak percaya bagaimana bisa kalah dan muka nya sampai hancur tak berbentuk lagi gegara anak ingusan itu. Kemarahan pun masih terpancar jelas di mata nya. Kilat amarah semakin membara merasuki jiwa nya.
Tanpa sadar ia memukul dasboard depan mobil.
Siska pun kaget dan memegangi dada nya.
" Sayang, sudah lah. Redam emosi mu. yang harus dipikirkan sekarang keadaan kamu. Nanti kita balas anak ingusan itu dan Amira." geram nya sembari mencengkeram erat setir kemudi.
Arif hanya diam tak menanggapi. Mobil yang mereka tumpangi terus meluncur di jalanan ibukota yang padat.
***
**Happy reading💖💖💖
Tinggalkan jejak like,komentar dan vote ya...
terimakasih...🥰🥰🥰**
Emosi tetaplah emosi
Kesal dan sakit hati, jelaslah
Betapa tidak 🙄🙄
manakala sesuatu yang menyakitkan terpampang didepan mata