NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:21
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022: Meilan dan Meiling

Nama Tim Elite Nadira menyebar lebih cepat daripada bau darah.

Tiga hari setelah Panen Kristal, orang-orang mulai datang ke hotel.

Bukan satu dua.

Puluhan.

Lalu ratusan.

Mereka datang dari kos-kosan yang hampir kosong, ruko lantai dua, gedung kampus, klinik kecil, dan apartemen yang setengah terbakar.

Ada yang membawa pisau.

Ada yang membawa anak panah buatan sendiri.

Ada yang membawa satu kantong Kristal sebagai biaya masuk.

Ada yang tidak membawa apa pun selain tubuh yang masih bisa bergerak.

Nadira tidak menerima semuanya.

Di lantai dua puluh satu, ia membuka meja seleksi.

Di atas meja ada tiga benda.

Papan nama.

Pisau.

Kotak kosong.

"Nama, asal, kemampuan, kondisi kesehatan, dan alasan ingin bergabung," kata Nadira setiap kali orang baru duduk.

Kalau jawabannya terlalu manis, ia menolak.

Kalau matanya terlalu sering melihat stok makanan, ia menandai.

Kalau ada pria yang mencoba menyelinap dengan alasan "bisa melindungi wanita", Dara menyeretnya ke tangga dan melemparkannya turun satu lantai.

"Peraturan pertama," kata Dara pada yang lain. "Kami sudah punya orang yang bisa melindungi. Kami butuh orang yang bisa mematuhi formasi."

Standar Nadira sederhana.

Perempuan.

Sehat atau masih bisa dipulihkan.

Tidak punya catatan mencuri dari kelompok sendiri.

Punya kemampuan: mahasiswa, tenaga medis, logistik, memasak, memperbaiki alat, akuntansi, komunikasi, atau minimal berani memegang pisau.

Yang sudah Tingkat 1 mendapat prioritas.

Yang membawa Kristal boleh masuk masa percobaan lebih cepat.

Yang hanya ingin makan gratis ditolak.

Dalam enam hari, jumlah mereka melewati tiga ratus.

Tidak semuanya masuk inti.

Nadira membagi mereka menjadi tiga lapis.

Lapis luar: percobaan.

Lapis kerja: logistik, kebersihan, pengolahan makanan, perawatan luka, dan penjagaan dasar.

Lapis tempur: Evolver yang sudah melewati latihan lapangan.

Angka di papan berubah setiap malam.

Total aktif: 300.

Tingkat 1 terverifikasi: 282.

Tingkat 2: 19, termasuk inti dan beberapa rekrutan yang sudah naik sebelum bergabung.

Sisanya pekerja percobaan yang belum boleh menyentuh senjata tajam tanpa pengawas.

Arga membaca angka itu.

"Kamu membangun kantor di tengah kiamat."

Nadira tidak tersenyum.

"Kantor yang bisa membunuh Zombie."

Dara mengangkat tangan.

"Aku suka kantor ini."

Kiara berdiri di dekat pintu, memperhatikan antrean orang baru.

Semakin banyak wajah.

Semakin banyak suara.

Semakin banyak perempuan yang memanggil Arga dengan mata terlalu terang.

Ia tidak suka itu.

Ia belum mengatakannya.

Tetapi Arga bisa mendengar.

Telepati menangkap pikiran Kiara seperti pisau kecil yang disimpan di balik kain.

Mereka datang karena dia.

Tentu saja.

Siapa yang tidak ingin berdiri di samping orang seperti Arga?

Tapi aku yang pertama.

Aku yang melihat dia berdarah.

Aku yang menunggu dia tidak bangun semalaman.

Jangan lupa itu.

Arga tidak menoleh.

Kalau ia menenangkan terlalu cepat, Kiara akan merasa ia sedang dibaca.

Dan ia memang sedang dibaca.

Masalah datang pada sore hari ketujuh.

Dua perempuan masuk bersama kelompok kecil dari UNDIP ekonomi.

Mereka kembar.

Tidak identik sepenuhnya, tetapi cukup mirip untuk membuat seluruh meja seleksi berhenti setengah detik.

Yang pertama berdiri lebih tenang. Rambutnya diikat rapi, wajahnya pucat karena lelah, tetapi matanya lembut dan stabil.

"Meilan Tanujaya," katanya. "Ekonomi manajemen. Saya biasa membantu usaha keluarga sebelum kuliah."

Yang kedua berdiri di sampingnya dengan mata lebih tajam.

"Meiling Tanujaya. Akuntansi. Saya bisa hitung stok, arus barang, dan menemukan orang yang berbohong soal angka."

Dara berbisik, "Yang kedua terdengar seperti Nadira kecil."

Nadira mendengar.

"Saya tidak kecil."

Meiling menatap papan Nadira.

"Data Anda bagus, tapi kolom kerugian tenaga kerja belum dipisah dari kerugian material. Itu membuat efisiensi regu tempur terlihat lebih tinggi dari sebenarnya."

Ruangan sunyi.

Dara membuka mulut.

Nadira menatap Meiling selama tiga detik.

Lalu ia memberikan spidol.

"Perbaiki."

Meiling menerima.

Tanpa ragu.

Meilan tersenyum minta maaf.

"Adik saya agak langsung."

Meiling sudah menulis.

"Langsung menghemat waktu."

Nadira melihat tulisan baru di papan.

Rapi.

Cepat.

Benar.

Arga yang baru keluar dari suite berhenti di belakang mereka.

Telepati terbuka.

Pikiran Meilan tenang, tetapi penuh perhitungan halus.

Tempat ini punya makanan, air, senjata, aturan, dan pemimpin laki-laki yang tidak membiarkan anak buahnya sembarangan menyentuh perempuan. Ini lebih aman dari semua tempat yang kami lihat. Kalau ingin hidup, masuklah ke struktur, bukan menjadi beban.

Pikiran Meiling lebih tajam.

Nadira pintar. Terlalu pintar untuk sendirian mengurus 300 orang. Kalau kami masuk sekarang, posisi kami bisa naik cepat. Arga adalah pusat kekuasaan. Jangan menggoda murahan. Tunjukkan nilai.

Tidak ada niat buruk.

Ada ambisi.

Ada rasa takut.

Ada keinginan hidup.

Cukup.

Lebih dari cukup.

Arga berkata, "Meilan. Meiling."

Keduanya menoleh.

Meilan menunduk sopan.

"Bos Arga."

Meiling menatap langsung, lalu menunduk sedikit lebih lambat.

"Kami ingin bergabung."

"Kenapa?"

Meilan menjawab lebih dulu.

"Karena tempat ini punya aturan. Di luar, orang kuat hanya mengambil. Di sini, orang kuat masih menghitung."

Meiling menambahkan, "Dan karena tim Anda akan membesar. Kalau tidak ada sistem keuangan dan inventaris yang lebih baik, stok akan bocor dari dalam sebelum direbut dari luar."

Nadira mengangkat alis tipis.

Dara menyeringai.

"Dia benar-benar Nadira kecil."

Meiling melirik Dara.

"Saya lebih muda, bukan lebih kecil."

Dara tertawa.

Arga menunjuk papan.

"Masa percobaan tiga hari. Meilan masuk logistik distribusi. Meiling bantu Nadira di inventaris dan audit."

Meilan menunduk.

"Terima kasih."

Meiling bertanya, "Akses angka penuh?"

Nadira menjawab sebelum Arga.

"Sebagian. Kalau kamu membocorkan satu angka strategis, saya potong aksesmu selamanya."

"Itu hukuman?"

"Itu versi ringan."

Meiling tersenyum sedikit.

"Saya mengerti."

Sore itu, Meilan dan Meiling bekerja terlalu cepat.

Meilan menata ulang jadwal dapur, membagi antrean makan berdasarkan kelompok kerja, dan menemukan bahwa tiga orang pekerja percobaan belum mendapat porsi garam cukup setelah latihan berat.

Meiling duduk dengan Nadira selama dua jam dan menemukan selisih kecil pada catatan pembalut, baterai, dan makanan kaleng.

Bukan pencurian besar.

Kebiasaan buruk kecil.

Tetapi di kiamat, kebocoran kecil bisa menjadi lubang besar.

Nadira tidak memuji mereka di depan umum.

Itu pujian terbesar darinya.

Malamnya, Arga kembali ke suite.

Pintu kamarnya setengah terbuka.

Di dalam, Meilan sedang mengganti seprai yang robek karena darah lama. Meiling menyusun kotak obat di rak kecil, mengelompokkan berdasarkan fungsi.

Mereka tidak berdandan.

Tidak bersuara manis.

Tidak pura-pura tidak tahu Arga masuk.

Meilan menoleh.

"Maaf, Bos. Nadira bilang kamar inti harus lebih rapi karena sering jadi ruang rapat. Seprai lama sudah tidak layak."

Meiling mengangkat satu botol obat.

"Obat demam tercampur dengan antibiotik. Kalau orang panik mengambil, bisa salah."

Arga mengangguk.

"Lanjutkan."

Di pintu, udara tiba-tiba turun.

Kiara berdiri di sana.

Rambutnya masih basah setelah patroli. Belati di pinggangnya belum dilepas. Wajahnya tidak marah keras.

Justru terlalu tenang.

Meilan langsung menangkap situasi.

"Kak Kiara."

Meiling juga berhenti.

Kiara menatap seprai baru.

Menatap rak obat.

Menatap dua perempuan cantik yang berada di kamar Arga.

Telepati menangkap pikirannya yang menusuk.

Lagi.

Kenapa selalu ada perempuan baru?

Mereka pintar.

Cantik.

Kembar pula.

Apa aku harus tersenyum dan pura-pura tidak peduli?

Aku tidak mau kalah.

Aku tidak boleh terlihat takut.

Arga menatap Meilan dan Meiling.

"Keluar dulu."

Meilan langsung menunduk.

"Baik."

Meiling membuka mulut seperti ingin menjelaskan, tetapi Meilan menarik lengannya.

Mereka keluar tanpa drama.

Kiara masuk.

Pintu tertutup.

Hening.

"Nadira yang menyuruh mereka?" tanya Kiara.

"Ya."

"Kamu tidak keberatan?"

"Kamar ini memang berantakan."

Kiara tertawa pendek.

Tidak ada lucunya.

"Itu bukan yang kutanya."

Arga duduk di tepi meja.

"Aku tahu."

Kiara menatapnya.

"Kamu selalu tahu."

Kalimat itu sama seperti sebelumnya, tetapi kali ini lebih berat.

Arga tidak menjawab dengan rahasia.

Ia menjawab dengan posisi.

"Kamu yang pertama."

Kiara membeku.

"Apa?"

"Mereka bisa masuk tim. Bisa naik posisi. Bisa berguna. Tapi kamu yang pertama."

Kiara menggigit bibir.

Matanya memerah, tetapi ia menolak menangis.

"Pertama saja cukup?"

"Tidak selalu."

"Lalu?"

"Jadi yang tidak bisa digantikan."

Kiara menatapnya lama.

Kalimat itu mirip dengan sesuatu yang Nadira pernah pikirkan, tetapi Arga tidak mengatakan dari mana.

Kiara menarik napas.

"Di dunia seperti ini, laki-laki kuat akan dikelilingi banyak perempuan."

Arga diam.

"Aku benci fakta itu."

"Wajar."

"Tapi aku lebih benci kalau aku sibuk mengusir mereka sampai lupa menjadi kuat."

Arga melihat matanya berubah.

Cemburu masih ada.

Takut masih ada.

Tetapi Kiara sedang mengikatnya menjadi keputusan.

"Aku tidak akan mengusir Meilan dan Meiling kalau mereka berguna," kata Kiara. "Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun melewati posisiku."

"Itu keputusanmu?"

"Ya."

"Bagus."

Kiara menyeka sudut matanya dengan punggung tangan, kesal pada dirinya sendiri.

"Jangan terlihat puas."

"Aku tidak terlihat apa-apa."

"Kamu terlihat puas di dalam."

Arga hampir tersenyum.

Malam itu, Kiara tidak mencari Meilan atau Meiling.

Ia mencari Nadira.

Nadira sedang memeriksa daftar anggota baru ketika Kiara duduk di depannya tanpa izin.

"Aku perlu bicara."

Nadira tidak mengangkat kepala.

"Kalau soal seprai, itu keputusan logistik."

"Bukan."

Nadira berhenti menulis.

Kiara menatapnya langsung.

"Meilan dan Meiling akan jadi kelompok sendiri."

"Mereka kembar. Tentu."

"Mereka cantik, pintar, dan tahu cara masuk ke ruang penting."

"Itu juga benar."

"Aku tidak suka."

Nadira meletakkan pena.

"Kamu ingin saya keluarkan mereka?"

"Tidak."

Jawaban itu membuat Nadira sedikit terkejut.

Kiara melanjutkan, "Aku ingin kamu awasi mereka. Aku akan awasi sisi Arga."

Nadira menatap Kiara.

"Kamu sedang mengajak saya bersekutu?"

"Kita sama-sama dari UNDIP. Kita sama-sama masuk sejak awal. Dara juga."

"Tiga orang?"

"Tiga orang."

Nadira tersenyum tipis.

"Melawan sepasang kembar?"

"Mengimbangi."

"Bahasamu makin diplomatis."

"Aku belajar dari orang menyebalkan."

"Saya anggap itu pujian."

Kiara mengulurkan tangan.

Nadira melihat tangan itu, lalu menjabatnya.

Di sudut ruangan, Dara yang pura-pura tidur membuka satu mata.

"Kalau kalian bikin aliansi tanpa aku, aku tersinggung."

Kiara menoleh.

"Kamu dari awal masuk."

Dara duduk.

"Bagus. Aku tidak mengerti politik kalian, tapi kalau perlu menakut-nakuti kembar itu, panggil aku."

Nadira menghela napas.

"Tidak ada yang menakut-nakuti siapa pun."

Dara kecewa.

"Politik membosankan."

Kiara tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya sejak Meilan dan Meiling masuk, senyum itu tidak tajam.

Keesokan paginya, Nadira memberikan laporan besar pada Arga.

"Total aktif tiga ratus. Struktur tiga lapis sudah berjalan. Meilan dan Meiling masuk masa percobaan inti. Mereka berguna."

"Kiara?"

"Sudah menyesuaikan."

"Dengan cara?"

Nadira berhenti sebentar.

"Dia membangun aliansi."

Arga benar-benar tertawa pelan.

Nadira menatapnya.

"Anda senang?"

"Itu berarti dia belajar."

"Atau berarti Anda akan punya lebih banyak masalah internal."

"Masalah internal yang dikelola lebih baik daripada kecemburuan liar."

"Benar."

Nadira membalik halaman.

"Ada kabar lain."

"Bicara."

"Kota Harapan sudah berdiri."

Nama itu membuat udara berubah.

Kiara, Dara, Meilan, dan Meiling yang berada di ruangan ikut menoleh.

Nadira melanjutkan, "Informasi dari tiga kelompok baru. Mereka bilang ada komunitas besar di sisi utara. Lebih dari dua ribu orang. Ada pos pemeriksaan gaya TNI, pembagian makanan, dan aturan masuk. Pemimpinnya mantan perwira. Nama yang muncul: Surya."

Arga menatap peta.

Kota Harapan.

Lebih cepat satu bulan dari kehidupan sebelumnya.

Sang Tetua benar.

Mereka semua dipaksa maju.

"Kota Harapan..." kata Arga pelan.

Meiling mencatat nama itu.

Meilan melihat wajah Arga dan tahu informasi ini lebih besar dari sekadar komunitas baru.

Nadira mendekat dan merendahkan suara.

"Kalau tempat itu sudah berisi dua ribu orang, cepat atau lambat mereka akan menjadi pusat. Kita tidak bisa hanya tinggal di hotel."

"Aku tahu."

"Rencana?"

Arga menutup peta.

"Kita pergi melihat."

Dara langsung berdiri.

"Kapan?"

"Setelah empat orang inti naik Tingkat 3."

Ruangan sunyi.

Kiara menatap Arga.

Nadira juga.

Dara tersenyum lebar.

"Akhirnya."

Arga melihat mereka satu per satu.

Kiara, Nadira, Dara.

Tiga perempuan itu kini mulai memegang fungsi inti.

Mereka akan menjadi fondasi.

"Malam ini," kata Arga. "Kita mulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!